
Dalam mobil, Danu sesekali mencuri pandang ke samping. Di sebelahnya, duduk wanita hamil yang sangat dicintainya sejak saat itu, kini dan nanti. Mia. Ya, wanita itu adalah Mia. Wanita cantik yang tengah mengandung darah dagingnya. Mia nampak menikmati perjalanannya kali ini. Cukup lama berpisah dengan Dion karena urusan pekerjaan, Mia benar-benar merasa sangat bahagia ketika bisa menghabiskan waktu bersama Dion.
"Mi," panggil Dion.
"Iya A," jawab Mia.
"Gimana perasaan kamu sekarang?" tanya Dion.
"Bahagia, Mia sangat bahagia. Memangnya kenapa?" tanya Mia.
Bahagia? Benarkah? Bisa-bisanya Mia bahagia setelah bertemu mantan suaminya.
"Kok kamu jahat sih?" tanya Dion.
Terlihat sangat kecewa. Dion menatap fokus jalanan di hadapannya. Rasa cemburunya membuat Dion mengepalkan tangannya.
"Jahat?" tanya Mia bingung.
"Kamu bahagia setelah bertemu dia?" tanya Dion.
Bagaimana mungkin A Dion mikirin mas Danu? Bahkan Mia saja berusaha melupakan semua kejadian tadi.
"Ya ampun. Aa kok mikir ke sana? Mia bahagia karena sudah menghabiskan waktu Mia sama Aa," jawab Mia.
"Kamu gak bohong kan?" tanya Dion.
"Gak dong A," jawab Mia.
"Kamu gak cuma lagi nyenengin aku kan?" tanya Dion.
"Gak A. Mia jawab jujur kok," jawab Mia.
"Sumpah?" tantang Dion.
"Sumpah A. Berani cantik deh Mia," jawab Mia.
"Enak banget. Mana ada sumpah berani cantik?" tanya Dion.
"Ada lah. Kan Mia," jawab Mia sembari tersenyum lebar.
Mia berharap Dion bisa melupakan rasa cemburunya, karena ia sudah melupakan semua kenangan dengan Danu. Yang ada dalam hidupnya sekarang dan nanti adalah Dion.
"Berani bisulan?" tanya Dion.
"Dih, gak mau." Mia cemberut.
"Kenapa? Berarti kamu bohong ya?" tanya Dion.
"Gak begitu A. Tapi kan bisul itu penyakit orang kampung. Mia kan sekarang udah jadi orang kota. Gak level dong. Hahaha" ucap Mia merasa geli sendiri.
padahal Mia hanya menutupi kenangan silamnya. Dulu Mia paling sering bisulan. Makanya ia bilang bisul itu penyakit kampung. Karena semenjak Mia ke kota, ia tidak sekalipun mengalami bisulan lagi.
"Aku waktu di Surabaya bisulan. Padahal itu gak daerah kampungnya loh Mi," jawab Dion.
Aduh, panjang nih urusan. Itu kan karena pengalaman Mia aja. A Dion pasti mau jawaban yang masuk akal. Mana nyampe otak Mia bahas penyakit bisul. Mia kan bukan dokter. Harus cari ide nih buat mengalihkan perhatian A Dion.
"Eh A, itu mau itu!" ucap Mia.
Telunjuk Mia menunjuk ke penjual sate di pinggir jalan. Dion segera menghentikan mobilnya dan menatap Mia tak percaya.
"Mau ya! Sebungkus aja," ucap Mia.
Dion menggeleng. Mia mengerti, Dion pasti tidak akan mengizinkan Mia jajan di pinggir jalan. Dengan wajah pasrah Mia mengangguk dan tersenyum. Berpura-pura kecewa, karena sebenarnya Mia juga tidak menginginkan sate itu. Setelah melihat perhatian Dion sudah teralihkan, Mia tidak perlu merengek untuk meminta dibelikan sate.
"Kamu gak marah kan?" tanya Dion.
"Gak. Besok bisa dibuatkan di rumah kan?" tanya Mia.
Dion mengangguk dan menggenggam tangan Mia. Menciumnya dengan penuh kasih sayang. Itu yang Dion innginkan. Mia hanya perlu mengatakan apa yang ia mau. Dion punya koki handal yang bis membuat makanan apapun yang Mia inginkan.
Ketika sampai di rumah, Nyonya Helen menyambutnya dan memeluk Mia.
"Sudah puas jalan-jalannya?" tanya Nyonya Helen.
"Lama ya Ma?" tanya Mia.
Mia merasa tidak enak saat mendapat pertanyaan dari Nyonya Helen. Namun sepertinya Mia salah faham. Karena pertanyaan itu adalah bentuk kekhawatiran dan kerinduan seorang ibu mertua terhadap menantu kesayangannya. Nyonya Helen yang tidak terbiasa ditinggalkan lama-lama oleh Mia, menjadi cemas.
