
Selesai makan siang, Nyonya Helen mengajak Mia untuk pulang. Mia harus istirahat. Memang tidak terlihat seperti wanita hamil yang kelelahan, namun Nyonya Helen harus tetap memperhatikan kehamilan Mia.
Dion yang berpikir kalau Nyonya Helen egois karen tidak memperhatikan kehamilan Mia, ternyata salah besar. Ia tidak tahu bagaimana Mia Nyonya Helen sangat memperhatikan kandungan Mia. Jadwal makan, minum susu dan istirahat selalu menjadi perhatian wanita yang sebentar lagi akan menjadi nenek itu.
"Mia, Dion kapan pulang ke Jakarta?" tanya Nyonya Helen.
"Mungkin dua hari lagi Ma. Katanya masih ada yang harus diselesaikan Ma," jawab Mia.
Nyonya Helen mengangguk-angguk. Bukan hanya rindu akan kehadiran Dion, tapi Nyonya Helen merasa tenang jika Dion ada di samping Mia. Jujur saja, ia kadang merasa tanggung jawabnya sangat besar terhadap Mia. Nyonya Helen takut kalau sampai ada apa-apa ada Mia, pasti ia yang akan bertanggung jawab. Karena Nyonya Helen tahu bagaimana sifat Dion.
"Mia, Mama boleh nanya sama kamu?" tanya Nyonya Helen.
"Boleh. Apa Ma?" tanya Mia.
"Saat nanti kamu sudah lahiran. Apa prioritas utama kamu? Anak atau cita-cita kamu?" tanya Nyonya Helen.
"Anak dong Ma," jawab Mia.
"Tapi anak kan bisa Mama yang urus. Sedangkan cita-cita kamu belum tentu ada kesempatan kedua," ucap Nyonya Helen.
"Ma, Mama itu sudah cape ngurus A Dion dari bayi sampai sekarang. Sudah waktunya Mama senang dan istirahat. Masa malah di suruh ngurus cucu?" ucap Mia.
"Atau kita bisa pakai jasa babysitter kan bisa?" ucap Nyonya Helen.
"Mia pasti akai jasa babysitter Ma. Tapi di hanya bantu Mia. Tetap Mia yang berperan besar buat bayi kembar Mia. Urusan cita-cita, sudah bisa seperti ini saja Mia sudah senang," ucap Mia.
"Kamu memang wanita baik. Istri dan ibu yang hebat Mia. Dion dan anak kembar kamu juga pasti sangat bangga punya kamu. Terima kasih ya sudah hadir di keluarga Mama," ucap Nyonya Helen menggenggam tangan Mia.
"Mia yang seharusnya terima kasih karena sudah diterima baik di keluarga.... Aaaa," ucapan Mia terhenti karena mobil yang di rem secara mendadak.
"Maaf Nyonya. Apa Anda baik-baik saja?" tanya sopir itu panik.
"Mia, kamu gak kenapa-kenapa?" tanya Nyonya Helen panik sembari mengusap-usap perut Mia. "Heh kamu kalau bawa mobil hati-hati dong," lanjut Nyonya Helen ada sopirnya.
Beberapa kali sopir itu minta maaf, sementara Nyonya Helen terus memberondongnya dengan kemarahan. Mia berusaha menengahi. Ia tahu kalau semua ini juga tidak sepenuhnya salah sopir itu. Sopirnya hanya menghindari kecelakaan beruntun. Tepat di depannya ada kecelakaan. Berhasil menghindari kecelakaan itu, namun tiba-tiba mobilnya ditabak dari belakang.
BRUGHHH
Teriakan Nyonya Helen dan Mia semakin keras hingga membuat sopir itu sangat panik. Ia segera memastikan kalau kedua wanita yang sedang ia jaga dalam keadaan baik-baik saja.
Beruntung mobil yang menabrak mobil Mia tidak terlalu keras hingga Mia dan Nyonya Helen baik-baik saja. Hanya bagian belakang mobil saja yang penyok.
"Mia, apa yang sakit? Apa ini sakit?" tanya Nyonya Helen panik sembari memegang perut Mia.
"Gak Ma. Mi cuma kaget aja. Mama gak kenapa-kenapa kan?" tanya Mia.
"Gak," jawab Nyonya Helen.
Tidak lama sebuah ambulance datang.
"Ayo Mia!" ajak Nyonya Helen.
"Mau kemana kita Ma?" tanya Mia.
"Kamu harus diperiksa," jawab Nyonya Helen.
"Tapi Mia gak kenapa-kenapa. Biarkan ambulance ini membawa korban kecelakaan tadi," ucap Mia.
