Janda Bersegel

Janda Bersegel
Durjana


__ADS_3

Malam ini Danu duduk termenung di tepi ranjangnya. Kepalanya yang pusing memikirkan Mia, semakin lengkap dengan suara ibunya yang berteriak-teriak memanggil namanya. Danu semakin pusing.


"Mi, aku mau istirahat. Maafin Danu ya! Danu salah ngomong tadi," ucap Danu dari dalam kamarnya.


"Buka pintunya! Mami bukan cuma mau membahas itu saja. Mami mau nanyain Mia. Buka!" teriak Nyonya Nathalie.


Aduh! Apalagi tentang Mia. Kepalanya semakin sakit. Lebih sakit daripada teriakan Nyonya Nathalie.


"Mi, besok lagi ya! Danu mau istirahat," ucap Danu.


"Buka dulu pintunya!" ucap Nyonya Natahlie.


Danu tidak mungkin membiarkan ibunya berteriak semalaman di depan kamarnya. Bisa jadi anak durhaka Danu. Dengan sangat malas, Danu membuka pintu kamarnya dan membiarkan ibunya untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Danu apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan hubungan kalian?" tanya Nyonya Nathalie.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Mia," jawab Danu.


"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Nathalie.


"Aku tidak ingin membahas tentang Mia, Mi. Udah ya! Aku malas," ucap Danu.


"No. Kamu tidak bisa membiarkan Mami penasaran gini," ucap Nyonya Nathalie.


"Mi, aku tidak mau menghalangi orang yang mau rujuk." Danu menunduk menahan rasa kecewanya.


"Apa? Rujuk? Apa maksudmu?" tanya Nyonya Nathalie.


"Sepertinya Mia akan rujuk dengan mantan suaminya Mi," ucap Danu.


"Apa alasan kamu berpikir seperti itu? Apa Mia mengatakannya padamu?" tanya Nyonya Nathalie.


"Secaar tidak langsung sih ya begitu," jawab Danu.


"Danu, Mami tidak mengerti.Coba jelaskan pada Mami semuanya dengan sangat rinci. Mami mau mendengarnya," pinta Nyonya Nathalie.


Danu menceritakan semua yang ia alami. Bagaimana hatinya hancur saat mendengar Mia masih berhubungan dengan mantan suaminya. Dan itu sudah terjadi sejak dulu. Bagaimana mungkin Mia bisa menikah dengan dirinya kalau ternyata mantan suaminya masih selalu menghubunginya.


"Tapi Mami yakin, Mia pasti milih kamu. Mami yakin itu semua. Heh Danu, cinta itu butuh pengorbanan dan perjuangan. Mami gak pernah lihat kamu berjuang biat Mia. Ayo buktikan pada Mia kalau kamu memang sedang memperjuangkannya," ucap Nyonya Nathalie memberi dukungan pada anaknya.


"Danu rasa itu tidak perlu Mi," usap Danu.


"Kamu takut kalah saing?" tanya Nyonya Nathalie.


Kalah saing? Bukan takut kalah saing, hanya saja Danu merasa Mia akan lebih memilih mantan suaminya. Pak Haji itu jelas pernah mengisi ruang hati Mia selama lima tahun. Rasa itu akan lebih mudah tumbuh di hati Mia. Sedangkan Danu?


Danu hanyalah pria yang akan menikahi Mia hanya berdasarkan simbiosis mutualisme. Pernikaha itu didasari dengan rasa terima kasih Mia padanya karena sudah mewujudkan semua cita-citanya. Tidak ada rasa cinta atau sekedar rasa peduli pada Danu. Buktinya, sampai sekarang pun Mia tidak pernah menghubungi Danu setelah kejadian malam itu.


"Danu?" panggil Nyonya Nathalie saat melihat Danu malah melamun dan tidak menjawab pertanyaan darinya.


"Eh, iya Mi?" tanya Danu yang merasa sangat gugup.


"Kau minder dengan Pak Haji?" ulang Nyonya Nathalie.


"Tidak," jawab Danu gengsi.


"Lalu?" desak Nyonya Nathalie.


"Males aja Mi. Kayak gak ada wanita lain aja. Wanita di dunia ini bukan cuma Mia. Masih banyak Mi," ucap Danu menahan rasa sakit dalam hatinya.


"Kau yakin? Mami tidak melihat jawaban itu benar dari wajahmu. Kamu harus berjuang untuk mendapatkan apa yang seharusnya kamu perjuangkan. Dan mami tahu kalau Mia memang pantas untuk diperjuangkan," ucap Nyonya Nathalie.


"Itu tanggapan Mami. Tapi tidak menurutku," jawab Danu.