"Iya. Harusnya tadi Mama ikut," ucap Nyonya Helen.
"Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi bareng yu!" ajak Mia.
"Boleh," jawab Nyonya Helen dengan sangat semangat.
"Kita ke toko yang tadi Ma. Ada diskon sembilan puluh persen loh," ucap Mia.
Nyonya Helen mengernyitkan dahinya.
"Mana ada diskon sebesar itu?" tanya Nyonya Helen.
"Ada dong, kan di toko yang tadi. Nanti Mia tunjukin ya tempatnya," ucap Mia.
"Dion, kamu bawa Mia belanja dimana? Ngirit sekali kamu sampai bawa menantu mama ke tempat diskonan sampai sembilan puluh persen begitu? Pasti pengunjungnya banyak kan? Mia pasti berdesakan ya?" tanya Nyonya Helen sembari memukul tangan Dion.
Ya ampun Mia. Kenapa harus dibahas sama Mama sih? Ini bisa rame nih. Jangan sampai kebongkar ya Tuhaaan. kasihani hamba. Bisa-bisa suruh aku buat balikin semua bajunya kalau tahu aku bohong.
"Gak kok Ma. Mia belanjanya di mall. Barangnya juga bagus. Gak berdesakan juga. Di sana juga gak berdesakan. Karena diskonnya tidak terbuka untuk sembarang orang. Ada kriteria tertentu," jawab Mia.
Aduh Mia. Apa kamu tidak bisa menutup mulutmu? Aku pusing ini. Jangan sampai semuanya bisa rame karena kebohongan aku.
"Kriteria tertentu?" tanya Nyonya Helen.
"Iya Ma," jawab Mia.
"Apa kriterianya?" tanya Nyonya Helen.
__ADS_1
"Khusus untuk ibu hamil yang belanjanya ditemani suami," jawab Mia.
"Kriteria macam apa itu? Mama baru tahu kalau ada diskonan dengan kriteria aneh seperti itu. Memangnya kamu belanja apa sih?" tanya Nyonya Helen.
Dion sudah menunduk. Ia sedang berpikir keras untuk mencari alasan agar Mia tidak tahu kebohongannya tadi.
"Belanja baju dan sepeda buat bayi kembar Ma," jawab Mia.
"Ah benarkah? Mana barangnya?" tanya Nyonya Helen.
Akhirnya, Mama lupa soal diskonan. Selamaaaat. Dion.
"Masih di mobil Ma," jawab Mia.
"Ngapain kamu masih di sini?" tanya Nyonya Helen pada Dion.
"Loh, memangnya tidak boleh?" tanya Dion.
"Gak boleh. Kamu harusnya ke mobil. Bawa ke sini hasil belanjanya. Mama mau lihat," ucap Nyonya Helen.
"Kan bisa panggil sopir atau Mba Ma," jawab Dion.
"Gak bisa. Buat cucu Mama gak boleh sembarangan. Masa kamu gak mau sih bawain baju anak kamu sendiri?"ucap Nyonya Helen.
Dion menghela nafas panjang. Ia mengumpulkan energi dan kesabarannya sebelum akhirnya mengikuti apa yang Nyonya Helen inginkan.
"Iya iya. Sabar dong Ma," ucap Dion.
Tanpa bantuan sopir dan yang lainnya, Dion mengangkut barang belanjaannya sendiri.
"Mau dimana ini?" tanya Dion.
"Bawa ke kamar kamu. Kita lihat di sana," ucap Nyonya Helen.
"Iya," jawab Dion dengan pasrah.
Di dalam kamarnya, Dion hanya menonton dan menjadi pendengar setia dua wanita yang tengah bahagia mengacak-ngacak baju bayi.
"Tapi Mia, kenapa kamu beli sepeda begini? Ini buat anak setahun. Harusnya kamu beli box bayi dong," ucap Nyonya Helen.
"Iya nanti Mia beli box bayi Ma. Mia jadi gak sabar mau lihat dede bayi kembar," ucap Mia.
"Sabar dong.. Tinggal 2 bulan lagi," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma," jawab Mia sembari mengusap perutnya.
"Mi, kamu kenapa sih gak pilih lahiran SC aja? Ini kehamilan pertama dan bayinya kembar. Kamu gak takut?" tanya Nyonya Helen.
"Ma, jangan nakut-nakutin Mia dong. Harusnya Mama itu kasih support ke Mia," ucap Dion.
"Eh, maksud Mama bukan nakut-nakutin Mia. Kamu gak takut kan Mi?" tanya Nyonya Helen.
"Gak kok Ma," jawab Mia.