"Korban sudah di bawa ke Rumah Sakit. Ini ambulance yang sengaja Mama panggil untuk membawa kamu," ucap Nyonya Helen.
Mia masih mematung. Hal ini membuat Nyonya Helen harus menarik tangan Mia agar segera masuk ke dalam ambulance tersebut. Setibanya di rumah sakit, Mia melakukan pemeriksaan total. Terlebih pada kandungannya.
"Bagaimana hasilnya dokter?" tanya Nyonya Helen.
"Nyonya Mia baik-baik saja. Tidak ada penyakit apapun," jawab dokter.
"Ah syukurlah!" ucap Nyonya Helen lega.
Setelah puas dengan hasil pemeriksaan dokter itu, Nyonya Helen pamit.
"Ayo Mia!" ajak Nyonya Helen.
"Kemana lagi, Ma?" tanya Mia.
"Pulang," jawab Nyonya Helen singkat.
"Tapi kan mobilnya di bengkel. Sebentar ya Mia pesan grab dulu," jawab Mia.
"Tidak perlu. Di luar sudah ada sopir lain yang menunggu," ucap Nyonya Helen.
Di luar sopir lain sudah menunggu? Memang kalau orang kaya itu bisa melakukan apapun dengan mudah ya! Hanya hitungan menit bahkan detik, semua bisa terwujud sesuai keinginannya.
Sesampainya di rumah, Nyonya Helen mengantarkan Mia untuk beristirahat di kamarnya. Nyonya Helen keluar dari kamar Mia dan berniat untuk beristirahat juga. Tubuhnya gemetar saat mengingat kejadian tadi. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Dion lakukan kalau saja tahu apa yang terjadi pada Mia. Namun ia kembali tenang saat melihat surat hasil pemeriksaan dari dokter.
"Tenang Helen, tenang. Mia baik-baik saja. Kamu tidak perlu sepanik ini," gumam Nyonya Helen.
Setelah mandi, Nyonya Helen sudah merasa sedikit tenang. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan berusaha untuk tidur. Melupakan semua bayangan buruk yang dialaminya tadi siang. Berkali-kali Nyonya Helen bergidik dan menutup wajahnya kuat-kuat dengan bantal.
"Ma, Mamaaaa," teriak Tuan Wira.
Nyonya Helen yang sudah tidur nyenyak membuka matanya perlahan saat mendengar suara teriakan dari suaminya. Ia melihat jam, belum waktunya pulang. Nyonya Helen segera bangun dan mengucek matanya. Tidak ada kegiatan menguap seperti biasanya. Kali ini ia langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka.
__ADS_1
"Maaa," teriak Tuan Wira.
Nyonya Helen segera keluar dari kamar mandi dan menyambut suaminya. Berusaha menyembunyikan kepanikannya.
"Papa udah pulang?" tanya Nyonya Helen.
"Bagaimana keadaan Mama dan Mia? Kalian baik-baik saja kan?" tanya Tuan Wira panik.
"Pa-Papa tahu semua itu dari mana?" tanya Nyonya Helen gugup.
Pasalnya, baik ia ataupun sopirnya sama sekali tidak memberi tahu Tuan Wira untuk kehadian siang tadi.
"Jawab pertanyaan Papa. Apa kalian baik-baik saja?" tanya Tuan Wira.
"Iya Pa. Mama sama Mia baik-baik saja kok. Ini hasil pemeriksaannya!" ucap Nyonya Helen memberikan sebuah amplop pada suaminya.
Tuan Wira menerima kertas itu dan membacanya.
"Kenapa cuma satu?" tanya Tuan Wira.
"Maksud Papa?" tanya Nyonya Helen.
"Mana hasil pemeriksaan Mama?" tanya Tuan Wira.
"Mama baik-baik saja. Yang penting itu Mia, Pa. Mia baik-baik saja," jawab Nyonya Helen.
"Gak. Mama juga penting buat Papa. Ayo kita ke rumah sakit!" ucap Tuan Wira.
Sebelum ke rumah sakit, Tuan Wira mampir ke kamar Mia. Ia memastikan kalau Mia baik-baik saja. Lalu pamit untuk pergi sebentar.
"Dokter, bagaimana keadaan istriku?" tanya Tuan Wira.
"Nyonya baik-baik saja, Tuan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab dokter itu.
Rasa senangnya membuat Tuan Wira memeluk Nyonya Helen di hadapan dokter itu. Ia lupa rasa malu, karena saat ini hanya rasa bahagia yang memenuhi hatinya. Ia senang kalau kecelakaan itu tidak melukai istrinya sama sekali.
