
"Ayo makan dulu. Aku udah siapkan untuk kalian semua," ucap Nyonya Nathalie.
Setelah memberi selamat dan beberapa hadiah, semuanya pergi ke ruang makan. Namun Sindi menarik tangan Mia.
"Mi," panggil Sindi.
"Iya," jawab Mia.
Sindi segera memeluk Mia dengan penuh bahagia.
"Kamu kenapa Sin?" tanya Mia.
"Terima kasih ya!" ucap Sindi sembari mengusap pipinya.
"Buat apa?" tanya Mia.
"Kamu udah nyiapin semua ini buat aku," jawab Sindi.
"Apa yang Mia lakuin gak ada apa-apanya sama kebaikan kamu selama ini," ucap Mia.
"Ah, kamu berlebihan. Kamu sampai bisa bikin Tuan Felix sama Rian ke Indonesia," ucap Sindi.
"Memngnya cuma buat kamu? Mereka juga pulang ke Indonesia buat Mia. Mia kan ngangenin. Mana tahan mereka gak ketemu sama Mia lama-lama," ucap Mia dengan begitu sombong.
"Gak cocok kamu Mi pasang wajah sombong begitu," ucap Sindi sembari tertawa.
"Sindi, Mia, ayo makan dulu!" ajak Nyonya Nathalie.
"Iya," jawab Mia dan Sindi bersamaan.
"Kita masih kompak ya Mi," ucap Sindi.
"Iya," jawab Mia.
Mereka kembali tertawa dan segera menyusul ke ruang makan. Setelah selesai makan, mereka berbincang sebentar lalu pamit untuk pulang.
"Kamu kok sedih begitu? Masih mau kumpul sama mereka ya?" tanya Danu setelah rumahnya kembali sepi.
Sindi menggeleng.
"Terus kamu kenapa?" tanya Danu.
"Besok Mia sama Tuan Felix mau ke Bandung," jawab Sindi.
"Kamu mau ikut?" tanya Danu.
Sindi kembali menggelengkan kepalanya. Danu memperhatikan raut wajah Sindi.
"Nanti kita ke makam keluarga kamu juga ya! Tapi kalau kamu udah benar-benar pulih. Makanya kamu cepat pulih ya!" ucap Danu.
"Beneran?" tanya Sindi.
"Kapan sih aku bohong sama kamu?" tanya Danu.
"Terima kasih Papanya adek bayi," ucap Sindi.
"Oh ya kamu udah siapin nama buat anak kita?" tanya Danu.
__ADS_1
"Aku udah siapin namanya," jawab Sindi.
"Siapa?" tanya Danu antusias.
"Dandi," jawab Sindi dengan senyum ceria.
"Dandi?" tanya Danu dengan dahi yang berkerut.
"Kenapa? Bagus kan?" tanya Sindi kembali.
Bagus? Nama Dandi udah banyak banget. Rasanya kalau untuk kekinian, nama Dandi bisa diganti sama nama lain deh..
"Hey, bagus kan?" tanya Sindi untuk yang kedua kalinya.
"Kamu dapat nama itu dari mana sih?" tanya Danu.
"Loh memangnya kenapa sih? Nama Dandi itu gabungan dari nama kita. Danu dan Sindi kalau digabung jadi Dan-Di. Bagus kan?" tanya Sindi.
"Memangnya masih musim ya nama dari gabungan-gabungan begitu? Udah kayak razia aja," ucap Danu.
"Ih kamu gak romantis deh. Kamu gak tahu kalau gara-gara anak kita, nama kita jadi abadi tahu." Mia tetap mempertahankan nama Dandi.
"Terserah kamu Sin, terserah." Danu pasrah.
Dalam heningnya malam, Sindi bangun saat harus menyusui anaknya. ASI nya belum begitu banyak hingga ia belum bisa memompanya.
"Mia pasti bahagia banget bisa kumpul sama yang lain," gumam Sindi.
Memang sangat tepat. Malam ini Mia tidur nyenyak karena besok ia akan pergi ke makam Bu Ningsih. Hatinta amat sangat bahagia. Ini adalah perjalanan pertama Mia ke Bandung setelah Tuan Felix mengurus rumah dan makam ibunya.
"A, bangun!" ucap Mia sembari mengguncang pelan bahu Dion.
"Gimana gak gelap, Aa kan gak buka mata. Ayo bangun!" ucap Mia.
Dion masih tetap tidur. Ia nampak nyenyak. Mungkin karena semalam ia sudah begadang karena ngobrol dengan Tuan Felix.
"Ih Aa, bangun!" ucap Mia lagi.
Dion hanya menggeliat dan menarik selimut. Mia yang merasa kesal langsung ke kamar mandi. Selesai mandi ia berharap Dion sudah bangun dan menunggunya di tepi ranjang atau di sofa. Namun tidak seperti biasanya, saat Mia keluar dari kamar mandi ternyata Dion masih tertidur pulas.
