
"Papa mau gendong Narendra sama Naura dulu!" ucap Tuan Felix.
Tuan Felix menggendong Narendra dan Naura bergantian. Ia mengusap pipi lembut cucunya yang ada dalam gendongannya. Mengabadikan momen yang akan sangat ia rindukan. Foto dan video yang begitu banyak hampir memebuhi memory ponselnya.
"Pah, kapan ke sini lagi?" tanya Mia.
Tuan Felix melihat Mia. Mata Mia yang berkaca membuat Tuan Felix memberikan cucunya yang masih dalam gendongannya.
"Tolong bawa cucuku," ucap Tuan Felix.
Salah satu pengasuh itu menggendong Narendra dari Tuan Felix. Sementara Tuan Felix melihat Mia dengan tatapan sedih. Belum juga ia berangkat, Mia sudah bertanya kapan kembali.
"Mia, kapanpun Papa ke sini jangan menjadi beban untukmu. Kamu punya Dion dan Tuan Wira. Suami dan ayah terbaik untukmu. Aku akan selalu menemanimu dalam doaku. Percayalah," ucap Tuan Felix.
Dada Mia semakin sesak. Ia hanya bisa terus menangis untuk mengungkapkan semua rasa dalam hatinya. Tangannya menggenggam erat tangan Tuan Felix. Seolah sedang mengisyaratkan jangan pergi. Tetaplah di sini bersamaku.
Dion mendekat dan menenangkan Mia. Ia berjanji akan selalu membahagiakannya. Menjaga dan melindungi serta menyayangi Mia seperti apa yang Tuan Felix inginkan. Bahkan lebih.
"A," ucap Mia.
"Ada aku," jawab Dion.
Dion terus menenangkan Mia. Ia juga memaklumi apa yang terjadi dengan Mia. Istrinya baru tahu tentang ayah kandungnya. Baru sebentar, sudah harus terpisah oleh jarak. Wajar rasanya bagi Mia bersikap seperti ini.
Rela ataupun tidak, namun Tuan Felix harus tetap berangkat. Mia harus merelakan keberangkatan ayah kandungnya untuk kembali ke negaranya. Saat itu Tuan Felix sempat gagal pulang karena Mia membuka hasil test DNA. Tapi kali ini Tuan Felix tidak bisa menggagalkannya lagi.
Sudah terlalu lama Tuan Felix memantau perusahaannya hanya melalui ponsel dan laptop. Memang tidak memburuk, namun rasanya diam di tempat. Dan bukan itu yang ia inginkan.
Setelah tahu kebaradaan Mia dan kedua cucu kembarnya, Tuan Felix justru ingin bekerja lebih baik untuk masa depan anak dan cucunya.
"Aku akan kembali nanti. Setelah semuanya siap dan tinggal menetap di sini. Bersama kamu dan kedua cucu kembarku. Kamu doakan Papa ya biar waktu itu tidak lama lagi," ucap Tuan Felix.
Mia mengangguk. Ia sudah tidak bisa bicara apapun. Ini terasa bagai mimpi buruk. Sakit, menghujam hatinya. Seandainya is boleh egois, ia ingin Tuan Felix tetap di sini. Tidak peduli tentang masa depan.
Beruntunglah logikanya masih jalan. Mia tidak mungkin membiarkan Tuan Felix hidup menderita di masa tuanya. Kalau saja ia bisa menjaminnya, baru ia bisa memaksakan keinginnannya.
Tapi saat ini, Mia tidak bisa apa-apa. Tidak mungkin jika Mia harus menggantungkan kehidupan ayah kandungnya pada keluarga Dion. Mia bukan tipe orang seperti itu.
"Mia, Papa kamu bukan cuma dia. Aku juga Papamu. Biarkan papamu mewujudkan impiannya untuk sementara waktu, agar nanti menikmati masa indah bersama kalian. Ini hanya soal waktu saja Mia," ucap Tuan Wira.
Mia mengerti, namun entah mengapa berat rasanya. Tapi apapun yang terjadi, Mia hanya harus merelakan. Tidak ada pilihan lain.
"Kita berangkat sekarang ya!" ajak Tuan Felix.
Semuanya berangkat. Mia dan Sindi yang masih dengan tangisnya berusaha menguatkan dirinya sendiri, mengantarkan Tuan Felix dan Rian ke Bandara. Sempat dilarang oleh Tuan Felix sebenarnya, namun Mia tetap ingin mengantar.
Waktu yang berlalu terasa begitu cepat bagi Mia. Ia bahkan sampai merasa hanya secepat kilat. Padahal perjalanan ke bandara terbilang cukup lama karena macet parah.
Berbeda dari biasanya. Mia yang tidak suka kemacetan mendadak bersyukur dengan adanya macet. Namun sebegitu lama waktu macet, akhirnya mereka sampai juga ke Bandara. Tempat yang saat ini paling tidak Mia inginkan.
"Mia, Papa berangkat ya! Ingat Papa akan selalu ada di hati kamu," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
Mia tak kuasa menahan air matanya. Ia tak mampu menjawab apapun kecuali hanya mengangguk. Pelukan hangat seorang ayah membuat Mia merasa sangat nyaman. Pelukan yang mungkin entah kapan akan ia rasakan kembali. Yang pasti, ia akan sangat merindukan semua itu.
Setelah melepas Mia, kini Dion
"Dion, aku titip Mia." Tuan Felix memeluk dan menepuk punggung Dion.
"Itu sudah jadi kewajibanku Pah," ucap Dion.
Lambaian tangan dan air mata Mia mengantarkan kepergian Tuan Felix dan Rian.
