Janda Bersegel

Janda Bersegel
Di atas? Di bawah?


__ADS_3

Tiba waktunya Pak Baskoro menyerahkan surat perceraian itu dan menagih janji Haji Hamid untuk memberinya kompensasi sebesar satu milyar.


Haji Hamid mengatur janji dengan Pak Baskoro. Sementara Mia membantu Bu Ningsih untuk membawa pakaiannya. Tidak satupun barang yang dibawa bu Ningsih. Semua sudah menjadi milik Pak Baskoro semenjak surat cerai itu sudah ditanda tangani.


Raut bahagia dari Bu Ningsih dan Pak Baskoro jelas terlihat. Bu Ningsih yang bahagia karena sudah lepas dari Pak Baskoro, sedangkan Pak Baskoro bahagia karena memiliki uang dan rumah.


Mia tak kalah bahagia karena bisa membebaskan ibunya dari kesengsaraan. Dengan sangat semangat Mia membantu ibunya dan segera mengajak Haji Hamid untuk pulang. Mia sudah tidak sabar ingin segera bebas dari lingkar Haji Hamid.


Sesampainya di rumah Haji Hamid, Bu Ningsih justru terlihat bersedih. Haji Hamid yang menyadari semua itu, lebih memilih untuk pergi ke kamarnya. Sengaja meninggalkan mereka berdua agar bisa saling bicara dari hati ke hati.


Ternyata yang membuat Bu Ningsih bersedih bukan karena berpisah dari Pak Baskoro. Bu Ningsih merasa selalu saja merepotkan Mia. Sejak mereka hidup sengsara, bahkan sampai Mia hidup berkecukupan dengan Haji Hamid. Malu rasanya selalu menggantungkan hidupnya pada Mia.


Mia memeluk Bu Ningsih dengan penuh kasih sayang. Meyakinkan ibunya kalau Mia tidak pernah terbebani oleh Bu Ningsih. Mia justru bersyukur dan berterima kasih pada ibunya, karena telah membesarkan Mia dan selalu membelanya dari Pak Baskoro.


Tapi saat ini, mereka siap membuka lembaran baru. Menutup lembaran kelam, mengakhiri cerita pilu bersama Pak Baskoro.


"Bu, istirahat di kamar ya! Ibu pasti lelah." Mia mengajak Bu Ningsih untuk masuk ke dalam kamarnya.


Ketika Bu Ningsih sudah ke kamarnya untuk beristirahat, Mia menemui Haji Hamid untuk berterima kasih. Namun ternyata Haji Hamid sedang tidur. Akhirnya Mia keluar lagi dan memilih untuk menonton tv.


Baru saja Mia menyalakan tv, tiba-tiba email masuk. Ada tugas yang harus diselesaikan untuk tugas minggu ini. Mia dengan sangat semangat segera mengerjakan tugas itu. Semangatnya kian membara saat mengingat Bu Ningsih. Ibu yang selama ini selalu mengharapkan kebahagiaan untuk Mia.


Selesai kuliah, Mia akan melamar kerja dan menghasilkan uang sendiri. Mia sudah tidak mau mengandalkan Haji Hamid. Seperti cita-citanya, Mia ingin sukses dengan keringatnya sendiri. Satu hal yang menjadi mimpi Mia. Ingin rasanya ke Jerman, mencari siapa ayah kandungnya. Ya, walaupun harapan itu kecil, namun tak ada salahnya jika Mia bermimpi. Masalah terwujud atau tidak, urusan belakangan.


Hampir dua jam Mia mengerjakan tugas itu sampai akhirnya Mia ketiduran di kursi dengan laptop yang masih menyala. Saat Haji Hamid keluar dari kamarnya dan melihat Mia, hatinya tersentuh. Begitu tinggi semangatnya untuk membahagiakan ibunya sampai Mia kelelahan. Mia tidur di tengah tugasnya.


Haji Hamid membereskan laptop dan buku yang berserakan atas meja. Pemandangan itu membuat Bu Ningsih terharu. Betapa beruntungnya Mia mendapatkan suami seperti Haji Hamid. Meskipun usianya sudah sangat tua, namun bisa sebegitu perhatiannya pada Mia.


Bu Ningsih masuk kembali ke dalam kamarnya. Tak ingin mengganggu suami istri itu. Seandainya Bu Ningsih tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara Mia dan haji Hamid, pasti akan sangat kecewa. Itulah yang membuat Mia dan Haji Hamid menutup rapat rahasia rumah tangganya.


Malam semakin larut. Setelah mereka makan malam bersama, Bu Ningsih pamit ke kamarnya dan mau tidak mau Mia juga mengikuti Haji Hamid ke kamarnya.

