
Pengantin baru itu memasuki mobil menuju rumah untuk beristirahat. Mia yang sudah tidak kuat menahan matanya akhirnya ketiduran. Danu meraih kepala Mia dan menyandarkannya di bahunya. Mia nampak tidak terganggu sama sekali dan nampak tdur nyenyak.
Danu tidak mengantuk sama sekali. Rasa penasarannya karena penyakit yang diderita Pak Haji dan pria yang disebut Dev oleh Mia itu, berhasil mengenyahkan rasa ngantuknya. Nama Pak Haji memang sudah akrab di telinga Danu. Namun nama Dev baru ia dengar tadi. Keduanya baru pertama kali ia lihat. Sejauh ini tidak ada masalah. Hanya saja rasa cemburu Danu membuat ia menjadikan semuanya berlebihan.
Rasa penasaran Danu untuk bertemu dengan Pak Haji kini sudah terlaksana. Danu yang awalnya minder, kini merasa menang banyak. Danu tak habis pikir kalau ternyata mantan suami Mia adalah pria yang sudah beruban. Lalu muncul rasa penasaran selanjutnya. Sembuh? Penyakit apa? Bahkan rasa penasaran Danu semakin besar saat mendengar Mia mengucapkan kalimat yang janggal. 'Kalian sembuh?'. Pertanyaan macam apa itu. Menapa penyakit mereka bisa samaan? Mungkin karena saking kompaknya. Danu menggelengkan kepalanya dan tersenyum karena merasa lucu dengan dugaannya sendiri.
Saat mobil terparkir di garasi, Danu melihat mobil orang tuanya baru terparkir. Kepala Danu memikirkan hal baru lagi. Bukankah orang tuanya sudah pulang lebih awal? Kenapa mereka baru sampai sekarang?
Danu membangunkan Mia untuk segera turun dari mobil. Kemudian mereka turun dan segera menghampiri kedua orang tuanya.
"Mami," panggil Danu.
"Danu? sudah pulang?" tanya Nyonya Nathalie.
"Sudah," jawab Danu singkat. "Mami dari mana dulu? Kok baru sampai?" lanjut Danu untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya itu.
"Tadi Mami ke Rumah Sakit dulu," jawab Tuan Ferdinan.
"Mami sakit apa, Pi?" tanya Danu.
"Gak kok sayang. Mami cuma sedikit pusing saja, tapi sekarang sudah baikan. Mami sudah suntik vitamin, sayang." Nyonya Nathalie mengusap tangan Danu. Berusaha meyakinkan anak semata wayangnya untuk tidak merasa cemas.
"Maafin Mia dan Mas Danu gak nemenin Mami ya! Mia gak tahu kalau Mami sakit," ucap Mia merasa bersalah.
"No. Mami gak sakit Mia. Mami sehat. Mami hanya butuh vitamin saja," ucap Nyonya Nathalie.
Tuan Ferdinan mengajak semuanya untuk masuk dan istirahat. Danu dan Mia mengikuti mereka di belakang.
"Jangan bilang mau ikut tidur bareng," ucap Tuan Ferdinan saat melihat Danu dan Mia berdiri di depan kamar Tuan Ferdinan.
"Ih, gak kok Pi. Aku hanya ingin melihat keadaan Mami," ucap Danu.
"Sudahlah sayang. Mami baik-baik saja. Mami hanya butuh istirahat," ucap Nyonya Nathalie.
"Ya sudah Mami istirahat ya! Aku ke kamar dulu," ucap Danu.
"Danu, kamu sayang sama Mami?" tanya Tuan Ferdinan saat keduanya sudah berjalan menjauhi mereka.
"Sayang lah Pi," ucap Danu.
"Kalau gitu kaish cucu secepatnya sebagai kado untuk Mami," ucap Tuan Ferdinan.
Wajah Danu dan Mia memerah karena merasa malu sendiri.
"Ayo Mia, jangan dengarkan Papi," ucap Danu.
"Danu," panggil Nyonya Nathalie.
"Iya Mi?" Danu menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ibunya.
"Nanti kalau Mami sudah fit, Mami ajarkan jurus jitu ya?" ucap Nyonya Nathalie.
Danu menggeleng. Ia merasa tidak baik jika berlama-lama di hadapan orang tuanya. Danu segera menarik tangan Mia dan meninggalkan mereka, karena tak ingin urusan semakin runyam.
"Mas?" ucap Mia saat mereka baru sampai di depan pintu kamar Danu.
"Hmm?" ucap Danu sambil membalikkan badannya.
Mia terlihat cemas dan tegang.
"Kenapa?" tanya Danu.
"Mia tidur dimana?" tanya Mia.
"Di sini," jawab Danu sambil membuka pintu kamarnya dan menarik tangan Mia untuk segera masuk.
