
"Miaaaaa," teriak Nyonya Helen saat sampai ke rumahnya.
Banyak sekali barang belanjaan yang Nyonya Helen bawa. Ia membeli semua barang yang ia suka untuk Mia. Sebagai hadiah atas prestasi yang Mia raih. Bukan hanya karena Mia membuat nama baik perusahaannya semakin harum, tapi Mia sudah membuat Nyonya Helen terpukau. Tidak pernah terpikir kalau Mia secerdas itu.
"Miaaaa," teriak Nyonya Helen untuk kedua kalinya.
Teriakan itu masih terus berlanjut sampai sebelum Nyonya Helen mendapat jawaban dari Mia. Namun ia berhenti saat pelayan yang menemani Mia memberi tahu kalau wanita cantik dan cerdas itu tengah terlelap.
"Jangan bangunkan! Biarkan anakku tidur dengan nyenyak," ucap Nyonya Helen.
Setelah memastikan Mia baik-baik saja, Nyonya Helen kembali ke kamarnya.
"Gimana Mia?" tanya Tuan Wira.
"Tidur," jawab Nyonya Helen.
"Ya santai dong Ma. Orang tidur, kok Mama malah cemberut sih?" tanya Tuan Wira.
"Kan kangen Pa. Mama tuh maunya peluk dan cium Mia. Mama gak nyangka kalau Mia bisa seperti ini," ucap Nyonya Helen.
"Loh, memangnya Mama gak tahu kalau Mia itu lulusan sarjana?" tanya Tuan Wira.
"Tahu Pa. Tapi kan gak setiap sarjana itu pinter. Banyak kok lulusan sarjana yang di kantor kerjanya biasa aja. Banyak orang yang beruntung bisa kerja enak padahal kualitasnya tidak lebih bagus dari Mia. Mama sedih aja kalau ingat perjalanan hidup Mia," ucap Nyonya Helen.
Benar kata Nyonya Helen. Mungkin jika dari sisi itu, Mia termasuk orang yang tidak beruntung. Kecerdasannya tidak membawa Mia menjadi wanita yang mudah dalam menjalani hidup. Jatuh bangun dalam perjalanan hidupnya membuat Mia menjadi wanita yang kuat. Tanpa kasih sayang seorang ayah, Mia mampu tumbuh menjadi wanita mandiri dan bertanggung jawab.
Manja, bahagia, kata yang mungkin tidak ada dalam bayangan Mia saat itu. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Dion. Pria yang selalu berhasil membuat Mia jatuh cinta. Rasa cintanya tak terasa sudah mengubah Mia menjadi wanita manja pada Dion. Namun Mia tidak lupa tanggung jawab atas dirinya.
"Mia itu memang anak yang selalu bisa menempatkan diri. Mia sayang sama Dion, Mia sayang sama kita, bahkan sekarang Mia membuat perusahaan kita menjadi sangat harum." Tuan Wira dengan bangga menceritakan tentang Mia.
"Mama juga tahu. Kita beruntung ya Pa bisa punya menantu kayak Mia," ucap Nyonya Helen.
"Sangat. Dion itu memang pinter ya cari istri. Dulu Papa pikir Dion itu gak normal loh Ma," ucap Tuan Wira.
"Ish, Papa kalau ngomong suka ngeselin deh. Maksud Papa gak normal apa sih?" tanya Nyonya Helen.
"Ah, Mama suka pura-pura deh. Mama juga mikirnya sama kan?" tanya Tuan Wira.
"Mikir apaan?" tanya Nyonya Helen kesal.
"Ya kalau Dion gak normal. Abisnya Dion gak pernah bawa perempuan ke rumah ini. Yang dibawa ke sini cuma Reza. Apalagi sampai si Reza nginep-nginep segala. Papa itu khawatir sebenarnya. Sama kan?" tanya Tuan Wira.
"Papa, kelewatan deh. Bisa-bisanya buruk sangka sama anak sendiri," jawab Nyonya Helen.