Padahal dalam hati Mia, rasa takut itu memang ada. Benar apa yang dikatakan oleh Nyonya Helen. Kehamilan pertama dan langsung kembar, Mia sangat takut. Tapi Mia jauh lebih takut kalau harus di SC. Mia berusaha bisa untuk lahiran normal selama masih bisa normal. Namun Mia pasrahkan semuanya. Kalau seandainya SC adalah jalan terbaik, siap tidak siap Mia harus siap.
"Iya Ma," jawab Mia.
Setelah puas mengacak barang belanjaan, Nyonya Helen keluar dari kamar Mia agar Mia bisa beristirahat.
"Tidur yang nyenyak ya!" ucap Nyonya Helen sembari mengusap perut Mia.
Entah sudah berapa kali Nyonya Helen mengusap perut Mia. Membuat Mia terharu dan benar-benar merasakan kembali sosok seorang ibu dalam hidupnya.
Rasa lelah membuat Mia tidur lebih siang dari biasanya. Tidak ada acara bertempur malam ini. Dion membiarkan Mia untuk istirahat. Sementara Dion, keluar kamar dan pergi ke ruang kerjanya. Membuka laptop dan membuka laporan perusahaannya di Surabaya. Senyum lebar mengembang di bibir Dion saat perkembangan yang sangat bagus.
Seperti apa yang sudah direncanakan. Saat Mia berhasil saat meeting itu, Dion akan ditarik ke Jakarta. Maka perusahaan butuh orang yang menggantikan Dion di Surabaya. Tidak sesuai prediksi, orang kepercayaan Tuan Wira justru kecelakaan sebelum meeting itu dimulai.
Tuan Wira memang belum membahas tentang semua ini. Tapi Dion sudah mulai memikirkannya. Dion tidak mau jika nanti Tuan Wira akan memintanya kembali ke Surabaya.
"Reza," ucap Dion tiba-tiba.
Kepalanya mengingat sahabatnya yang sudah mempertemukannya dengan Mia. Ya, dia adalah harapan satu-satunya saat ini.
"Semoga bisa," gumam Dion.
Dion meraih ponselnya dan berusaha menghubungi Reza. Terhubung tapi tidak dijawab. Bahkan sampai tiga kali Dion menghubungi Reza, sahabatnya itu tidak menjawab panggilannya.
"Apa mungkin dia sudah tidur?" tanya Dion pada dirinya sendiri.
Dion melihat jam. Ini masih terlalu siang untuk ukuran Reza. Namun Dion berusaha untuk berpikiran positif. Bisa jadi karena kelelahan, Reza tidur lebih awal.
Setelah menyerah untuk menghubungi Reza, Dion menutup laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya. Sebelum ke kamar, Dion keluar dan nongkrong di taman belakang rumahnya. Ditemani secangkir teh hangat, Dion kembali berpikir mencari orang yang akan menggantikannya.
Mentok. Seberapa keras Dion berusaha untuk mencari nama lain, hanya nama Reza yang berada di kepalanya.
"Sayang," panggil Mia.
Dion terperanjat dan melihat ke arah sumber suara.
"Mia?" tanya Dion tidak percaya.
"Aa ngapain di sini?" tanya Mia.
"Kamu ngapain di sini?" Tanpa jawaban, Dion justru balik bertanya pada Mia.
"Mia nyariin Aa," jawab Mia.
"Ya udah ayo masuk!" ajak Dion.
Manjanya Mia pada Dion, disikapi dengan sabar. Dion berusaha mengerti apa yang Mia inginkan. Padahal Dion masih ingin duduk santai di sana. Mencari jalan keluar agar ia tidak kembali bertugas di Surabaya.
"Besok aku kerja ya!" ucap Dion.
"Ke Surabaya?" tanya Mia.
__ADS_1
"Gak. Aku kerja di kantor pusat. Cuma aku belum bisa mastiin ke depannya. Soalnya belum ada pengganti aku di sana," jawab Dion.
"Kenapa gak minta Reza saja?" tanya Mia.
Dion tidak menyangka kalau ia dan Mia bisa sekompak itu. Sama-sama berpikir kalau memang Reza lah yang bisa menggantikan posisi Dion.
"Dia sibuk mungkin. Aku sudah menghubunginya dan tidak ada jawaban," jawab Dion sedih.
Tidak ingin membahas masalah ini lagi, Dion menyudahi obrolannya dengan Mia. Selain ia pusing dengan topik pembahasannya, Dion juga tidak ingin besok kesiangan.
Dengan bantuan alarm pada ponselnya, Dion bangun jam lima pagi. Ia tersenyum menatap Mia yang masih tidur di sampingnya. Mencium pipi dan dahi Mia hingga istrinya bangun dan menutup wajahnya.
