
Setelah kejadian itu, Haji Hamid dan Mia bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Sesekali Haji Hamid akan pergi ke luar kota untuk urusan tertentu. Mia tidak tahu urusan apa yang sedang dikerjakan oleh Haji Hamid.
Haji Hamid memang sengaja menyembunyikan hubungannya dengan Dev. Mia tidak perlu tahu urusannya dengan Dev. Haji Hamid mencari tempat yang aman, menjaga pertemuan Dev dengan Mia. Dev yang masih belum menerima semua keputusan Haji Hamid, selalu saja mengancam akan membongkar semua rahasianya.
Untuk menjaga semua itu, Haji Hamid terpaksa harus menemui Dev di luar kota. Haji Hamid berkali-kali meyakinkan Dev kalau Mia bukanlah penyebab semua keputusannya itu.
Dev tidak menerima setiap keputusan Haji Hamid. Dan tetap saja menuduh Mia penyebabnya. Sampai akhirnya Haji Hamid berjanji akan menceraikan Mia saat Mia sudah wisuda. Dev menunggu janji Haji Hamid untuk membuktikan semua ucapannya. Perihal harta gono gini, Haji Hamid sudah memutuskan kalau rumah dan sawah yang ada di Bandung akan menjadi milik Mia. Ada sejumlah uang dalam tabungan juga untuk biaya hidupnya sementara Mia belum bekerja.
Dev sedikitnya percaya saat melihat kesungguhan Haji Hamid. Tak lupa Haji Hamid jiga memberikan pengertian dan mengajak agar Dev juga bisa berubah. Haji Hamid ingin berhubungan layaknya manusia normal dengan Dev. Haji Hamid ingin hubungan terlarang itu berubah menjadi hubungan persahabatan.
Dev menolak dengan keras. Dev berpikir ia tidak butuh seorang sahabat seperti Haji Hamid. Di mata Dev, Haji Hamid tak ubah sebagai pembohong. Berjanji akan menemaninya hingga mati, tapi kini meninggalkannya dengan alasan menyakitkan.
"Jujur padaku, apa kau mencintai Mia?" tanya Dev.
"Sama sekali tidak. Aku tidak merasakan getar apapun selain iba pada Mia. Alasanku untuk menceraikannya bukan hanya sebagai pembuktian padamu Dev. Tapi aku juga ingin Mia bisa bahagia dengan pria yang mencintainya dan Mia juga mencintai pria itu. Aku bukan orang yang tepat," ucap Haji Hamid.
"Lalu alasanmu yang sesungguhnya ingin meninggalkanku apa, Hamid?" tanya Dev.
"Dev, sudah ku katakan berulang kali padamu. Aku bermimpi buruk dan semua itu membuatku menyadari semua kesalahan yang sudah kita perbuat. Aku yakin hati kecilmu juga meyakini kesalahan ini, bukan?" tanya Haji Hamid.
Dev diam, tak menjawab. Benar! Dev juga sudah lama merasa kalau hubungan yang ia jalin dengan Haji Hamid adalah sebuah kesalahan, hanya saja egonya tidak membiarkan bisikan itu direspon di kepalanya. Kepalanya selalu berpikir kalau rasa itu hadir dengan sendirinya. Bukan salahnya sama sekali.
"Jadi aku mohon Dev. Stop menyalahkan Mia. Kasihan dia. Dia hanya korban. Korban keserakahan Pak Baskoro yang gila harta sampai akhirnya menikahkan Mia denganku. Mia juga korban kita. Demi menutupi kebusukan kita, Mia harus masuk dalam ruang lingkup kita. Mia marah? Mia kecewa? Mungkin iya, tapi coba kau ingat-ingat, pernahkah Mia membuatmu kecewa? Mia selalu menutupi semua perasaannya demi menjaga perasaan kita," ucap Haji Hamid panjang lebar.
Semua itu Haji Hamid ungkapkan bukan hanya sekedar kekagumannya pada Mia, namun ia ingin Dev sadar siapa Mia. Agar Mia tidak selalu disalahkan.
__ADS_1
Dev masih diam, mencoba menyatukan osi kepala dan isi hatinya. Mia memang wanita hebat. Usianya yang masih muda tidak membuatnya manja dan labil. Mia selalu tampil lebih dewasa walaupun kadang-kadang kepolosannya membuat darah tinggi Haji Hamid kumat.
Begitu dan begitu, Haji Hamid harus selalu meyakinkan Dev setiap kali bertemu. Waktu berjalan terlalu cepat bagi Mia, namun sangat lambat bagi Dev. Mia yang takut dengan status jandanya, sedangkan Dev yang sudah tidak sabar melihat Haji Hamid membuktikan kalau Mia bukan orang yang mempengaruhinya.
Dev tidak peduli setelah perceraian itu Haji Hamid mau kembali padanya atau tidak, dengan melihat perceraian itu saja cukup membuatnya bahagia.
