
Sepertinya Sindi merasakan kesedihan Nyonya Helen. Hatinya begitu tidak enak saat di jalan.
"Kamu sakit Sin?" tanya Danu.
"Gak," jawab Sindi yang berusaha tersenyum.
"Kita ke dokter dulu ya!" ucap Danu.
"Aku baik-baik aja. Kita langsung aja ke rumah kamu," ucap Mia.
"Kamu sakit atau gak, kita akan tetap ke rumah sakit. Karena Mami nelepon kamu memang untuk ke dokter kandungan," ucap Danu.
"Dokter kandungan?" tanya Sindi terkejut.
"Kenapa?" Dion balik bertanya.
"Aku gak hamil. Sumpah," ucap Sindi.
Danu tertawa mendengar ucapan Sindi.
"Kok kamu tertawa sih?" tanya Sindi yang kelihatan bingung.
"Kamu lucu," jawab Danu.
"Apanya yang lucu?" tanya Sindi.
"Memangnya kalau ke dokter kandungan harus hamil dulu ya?" tanya Danu.
"Ya kan namanya juga dokter kandungan," jawab Sindi.
Danu hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita cek dulu, soalnya aku mau setelah kita menikah nanti langsung program hamil. Kamu setuju gak?" tanya Danu.
Program hamil? Ah Sindi jadi tersipu malu. Ia hanya mengangguk sembari tersenyum. Danu yang senang dengan persetujuan dari Sindi, segera menggenggam tangan Sindi dan menciumnya.
"Kenapa? Gak suka?" tanya Dion saat Sindi menarik tangannya.
"Malu," jawab Sidni.
"Tapi nanti gak malu kan?" tanya Danu.
"Ah, kamu." Sindi memalingkan wajahnya saat Dion menggodanya.
Danu bisa bernapas lega saat dokter kandungan menyatakan jika rahim Sindi bagus. Begitupun sebaliknya. Danu yang selalu mengikuti pengobatan dari dokter khusus akhirnya dinyatakan benar-benar sembuh.
Keduanya pulang dengan perasaan senang.
"Aku boleh cerita sesuatu?" tanya Danu.
"Apa?" tanya Sindi.
Karena hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan dirinya sembuh, akhirnya Danu bisa menceritakan penyakitnya di masa lalu.
"Jadi kamu dan Mia cerai karena hal itu?" tanya Danu.
"Bukan. Aku yang menceraikannya. Saat itu aku fokus berobat dan aku rasa Mia berhak mencari kebahagiaannya," ucap Danu.
Suasana menjadi hening. Yang terdengar hanya kebisingan dari suara-suara mesin mobil di jalanan.
"Kamu gak tahu semua ini?" tanya Danu memecah keheningan.
"Gak," jawab Sindi menggeleng.
"Mia tidak memberi tahumu?" tanya Danu.
__ADS_1
"Gak," jawab Sindi sembari menggeleng.
Suasana kembali hening.
"Apa itu artinya kamu masih mencintai Mia?" tanya Sindi ragu.
"Sin, aku memang mencintai Mia. Tapi itu dulu. Sekarang aku mencintai kamu. Hanya kamu wanita yang aku cintai. Kamu masa depanku," ucap Danu.
Sindi diam. Entah apa yang dipikirkannya, namun semua itu tentu membuat Danu tidak nyaman.
"Sin, apa kamu tidak bisa menerima masa laluku?" tanya Danu.
Sindi diam. Ia tidak bisa menjawab apapun. Danu menghentikan mobilnya. Danu rasa merek harus bicara serius.
"Sin, jawab aku. Apa kamu keberatan dengan masa laluku? Soal Mia, aku sudah tidak ada di masa itu lagi. Hidupku sekarang bersama kamu. Dan itu sudah kita bicarakan sebelumnya. Soal penyakitku, kamu bisa dengar sendiri jika aku sudah sembuh." Danu berusaha menjelaskan kembali semuanya.
"Aku gak apa-apa kok. Aku hanya salut saja pada Mia. Dia hebat bisa bertahan dan tidak menceritakan itu padaku. Aku jadi takut jika aku tidak bisa sebaik Mia," ucap Sindi.
"Ayolah Sin! Kamu jangan seperti anak kecil begini. Semua sudah kita bahas. Kamu dan Mia dua orang yang berbeda. Kalian tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Aku mencintai kamu sebagai Sindi. Kamu ya apa adanya kamu," ucap Danu.
Hal itu sama dengan apa yang sudah Danu ucapkan pada Sindi sebelumnya. Namun karena memang godaan menjelang pernikahan saja. Tiba-tiba Sindi ragu dan takut. Beruntung Danu lebih dewasa hingga bisa meyakinkan Sindi dan semua kembali membaik.
"Ke rumah dulu sebentar ya!" ucap Danu.
"Beneran sebentar kan?" tanya Sindi.
"Iya," jawab Danu sembari tersenyum.
Bukannya apa-apa, Sindi masih trauma kejadian kemarin. Namun Danu meyakinkan Mia kalau mereka benar-benar tidak akan lama.
"Sindiiiii," sambut Nyonya Nathalie saat melihat Sindi sudah datang.
"Ibuuu," ucap Sindi.
Mereka berpelukan dan saling melepas rindu. Membicarakan banyak hal tentang rencana pernikahan yang akan digelar tidak lama lagi. Sampai akhirnya Sindi begitu tegang saat Nyonya Nathalie mulai membahas tempat tinggal mereka nanti setelah menikah.
