
Pagi ini Mia sudah ada di kantor lebih pagi dari Danu dan Tuan Ferdinan. Sudah biasa memang, hanya saja pagi ini Mia nampak lebih cantik. Danu memperhatikan calon istrinya itu. Apa yang membuatnya berbeda?
Ah, makeup. Danu mulai menyadari kalau Mia sudah mulai memoles wajahnya. Tidak berlebihan tapi membuat wajahnya semakin cantik. Kapan Mia belajar makeup? Siapa yang mengajarkannya? Pertanyaan Danu semakin bermunculan kala melihat Mia berubah.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Danu segera menemui Mia di ruangannya. Danu bertanya semua hal yang membuat hatinya dipenuhi rasa penasaran.
"Mia belajar dari youtube, Tuan." jawab Mia.
Danu membelalakkan matanya. Dari youtube? Benarkah? Benar-benar cerdas. Bahkan hanya dari tutorial youtube Mia bisa mengikuti trend makeup yang sangat cocok dengan wajahnya.
"Kenapa? Jelek ya? Tidak cocok sama Mia?" tanya Mia panik.
"Ah, tidak. Kau cantik," ucap Danu malu-malu.
"Udah dari lahir kalau cantik mah Tuan," jawab Mia dengan percaya diri.
Danu mengerutkan dahinya. Rasanya sia-sia ekspresinya ketika merasa malu dan canggung pada saat memuji calon istrinya. Karena nyatanya Mia menjawabnya dengan begitu enteng. Tidak ada rasa tersanjung atau merasa bahagia. Wajahnya sangat datar dan itu membuat mood Danu seketika hancur.
Danu memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Situasi sudah mulai tidak nyaman. Danu tak ingin migrainnya kambuh pagi itu. Namun pada saat Danu mencapai ambang pintu, Mia memanggilnya.
"Tuan," panggil Mia.
"Ada apa lagi?" jawab Danu membalikkan badannya.
Mia berjalan mendekati Danu. Memegang tangan Danu dan berjinjit. Danu terkejut, berpikir kalau Mia akan menciumnya sebagai ucapan terima kasih. Ya, bagaimanapun juga Danu adalah orang yang sedikitnya selalu memberi masukan padanya. Nyatanya Mia hanya berbisik.
"Tuan, bolehkan Mia memakai kartu kreditnya?" tanya Mia dengan suara pelan.
"Pakai sesukamu!" ucap Danu dengan dingin dan segera keluar dari ruangan Mia.
Danu kembali ke ruangannya. Ia melonggarkan dasinya dan duduk di kursi empuk miliknya. Memutarkan kursinya dan berakhir dengan menelungkupkan wajahnya di atas meja. Tak lama ia mengacak rambutnya dan menepuk dahinya.
"Bisa-bisanya aku berpikir kalau Mia akan menciumku. Wanita seperti Mia mana bisa?" gumam Danu.
Sementara di ruangan lain, nampak Mia sedang sangat bahagia karena mendapat izin untuk menggunakan kartu kredit itu sesukanya. Mia sudah mencari-cari model terbaru pakaian kantor, lengkap dengan sepatu dan tasnya. Tak lupa asesoris pendukung seperti jam dan cincin juga Mia browsing.
Ketika sudah mendapat beberapa contoh, Mia yang sudah waktunya pulang nampak sangat bersemangat. Mia tidak akan langsung pulang ke kostan. Ia akan mengunjungi mall dan toko yang sama saat Danu mengajaknya ke sana.
"Pulang sekarang?" tanya Danu saat berpapasan dengan Mia yang tengah terburu-buru.
"Iya, Tuan. Saya duluan ya!" jawab Mia sambil menarik tangan Danu yang berada di dalam saku. Mia mencium tanga Danu dan segera pergi.
"Daaaah," ucap Mia melambaikan tangannya pada Danu.
__ADS_1
Danu tak menjawab. Ia hanya melihat tangannya yang dicium oleh Mia.
"Apa menurut dia, aku ini bapaknya?" gumam Danu.
Ya, ini hal langka bagi Danu. Danu tak pernah melihat Nyonya Nathalie melakukan hal itu pada Tuan Ferdinan. Yang ia tahu kalau cium tangan itu biasa dilakukan oleh anak pada orang tuanya. Biasanya Nyonya Nathalie mencium kedua pipi Tuan Ferdinan jika pamit untuk bepergian.