"Ih, masih aja tdur!" ucap Mia kesal.
Akhirnya Mia menyerah. Ia menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan kamarnya.
"Tidur aja terus sampai nanti malam lagi," gerutu Mia.
Sebelum Mia ke ruangan anak kembarnya, Mia menyempatkan mengecek ke ruangan tengah dan ruang makan. Ia mengernyitkn dahinya saat merasa masih sepi. Mia berjalan ke depan kamar Tuan Felix dan Rian. Pintunya masih tertutup rapat.
Mia sampai menempelkan telinganya ke daun pintu. Ia memastikan kalau Tuan Felix sudah bangun.
"Maaf Nyonya, Anda sedang apa?" tanya Mba.
Mia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"I-ini Mia, emm, itu." Mia bingung mau menjawab apa.
"Tuan Felix dan Rian belum bangun," ucap Mba yang seolah mengerti maksud Mia.
__ADS_1
"Belum bangun?" tanya Mia.
"Iya Nyonya. Sejak tadi saya membereskan ruangan ini, saya tidak melihat Tuan Fekix dan Rian membuka pintu. Masih sepi seperti ini," jawab Mba.
"Oh ya sudah. Mia permisi ya Mba," ucap Mia dengan kecewa.
Mia pergi ke kamar anak kembarnya. Ia juga melihat ke arah tangga rumah. Berharap jika Nyonya Helen dan Tuan Wira sudah bangun. Tapi Mia kembali kecewa saat mendapati keadaan rumah masih tetap sepi.
"Nyonya," sapa perawat saat melihat kedatangan Mia.
"Terima kasih sudah membuat Narendra dan Naura siap sepagi ini," ucap Mia dengan wajah sedih.
"Nyonya kenapa? Apa acaranya tidak jadi?" tanya perawat.
Mia tersentak saat mendengar kalimat tidak jadi. Ia bahkan tidak mau mendengar kalimat itu. Tapi kenyataannya keadaan memang sepi pagi ini. Padahal mereka sudah merencanakan kegiatan mereka untuk berangkat pagi.
"Jadi, jadi." Mia berusaha membangun rasa optimisnya.
"Berangkat sekarang?" tanya perawat itu.
"Nanti. Masih menunggu yang lain bersiap," ucap Mia.
Anaknya yang sudah mulai besar kini merengek meminta untuk segera berangkat.
"Nanti ya nunggu Papa sama opa dulu," ucap Mia.
Kesedihan Mia semakin mendalam saat ia takut anaknya juga kecewa. Mia membawa kedua anaknya ke ruang makan. Menyiapkan roti dengan selai strawberry untuk kedua anaknya.
"Sarapan dulu ya! Biar gak masuk angin," ucap Mia.
"Hey, cucu oma udah bangun?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mama," ucap Mia.
Matanya mulai berbinar, bibirnya juga sudah mulai mengembang saat mengetahui kedatangan Nyonya Helen. Nampak sudah siap dan cantik.
"Mia, maaf ya Mama gak jadi ikut ke Bandung. Mama sama Papa mau ada acara ke luar kota yang mendadak. Kamu bisa berangkat sama Tuan Felix dan Dion aja kan? Ada Rian juga yang bisa bantu kamu bawa Narendra sama Naura," ucap Nyonya Helen.
"Oh, iya Ma." Dengan pelan Mia menjawab. Bibirnya sudah tidak bisa tersenyum lagi.
Hatinya begitu sakit dan kecewa. Padahal ia sudah senang karena Nyonya Helen dan Tuan Wira akan ikut ke Bandung.
Satu jam lebih telat dari biasanya mereka baru berkumpul di ruang makan. Mia berusaha untuk tidak kecewa. Tidak masalah jika semua tidak berjalan sesuai dengan ekspektasinya. Bagi Mia, mereka jadi berangkat saja sudah sangat membahagiakan.
"Mi, kita berangkat agak siangan gak apa-apa kan?" tanya Tuan Felix.
"Gak apa-apa. Mia ikut aja kapan siapnya," jawab Mia.
"Rian masih harus ngerjain tugasnya dulu," ucap Tuan Felix.
"Maaf ya Kak," ucap Rian.
"Iya gak apa-apa. Kamu semangat ya belajarnya," ucap Mia.
Dada Mia sudah sesak. Ia menahan sakit.
Kenapa mereka seperti gak niat sih mau ke Bandung? Padahal kalau gak mau, bilang dari awal. Jangan bikin Mia berharap begini.
__ADS_1
Setelah sabar menunggu, mereka baru berangkat jam sepuluh. Padahal rencananya jam tujuh mereka harus sudah berangkat. Tidak apa-apa! Meskipun kecewa namun mereka bisa tetap berangkat.
Sabar Mia! Tahan. Kamu jangan nangis. Meskipun perjalanan kali ini ngaret banget, yang penting kamu akan ke Bandung. Bu, Mia datang. Tunggu Mia ya!