"Emang Mama gak mikir gitu?" tanya Tuan Wira.
"Ya gak lah Pa," jawab Nyonya Helen.
Gak salah lagi Pa. Mama juga begitu. Aduuuh sampai khawatir kalau Dion gak bakal nikah-nikah. Kerja ke club tiap mlm. Walaupun Mama sempat menyibukkan pikiran agar berasumsi, kalau Dion selalu bermain dengan wanita-wanita malam. Tapi kedatangab Reza ke rumah selalu menggoyahkan pikiran Mama.
Sehenarnya dalam hati Nyonya Helen, sebenarnya ia juga mengiyakan apa yang suaminya tuduhkan. Sempat berpikir kalau ada sesuatu antara Dion dan Reza. Hingga Nyonya Helen sudah berjanji, siapapun wanita yang Dion kenalkan, maka langsung di iyakan tanpa pertimbangan apapaun. Apalagi penolakan. Hingga saat Mia datang ke rumah itu, baik Nyonya Helen maupun Tuan Wira tidak banyak bertanya tentang Mia. Mereka langsung setuju saja dan ingin segera melangsungkan pernikahan Dion dan Mia.
Tanpa mereka sangka kalau Mia adalah wanita yang sangat tepat untuk Dion. Keraguan dan kekhawatiran Nyonya Helen dan Tuan Wira perihal pasangan hidup, terjawab sudah dengan kehadiran Mia.
Saat Mia sudah bangun, ia sangat bahagia saat mendengar pelayannya memberi tahu kalau Nyonya Helen dan Tuan Wira sudah pulang. Mia segera mandi dan ingin menemui mertuanya itu. Mia berjalan agak cepat, hingga pelayannya berkali-kali mengingatkan Mia.
Mata Mia mengedar ke setiap ruangan yang ia lalui. Tidak ada! Nyonya Helen dan Tuan Wira tidak ada.
"Maaf Nyonya. Mungkin Nyonya dan Tuan Besar sedang tidur," ucap pelayan itu.
Mia memang tidak bertanya, tapi wajah sedihnya seolah menanyakan keberadaan mertuanya.
"Oh, begitu ya?" tanya Mia.
"Mau saya antar ke kamar Nyonya dan Tuan Besar?" tanya pelayan.
"Tidak usah Mba," jawab Mia.
Sebenarnya pelayan itu hanya basa basi, karena ia tidak berani jika harus menemui Nyonya Helen dan Tuan Wira. Tapi seandainya Mia mengiyakan, ia pasti akan menemani Mia. Pelayan itu yakin, jika kehadiran Mia tidak akan mengganggunya sama sekali.
"Mia mau menelepon Aa dulu. Bisa gak kalau Mba jangan ikut ke kamar dulu?" tanya Mia.
"Tentu, Nyonya. Panggil saya jika Anda sudah selesai," jawab pelayan.
"Iya," jawab Mia.
Mia berlalu untuk kembali ke kamarnya. Pelayan itu masih mengikuti Mia hingga depan pintu kamar Mia.
"Mau kemana?" tanya Mia.
"Saya memastikan kalau Anda tetap baik-baik saja. Silahkan, Nyonya!" ucap pelayan itu sembari membukakan pintu. "Saya akan menunggu Anda di sini," lanjutnya.
__ADS_1
"Tidak perlu di sini, Mba istirahat ya! Mia baik-baik aja kok," ucap Mia.
Setelah beberapa kali menolak, akhirnya pelayan itu pergi menjauh meninggalkan kamar Mia. Tidak lama, hanya satu menit setelah mendengar pintu kamar tertutup, pelayan itu kembali ke kamar Mia. Ia berjaga di depan kamar Mia.
"Kenapa di luar? Mana Mia?" tanya Nyonya Helen pada pelayan yang tengah menunggu Mia di depan pintu kamarnya.
