Janda Bersegel

Janda Bersegel
Pamit


__ADS_3

Sindi kembali ke kamarnya setelah Mia meninggalkannya sendirian. Hatinya kacau. Perasaannya sudah tidak menentu. Akhirnya Sindi kembali menemui Mia.


"Mia," panggil Sindi.


Sindi mengetuk pintu dan berdiri mematung menunggu Mia keluar dari kamarnya. Lama tidak ada tanggapan. Sindi akhirnya pasrah. Ia kembali ke kamarnya.


"Sin," panggil Mia saat Sindi hendak masuk ke kamarnya.


"Mia, kamu dari mana?" tanya Sindi.


"Dari taman," jawab Mia.


"Aku nyari kamu ke kamar. Tahunya kamu di sini," ucap Sindi.


"Kamu nyari Mia? Ada apa?" tanya Mia.


"Ada yang mau aku bicarain," jawab Sindi.


"Soal ke Surabaya? Stop Sin. Mia gak mau bahas itu. Kamu kenapa sih kok jadi gak betah di sini? Apa Mia bikin kamu gak nyaman?" tanya Mia.


"Mi," ucap Sindi.


Melihat Mia yang nampak sedih, Sindi segera memeluk Mia dengan perasaan bersalah.


"Maafin aku ya Mi," ucap Sindi.


"Kamu kenapa, Sin?" tanya Mia.


"Aku malu sama kamu. Aku memang tidak tahu diri," ucap Sindi.


"Kamu ini ngomong apaan sih, Sin?" tanya Mia.


"Maafin aku karena aku gak tahu kalau Danu itu mantan suami kamu," ucap Sindi.


Nada bicara Sindi yang bergetar, pelukannya yang erat, dan air mata yang terasa membasahi bahu Mia menjadi saksi betapa bersalahnya Sindi.


"Sin," ucap Mia terkejut.


Mia tidak menyangka jika Sindi sudah tahu semua itu. Tapi dari mana? Apakah Danu jujur pada Sindi.


"Aku sama sekali tidak tahu tentang masa lalu kalian. Aku tidak bermaksud kurang ajar padamu, Mi. Aku sayang sama kamu. Gak ada niat di hatiku buat menyakiti hati kamu," ucap Sindi.


"Aku sama sekali tidak mengerti Sin. Kamu ini ngomong apa?" tanya Mia.


Mia berusaha menutupi semuanya. Ia tidak ingin jika Sindi merasa dirinya salah atas apa yang sudah terjadi. Bagi Mia, semua itu adalah takdir. Jika seandainya Sindi dipertemukan dan berjodoh dengan Danu, baginya itu bukan sebuah masalah.


"Mi, terima kasih karena kamu selalu menutupi kesalahanku, kebodohanku dan kekurang ajaranku. Aku benar-benar beruntung punya sahabat seperti kamu," ucap Sindi.


"Sin, kamu ini kenapa sih?" tanya Mia.


"Kamu gak perlu pura-pura bingung Mi. Aku yakin kamu tahu kemana arah bicaraku. Kamu sampai repot karena kemarahan Tuan Dion. Kamu berusaha meredam kemarahan Tuan Dion. Bahkan kamu dan Tuan Wira berusaha menutupi semua itu dari Nyonya Helen. Aku berhutang budi pada kalian berdua. Untuk menebus semua kesalahanku, aku akan kembali ke Surabaya." Sindi memohon kembali pada Mia.


"Jadi ini alasan kamu ingin ke Surabaya?" tanya Mia.


Sindi mengangguk.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu tahu semua ini?" tanya Mia.


"Aku dengar semua pembicaraan kamu dan Tuan Wira kemarin malam," jawab Sindi.


Mia justru merasa bersalah pada Sindi. Ia tidak menyangka jika Sindi mendengar semua pembicaraannya dengan Tuan Wira.


"Sin, kamu jangan salah paham. Aku sama Papa gak nyalahin kamu kok," ucap Mia.