Nyonya Nathalie melihat dengan seksama wajah anaknya yang nampak kusut dan tidak bergairah. Akhir-akhir ini Danu memang terlihat berbeda. Awalnya Nyonya Nathalie menganggap kalau perubahan sikap Mia, hanyalah sebuah ekspresi atas kerinduan Danu terhadap Mia. Namun ia curiga karena Mia juga tidak pernah menghubunginya. Setelah tahu atas apa yang terjadi diantara mereka, Nyonya Nathalie menjadi iba pada anaknya sendiri.


Anak satu-satunya yang sangat ia sayangi itu pertama kalinya terlihat sangat patah hati. Sepertinya ini sudah sangat larut dan tidak baik jika terus menerus mengajak Danu untuk berdebat. Nyonya Nathalie keluar kamar, agar Danu bisa segera beristirahat. Danu sedang sangat rapuh. Bahkan jika sedang sendiri, tak jarang matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit yang dialaminya.


"Mi, kalau marahin Danu itu jangan kelewatan dong." Tuan Ferdinan mengingatkan istrinya.


"Loh?" ucap Nyonya Nathalie bingung.


"Mami itu hampir dua jam di kamar Danu. Bisa pecah gendang telinga Danu kalau mami marahnya lama-lama. Bahaya ah Mi, udah ya jangan gitu. Papi tahu kok kalau Danu itu kadang ngeselin. Tapi dia sebenarnya baik kok," ucap Tuan Ferdinan.

__ADS_1


"Iya, Danu memang baik. Gak kayak papi," ucap Nyonya Nathalie.


Nalurinya sebagai seorang ibu tak bisa melihat anaknya bersedih seperti itu. Ingin rasanya ia berdebat dengan suaminya. Selama hampir dua jam itu tidak ada kemarahan pada anaknya. Yang ada hanyalah rasa iba. Hatinya ikut sakit atas apa yang terjadi pada Danu. Nyonya Nathalie berpikir untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya. Namun dengan berbagai pertimbangan, Nyonya Nathalie membungkam mulutnya dan memilih untuk berpura-pura tidur saja.


"Sayang, jangan marah dong. Kan papi hanya mengingatkan saja. Senyum dong," rayu Tuan Ferdinan.


Sayangnya Nyonya Nathalie tidak tergoda. Ia masih tetap menutup matanya agar suaminya tidak mengganggu pikirannya.


"Ya sudah kalau begitu kita tidur ya! Selamat malam Mami," ucap Tuan Ferdinan yang mematikan lampu kamarnya.


Kebiasaan pasangan suami istri yang satu ini memang begitu. Mereka tidak bisa tidur kalau lampu kamar menyala terang. Mereka pasti akan mematikan lampunya dan menggantinya dengan lampu yang sedikit remang agar bisa tidur nyenyak.


Ini adalah sebuah keuntungan juga untuk Nyonya Nathalie yang bis bersembunyi dari tangisnya. Nyonya Natahalie tidak ingin suaminya tahu kalau Mia sedang membuat masalah besar dengan Danu. Hatinya ingin sekali bercerita pada suaminya agar bisa lebih lega. Tapi itu bukan sebuah solusi. Nyonya Nathalie belum memastikan semua yang diungkapkan oleh Danu. Apakah memang benar mereka akan rujuk, atau itu hanyalah sebuah kesalahpahaman saja. Nyonya Nathalie merasa bingung, kalau Mia benar akan rujuk dengan mantan suaminya, kenapa Mia harus mengatakan semua itu sekarang? Apa Mia tidak mencintai Danu dan akan mencampakkannya setelah mantan suaminya kembali? Tapi setahu Nyonya Nathalie, Mia bukan tipe orang yang seperti itu.


Nyonya Nathalie akan meminta anak buahnya untuk mencari informasi tentang keseharian Mia selama di Bandung. Setelah semuanya sudah pasti, ia baru akan memberi tahu suaminya. Jujur saja masih ada harapan kalau Mia tidak seperti yang dipikirkan oleh Danu. Kalau Tuan Ferdinan tahu semua masalah ini, maka suaminya itu tidak akan memberi ampun. Restunya akan lenyap dan tidak mungkin kembali. Itu yang Nyonya Nathalie khawatirkan.


Pagi sekali Nyonya Nathalie sudah bangun karena ingin menghubungi anak buahnya. Namun tidak ada kesempatan karena suaminya juga sudah bangun dan mengikuti kemanapun Nyonya Nathalie pergi. Entah karena curiga atau masih berpikir kalau ia masih marah atas sikap suaminya semalam.


