
Tuan Wira mengikuti Tuan Felix masih dengan wajah bingung. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Tuan Felix? Mengapa ia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu?
BRUGH
Tuan Wira menabrak tubuh Tuan Felix yang berhenti di hadapannya.
"Kenapa kau berhenti tiba-tiba?" tanya Tuan Wira.
"Kamu yang punya rumah. Kamu dong di depan. Mana aku tahu ruang makannya ada dimana," ucap Tuan Felix.
"Ya sudah ayo!" ajak Tuan Wira.
"Kamu lagi mikirin apaan sih? Kok ngelamun begitu?" tanya Tuan Felix saat mengekor menuju ruang makan.
"Gak ada," jawab Tuan Wira.
Tuan Wira tidak mungkin sejujur itu pada Tuan Felix jika ia memang sedang memikirkan dirinya. Ia hanya butuh waktu. Mencari waktu yang tepat untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
"Silahkan," ucap Mia saat menyambut kedatangan Tuan Felix.
"Terima kasih," ucap Tuan Felix.
Ia duduk dan menatap semua makanan yang ada di meja. Sepertinya sangat spesial karena banyak jenis masakan yang memang disediakan di atas meja makan.
"Semoga suka, Tuan." Nyonya Helen mempersilahkan Tuan Felix untuk menyantap masakannya.
"Pasti. Ini semua nampak sangat enak," ucap Tuan Felix.
Sebuah piring yang ada di hadapannya ia isi dengan beberapa jenis masakan. Satu per satu ia cicipi. Tanpa menunggu ditanya, Tuan Felix segera mengatakan apa yang ia rasakan. Enak. Sangat enak. Ia sampai meminta izin untuk nambah lagi.
"A, itu suka apa lapar ya? Kok makannya banyak sih?" bisik Mia.
Dion tidak menjawab. Ia mengabaikan Mia karena tatapan Tuan Felix mulai mengarah padanya. Ia tidak mau jika sampai Tuan Felix tersinggung karena bisikan Mia.
Mia nampak cemberut saat ia tidak mendapat respon. Tapi Dion masih saja mengabaikannya. Ia pikir urusan Mia masih bisa ia selesaikan dengan mudah nanti.
Dion hanya melanjutkan makan. Sesekali ia menangkap tatapan Tuan Felix untuk Mia. Awalnya ia tidak berpikiran macam-macam. Namun lama-lama ia merasa kalau ini tidak wajar. Tuan Felix semakin sering menatap Mia.
Cemburu? Haruskah ia cemburu pada pria yang seumuran dengan ayahnya itu? Tidak peduli apapun itu. Ia tersinggung dengan sikap Tuan Felix yang mengganggu hatinya.
__ADS_1
Awas ya akan aku buat perhitungan nanti!
Selesai makan, Dion mengajak Mia untuk segera meninggalkan ruang makan. Dengan alasan Narendra dan Naura, mereka berdua bisa lolos dari acara mengobrol dengan Tuan Felix.
Masalahnya ini bukan obrolan tentang pekerjaan. Karena bahasan tentang proyek baru itu baru akan dibahas besok. Dan itu pun akan dilakukan di kantor.
"Aku curiga pada Tuan Felix," ucap Dion.
"Hah?" tanya Mia.
Kerutan di dahinya jelas menunjukkan kalau Mia benar-benar tidak mengerti atas ucapan suaminya. Kenapa Dion tiba-tiba mencurigai Tuan Felix? Padahal sebelumnya Dion dengan sangat kagumnya menceritakan sahabat ayahnya itu.
"Aku curiga," ulang Dion.
"Curiga atau cemburu?" tanya Mia.
Mia dan Dion saling beradu pandang. Mengerti tatapan Dion, Mia segera tersenyum lebar.
"Mia gak akan berpaling dari Aa. Apa lagi sama Tuan Felix. Dia itu kan pantasnya jadi bapaknya Mia," ucap Mia.
"Kalau saja kamu macam-macam, aku akan buat perhitungan sama kamu. Kamu lihat saja nanti," ancam Dion.
"Iya Pa," sahut Dion dari dalam kamarnya. "Diam di sini! Kamu hanya boleh keluar kamar kalau mau ketemu sama Narendra dan Naura," lanjut Dion pada Mia.
Dion keluar dan terlihat malas saat tahu kalau Tuan Felix ingin bicara dengannya. Rasa curiga dan cemburunya kembali membuncah, tatkala tuan Felix terus mencari informasi tentang istrinya.