"Mas tidur dimana?" tanya Mia ketika melihat hanya ada satu ranjang. Tidak bertingkat seperti saat ia tidur satu kamar dengan Haji Hamid dulu.
"Ya di sini. Memangnya kenapa?" tanya Danu.
"Di sini?" tanya Mia dengan terkejut.
"Ada yang salah? Bukankah setelah menikah kita bisabm tidur satu kamar?" tanya Danu.
Mia menatap Danu dengan sangat tegang. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Tubuhnya panas dingin saat mendengar kalau mereka akan tidur satu kamar.
"Mia?" tanya Danu.
"Eh iya," jawab Mia tegang.
"Apa kau keberatan untuk tidur berasamaku?" tanya Danu.
__ADS_1
"Tidak, tidak, sama sekali tidak." Mia menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau gugup?" tanya Danu.
Mia menggeleng dan tersenyum. Mia tidak tahu harus menjawab apa. Danu menutup pintu kamarnya dan menarik tangan Mia untuk naik ke atas ranjang. Mia terlihat semakin tegang. Danu menjadi bingung. Apa yang menyebabkan Mia sangat takut tidur bersamanya. Padahal dia adalah seorang janda. Tidur bareng dengan seorang suami di atas ranjang yang sama, Danu rasa bukan suatu masalah.
Danu berpikir mungkin Mia masih trauma. Apakah mungkin Mia membayangkan mantan suaminya yang sudah beruban itu? Atau mungkin karena Mia tidak mau tidur dengannya?
Sampai saat ini, Danu dan Mia memang menikah dengan dasar perjanjian saja. Walaupun tidak ada hitam di atas putih, namun baik Mia maupun Danu menganggap pernikahan mereka hanyalah sebuah bentuk kerja sama yang akan terjalin sangat lama.
Baik Dani atau Mia, tidak pernah berpikir kalau pernikahannya akan normal, seperti pernikahan kedua orangtuanya. Tapi bagi Danu, tidur di kamar yang sama bukanlah suatu hal yang aneh. Malah akan aneh kalau mereka tidur terpisah, karena itu akan menimbulkan kecurigaan pada orang tuanya.
Mia perlahan naik ke atas ranjang dengan wajah cemas. Mia membaringkan tubuhnya di samping Danu yang sudah tidur duluan. Mia mencoba menutup matanya agar ia tak terlihat cemas. Mungkin tidur adalah cara yang paling baik untuk menghilangkan kecemasan dan kegugupannya.
"Mia, kau mau kabur ya?" tanya Danu.
Mia langsung membuka matanya. "Kabur?" tanya Mia sambil mengerutkan dahinya.
"Ya, kamu masih punya utang penjelasan soal sembuh itu. Memangnya mereka sakit apa? Jangan bilang kalau kamu tidur itu supaya aku lupa dan kau tidak perlu menjelaskan tentang semua itu," ucap Danu.
Mia menepuk dahinya pelan. "Ya ampun, aku sampai lupa." Mia bangun dan duduk di atas ranjangnya.
Sesuai janjinya pada dirinya sendiri. Kalau setelah menikah, Mia tidak akan menyembunyikan apapun kepada suaminya. Dan sekarang semua harus Mia tepati. Mia tidak ingin Danu bertanya-tanya tentang masa lalunya. Meskipun pernikahan itu hanya sebuah perjanjian saja, namun Nia tidak pernah main-main. Mia akan tetap menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang istri. Mia akan melayani kebutuhan lahir suaminya. Mengurusnya dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi.
Danu memperhatikan setiap gerakan bibir istrinya. Ia mencerna baik-baik setiap kata yang terucap. Akhirnya Danu mengerti kegugupan Mia saat Danu mengajaknya untuk tidur di atas satu ranjang yang sama.
"Lalu penyakit mereka?" tanya Danu penasaran.
Mia menceritakan kenyataan pahit yang terjadi antara Dev dan Haji Hamid.
"Apa?" ucap Danu terkejut saat mendengar kalau Dev dan Haji Hamid pernah saling mencintai.
Danu yang merasa tidak kuat mendengar semua kenyataan itu langsung pisan karena shock.
"Mas, mas, mas," panggil Mia sambil mengguncang tubuh Danu.
Danu tidak merespon sama sekali. Suaminya masih pingsan. Mia panik dan segera berlari keluar. Ia mengetuk pintu kamar mertuanya dengan keras.
"Mami, Papi, buka pintunya!" ucap Mia sambil tak henti mengetuk pintu kamar mertuanya.
Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan saling menatap dan menjadi panik saat ketukan pintu itu disertai dengan suara Mia yang terdengar sangat ketakutan.