Mungkin nanti setelah Tuan Ferdinan berangkat ke kantor ia akan lebih leluasa untuk menjalankan misi rahasianya. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Nyonya Nathalie kembali bersikap seperti biasa. Ia mencoba untuk menghilangkan dulu semua rasa itu.


"Mami sudah tidak marah?" tanya Tuan Ferdinan.


"Mana mungkin mami marah kalau nanti, sepulang kerja mami mau dibelikan berlian kan sama Papi?" ucap Nyonya Nathalie.


Sudah biasa. Begitulah Nyonya Nathalie. Setiap sudah berselisih paham, ia pasti meminta suaminya untuk membelikan berlian untuk hukuman atas kesalahan suaminya. Tapi bukan hal sulit untuk seorang Tuan Ferdinan.


"Gampang. Mami tenang aja ya! Mau satu set kan?" ucap Tuan Ferdinan sambil memeluk istrinya dari belakang.


Nyonya Nathalie mengangguk dan tersenyum bahagia. Akhirnya ia akan punya berlian baru hanya karena kesalahpahaman suaminya.


Waktu sarapan, Nyonya Nathalie sudah melihat Danu yang sarapan duluan. Mungkin perutnya lapar karena kemarin, Danu makan hanya sedikit.


"Berangkat bareng papi ya!" ucap Tuan Ferdinan.


Nyonya Nathalie merasa panik karena Danu mengangguk dan menyetujuinya untuk berangkat bareng tanpa penolakan sama sekali. Nyonya Nathalie menjadi takut kalau Danu memang sengaja tidak menolak karena ia akan menceritakan semua yang belum jelas itu pada ayahnya. Dan itu tidak baik.


"Mami kenapa?" tanya Danu saat melihat ibunya menatap dirinya begitu tajam.


"Kamu tumben mau berangkat sama Papi? Biasanya selalu nolak, atau ya sekedar berdebat dulu sebelum akhirnya dengan sangat terpaksa berangkat kerja bareng," ucap Nyonya Nathalie.


"Sembarangan," ucap Tuan ferdinan yang melemparkan sepotong roti tawar selai cokelat itu ada Danu.


"Ih, sayang tahu kalau dibuang-buang," ucap Danu sambil memungut potongan roti itu dan memakannya.


"Danu, jorok. Papi juga ngapain sih udah kayak bocah aja main lempar-lemparan roti begitu," ucap Nyonya Nathalie.


Rasa kesal pada suaminya itu bercampur bahagia karena melihat Danu sudah lebih ceria dari semalam. Pikiran Nyonya Nathalie menerka, apakah mungkin Mia sudah menghubungi Danu lagi?


Selesai sarapan, suami dan anaknya itu oamit untuk pergi ke kantor. Setelah mobil Danu sudah tidak terlihat lagi, Nyonya Nathalie segera mengirim sebuah pesan agar Danu menutup mulut tentang Mia. Namun sayangnya, Danu tidak membaca pesannya. Hingga akhirnya Nyonya Nathalie menelepon Danu.


Saat ini, Danu tidak membawa mobil sendiri. Ia takut tidak fokus di jalan. Itu akan membahayakan dirinya dan ayahnya. Baru saja ia akan bercerita tentang apa yang terjadi padanya dan Mia, untuk meminta saran, tiba-tiba panggilan ibunya dan menunda niatnya.


"Hallo Mi," ucap Danu setelah telepon itu terhubung.


"Danu, jangan bilang Mami bilang ini sama papi. Buka dan baca pesan Mami," ucap Nyonya Nathalie.


Setelah itu, Nyonya Nathalie memutuskan sambungan teleponnya. Hal itu membuat Danu mengerutkan dahinya.


"Ada apa katanya?" tanya Tuan Ferdinan.


Danu menggeleng. "Sambungannya terputus, Pi." Danu memperlihatkan ponselnya yang sudah tidak ada panggilan lagi.


Danu segera membuka dan membaca pesan dari Nyonya Nathalie.


'Jangan cerita apapun tentang Mia pada Papi. Urusan Mia adalah urusan Mami. Biar nanti Mami yang bicara dengan papi. Awas kalau kamu sampai berani bicara tentang Mia sama papi. Mami sunat kamu.'


Sebuah pesan ancaman ia terima di pagi hari. Danu yang membaca pesan itu sangat terkejut dan spontan memgang benda pusakanya.


"Kenapa?" tanya Tuan Ferdinan.


"Eh itu pi, mau ke toilet nih. Kebelet," ucap Danu yang asal jawab karena panik.


"Danu, ini tuh masih jauh dan gak ada toilet." Tuan Ferdinan melihat ke arah jam tangannya.