Dion adalah orang yang tidak ingin banyak orang tahu tentang Mia. Namun apa boleh buat, Tuan Felix memberondongnya dengan pertanyaan tentang Mia di depan Tuan Wira. Mau tidak mau ia harus menjawabnya meskipun dengan rasa malas.
"Tuan, sudah malam. Sebaiknya Anda tidur. Besok kita akan berangkat pagi untuk membahas bisnis itu," ucap Dion.
Itu adalah cara akhir yang Dion lakukan saat Tuan Felix masih terus bertanya ke ranah pribadinya. Tuan Wira terlihat tidak nyaman dengan ucapan Dion. Tapi Dion segera memperbaiki ucapannya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Besok kita akan lanjut obrolan ini. Anda harus istirahat agar tetap sehat," ucap Dion.
"Oh iya tentu. Terima kasih untuk hari ini Dion," ucap Tuan Felix.
Tuan Felix pamit dan kembali ke kamarnya untuk istirahat. Ia mengunci pintu kamarnya, lalu duduk di tepi ranjang. Kepalanya kembali memutar penjelasan Dion tentang Mia. Memang belum semua yang ia inginkan didapatkan, tapi paling tidak sudah ada gambaran tentang Mia.
Jadi dia orang Bandung? Orang tuanya sudah meninggal?
__ADS_1
Ya, Dion tidak sepenuhnya jujur tentang Mia. Dion mengatakan kalau keda orang tua Mia sudah meninggal. Karena tidak mungkin jika Dion harus mengatakan jika Mia tidak tahu siapa ayah kandungnya. Bukankah itu aib untuk istrinya?
Tuan Felix kembali membuka lemari dan mengambil foto Mia. Ia mengamati kembali wajah Mia dengan hiasan pengantin yang sangat cantik. Memang agak sedikit berbeda, karena saat itu Mia masih kurus. Sekarang berat badan Mia sudah naik hampir 15 kilo.
"Kamu mengingatkanku pada dosaku puluhan tahun silam. Kenapa kalian bisa semirip ini? Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Inikah cara Tuhan untuk mengingatkanku akan dosaku?" gumam Tuan Felix.
Tuan Felix memejamkan matanya sebentar. Is menghela napas panjang lalu memeluk foto Mia. Membiarkan foto itu dalam dekapannya sampai akhirnya ia sadar karena ketukan pintu kamarnya.
"Sebentar," ucap Tuan Felix.
Tuan Felix segera merapikan dan menyimpan kembali foto itu ke dalam lemari.
"Ngapain sih sampai kunci pintu segala?" tanya Tuan Wira.
"Takut kamu masuk dan ikut tidur di sini. Bahaya," jawab Tuan Felix.
"Aku sudah berubah. Haha," ucap Tuan Wira yang akhirnya tertawa saat mengingat kejadian tempo itu.
"Syukurlah kalau udah berubah. Kamu mau ngapain?" tanya Tuan Felix.
"Eh lupa. Kalau nanti tengah malam kamu lapar atau butuh sesuatu kamu bisa panggil orang dengan nomor telepon yang ada di laci meja. Nanti akan langsung terhubung dengan orang yang aku tugaskan," ucap Tuan Wira.
"Sepertinya kamu masih sangat tahu tentang aku. Terima kasih karena kamu udah perhatian," ucap Tuan Felix sembari menggoda Tuan Wira.
Ya, memang Tuan Wira tahu betul bagaimana kebiasaan Tuan Felix. Ia biasanya akan bangun tengah malam. Baik itu untuk makan, atau hanya sekedar minum teh hangat. Bahkan kadang-kadang ia akan minum kopi hingga akhirnya tidak tidur semalaman.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tidak mau kalau nanti malam tidur ku terganggu hanya karena kamu lapar atau ingin minum teh," ucap Tuan Wira.
Karena tidak ingin Tuan Felix terlalu lama besar kepala, Tuan Wira segera pergi meninggalkan kamar Tuan Felix. Membiarkan pria keturunan Jerman itu mengamati tingkah Tuan Wira dengan menahan senyumnya. Setelah itu, Tuan Felix kembali menutup pintu kamarnya. Merangkak ke atas ranjang dan memejamkan matanya. Berharap melupakan semua yang tidak ingin ia ingat itu kembali hadir mengisi ingatannya.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.