Sesampainya di rumah, Tuan Wira benar-benar memperlakukan Nyonya Helen bak ratu. Ia membantu istrinya untuk berbaring di atas ranjang dan menyelimutinya. Tak lama, ia ikut tidur di samping istrinya sembari mengusap kepala Mia.
"Aku menyayangimu. Tetaplah baik-baik saja. Jangan membuatku khawatir begini," ucap Tuan Wira.
Mata Nyonya Helen berkaca-kaca. Ada rasa bahagia dan tersanjung atas ucapan suaminya. Nyonya Helen merasa kalau suaminya masih tetap sama. Usia pernikahan yang sudah berjalan puluhan tahun tidak mengubah perhatian dan kasih sayang seorang Wira kepada Helen.
"Terima kasih ya Pa. Papa masih tetap sama seperti dulu. Tetap sayang sama Mama dan romantis," ucap Nyonya Helen.
"Karena Mama juga tidak pernah berubah. Mama tetap sayang sama Papa dan perhatian sama Papa," jawab Tuan Wira.
"Ih Papa sweet banget sih," ucap Nyonya Helen.
"Jam segini? Ini masih jam lima sore Pa. Nanti malam saja ya!" ucap Nyonya Helen.
"Aduh, memangnya ada larangan ya kalau masih jam lima?" tanya Tuan Wira.
Nyonya Helen tahu siapa suaminya. Untuk saat ini, ia hanya perlu mempersiapkan diri karena Tuan Wira sedang tidak menerima penolakan apapun dari dirinya.
Usia bukan jadi penghalang. Keromantisan selalu diciptakan oleh keduanya. Hingga rasa bosan sudah lama tidak singgah dalam rumah tangganya, meskipun sudah terjalin puluhan tahun.
Besok pagi, seperti biasa Tuan Wira pamit untuk pergi ke kantor. Kali ini tanpa Mia. Bukan karena trauma atas kecelakaan itu, tapi memang karena Tuan Wira tidak menjadwal Mia untuk ke kantor setiap hari.
Berbeda dari biasanya, kali ini setelah sarapan Mia duduk di taman belakang. Di temani Nyonya Helen, Mia menikmati segarnya udara pagi hari. Bercerita banyak hal membuat Mia dan Nyonya Helen bisa lebih mengenal satu sama lain.
"Miaaaaa," teriak pria dari dalam rumah.
Nyonya helen dan Mia saling menatap. Menyamakan dugaan mereka. Dan benar, sebelum keduanya saling menyebut nama si pemanggil, Dion sudah berdiri di depan mereka berdua.
"Mia apa kau baik-baik saja?" tanya Dion sembari memeluk Mia.
Sebelum Mia menjawab, Dion sudah melepas pelukan itu dan memegang wajah Mia. Menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Lalu melihat tangan hingga kaki Mia.
"Mia baik-baik saja, A. Aa gak usah khawatir," jawab Mia.
"Bagaimana aku gak khawatir, kamu bahkan tidak memberi tahu aku apapun. Apa maksudmu?" tanya Dion kesal.
"Dion, maafkan Mama. Mama tidak menjaga Mia dengan baik. Mama juga tidak memberi tahu kamu karena Mia yang melarang Mama," ucap Nyonya Helen.
"Mama," ucap Dion.
"Maafkan Mama," ucap Nyonya Helen sembari menunduk.
"Mama, apa Mama juga baik-baik saja?" tanya Dion.
Nyonya Helen mengangkat wajahnya dan melihat Dion.
"Kamu gak marah sama Mama?" tanya Nyonya Helen.
"Mana mungkin aku marah sama Mama. Aku khawatir. Ada yang sakit?" tanya Dion.
"Mama baik-baik saja Dion. Tidak ada yang sakit sama sekali. Mama takut kamu marah sama Mama. Mama takut kamu kecewa karena Mama tidak menjaga Mia dengan baik," Jawab Nyonya Helen.
"Ma, aku yang seharusnya minta maaf. Aku menikahi Mia, tapi aku meminta Mama yang menjaga istriku," ucap Dion.
Dion memeluk Nyonya Helen dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Kenapa Mama nurut sama Mia sih buat gak ngabarin aku? Bukan cuma Mia, tapi aku juga khawatir sama Mama," ucap Dion.
"Maafkan Mia ya A. Mia cuma gak mau kalau Aa khawatir, nanti kerjanya jadi gak fokus. Aa tahu dari mana kalau Mia sama Mama kecelakaan?" tanya Mia.