Sindi hanya bisa menatap Danu dan meminta bantuannya. Jujur ia tidak bisa menjawab. Kalau saja ia jujur alasan mereka yang ingin mandiri karena takut ribut antara Nyonya Nathalie dan Nyonya Helen, urusannya bisa makin panjang.
"Aku sama Sindi harus belajar mandiri Mi. Sindi itu ingin ia benar-benar mengurus aku sebagai suaminya," jawab Danu.
"Apa? Jadi kamu mau jadikan Sindi sebagai orang yang bisa kamu suruh-suruh?" tanya Nyonya Nathalie.
"Eh, bukan begitu Mi." Danu menjadi panik.
"Gak begitu Bu. Biar mandiri aja," jawab Sindi.
"Mandiri bukan berarti harus mengurus semua urusan rumah tangga sendiri Sindi," ucap Nyonya Nathalie.
"Iya Bu. Kan nanti aku bisa cari orang yang bantu pekerjaan rumah Bu," ucap Sindi.
"Kalau begitu, apa bedanya dengan kalian tinggal di sini? Mami juga gak akan mencampuri urusan rumah tangga kalian kok. Atau karena kalian udah gak sayang lagi sama Mami ya?" tanya Nyonya Nathalie dengan raut wajah sedih.
"Sama sekali gak begitu Mi," jawab Danu.
Sindi hanya menatap Danu tidak tega dan mengusap-usap bahu Nyonya Nathalie.
"Ah, Mami kayak gak tahu pengantin baru aja. Danu itu takut suara mereka setiap malam bisa membuat seisi rumah heboh," ucap Tuan Ferdinan yang tiba-tiba ikut nimbrung.
Tuan Ferdinan yang baru datang, duduk di samping Nyonya Helen dan menyimpan gelas di atas meja. Sindi menggeser dan duduk di samping Danu. Tak lama Tuan Ferdinan membisikkan sesuatu pada Nyonya Helen.
Ekspresi Nyonya Nathalie cemberut saat sudah mendengar bisikan dari Tuan Ferdinan. Sindi dan Danu saling tatap dengan keringat dingin. Mereka tidak tahu apa yang dibahas oleh Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan.
"Tapi kalau kalian udah pindah rumah, Mami boleh kan ke rumah kalian tiap hari?" tanya Nyonya Nathalie.
"Bisa Mi. Asal jangan nginep aja," jawab Tuan Ferdinan.
__ADS_1
"Iya Pi, iya." Nyonya Nathalie semakin cemberut.
"Jangan cemberut begitu. Nanti kerutan di wajah nambah tuh," goda Tuan Ferdinan.
"Ah Papi masa sih?" tanya Nyonya Nathalie panik.
"Iya, ada tuh sedikit." Tuan Ferdinan menahan tawanya.
"Ih Papi, bikin Mami panik aja." Nyonya Nathalie menepuk tangan Tuan Ferdinan.
Nyonya Nathalie langsung memegang pipinya dan pergi.
"Danu, produksi cucu buat Maminya jangan lama-lama ya! Mami mau ke kamar dulu ah. Mau maskeran dulu," ucap Nyonya Nathalie.
Tuan Ferdinan berdiri dan mengikuti Nyonya Nathalie. Namun sebelumnya ia tersenyum pada Danu dan Sindi sembari mengangkat jempol tangannya.
Danu yang merasa sangat terbantu pun segera mengangkat jempolnya untuk berterima kasih pada Tuan Ferdinan.
"Apaan?" tanya Sindi.
"Gak tahu. Ayo aku antar pulang!" ajak Danu.
"Ih kamu nyebelin," ucap Sindi.
Dengan cemberut Sindi berdiri dan segera pergi. Danu hanya tersenyum melihat tingkah Sindi. Dalam perjalanan pun Sindi masih diam, membuat suasana menjadi sepi. Akhirnya Danu memutar lagu romantis dengan volume pelan.
Sesekali Danu melihat Sindi. Masih tetap diam. Lucu, begitu menggoda Sindi di mata Danu. Sampai akhirnya mereka sampai ke rumah Dion, Sindi masih belum bicara. Ia hanya turun dan berterima kasih.
"Salam untuk calon mertuaku," ucap Danu.
Sindi menatap Danu dan tersenyum. Benarkah Danu menganggap Nyonya Helen dan Tuan Wira sebagai mertuanya? Sindi tersenyum.
Saat masuk ke rumah, ia tidak menemui Nyonya Helen.
"Mba, Nyonya Helen kemana ya?" tanya Sindi.
"Nyonya Helen sepertinya di kamar," jawab Mba.
Dengan ragu, Sindi melangkahkan kakinya ke kamar Nyonya Helen. Cukup lama ia mematung di depan kamar. Ia hanya meremas kedua tangannya, ragu antara mengetuk pintu atau kembali ke kamarnya saja.
Akhirnya Sindi memberanikan mengetuk pintu kamar Nyonya Helen.
"Nyonya," panggil Sindi.
"Sebentar," ucap Nyonya Helen.
Tak lama pintu terbuka. Nyonya Helen tersenyum melihat Sindi ada di depan kamarnya.
"Sudah pulang?" tanya Nyonya Helen basa basi.
"Sudah Nyonya," jawab Sindi.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Nyonya Helen.
"Mau menyampaikan salam dari Danu untuk Nyonya dan Tuan," jawab Sindi.
Sindi menunduk. Ia tidak berani mengangkat wajahnya. Takut dengan respon yang akan diberikan oleh Nyonya Helen setelah menyebut nama Danu.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.