"Nyonya meminta saya untuk menunggu di sini, karena sedang menelepon dengan Tuan Dion. Nyonya Mia juga tadi mencari Nyonya Besar. Namun saat tahu kalau Nyonya di kamar, Nyonya Mia kembali ke kamar." Pelayan itu menjelaskan kalau Mia merindukan Nyonya Helen.
Tanpa merespon ucapan Mia, Nyonya Helen langsung mencari Mia dan segera melepas rindunya.
"Miaaaa," teriak Nyonya Helen sembari membuka pintu kamar Mia.
Mia yang tengah melakukan panggilan video bersama suaminya, langsung menatap sumber suara.
"Mamaaaaa," teriak Mia.
Mia yang terkejut melihat kedatangan Nyonya Helen, meletakkan ponselnya di atas ranjang. Sedangkan Mia segera turun dan memeluk Nyona Helen.
"Mama kangen," ucap Nyonya Helen.
"Mia jugaaa," ucap Mia.
"Hallo, Mia. Hey, Mia. Kamu kemana ini? Kenapa kamu ninggalin aku?" tanya Dion dari balik sambungan panggilan videonya.
Dion merasa kesal karena ia diacuhkan saat sedang menelepon. Tapi di satu sisi, Dion juga merasa kalau ia cukup senang saat mendengar Mia bahagia. Berteriak memanggil kata Mama adalah suatu bahagia tersendiri bagi Dion. Paking tidak, ia berhasil membawa Mia ke dalam keluarganya. Ia bisa membuat Mia merasa menjadi anak yang disayangi oleh seorang ibu, setelah Mia kehilangan kasih sayang ibu kandungnya, Bu Ningsih dua tahun lalu.
Menyadari kalau Mia sudah mengabaikan panggilan video dengan suaminya, ia segera mengambil kembali ponselnya.
"A, Maaf ya. Ini ada Mama," ucap Mia.
"Ah, sudah. Matikan dulu. Biar nanti dia pulang kalau kangen sama kamu. Sekarang sama Mama dulu sebelum Dion pulang ke Jakarta," ucap Nyonya Helen.
Telunjuk Nyonya Helen bisa dengan sangat mudah mematikan panggilan video dari Dion. Mia hanya menatap tak percaya atas apa yang dilakukan oleh ibu mertuanya itu. Dalam hatinya, ada rasa khawatir saat membayangkan kalau nanti Dion akan marah padanya. Kini bahagia itu tengah bercampur dengan rasa cemas.
Sembari mengobrol, Mia menyempatkan mengirin pesan untuk Dion. Meminta maaf atas sikap Nyonya Helen. Pesan masuk yang membuat Mia menggigit bibir bawahnya. Rasa cemasnya membuat ia takut untuk membuka pesan itu. Namun setelah membaca pesan itu, Mia akhirnya bisa bernafas lega. Dion memaklumi dan menyuruh Mia untuk mememani Nyonya Helen dulu.
"Mama dan Papa sangat berterima kasih sama kamu, Mia. Mama sama sekali tidak menyangka kalau potensi kamu sangat luar biasa," ucap Nyonya Helen.
"Ah, Mama berlebihan. Mia hanya sedang beruntung saja, Ma. Kebetulan Mia membaca dan belajar dulu sama Papa soal berkas itu. Oh ya mana Papa?" tanya Mama.
"Ini, Papa di sini." Tuan Wira masuk saat Mia baru saja menanyakan dirinya.
"Papa sehat?" tanya Mia.
Mia berjalan mendekat dan mencium tangan Tuan Wira. Kegiatan yang sudah sering terjadi, namun selalu membuat hatinya terenyuh saat Mia melakukan hal itu.
"Sehat. Kamu gimana? Cucu ku tidak nakal kan?" tanya Tuan Wira.
"Mia dan bayi kembar juga sehat. Mereka baik kok, gak ada yang nakal." Mia tersenyum sambil mengusap perutnya yang besar.
