Janda Bersegel

Janda Bersegel
PR Mia


__ADS_3

"Mia, Sindi itu anak baik. Dimanapun ia berada, pasti banyak yang sayang sama dia. Apalagi di sana juga ada Reza dan Maya. Mereka berdua pasti sayang juga sama Sindi," ucap Nyonya Helen.


Mia mengusap kedua pipinya.


"Mama benar. Sindi anak baik. Mama tahu itu kan?" tanya Mia meyakinkan.


"Iya Mama tahu betul semua itu Mia," jawab Nyonya Helen.


Seharusnya jika suatu hari nanti Mama tahu semua kenyataan antara Sindi dan Mas Danu, Mama bisa lebih bijak memanggapinya. Sindi tidak mungkin berniat buruk dan sengaja menyembunyikan semua ini. Semua hanya salah paham saja.


Setelah cukup tenang, Nyonya Helen mengantarkan Mia ke kamarnya.


"Kamu istirahat ya!" ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma. Terima kasih," ucap Mia.


Nyonya Helen tersenyum dan keluar dari kamar Mia. Ia berniat kembali ke kamarnya. Namun saat mendengar tangisan cucu kembarnya, Nyonya Helen mengurungkan niatnya.


"Kenapa cucuku yang ganteng dan cantik?" tanya Nyonya Helen.


"Biasa Nyonya, Dede Naura dan Narendra mau menyusu," jawab salah satu perawat.


"Stok ASI masih ada?" tanya Nyonya Helen.


"Ada Nyonya," jawab perawat.


Nyonya Helen membantu perawat itu untuk menyusukan cucu kembarnya. Setelah mereka tidur kembali, Nyonya Helen pergi ke kamar untuk beristirahat.


Namun baru saja Nyonya Helen memejamkan matanya, ia kembali terbangun saat mendengar teriakan orang di lantai bawah.


"Danu?" ucap Nyonya Helen penuh tanya.


"Nyonya, dimana Sindi?" tanya Danu.


"Kamu kenal Sindi?" tanya Nyonya Helen.


"Dia calon istriku," jawab Danu. "Dimana dia?" lanjutnya.


"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Helen.


"Ma," ucap Mia.


Mia yang mendengar keributan itu langsung berusaha melerai. Nyonya Helen yang tidak tahu apa-apa kini harus tahu semuanya dari Danu. Mia tidak mau semua itu terjadi. Ia takut Nyonya Helen salah paham padanya.


"Mana Sindi?" tanya Danu pada Mia.


"Sindi gak ada di sini Mas," jawab Mia.


"Jangan bohong," tuduh Danu.


"Mia gak bohong Mas. Gak ada Sindi di sini," jawab Mia.


"Lalu kemana dia?" tanya Danu.


"Dia ke Surabaya. Kamu ngapain pacaran sama Sindi? Mau buat Mia cemburu? Gak mungkin. Jangan ngarep kamu," jawab Nyonya Helen.


"Maaf Nyonya, saya sama sekali tidak tahu tentang Sindi dan Mia. Yang saya rasakan saat ini saya mencintai Sindi. Itu saja. Jadi saya minta alamat Sindi di Surabaya," ucap Danu.


Nyonya Helen menatap Mia. Namun Mia tidak berani menatap ibu mertuanya itu. Mia hanya menunduk. Ia berharap semua ini hanya mimpi.

__ADS_1


"Mia, apa ini alasan Sindi pergi dari sini?" tanya Nyonya Helen


Mia hanya diam. Ia menggulung ujung dressnya. Bingung dengan jawaban yang harus ia keluarkan.


"Apa kalian berdua membohongi Mama?" tanya nyonya Helen sekali lagi.


Kali ini nada suaranya semakin keras dan ditekan. Mia merasa dirinya terancam. Ia benar-benar sudah berada dalam zona tidak aman.


"Nyonya, apapun itu semuanya bisa kalian bahas nanti. Yang penting sekarang aku minta alamat Sindi," ucap Danu.


"Mama kecewa," ucap Nyonya Helen.


Tidak menggubris ucapan Danu, Nyonya Helen memilih untuk pergi meninggalkan Mia dan Danu. Mia panik saat hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Ia tahu jika rumah itu terpasang cctv hampir di setiap sudut ruangan. Agar tidak menjadi salah paham, Mia memanggil Mba untuk menemaninya.


"Mau diambilkan minum Nyonya?" tanya Mba.


"Oh, gak usah. Tamunya juga gak lama kok. Mia cuma minta ditemani saja," jawab Mia.


"Baik Nyonya," jawab Mba.


Danu tahu apa yang Mia maksud. Ia segera meminta alamat Sindi pada Mia. Setelah Mia memberinya, ia segera pamit.


"Terima kasih. Aku permisi," ucap Danu.


Dengan alamat yang sudah ia tulis diponselnya, Danu siap mencari Sindi dan memperjuangkan cintanya. Ponsel itu digenggam erat dengan bibir tersenyum lebar. Ia siap menemui Sindi dan memintanya menjadi istrinya.


"Mas," panggil Mia.


Danu membalikkan badannya.


"Ya," jawab Danu.


"Tanpa kamu pinta, aku pasti akan menjaganya sepenuh hatiku. Jangan khawatir," ucap Danu.


Tidak ingin menghabiskan waktu, Danu segera pergi dari rumah itu. Mia mengusap dadanya lega saat Danu sudah pergi.


Sindi, bersabarlah. Mas Danu akan segera membuatmu bahagia. Mia harap kamu selalu bahagia bersamanya.