__ADS_1


Bu Ningsih merasa penasaran dengan rumah tangga anaknya. Setelah cukup lama berada di dalam kamarnya, Bu Ningsih keluar dan melihat ke kamar Haji Hamid. Pintunya sudah tertutup. Bu Ningsih berjalan mendekat dan menempelkan telinganya pada daun pintu di kamar Haji Hamid.


Memfokuskan pendengarannya. Dengan sangat hati-hati, ia mendengarkan apa yang terjadi di dalam kamar itu.


"Kamu mau di atas atau di bawah?" tanya Haji Hamid.


"Mia terserah Pak Haji aja. Gimana enaknya," jawab Mia.


"Ah kau ini. Selalu saja tidak punya pendirian," dengus Haji Hamid.


"Ya sudah kalau begitu Mia di atas," ucap Mia.


"Nah, gitu dong. Kan enak," jawab Haji Hamid. "Ya sudah. Ayo naik," lanjut Haji Hamid.


"Siap Pak Haji," ucap Mia.


Suara ranjang yang berderit membuat Bu Ningsih segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya. Masih jelas terbayang saat mendengar percakapan keduanya menjelang tidur.


"Di atas di bawah? Ya Alloh Mia, ibu tidak menyangka kalau kau sangat berani. Kau tidak malu? Mau di atas?" gumam Bu Ningsih.


Saat pagi, Bu Ningsih melihat Mia yang sudah sibuk di dapur. Ternyata di rumah Haji Hamid Mia lebih rajin. Mungkin karena rumah yang harus dibersihkan itu lebih luas dari rumah mereka dulu.


"Mia," sapa Bu Ningsih.


"Iya Bu," jawab Mia. Menoleh sebentar ke arah ibunya dan memberikan senyum manisnya kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Mia, ibu boleh tidak bicara sesuatu padamu?" tanya Bu Ningsih dengan suara yang begitu pelan.


Mia menghentikan dulu pekerjaannya dan duduk di hadapan ibunya. "Ada apa Bu?" tanya Mia.


"Itu, emm anu, Mia. Aduh gimananya ngomongnya?" ucap Bu Ningsih tidak jelas.

__ADS_1


"Bu, bicara saja. Ada apa? Jangan sungkan-sungkan sama Mia." Mia memegang tangan Bu Ningsih. Terasa sangat dingin dan berkeringat.


Kepala Mia penuh tanya. Apa yang akan ditanyakan ibunya sampai begitu gugup? "Bu, ada apa?" tanya Mia lagi saat melihat ibunya masih tidak menjawab.


"Begini Mia. Sebelumnya ibu minta maaf ya! Semalam ibu tidak sengaja mendengar kalian di kamar sebelum tidur," ucap Bu Ningsih menggantungkan ucapannya.


"Lalu?" tanya Mia.


"Kalau urusan ranjang itu, sebelum hamil lebih baik kamu di bawah saja. Jangan di atas dulu ya! Biar cepat hamil, Mia." Bu Ningsih malu-malu menasehati Mia.


"Ibuuuu. Itu tidak seperti yang Ibu dengar," ucap Mia dengan wajah yang menerah.


Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..


Haji Hamid yang tidak sengaja mendengar nasihat Bu Ningsih untuk Mia langsung tersedak. Hampir saja gelas berisi air putih itu lepas dari tangannya.


Ternyata, Bu Ningsih yang pendiam itu punya hobby menguping. Dan yang lebih parah, bu Ningsih salah paham dengan obrolan Haji Hamid dan Mia semalam. Bu Ningsih berpikir yang tidak-tidak, padahal mereka hanya berdiskusi tentang tempat tidur mereka.


Haji Hamid memesan ranjang baru untuk di kamarnya. Ranjang susun, agar mereka bisa tidur satu kamar tanpa satu ranjang. Jadi Mia di ranjang bagian atas dan Haji Hamid di ranjang bagian bawah.


"Eh, maaf Pak Haji. Saya permisi dulu," ucap Bu Ningsih saat melihat Haji Hamid ada di sana. Rasa malu dan takut membuat Bu Ningsih cari aman. Bu Ningsih masuk ke kamarnya, menunggu sampai Haji Hamid tidak ada di sana.


"Miaaaaa," ucap Haji Hamid geram.


"Ma-maaf Pak Haji. Mia juga tidak tahu kalau ibu nguping. Jujur saja Mia juga terkejut saat mendengar pengakuan ibu," ucap Mia.


"Ah, ada-ada saja." Haji Hamid mendengus kesal dan kembali ke dalam kamarnya.


Sementara Mia dengan rasa yang campur aduk, melanjutkan aktivitas memasaknya.


##################

__ADS_1


Tap like jangan lupa kakak


Terima kasih...


__ADS_2