Mia menunduk melihat perutnya. Kepalanya mulai kembali membayangkan wajah ibu kandungnya.
Seandainya ibu masih ada, ibu pasti akan seperti Mama dan Papa. Tapi ibu jangan khawatir, Mia berada di keluarga yang tepat. Mia sayang ibu.
"Mia, apa kamu baik-baik saja?" tanya Nyonya Helen.
"Eh, iya Ma. Mia baik-baik saja kok," ucap Mia.
"Mia, Papa mau berterima kasih untuk hal besar yang sudah kamu lakukan," ucap Tuan Wira.
Hal besar? Bahkan Mia yang merasa kurang percaya diri saat itu, kini berhasil membuat Tuan Wira bangga atas dirinya. Apa yang ia kerjakan ternyata sangat berarti bagi keluarga Dion. Ucapan terima kasih terus ia dengar.
"Pa, Mia hanya melakukan apa yang Mia bisa saja. Kalau ini membantu Papa, Mia senang Pa. Akhirnya Mia berguna juga," ucap Mia.
"Hussst, kamu ini kalau ngomong suka sembarangan. Kamu itu bukan berguna. Tapi kamu sangat berarti. Mama tidak peduli ketika semua orang menganggapmu buruk, karena yang Mama tahu dan rasakan, kamu adalah orang baik dan Mama sayang sama kamu. Kamu mengerti kan?" tanya Nyonya Helen.
"Maaa," ucap Mia.
Mia sangat terharu dengan ucapan Nyonya Helen. Berkali-kali ia bersyukur karena sudah bertemu dengan keluarga Dion. Keluarga kaya raya, namun tidak mempermasalahkan status sosial dan latar belakang Mia.
"Mia, maafkan Mama karena gak bawa apa-apa. Mama gak belanja dulu. Beres kegiatan di sana, Mama sama Papa langsung pulang karena udah kangen sama kamu. Sebagai gantinya, besok kita shopping ya Mi," ucap Nyonya Helen.
"Gak perlu Ma. Udah lihat Mama dan Papa pulang dengan selamat, Mia udah senang. Lagi pula mau shopping apa Ma? Barang-barang Mia masih banyak dan bagus-bagus. Mia juga kan jarang pergi ke luar," ucap Mia.
Kamu ini Mi, aku ajak belanja gak mau. Kalau saja Dion ketemu sama orang lain, mungkin duitnya habis dikeruk. Tapi Dion malah ketemu sama Mia. Jangankan ngeruk duitnya Dion, belanja aja males. Kamu tulus atau gimana sih Mi?
Sebenarnya Mia juga sama seperti wanita normal pada umumnya. Akan sangat bahagia rasanya jika menghabiskan waktu untuk berbelanja. Hanya untuk saat ini, Mia berpikir panjang. Kegiatan Mia yang hanya diam di rumah, membuatnya tidak membutuhkan barang-barang yang Nyonya Helen tawarkan.
"Ya sudah kalau kamu gak mau shopping, tapi kamu kamu kan nemenin Mama dan Papa makan siang di luar?" tanya Tuan Wira.
Berhasil, dengan bujukan dari Tuan Wira, akhirnya Mia mau untuk keluar rumah untuk makan siang. Tak perlu bertanya izin dari Dion, karena Dion pasti mengizinkannya.
__ADS_1
Malam ini Mia tidur dengan sangat nyenyak. Hati dan pikirannya yang tenang, membuatnya merasa tidak ada alasan untuk tidak nyenyak. Ditemani pelayang yang setia, Mia terbang dalam mimpi indahnya.
"Mia, kamu jadi kan siang ini makan siang di luar?" tanya Nyonya Helen saat berada di ruang makan untuk sarapan.
"Boleh Ma. Mau dimana?" tanya Mia.
"Di cafe dekat kantor aja ya!" jawab Tuan Wira.