Danu menggelengkan kepalanya dan segera menghubungi anak buahnya untuk mengikuti Mia.
"Ikuti dan rekam semua kegiatannya," perintah Danu.
Danu kembali ke rumahnya dan menunggu kabar dari anak buahnya. Entah mengapa jiwa posesif Danu muncul begitu saja.
Anak buahnya segera melaporkan semuanya saat memastikan Mia sudah kembali ke kostannya dengan selamat.
"Apa ini?" ucap Danu terkejut saat melihat rekaman Mia.
Bagaimana matanya tidak terbelalak, Mia baru pulang ke kostannya jam 8 malam. Padahal pulang dari kantor jam 4 sore. Entah berapa puluh goodie bag yang Mia bawa. Bahkan Mia menyewa seorang gojek karena tidak bisa membawa semua barang belanjaannya sendirian.
Danu terus memperhatikan setiap detik yang menunjukkan aktivitas calon istrinya itu. Mia masuk dari satu dan ke toko yang lain dengan sangat cepat. Berbeda dengan wanita lain yang akan menghabiskan banyak waktu hanya dengan memilih satu atau dua barang. Tapi Mia belanja begitu banyak, hanya menghabiskan waktu 2 jam. Karena 2 jam lagi Mia habiskan waktunya untuk masuk ke sebuah salon.
Awalnya Danu pikir Mia tidak normal. Ternyata Mia sama saja seperti wanita normal pada umumnya. Ia juga sama ingin berbelanja dan ke salon, hanya saja ia merasa tidak enak jika harus merepotkan orang lain. Selain itu, Mia juga izin dulu. Itu yang membuat Mia beda dari wanita-wanita yang Danu kenal sebelumnya.
Danu semakin yakin untuk menikahi Mia. Wanita seperti Mia yang ia butuhkan. Wanita yang tulus, apa adanya dan sangat polos. Danu merasa beruntung bisa bertemu dengan Mia.
Pagi sekali Danu sudah bangun dan segera bersiap untuk ke kantor. Ada hal yang membuat Danu lebih bersemangat pagi Ini. Ia ingin bertemu dengan Mia. Ia ingin melihat penampilan Mia dengan penampilan barunya hari ini.
"Semangat sekali, sayang. Apa kau memenangkan sebuah proyek, sayang?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat Danu sudah siap dan nampak sangat ceria.
Ah, itu bukan pertanyaan. Itu hanya sebua lelucon, karena Nyonya Nathalie tahu betul kalau urusan proyek itu urusan suaminya. Sampai saat ini, Tuan Ferdinan tidak pernah melepas Danu untuk mandiri. Ia janji akan memberikan semua kepercayaannya setelah Danu memikah. Dan tentang aset, semua harta akan jatuh ke anak-anak Danu kelak.
Menikah? Anak? Itu yang selalu membuat Danu merasa bahwa hidupnya penuh tekanan. Ingin rasanya ia pindah ke luar negeri yang tidak menjadikan usia sebagai patokan untuk menikah. Danu tak menjawab lelucon ibunya karena ia tahu apapun jawabannya, Nyonya Nathalie akan menggiring jawabannya hingga akhirnya Tuan Ferdinan akan menutup lelucon itu dengan kata 'makanya, segera menikah'.
Danu duduk dan mulai sarapan tanpa bicara sepatah katapun. Ia tidak ingin pagi ini dimulai dengan hal yang membuat moodnya berantakan. Danu berharap hari ini bisa tersenyum seharian. Di rumah, moodnya sudah mulai kacau. Tapi masih ada harapan, Mia. Mia akan membantunya untuk bahagia hari ini. Danu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mia.
"Danu berangkat sekarang ya!" ucap Danu.
"Kok buru-buru?" tanya Nyonya Nathalie.
"Paling mau jemput anak kampung itu," ucap Tuan Ferdinan.
Jemput? Hal yang tidak pernah ia lakukan dan akan sulit untuk melakukannya. Mia yang selalu bangun lebih pagi, hingga berangkat ke kantor paling pagi. Bertolak belakang dengan Danu yang bangunnya lebih siang dan berangkat dengan penuh kemalasan.
"Eh tapi tidak mungkin, Mi. Anak itu selalu datang paling pagi," ucap Tuan Ferdinan lagi.