"Mia sepertinya kamu melupakan siapa kamu sekarang. Banyak kamera yang mengikuti kamu. Tentu akan sangat mudah untuk mengetahui apa yang terjadi denganmu," ucap Dion.
Mia mengangguk. Benar apa kata Dion, kini dia mulai dikenal di kalangan para pengusaha. Pasti akan ada saja informasi yang dicari dari dirinya.
"Lain kali, kamu harus terbuka padaku. Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali," ucap Dion.
"Iya A," jawab Mia.
Pekerjaan Dion di Surabaya memang belum selesai. Namun saat tahu kabar Mia dan ibunya yang mengalami kecelakaan beruntun, membuat Dion memutuskan untuk segera pulang. Ia ingin memastikan kalau Mia dan Nyonya Helen benar-benar baik-baik saja.
"Nyonya, ada tamu." Salah satu pelayan datang menemui Mia.
"Siapa?" tanya Dion.
"Nyonya Nathlie, Tuan." jawab pelayan itu.
"Apa? Dengan siapa dia? Apa dia datang dengan anaknya?" tanya Dion dengan emosi yang memuncak.
"Ti-tidak Tuan. Nyonya Nathalie datang sendirian," jawab pelayan dengan gugup.
"Sayang, tenanglah." Mia mengusap dada Dion.
"Mau apa lagi dia?" tanya Dion kesal.
"Mba, silahkan kembali. Katakan kalau kami akan segera menemuinya," ucap Mia.
"Baik, Nyonya. Saya permisi," ucap pelayan itu.
"Kamu mau menemuinya? Siapa yang mengizinkanmu?" tanya Dion.
"A, tenang. Nyonya Nathalie kan hanya sendiri. Tidak ada Mas Danu," jawab Mia.
"Jangan sebut nama itu di hadapanku," ucap Dion.
"Mia kan sebut namanya di samping Aa. Gak di hadapan Aa," jawab Mia.
"Miaaaaa," ucap Dion geram.
Bisa-bisanya Mia berpikir seperti itu, disaat Dion tengah emosi. Tapi di sisi lain, Mia merasa tidak salah. Karena saat bicara seperti itu, Mia berdiri di samping suaminya, bukan di hadapannya.
Setelah Mia menjelaskan perubahan yang terjadi ada Nyonya Nathalie, Dion justru semakin melarang Mia untuk bertemu dengan mantan mertuanya itu.
"Kenapa A?" tanya Mia.
"Dia pasti punya rencana buruk padamu Mia. Biar aku yang menemuinya. Kamu diam saja di kamar ya!" ucap Dion.
Bukan ini yang Mia inginkan, tapi apa boleh buat. Dari pada tidak ada satupun yang menemui Nyonya Nathalie, lebih baik Mia yang mengalah.
"Apa yang membuat Anda menginjakkan kaki Anda di rumah ini, Nyonya?" tanya Dion dengan nada sinis.
"Tuan Dion, saya hanya ingin menemui Nyonya Mia dan Nyonya Helen. Saya mendengar kabar kalau Nyonya Mia dan Nyonya Helen mengalami kecelakaan. Bolehkah saya menemui mereka?" tanya Nyonya Nathalie.
Ada apa ini? Kenapa dia memanggil istriku dengan panggilan Nyonya Mia? Apa rencana Anda, Nyonya? Jangan harap aku akan membiarkanmu mencelakakan istriku.
"Hey, ada apa kau di sini?" tanya Nyonya Helen.
"Nyonya, apa kabar?" tanya Nyonya Nathalie.
"Baik. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kamu kecewa kan melihatku baik-baik saja? Kamu berharap kami kenapa-kenapa kan?" tanya Nyonya Helen.
"Tidak. Saya hanya ingin menjenguk kalian saja. Syukurlah kalau Anda baik-baik saja Nyonya. Lalu bagaimana dengan Nyonya Mia?" tanya Nyonya Nathalie.
"Istriku baik-baik saja," jawab Dion singkat.
Merasa mendapat respon yang buruk, Nyonya Nathalie segera pamit.
"Syukurlah. Titip salam untuk Nyonya Mia. Saya permisi," ucap Nyonya Nathalie.
Tanpa menunggu jawaban, Nyonya Nathalie pergi dari rumah Nyonya Helen. Sementara Dion hanya menatap Nyonya Nathalie penuh tanya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Dion.
"Sepertinya dia baru selesai di rukiyah," jawab Nyonya Helen.
Dion menatap Nyonya Helen lalu tertawa.
####################
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1