"Aa ngapain sih lihatin Mia begitu?" tanya Mia malu.
"Kamu cantik," jawab Dion.
"Mana ada? Baru juga bangun tidur," ucap Mia.
"Justru kecantikan alami wanita itu pada saat bangun tidur. Kamu bangun tidur aja cantik. Apalagi kalau sudah dandan," ucap Dion.
Mia menutup wajahnya dengan bantal. Menyembunyikan muka bantalnya. Merasa malu atas pujian suaminya, sekaligus malu karena suaminya sudah sangat semangat pagi ini.
Sembari merapikan kemejanya, Dion menatap Mia dari pantulan cermin.
"Mau ikut ke kantor?" tanya Dion.
Mia yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk menatap punggung Dion. Tidak menjawab, ia memastikan pendengarannya. Biasanya drama cek cok akan terjadi sebelum Mia berangkat ke kantor. Namun kali ini, Dion yang mengajaknya.
"Memangnya boleh?" tanya Mia.
"Tapi Mia gak ada jadwal. Papa belum meminta Mia untuk ke kantor," jawab Mia.
"Aku membatasi aktivitasmu karena aku khawatir. Tapi mulai sekarang, aku kerja di sini. Kamu bisa ke kantor kapanpun aku mau. Aku kan bisa tahu aktivitas kamu," ucap Dion.
"Aa maunya Mia ikut atau gak?" tanya Mia.
"Jujur, maunya sih ikut. Aku ingin kerja pertamaku di sini makin semangat karena ditemani kamu dan bayi kembar kita. Tapi kalau kamu mau istirahat di rumah sih gak masalah. Aku bisa sendiri," ucap Dion.
"Ikuuut," ucap Mia dengan manja.
Mia memang ingin ikut kemanapun suaminya pergi. Rasanya Mia tidak ingin berjauhan dengan Dion. Rasa rindunya masih belum tuntas.
"Siap-siap ya!" ucap Dion.
Mia mengangguk dan bersiap. Polesan make up sederhana sama sekali tidak menghilangkan kecantikan wajah Mia.
"Mia mau kemana?" tanya Nyonya Helen di ruang makan.
"Ikut ke kantor," jawab Mia.
"Memangnya ada pertemuan lagi ya Pa?" tanya Nyonya Helen.
"Gak," jawab Tuan Wira santai.
"Mia mau menemani A Dion Ma. Ini kan hari pertama Aa kerja di Jakarta," ucap Mia.
"Oh gitu. Tapi jangan sering-sering ya! Kamu harus atur waktu. Jangan sampai kecapean. Ingat bayi kembar kamu!" ucap Nyonya Helen.
"Mama giliran aku di Surabaya aja, mohon-mohon biar Mia diizinkan ke kantor. Eh giliran aku ngajak ke kantor, Mama suruh istirahat. Gimana sih Mama?" ucap Dion kesal.
"Bisa-bisanya kamu sama Mama sendiri buruk sangka begitu. Maksud Mama, biar Mia ke kantornya kalau lagi ada meeting sama pemegang proyek aja. Kan sekarang gak ada," jawab Nyonya Helen.
"Eh, sudah. Ini kita lagi makan. Yang akur dong. Pagi-pagi udah berantem begini, nih roti serasa pare. Pahiiit," ucap Tuan Wira.
"Nih Pa, Dion yang salah." Nyonya Helen menunjuk Dion.
"Gak salah Ma. Biarin Dion ngajak Mia. Biar dia semangat kerja. Lagipula Mia kan ke kantor sama suaminya sendiri. Mama kok jadi posesif gitu sih?" tanya Tuan Helen.
"Ah, Papa sama Dion sama aja. Sama-sama nyebelin," ucap Nyonya Helen.
"Mama juga boleh ikut kalau mau. Jadi nanti di sana Mia ada temannya," ucap Mia.
"Kalau Mia maksa sih boleh," ucap Nyonya Helen.
"Mia gak maksa kok Ma," ucap Tuan Wira.
"Mia maksa kok. Iya kan Mi?" tanya Nyonya Helen.
"Iya Ma," jawab Mia.
"Tuh kan? Papa dengar sendiri kan? Belum terganggu kan telinganya?" ucap Nyonya Helen.
"Terserah Mama aja deh," ucap Tuan Wira pasrah.
"Sebentar ya Mi, Mama siap-siap dulu!" ucap Nyonya Helen.
"Iya," jawab Mia.
Dion dan Tuan Wira menggelengkan kepalanya.
"Mama kamu tuh begitu tuh kelakuannya," ucap Tuan Wira.
"Iya Pa. Istri Papap tuh yang begitu kelakuannya," ucap Dion sembari tertawa.
"Husttt," ucap Mia sembari mencubit tangan Dion.
####################
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..