__ADS_1
"Jangan sampai Mami memecat karyawan gadis di kantor ya! Mami akan bertindak sesuka Mami kalau saja kamu menjemput wanita lain dan menyakiti Mia," ucap Nyonya Nathalie sambil menjewer telinga Danu.
"Ah, Mami. Jangan begitu dong. Aku juga gak macam-macam kok," ucap Danu sambil meringis kesakitan. Sementara Tuan Ferdinan tersenyum puas melihat Danu. "Itu kan hanya otak Papi aja yang selalu berburuk sangka sama Danu. Biasanya orang nuduh itu buat menutupi kesalahannya loh Mi," ucap Danu yang berusaha menjadi kompor pagi ini.
"Papiiiii, awas ya kalau sampai ada wanita lain yang naik di mobil papi! Selain Mami dan Mia, tidak boleh ada wanita lain yang duduk di mobil papi. Kalau sampai itu terjadi, Mami gak akan segan-segan, heuhh!" ucap Nyonya Nathalie. Jarinya membentuk gunting dan menakut-nakuti suaminya dengan mata yang membulat lebar.
Tuan Ferdinan segera melindungi barang pusakanya dan bergidik. Sementara Danu tersenyum puas.
"Satu sama," bisik Danu pada Tuan Ferdinan sebelum akhirnya Danu benar-benar berangkat meninggalkan kedua orangtuanya yang masih sarapan.
"Awas ya! Urusan kita belum selesai," teriak Tuan Ferdinan.
Tak lama Tuan Ferdinan juga pamit untuk pergi ke kantor. Selama dalam perjalanan ia berpikir, semua gara-gara Mia. Mia adalah orang yang sering membuatnya kesal. Tapi di sisi lain, ia merasa keluarganya lebih hangat berkat Mia. Contohnya pagi tadi, hanya karena ejekan dirinya terhadap Mia, Nyonya Nathalie bertingkah bagaikan ibu tiri pada Danu dan dirinya.
Nyonya Nathalie dan Danu menjadi lebih berani padanya. Dan itu mengasyikan. Kalau sebelumnya Tuan Ferdinan yang selalu mendominasi, kini rumah itu hangat karena mereka bertiga saling mengisi. Berani berekspresi dan menentang dirinya. Kadang menyebalkan, tapi tak jarang dirinya tersenyum kala mengingat semua tingkah anak dan istrinya.
"Terima kasih, Mia." gumam Tuan Ferdinan.
Sopir Tuan Ferdinan yang tahu sosok Mia sampai mengerutkan dahinya dan melihat ke arah Tuannya dari sebuah kaca kecil. Tuan Ferdinan yang menyadari kelakuan sopirnya langsung memasang wajah mengancam.
"Maaf Tuan Besar. Saya tidak mendengar apapun," ucap sopirnya.
Ketika sampai di kantor, Tuan Ferdinan dikejutkan dengan penampilan dan sikap Mia yang berbeda dari biasanya.
"Mia?" ucap Tuan Ferdinan.
Mia menatap dan menyapa Tuan Ferdinan dengan sangat elegan dan formal. Tak ada lagi Mia yang pecicilan dengan tampilan kampungan. Tuan Ferdinan nampak melihat orang baru d in kantornya.
Hatinya bertanya apa yang dilakukan Danu dan Nyonya Nathalie hingga bisa mengubah Mia menjadi orang yang nyari sempurna.
"Tuan, permisi. Ada berkas yang harus anda tanda tangani," ucap Mia yang berhasil membuyarkan lamunan Tuan Ferdinan.
"Oh, iya. Bagaimana?" tanya Tuan Ferdinan yang gagal fokus dengan penampilan Mia.
Mia mengulang lagi apa yang ia ucapkan dan Tuan Ferdinan segera menandatangani berkas itu. Mia keluar dari ruangan Tuan Ferdinan setelah urusannya selesai. Namun tak lama Danu mulai membuat ulah lagi.
"Fokus, fokus. Jangan gagal fokus begitu dong!" ejek Danu yang datang tiba-tiba dan langsung pergi saat mengetahui Tuan Ferdinan mengangkat berkas yang siap dilemparkan pada dirinya.
#################
Yuks ahh tap like, vote, love, dan rate5nya.. biar aku makin semangat ngehalunya.
Happy reading readers baiks.... 😍😍
__ADS_1