"Papa kerja?" tanya Mia.
"Iya, Papa ke kantor dulu. Nanti kamu sama Mama datang ke cafe diantar sopir ya!" ucap Tuan Wira.
"Iya Pa," jawab Mia.
Selesai sarapan, Mia masuk ke dalam kamarnya. Menghabiskan waktu di kamar adalah hal yang sangat membosankan bagi Mia. Tapi apa boleh buat? Nyonya Helen yang sedang kedatangan tamu, tidak bisa menemani Mia pagi ini.
Saat sampai ke kamarnya, Mia mendapati ponselnya tengah berdering. Mia segera meraih ponselnya dan menjawab panggilannya.
"Halo A," sapa Mia saat menjawab panggilan dari suaminya.
"Kamu dari mana aja? Kok gak jawab panggilan aku?" tanya Dion.
"Tadi habis sarapan, Mia ngobrol dulu sama Mama. Mia gak bawa ponsel A. Ada apa?" tanya Mia.
"Kok ada apa sih?" Dion balik bertanya.
"Hah?" Mia bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan dari Dion.
"Kamu kenapa sih?" tanya Dion.
"Gak kenapa-kenapa A," jawab Mia.
Ada juga Aa kenapa? Aa kok bisa marah-marah gak jelas begini sih? Kenapa A?
Mia bingung saat mendengar nada suara Dion yang berbeda dari biasanya. Nada Dion nampak seperti yang sedang marah. Padahal Mia tidak tahu alasan kemarahan Dion.
"Lain kali kalau kemana-mana itu bawa ponsel dong. Kamu kan tahu kalau aku jauh dari kamu. Kamu juga yang bilang kalau mau kemana-mana itu jangan lupa kabari," ucap Dion.
Mia menghela nafas panjang mendengar ucapan Dion. Ingin sekali ia menjawab ucapan Dion. Namun, Mia menyadari kalau Dion tengah marah. Mia akan selalu berusaha menajadi air, saat suaminya sedang menjadi api.
"A, udah makan?" tanya Mia yang berusaha mengalihkan kemarahan Dion.
"Udah. Kamu belum berangkat makan siang?" tanya Dion.
"Belum dong A. Kan rencananya makan siang. Ini kan baru jam sembilan," ucap Mia.
"Ya kali aja kamu berangkat dari pagi," jawab Dion sinis.
"Gak mungkin dong A," ucap Mia.
"Gak ada yang tahu kan. Siapa tahu aja kamu senang kalau banyak kamera yang menikmati kecantikanmu," jawab Dion.
"Kamera? Mia udah lama gak foto-foto loh A," jawab Mia.
"Kamu gak ngerti banget sih Mi? Ya udah hari ini kamu jangan kemana-mana. Diam saja di rumah," ucap Dion.
"Kan sudah janjian sama Papa," ucap Mia.
"Kamu lebih senang ya kalau banyak yang menikmati kecantikanmu?" tanya Dion.
"Aa kenapa sih?" tanya Mia.
"Ah udah ah, aku mau kerja lagi." Dion mengakhiri panggilannya.
Mia menatap layar ponselnya. Dahinya mengkerut, ia bingung dengan sikap Dion yang marah-marah tidak jelas. Rupanya Mia tidak tahu kalau Mia tengah hangat diperbincangkan di media masaa. Nama dan wajah Mia tiba-tiba mencuat seiring keberhasilannya saat itu.
Beberapa kamera yang dimaksud oleh Dion adalah kamera wartawan yang siap memotret Mia kapan dan dimana saja saat bertemu Mia. Dion seolah tidak rela saat wajah istrinya terekspose begitu saja.
Mia kamu tidak tahu apa kalau aku ini cemburu? Mengertilah kalau aku tidak mau banyak mata menikmati wajah kamu yang cantik. Ini semua karena kalian heyy para wartawan. Kenapa sih kalian mengambil foto istriku yang cantik?
################
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1