"Aku tahu semua itu Mi. Tapi kalau sampai Nyonya Helen tahu, dia pasti kecewa. Belum lagi hubungan kalian yang akan selalu dingin hanya karena aku," ucap Sindi.


"Kalau masalah Mama Helen dan A Dion, Mia yakin mereka akan mengerti. Semuanya hanya butuh waktu saja. Kamu sabar ya!" ucap Mia.


"Aku mundur Mi. Aku mau pulang saja ke Surabaya. Lagi pula aku dan Danu juga tidak ada hubungan apa-apa," ucap Sindi.


"Sin, aku tahu kamu sudah jatuh cinta pada Mas Danu. Aku bisa membaca sirat matamu saat menatap Mas Danu. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah berjuang, bukan menyerah. Kejar kebahagiaan kamu," ucap Mia.


"Kebahagiaan? Masih mungkinkah ada kebahagiaan jika semua ini dilanjutkan? Aku juga gak yakin Danu akan melanjutkan semua ini," ucap Sindi.


"Mas Danu pasti akan memperjuangkanmu. Tapi dia tidak mungkin berhasil jika berjuang sendiri. Kamu juga harus berjuang. Mia yakin kalian pasti bahagia kok," ucap Mia.


"Kamu terlalu baik Mi. Tapi kamu tidak bisa hanya memikirkan kebahagiaan aku. Sementara kamu mengabaikan perasaan Tuan Dion dan Nyonya Helen," ucap Sindi.


"Semua hanya butuh waktu Sin. Mia yakin kalau kita semua bisa bahagia kok," ucap Mia.


"Gak Mi. Aku yakin ini semua justru akan menimbulkan masalah baru di rumah ini. Jadi aku mohon, biarkan aku pulang ke Surabaya," ucap Sindi.


"Sin, aku gak bisa ngambil keputusan ini sendiri. Aku harus bicara dulu dengan A Dion dan yang lainnya," ucap Mia.


"Mi, aku mohon. Aku hanya gak mau masalah ini semakin besar jika disimpan berlarut-larut," ucap Sindi.


"Satu-satu caranya adalah dengan aku pergi dari sini," ucap Sindi.


"Itu bukan cara yang tepat Sin," ucap Mia.


"Gak ada lagi cara lain. Kamu mau kalau Nyonya Helen dan Ibu Nathalie bertengkar lagi? Sekarang, keadaan Bu Nathalie sedang gak baik," ucap Sindi.


Mia melihat Sindi. Mencoba mengerti ketakutan yang sedang dialami sahabatnya itu. Sudah seakrab itu antara Sindi dengan Nyonya Nathalie, hingga Sindi tahu tahu betul bagaimana kondisi mantan mertuanya itu. Lalu apakah dengan Sindi kembali ke Surabaya, semuanya akan membaik? Bagaimana dengan Nyonya Nathalie yang akan mencari Sindi.


"Gak Sin. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan takut ya!" ucap Mia.


"Mi, aku mohon. Aku sudah banyak berhutang di keluarga ini. Apa aku sanggup melihat Nyonya Helen kecewa? Apa aku bisa melihat Nyonya Helen dan Bu Nathalie kembali bertengkar? Setidaknya jika semua itu terjadi, aku tidak melihatnya. Biarkan aku jadi pecundang dan lari dari kenyataan," ucap Sindi.


Mia tetap menolak. Namun Sindi tetap memohon dan membujuk agar Mia bisa mengizinkan dirinya pergi dari sana. Mia tidak tega saat melihat Sindi menangis karena ketakutan. Mia gagal menenangkan sahabatnya.


"Tapi kamu belum pesan tiket pesawat," ucap Mia yang mulai luluh.


"Aku akan naik mobil saja," ucap Sindi.


"Butuh waktu yang lama," ucap Mia.


"Itu bukan masalah bagiku," ucap Sindi.


Wajar rasanya jika Sindi ingin pergi dari rumah itu. Mia saja memang tidak bisa memprediksi sikap Danu dan Nyonya Helen. Danu yang terlanjur kecewa, pasti akan sangat marah jika sampai ibunya kembali berurusan dengan Nyonya Nathalie.