Baru saja Mia akan kembali ke kamarnya, Mia membalikkan badannya saat mendengar panggilan dari suaminya. Meskipun Mia belum melihat sosok si pemanggil, namun ia hapal betul pemilik suara itu.


"A," panggil Mia.


Mia setengah berlari. Memburu Dion yang belum terlihat dalam pandangannya. Setelah sosok itu ada di depan mata, ia segera memeluknya.


"Aku lihat tadi mantan suamimu dari sini," selidik Dion.


"A, panggil namanya saja. Jangan selalu mengaitkan Mia sama dia," pinta Mia.


Ah serba salah. Memanggil namanya atau menyebutnya sebagai mantan suaminya, tetap berhasil membuatnya kesal dan marah.


"Ya, itulah pokoknya. Ngapain dia ke sini? Bawa Sindi pergi dari sini?" tanya Dion.


"Jadi Aa udah tahu apa tujuan Mas Danu ke sini?" tanya Mia terkejut.


"Jadi benar? Sudah dia bawa sahabatmu itu?" tanya Dion sinis.


"A, Sindi memang sudah pergi dari rumah ini. Tapi dia pergi bersama sopir. Dia kembali ke Surabaya," jawab Mia.


"Apa dia ikut?" tanya Dion.

__ADS_1


Mia menggeleng. Ia kasihan mengingat perjalanan hidup Sindi. Rasanya lebih menyakitkan dibanding dengan kisahnya.


"Katanya mau nyusul," jawab Mia pelan.


"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Dion.


"Aa," ucap Mia dengan nada tinggi.


Rasanya kesabaran Mia sudah habis. Ia kecewa dengan Dion yang selalu menyudutkannya. Tidak sekalipun Dion mengerti keadaan Sindi dan dirinya.


"Mia kok kamu marah?" tanya Dion.


Dion akhirnya mengikuti Mia yang pergi ke kamar.


"Mi," panggil Dion.


Mia tidak menjawab. Yang terdengar hanya isak tangis dari Mia. Dion kini merasa bersalah atas sikap dan tindakannya selama ini. Ia duduk di tepi ranjang dan mengusap kepala Mia. Tangisnya masih belum reda. Dion tak berniat mengajaknya bicara karena takut membuat Mia semakin terluka.


Dion hanya mengusap kepala Mia dengan penuh kasih sayang. Penyesalan yang begitu dalam tengah menghujam dadanya. Sakit rasanya melihat istri yang sangat ia cintai menangis seperti itu di hadapannya.


"A, setiap orang berhak bahagia atas jalan Tuhan yang sudah diberikan. Kalaupun bahagia Sindi bersama Mas Danu, kenapa Aa begitu membenci Sindi?" tanya Mia.


Tidak memberi waktu untuk Dion menjelaskan, Mia kembali menjelaskan tentang Sindi yang tidak tahu masa lalu Danu dan dirinya. Mia juga menceritakan kembali jika Sindi menutup semua ini rapat-rapat karena belum yakin dengan hubungannya.


"Ya, aku minta maaf. Aku tahu aku berlebihan. Tapi kamu harus tahu, alasan terbesarku adalah takut kehilangan kamu. Jangankan kehilangan dirimu, sebagian kecil perhatianmu saja aku tidak ingin. Saat Sindi menikah dengan dia, maka kalian akan tetap terlibat satu sama lain." Dion memijat kepalanya.


"A, harus berapa kali Mia katakan. Mia tidak mungkin kembali ke masa lalu. Mia udah punya Aa. Mia sayang sama Aa," ucap Mia.


Berulang kali Mia menjelaskan dan meyakinkan hal yang sama pada Dion, akhirnya Dion mengalah. Paling tidak ia yakin jika Danu akan menepati janjinya untuk memperjuangkan cintanya pada Sindi. Artinya, ruang hati Danu sudah terisi oleh wanita lain. Mia sudah tidak ada di sana.


"Terima kasih ya Mi," ucap Dion.


Mia masih diam. Mungkin ia masih belum yakin dengan sikap suaminya.


"A, biarkan mereka bahagia. Kalau Aa benci sama Sindi hanya karena takut Mia ketemu sama Mas Danu, Mia akan menjaga semua itu. Sekalipun Sindi menikah, Mia gak akan datang. Tapi Mia mohon. Jangan benci sama Sindi," ucap Mia.


Dion segera memeluk istrinya. Ia berjanji untuk tidak membuatnya terluka seperti itu lagi. Kelemahan Dion adalah saat melihat Mia menangis. Apalagi dia adalah sosok dibalik tangis Mia.


"Aku gak benci sama Sindi kok. Kamu jangan nangis lagi ya!" ucap Dion.


Dion terus mengusap kepala Mia. Sesekali Dion menyeka air mata istrinnya yang masih belum usai.


Dibalik tangis Mia, ada sedikit lega saat Dion sudah mulai luluh. Kini tugasnya berkurang. Bebannya tidak seberat semula. Nyonya Helen, kini PR Mia adalah menjelaskan hal yang sama pada mertuanya itu.


Meskipun Mia tahu semua itu tidak mudah, tapi bukan berarti Mia harus menyerah. Ia akan mencoba menyelesaikan PR nya agar semua tetap baik-baik saja.


Tuhaaaan, bantu Mia. Mia tahu PR Mia kali ini susah dan berat. Tapi dengan bantuan-Mu, Mia yakin semuanya akan baik-baik saja. Mama Helen pasti bisa maafin Sindi. Semangat Mia, semangat.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2