__ADS_1


"Ya sudah nanti saja pih. Aku masih bisa nahan kok," jawab Danu.


Danu terlihat sangat tenang karena ia memang tidak ingin buang air kecil. Itu hanya alasan yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Tuan Ferdinan menghabiskan minumannya dan menyerahkan botolnya pada Danu.


"Pakai ini saja!" ucap Tuan Ferdinan menyerahkan botol bekas itu pada Danu.


"Buat apa?" tanya Danu bingung.


"Katanya kebelet. Udah cepetan! Gak baik kalau ditahan. Nanti bisa jadi penyakit loh!" ucap Tuan Ferdinan.


"Gak mau ah," tolak Danu.


"Ayo cepat! Tenang aja, papi gak bakalan ngintip kok. Dijamin, sueerr deh. Ayo!" ucap Tuan Ferdinan memaksanya sambil menyerahkan botol bekas minuman itu kepada Danu.


"Gak muat Pi," ucap Danu.


"Apanya?" tanya Tuan Ferdinan.


"Botolnya," jawab Danu.


"Apa? Gak muat? Emang segede apa sih benda pusakamu? Perasaan waktu dulu di sunat cuma segede kelingking deh," ucap Tuan Ferdinan.


"Papi, itu kan tiga puluh tahun yang lalu. Gimana sih?" ucap Danu kesal.


"Eh iya. Papi lupa kalau kamu udah tua," ejek Tuan Ferdinan.


"Papiiii, eh tapi emang papi kalau di sini muat ya?" tanya Danu sambil menunjukkan botol bekas itu. Belum juga Tuan Ferdinan menjawab, Danu sudah menjawabnya terlebih dahulu. "Eh lupa kalau papi sudah lansia. Pasti ukurannya udah mengkerut ya?" ejek Danu.


Tuan Ferdinan yang merasa kesal memukul lengan anaknya. "Dasar anak kurang ajar. Durjana kamu ya ngeledekin papi," ucap Tuan Ferdinan.


"Durhaka pi, bukan durjana." ucap Danu.


"Masih bisa kamu melawan papi?" ucap Tuan Ferdinan geram.


"Ampun pi, udah. Ampuuuun," ucap Danu saat tangan ayahnya sudah menarik daun telinganya hingga merah.


Teriakan Danu baru berhenti saat Tuan Ferdinan melepaskan tangannya dari telinga Danu.


"Lagian kan aku cuma benerin Pi, bukan melawan." Danu menggerutu sambil memegang telinganya yang terasa masih panas.


"Papi juga bilang durhaka. Siapa yang bilang durjana?" bentak Tuan Ferdinan.


"Ih, papi tadi bilang durjana. Papi udah pikun nih," ucap Danu.


"Masih kurang hah?" Tuan Ferdinan sudah bersiap untuk menjewer kembali telinga Danu.


"Ah, cukup.. cukup..," ucap Danu sambil menutup mulutnya.


"Bagus," ucap Tuan Ferdinan mengacungkan jempol kanannya. "Memangnya siapa yang bilang durjana hah?" tanya Tuan Ferdinan pada sopirnya.


Sopir itu diam. Ia takut salah jawab. Bisa-bisa kena pecat dia.


"Ayo! Jujur saja. Aku yakin telinga Pak Herman masih jelas. Siapa yang bilang durjana? Aku tau papi?" tanya Danu.


"Ya sudah pasti kamu, Danu. Ya kan Herman?" desak Tuan Ferdinan.


"Papi kan?" desak Danu.


"Ayo Herman! Jawab jujur, siapa yang bilang durjana?" desak Tuan Ferdinan lagi.


"Saya, Tuan." Pak Herman selaku sopir pribadi Danu mencari jalan tengah dengan mengaku kalau dialah yang menyebut kata durjana itu.


Lagipula Pak Herman pusing. Selama perjalanan ribut sekali. Sudah perkara botol hingga kata durjana saja jadi panjang begini. Makanya dia ingin menjadi penengah bagi keduanya.


Dan ternyata berhasil. Setelah mendengar jawaban dari Pak Herman keduanya langsung bungkam. Entah menahan tawa atau menahan kesal yang pasti setelah pengakuan Pak Herman, tak ada lagi suara yang keluar dari mulut mereka.


######################


hayuuuk ahh jempolnya dilemesin dulu..


Goyang tipis-tipis dong buat like, love, vote, dan rate bintang5 dong..


Eh udah ya? Makasih deh kalian readers baik.

__ADS_1


Sehat-sehat ya biar bisa mampir terus di novel mimin.


Happy reading..


__ADS_2