Tuan Ferdinan segera membuka pintu kamarnya, diikuti oleh Nyonya Nathalie yang ada di belakang suaminya. Saat pintu terbuka, nampak wajah Mia yang sangat ketakutan.
"Itu mas Danu, Mi." Jari telunjuk Mia mengarah ke arah kamarnya, namun bibirnya kelu. Susah sekali untuk berkata kalau suaminya sedang pingsan.
"Danu dimana? Kenapa Danu?" tanya tuan Ferdinan panik.
"Itu, Pi, itu!" Mia tak bisa menjelaskan semuanya karena terlalu panik.
Tuan Ferdinan segera berlari menuju kamar anaknya dan mendapati Danu sedang pingsan.
"Danu, Danu," teriak Nyonya Nathalie histeris. Tangisan dan teriakan Nyonya Nathalie membangunkan seisi rumah. Suasana rumah menjadi sangat ramai dan panik saat tahu kalau Danu pingsan di malam pertamanya.
Tak lama seorang dokter pribadinya sampai untuk memeriksa keadaan Danu. Semua berkat tangan Tuan Ferdinan yang bergerak dengan cekatan. Saat istrinya menangis, Tuan Ferdinan segera menghubungi dokter. Ia tidak hanya khawatir pada Danu, tapi ia juga khawatir pada kondisi instrinya yang terlihat panik dan histeris begitu.
Dokter memeriksa keadaan Danu. Namun, ketika diperiksa, Danu sadar dan terkejut saat melihat kamarnya menjadi ramai.
"Ada apa ini?" tanya Danu.
"Tadi kamu pingsan," jawab Nyonya Nathalie.
"Oh ya?" ucap Danu tidak percaya.
"Kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Nyonya Nathalie panik.
Danu adalah orang yang jarang sekali sakit, apalagi sampai pingsan begitu. Tak heran jika momen pingsan Danu membuat panik seisi rumah.
"Nyonya, sepertinya Tuan Muda hanya shock saja. Bisa dari aktivitas yang padat, atau karena terlalu menyimpan banyak beban. Mungkin juga dari hal lain.Tapi semua akan baik-baik saja. Hanya butuh istirahat yang cukup," Dokter itu berusaha untuk menjelaskan apa yang dialami Danu.
"Iya Mi. Mungkin aku kecapean saja," ucap Danu.
"Ya sudah, kamu istirahat ya!" ucap Nyonya Nathalie sambil mengajak dokter dan suaminya untuk keluar, agar Danu bisa istirahat.
Tak lama, Tuan Ferdinan kembali lagi ke dalam kamar Danu.
"Kalau belum fit, besok saja belah durennya. Kalau lagi gak fit, bisa kalah kita. Jangan malu-maluin Papi ya! Nanti Papi belikan jamunya biar kamu menang ya!" bisik Tuan Ferdinan di telinga Danu.
"Papiiiii," ucap Danu geram.
Danu melemparkan bantal ke arah ayahnya. Namun dengan cekatan Tuan Ferdinan menangkapnya dan segera melempar balik ke arah Danu hingga mengenai wajahnya. Tuan Ferdinan segera berlari ke luar kamar sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Mia hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ayah dan anak itu. Tapi di satu sisi, Mia merasa sangat iri dengan kedekatan mereka berdua. Mia tidak pernah merasakan apa yang Danu rasakan. Bagaimana bahagianya Danu saat berada di sekitar orang tua yang sangat menyayanginya. Orang tua yang begitu peduli dengan keadaannya.
"Kamu kenapa?" tanya Danu yang melihat Mia sedang menatapnya.
"Tidak. Ayo cepat tidur! Kata dokter, Mas harus banyak istirahat." Mia mengingatkan suaminya.
Bukan sekedar mengingatkan. Mia juga enggan jika harus ditanya-tanya lagi masa lalunya. Mia juga menyadari kalau pingsannya Danu itu bukan karena kelelahan, suaminya hanya terkejut dengan semua kenyataan yang terjadi dalam hidup Mia.
"Mia," panggil Danu.
"Hmm," jawab Mia tanpa membuka matanya.
"Aku tidak menyangka kalau mereka itu," ucap Danu.
"Sudah. Jangan dibahas lagi. Nanti pingsan lagi. Kasihan orang rumah jadi ikutan panik semua gara-gara mas pingsan," ucap Mia.
"Maaf ya! Tapi aku bingung kenapa kamu mau bertahan nikah selama lima tahun padahal kamu tahu sendiri kalau suamimu abnormal seperti itu," ucap Danu.
"Mas, dulu aku menikah dengan niat membahagiakan orang tuaku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka. Dan aku selalu meyakini kalau apa yang menjadi pilihan orang tua adalah yang terbaik," ucap Mia.
"Terbaik di sebelah mananya?" tanya Danu.