Waktu itu telah tiba. Di saat Mia wisuda, Haji Hamid datang menemani Mia dengan status sebagai seorang suami. Tak jarang beberapa orang yang melihat mereka bersama, lebih berpikir kalau mereka adalah ayah dan anak. Berbeda dengan Haji Hamid yang merasa sangat risih, Mia justru acuh dengan semua omongan dan sikap mereka semua.
Hari itu sangat membahagiakan bagi Mia. Perjuangannya selama ini membuahkan hasil yang memuaskan. Mia mendapat nilai terbaik walaupun beberapa mata kuliah dilakukan secara online. Beruntung Mia adalah orang yang sangat cerdas, kegaptekannya bisa segera ia atasi. Berbekal dengan fasilitas yang diberikan oleh Haji Hamid, Mia menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dibandingkan dengan teman satu angkatannya.
Mengharukan memang, saat yang ia tunggu selama ini. Wisuda dengan nilai terbaik, didampingi Bu Ningsih dan Haji Hamid. Penuh suka cita, hingga Mia menangis bahagia saat namanya dipanggil dan naik ke atas podium. Berdiri di hadapan wisudawan, berbicara sedikit mengenai rasa syukur dan perjalanan hidupnya. Tak sedikit yang ikut hanyut dan menitikkan air mata.
Hari ini terasa cepat sekali berlalu. Rasanya baru detik tadi Mia bahagia, tapi saat pulang ke rumah Mja sudah bersedih. Air mata itu kini berubah arti. Bibirnya tersenyum getir sat Haji Hamid memberikan beberapa surat yang sudah alih nama menjadi namanya.
"Mia tidak butuh semua ini Pak Haji. Mia butuh Pak haji." Mia menangis dengan hati yang begitu tersayat.
"Itu uang?" tanya Mia.
"Bukan, ini kartu ATM." Haji Hamid menggoda Mia agar ada sedikit tersenyum.
"Iya Mia sudah tahu Pak Haji. Mia sudah gaul," ucap Mia.
"Bagus atuh. Sok, ini ambil. Kau pakai untuk kebutuhanmu. Kalau kamu mau cari kerja di luar kota, ini akan sangat bermanfaat." Haji Hamid meyakinkan Mia.
"Tidak usah Pak Haji. Ini juga masih ada isinya." Mia menunjukkan kartu ATM yang ia pegang.
__ADS_1
"Kamu belum membayar uang kuliahnya? Kamu ngutang?" tanya Haji Hamid terkejut.
"Bukannya belum Pak Haji, tapi Mia tidak bayar," jawab Mia bangga.
"Apa? Mia cepat bayar! Aku tidak mau kau jadi buronan karena tidak membayar uang kuliahmu. Aku tidak mau terlibat ya kalau sampai polisi menangkapmu," ucap Haji Hamid.
"Hahaha... Pak Haji norak. Mia itu dapat beasiswa, jadi kuliahnya gratis. Uangnya aman Pak Haji, cuma terpakai sedikit." Mia terlihat sangat bangga hingga tertawa puas, saat Haji Hamid Menuduhnya buronan kampus.
"Ya maaf, kan aku tidak tahu Mia. Kau membuatku jantungan saja. Aku sampai membayangkan sedang minum kopi, terus polisi satu truk datang untuk menjemput paksa kamu. Ngeri pokoknya Mia," ucap Haji Hamid sambil bergidik.
"Enak saja! Amit-amit atuh ih Pak Haji mah ah." Mia cemberut.
Berhasil! Akhirnya kepura-puraan Haji Hamid yang seolah tidak tahu apapun membuat Mia sangat senang. Walaupun akhirnya harus cemberut karena kesal dengan ejekan Haji Hamid. Namun setidaknya saat ini Haji Hamid sangat senang melihat Mia yang terlihat sangat polos.
Aku tak masalah kau sebut norak. Aku bahagia melihat Mia yang apa adanya. Aku pasti akan merindukan sosok sepertimu suatu saat nanti. Tapi saat ini, yang aku butuhkan adalah kelapangan hatimu menerima keputusanku. Aku ingin bercerai. Aku ingin melihatmu bahagia bersama pria yang aku cintai. Menjalin hubungan pernikahan dengan bahagai.
Haji Hamid terus bergumam atas apa yang ia rasakan saat ini.
Sama dengan Haji Hamid, Mia juga tengah bergumam tentang apa yang Mia rasakan namun tak berani Mia ungkapkan.
Pak Haji, Mia tahu semua tentang Pak Haji. Bagi Mia, menikah tidak harus dengan yang Mia . Menikah dengan orang yang membuat Mia nyaman itu paling penting. Cinta urusan ke sekian, yang harus Pak Haji tahu Mia sangat nyaman hidup dengan Pak Haji. Jujur saja, Mia tidak pernah sekalipun membayangkan akan jadi janda diusia muda.
#############
Like, rate5 dan votenya kakak.
__ADS_1
Terima kasih kakak.