"Selamat jalan Pah," ucap Mia pelan.
Dion yang menyadari keadaan Mia, segera merangkul tubuh istrinya. Menguatkan istrinya agar ia tetap tenang.
"Kita pulang yuk!" ajak Dion.
Mia mengangguk.
Dalam perjalanan pulang, sesekali Mia masih mengusap kedua pipinya. Dion berusaha menenangkan Mia dengan menggenggam tangannya.
"Kamu wanita kuat. Istri, ibu dan anak, bahkan sahabat yang hebat buat kita semua. Kita semua sayang sama kamu," ucap Dion.
"Iya Mi. Ini hanya sebagian fase yang harus kamu lalui. Percaya sama aku, nanti semuanya akan kembali seperti yang sudah direncanakan." Sindi ikut menambahkan.
Mia masih tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sampai akhirnya mobil tiba di rumah Dion. Mia turun dan pergi ke kamar tanpa menyapa siapapun. Tanpa senyuman lembut, Mia berlalu begitu saja.
"Sayang, kamu istirahat ya!" ucap Dion.
Dion membantu Mia menyelimutimya. Mengecup dahinya dan meninggalkan Mia. Dion yakin Mia butuh waktu untuk sendiri.
"Gimana Mia?" tanya Tuan Wira.
"Masih begitu Pah," jawab Dion lemas.
Dion duduk di samping Tuan Wira yang sedang menggendong Narendra. Jarinya memainkan pipi gembil anak sulungnya. Bibirnya mulai tersenyum saat melihat Narendra meresponnya.
"Di, jangan tekan Mia. Mama yakin dia pasti akan kembali seperti dulu. Waktu. Hanya itu yang Mia butuhkan," ucap Nyonya Helen.
Bibir Dion kembali tersenyum mendengar ucapan Nyonya Helen. Ia bersyukur ibunya bisa sangat mengerti keadaan istrinya. Bahkan saat Mia seperti ini, dukungan besar terus diberikan oleh kedua orang tuanya.
"Iya Ma. Terima kasih udah sayang sama Mia ya Ma," ucap Dion.
"Kamu ini ngomong apaan sih?" tanya Nyonya Helen.
Hal yang paling tidak disukai oleh Nyonya Helen adalah saat Dion berterima kasih karena sudah menyayangi Mia. Ia tidak terima, karena menurutnya ucapan itu mengarahkan jika Mia bukanlah anaknya. Baginya, Mia sudah menjadi bagian dari keluarganya. Mia dianggap sebagai anaknya sendiri. Tidak ada alasan untuk berterima kasih karena ia hanya melakukan kewajibannya.
"Iya, maaf." Dion menyadari kesalahannya.
Selesai memberi susu pada Narendra dan Naura, Dion dan kedua orang tuanya keluar. Mereka melihat Sindi sedang duduk melamun. Di depannya ada segelas susu yang ia pegang.
"Sin," sapa Nyonya Helen.
__ADS_1
"Eh Nyonya, Tuan." Sindi menyapa sembari menundul hormat pada ketiganya.
"Kamu kesepian ya?" tanya Dion.
"Iya Tuan. Biasanya ada Rian yang selalu nemenin aku," jawab Sindi.
"Makanya cari pacar biar ada yang nemenin," goda Nyonya Helen.
"Jangan!" ucap Dion.
Sindi yang sudah tersenyum mendadak menegang. Ia takut mendengar ucapan Dion dengan nada yang cukup tinggi.
"Loh kenapa?" tanya Nyonya Helen.
"Ngapain cari pacar? Gak bisa nemenin. Cuma lewat ponsel doang. Yah, kalau cuma begitu sih udah sama Rian aja. Cari suami kalau mau ada yang nemenin," jawab Dion.
"Ah, Tuan." Sindi akhirnya lega saat mendengar jawaban Dion.
Jujur saja, hal yang paling ia takutkan adalah Dion akan melarangnya saat berhubungan dengan seorang pria. Ia dipanggil ke Jakarta untuk menemani Mia. Bukan untuk pacaran. Tapi mendengar penjelasan Dion, Sindi menjadi sedikit ada harapan.
Apa aku kenalin monster galak itu sama Tuan Dion ya?
Sindi sampai berpikir akan mengenalkan Danu ke Dion. Karena akhir-akhir ini hubungan mereka semakin dekat, meskipun hanya sebatas telepon atau pesan singkat.
"Mau aku cariin gak?" tanya Dion.
"Gak perlu Tuan," jawab Sindi panik.
"Kamu udah punya calon ya?" selidik Nyonya Helen.
Telunjuk Nyonya Helen menunjuk tepat di depan wajah Sindi. Membuat Sindi benar-benar merasa takut dan gelisah.
"Ng-nggak Nyonya," jawab Sindi gugup.
"Jangan bohong kamu!" ancam Nyonya Helen.
"Gak ada Nyonya," jawab Sindi.
Ketiganya mendesak Sindi untuk jujur soal kedekatannya dengan seseorang. Namun Sindi berusaha keras menolak tuduhan dari ketiganya. Sindi enggan mengakui kedekatannya dengan Danu.
Sebenarnya keluarga Dion sudah curiga pada Sindi karena Rian seolah tahu sesuatu tentang hubungan Sindi dengan seseorang. Namun karena Rian sudah tidak di sana, mereka tidak mudah mencari tahu hal itu lagi. Tidak mungkin mereka mengorek informasi soal itu dengan Rian, saat ia sedang fokus dengan cita-citanya.
"Ingat Sindi! Usia kamu tidak muda lagi. Sudah seharusnya kamu cari suami. Jangan cuma cari pacar!" ucap Dion.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.