"Buktinya Pak Haji menyekolahkan Mia sampai akhirnya Mia bisa mengejar cita-cita Mia. Kalau saja Mia tidak menikah dengan Pak Haji, mungkin sampai saat ini Mia masih menjadi seorang buruh cuci atau tukang kebun," jawab Mia.
Danu merasa salut pada Mia. Mia selalu bersyukur di setiap apa yang ia jalani. Tak pernah sekalipun Danu melihat Mia mengeluh atas jalan hidupnya.
"Kamu wanita hebat Mia," ucap Danu mengusap kepala Mia.
Danu merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Ia sudah merasa cukup atas semua kejujuran Mia. Danu memejamkan matanya, untuk membiarkan Mia tidur dengan tenang. Mia butuh istirahat.
Sesekali Danu melihat ke arah Mia. Sepertinya Mia sudah nyenyak. Danu tersenyum melihat Mia yang sedang tidur. Tapi entah kenapa kepalanya jadi kepikiran soal Pak Haji.
"Kalau Pak Haji hombreng sama Dev, bagaimana dengan Mia? Apakah Mia masih bersegel?" Batin Danu.
Danu segera mengusap wajahnya dengan kasar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir kenapa kepalanya memikirikan hal itu. Danu berusaha memejamkan matanya kembali agar bisa segera tidur. Namun nyatanya Danu masih saja tidak bisa tidur. Ia merasa haus, namun air digelas itu kosong. Danu berniat untuk pergi ke dapur. Saat ia membuka pintu, Danu terkejut saat wajah telinga ayahnya ada di hadapannya.
"Papi?" ucap Danu yang tak percaya melihat ayahnya ada di depan pintu kamarnya.
"Eh, ka-kamu ngapain keluar? Udah beres?" tanya Tuan Ferdinan.
Danu menggelengkan kepalanya. Ia tahu apa alasan ayahnya berada di depan pintu kamarnya.
"Papi ngintip?" tanya Danu.
"Ih, ngapain ngintip? Nanti bintitan," ucap Tuan Ferdinan.
"Itu tahu. Terus ngapain ada di sini?" tanya Danu.
"Papi cuma ngecek aja. Takut kamu pingsan lagi. Ya syukur kalau kamu baik-baik saja. Papi balik ke kamar lagi kalau gitu," ucap Tuan Ferdinan.
Danu menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan ayahnya yang akan mengintip dirinya. Danu melanjutkan niatnya untuk ke dapur karena merasa sangat haus.
Sementara Nyonya Nathalie yang bersembunyi di balik lemari segera berlari menyusul suaminya untuk masuk ke dalam kamar.
"Mami curang ah," ucap Tuan Ferdinan.
"Papi yang gak peka. Mami udah ngasih kode tapi malah gak ngerti," ucap Nyonya Nathalie.
"Ah, Papi kan gak ngerti kode Mami yang cuma ngedip-ngedip kayak yang kelilipan," ucap Tuan Ferdinan.
"Ah Papi. Eh Pi, menurut Papi mereka udah belah duren belum?" tanya Nyonya Nathalie.
"Kayaknya sih udah. Tadi aja sampai pingsan. Papi yakin Danu pingsan karena Danu gak minum jamu dulu. Mia kan sudah berpengalaman. Wajar lah kalau Danu sampai pingsan begitu," ucap Tuan Ferdinan.
"Wah, bagus kalau gitu. Jadi kita bisa dapat cucu secepatnya," ucap Nyonya Nathalie yang merasa sangat senang. "Jadi Mami tidak perlu mengajarkan jurus jitu ke Danu ya Pi, kan Mia udah punya jurus sendiri. Sampai dibuat pingsan anak Mami. Aduh senengnya," ucap Nyonya Nathalie.
"Anak pingsan kok seneng. Dasar aneh," ucap Tuan Ferdinan.
"Loh, Danu kan pingsannya karena overdosis duren Pi. Jadi ya harus seneng dong punya menantu hebat kayak Mia," ucap Nyonya Nathalie.
"Terserah Mami deh, terseraaah," ucap Tuan Ferdinan sambil merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
Rasanya Tuan Ferdinan sudah cukup mendengarkan istrinya yang selalu membahas itu-itu saja. Ia takut kalau terus meladeni istrinya, ia bukan hanya terkena bintitan saja. Tapi bisa juga sariawan dan pecah gendang telinga, karena azabnya bukan hanya mengintip melainkan mendengarkan dan ikut bergosip dengan istrinya tentang anaknya sendiri.
###################
Jempolnya dilemesin yuk ahh... Tap Like, vote, rate bintang 5...
Jangan males-males olahraga jempolnya ya..
Jempol kalian adalah moodboster mimin.
__ADS_1
Selamat membaca.. semoga suka dengan kehaluan mimin ya readers...