"Sebelum kamu pulang, kenapa kamu gak ngasih tahu masalah ini sebelumnya? Apa kamu udah gak nganggap Mia sebagai sahabat lagi? Padahal sampai saat ini, Mia masih cerita apapun sama kamu," ucap Mia.

__ADS_1


"Aku rasa ini bukan hal yang harus aku ceritakan. Karena Danu tidak menunjukkan keseriusannya untukku. Jadi aku hanya akan menceritakannya kalau dia benar-benar serius denganku. Tapi rasanya semua hanya harapanku saja," ucap Sindi pesimis.


Sindi juga mengungkapkan kalau pertemuannya dengan Danu kemarin adalah pertemuan terakhirnya. Ia tidak menyangka jika niatnya untuk menghindar dari Danu justru membuat semuanya jadi semakin terbuka seperti ini.


"Aku minta izin sama A Dion dulu ya!" ucap Mia.


Sindi menepis tangan Mia saat mengangkat ponselnya yang hendak menghubungi Dion.


"Jangan Mi. Nanti saja kalau aku sudah pergi. Aku gak mau Tuan Dion pulang hanya untuk memarahiku," ucap Sindi.


"A Dion gak mungkin seperti itu Sin," ucap Mia membela suaminya.


"Aku tahu Tuan Dion itu baik. Tapi justru marahnya orang baik itu menakutkan. Aku mohon Mia. Setidaknya kalau Tuan Dion mau marah, nanti saja kalau ke Surabaya. Jadi Nyonya Helen tidak perlu ikut kecewa padaku," ucap Sindi.


Mia tidak punya pilihan lain. Luluh karena Sindi terus merengek dan meminta izin padanya agar bisa pulang ke Surabaya hari ini juga. Mia membantu Sindi untuk izin pada Nyonya Helen dengan alasan kalau Sindi akan kembali bekerja di pabrik.


"Kenapa mendadak?" tanya Nyonya Helen curiga.


"Tidak mendadak Nyonya. Sebenarnya sudah dari kemarin-kemarin. Tapi saya baru berani meminta Mia menemaniku untuk bicara dengan Nyonya sekarang," jawab Sindi.


"Tapi kenapa kamu pulang? Di sini juga kamu bisa bekerja kok," ucap Nyonya Helen.


"Tapi kalau di sana, aku bisa sambil bantu Nyonya Maya yang sedang hamil," ucap Sindi.


"Sudah pesan tiket?" tanya Nyonya Helen.


"Belum. Saya pulang jalur darat saja," jawab Sindi.


"Lama Sindi. Lebih baik kamu pulang besok, nanti kita pesan dulu tiketnya ya!" ucap Nyonya Helen.


Mia tidak banyak bicara. Ia hanya diam. Berharap Nyonya Helen bisa menahan Sindi malam ini. Ia akan meminta Dion untuk mengerti keadaan Sindi, hingga Sindi tidak perlu pergi dari rumahnya.


"Maaf Nyonya. Tapi sebenarnya aku mabuk kalau naik pesawat," ucap Sindi.


Harapan Mia gagal karena alasan Sindi bisa diterima oleh Nyonya Helen. Tapi Mia sedikit lega karena Sindi akan pulang diantar sopirnya. Sindi sempat menolak, namun Nyonya Helen memberinya pilihan sulit yang membuat Sindi mengiyakan apa yang Nyonya Helen inginkan.


"Mi, aku pulang ya!" ucap Sindi.


"Sin," ucap Mia.


Tangis keduanya kembali pecah saat Sindi sudah siap dengan tas yang berisi beberapa pakaian dan barang pribadinya.


Sindi juga pamit pada Nyonya Helen dan segera pergi. Mobil melaju semakin menjauh dan tangis Mia semakin pecah hingga Nyonya Helen memeluk Mia untuk menenangkannya.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR*.

__ADS_1


__ADS_2