
"Kalin, Mia pulang duluan ya!" ucap Mia.
"Jadi ke sana?" tanya Kalin.
Mia mengangguk.
"Aku antar ya!" ucap Kalin.
"Jangan!" tolak Mia.
"Kenapa?" tanya Kalin.
"Kalau sama Kalin, Mia takut ini akan berdampak ke perusahaan. Mia mau menyelesaikan masalah ini personal, antara Mia dengan Tuan Ferdinan." Mia tersenyum.
"Tapi aku khawatir jika membiarkanmu sendirian Mia," ucap Kalin.
"Tenang saja, Mia bisa menghadapi Tuan Ferdinan dengan cara Mia sendiri. Mia berangkat ya! Daadaahh," ucap Mia sambil pergi dan melambaikan tangannya pada Kalin.
"Tapi Mia, Mia," panggi Kalin.
Mia sudah pergi semakin jauh dan tidak mengindahkan panggilan Kalin. Mia hanya tidak ingin Kalin terus merengek untuk mengantarnya hanya karena khawatir padanya.
"Pak, ke kantor itu ya!" ucap Mia ke sopir grab dengan menunjuk ke sebuah gedung tinggi nan mewah.
Kantor siapa lagi kalau bukan milik Tuan Ferdinana. Ini baru jam setengah tiga. Mia yakin Tuan Ferdinan ada di dalam. Langkah kakinya disertai dengan hati yang berdebar. Mia takut kalau Tuan Ferdinan membentaknya lagi. Bagi Mia, Tuan Ferdinan itu mudah sekali berubah. Kadang baik dan bisa dengan tiba-tiba marah. Ah, entah lah. Mia tidak mengerti dengan sikap Tuan Ferdinan.
"Maaf, Nyonya. Apa Anda sudah ada janji dengan Tuan Ferdinan?"
Janji? Mana ada mereka membuat janji. Tapi kalau Mia bilang belum ada janji, Mia pasti tidak akan diperbolehkan masuk dan bertemu dengan Tuan Ferdinan.
"Sudah. Saya sudah terlambat sepuluh menit Saya bisa semakin terlambat jika mba memperlambat waktu saya," ucap Mia sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baik, Nyonya. Maafkan saya. Silahkan!" ucap seorang staff wanita di sana sambil menunduk hormat.
Mia berlalu sambil menyeringai. Ia baru menyadari ternyata mudah sekali membohongi dia. Padahal dulu, ia selalu saja menjadi orang yang palinh mudah dibohongi.
"Permisi Tuan," ucap Mia.
"Tuan, bolehkah saya masuk?" tanya Mia.
Mia dengan berani membuka pintu ruangan Tuan Ferdinan. Tak peduli nanti ia akan dicaci dan dimaki lagi, yang penting Mia segera bertemu dengn Tuan Ferdinan.
"Tuan? Ini Mia. Bolehkah Mia masuk?" tanya Mia.
Tuan Ferdinan terlihat sedang tidur di kursinya. Ia tidak bangun saat Mia menyapanya. Merasa sudah tidak sabar, Mia masuk walaupun Tuan Ferdinan tidak bangun.
"Tuan, Tuan," panggil Mia.
Masih tidak bergeming. Tuan Ferdinan masih belum membuka matanya.
Mia menghampirinya dan memanggilnya lagi. Kali ini Mia mendekatinya bahkan sampai mengguncang tubuhnya.
"Mba.. Mba.." teriak Mia pada staff di luar.
"Iya Nyonya," jawab wanita itu.
"Tuan Ferdinan pingsan. Kenapa dibiarkan seperti itu?" teriak Mia dengan panik.
Karena teriakan da kepanikan Mia, karyawan lain berkerumun di depan ruangan Tuan Ferdinan.
"Cepat angkat dan bawa ke rumah sakit," ucap Mia.
"Baik Nyonya," jawab salah seorang karyawan.
"Kamu, hubungi Nyonya Nathalie." Mia menunjuk staff wanita yang tadi menyambutnya.
Mia ikut bersama Tuan Ferdinan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Mia menangis dan mencoba membangunkan Tuan Ferdinan dengan mengguncang tubuh mertuanya. Namun usaha Mia sia-sia. Tuan Ferdinan tetap terpejam hingga akhirnya mereka sampai ke rumah sakit.
Mia dengan panik berjalan bolak balik dan beberapa kali mengigit bibir bawahnya.
"Pi, papi kenapa? Cepat sembuh ya. Mia sayang sama papi," ucap Mia berulang-ulang dengan nada yang bergetar.
Mia merasa hatinya hancur saat melihat Tuan Ferdinan tidak berdaya seperti itu. Rasanya Mia lebih rela jika Tuan Wang memarahinya daripada harus melihatnya seperti ini. Suara gemuruh dan khas yang tidak asing di telinganya, membuat Mia meminta izin untuk pulang pada seorang pria yang ikut menjaga Tuan Ferdinan.
__ADS_1
Dengan cepat Mia berlari menjauh dari ruangan itu. Tak ingin terjadi keributan saat ayah mertuanya sedang sakit. Mia lebih memilih untuk pergi menjauh. Namun Mia mengurungkan niatnya saat melihat sosok pria yang ada di kursi roda, yang di dorong oleh Nyonya Nathalie.
"Mas Danu," ucap Mia pelan lalu membungkam mulutnya.
Mata Mia berkaca-kaca saat melihat sosok suami yang selama ini ia rindukan. Mia bersembunyi dan memantau suaminya. Mia ingin tahu dimana Nyonya Nathalie menyembunyikan Danu. Mengapa saat Mia ke rumahnya, Danu tidak ada di sana?
Lama, mereka tidak keluar dari ruangan Tuan Ferdinan. Yang ia dengar hanya cacian untuk dirinya. Nyonya Nathalie menyalahkan Mia dan menganggapnya pembawa sial. Sepertinya Nyonya Nathalie sudah salah sangka. Hanya karena Mia adalah orang yang terakhir menemuinya, hingga ia berpikir kalau Mia adalah penyebab Tuan Ferdinan sakit.
Kebencian memang selalu membuat Nyonya Nathalie menutup mata tentang semua kebenaran yang melibatkan Mia. Baginya Mia selalu salah dan tidak pernah benar.
Mendengar semua ucapan Nyonya Natahlie yang mencacinya secara berlebihan, Mia masih bisa menahannya. Tapi melihat Danu diam saja dan tidak membelanya, membuat hati Mia sangat sakit. Mengapa Danu seolah mengiyakan apa yang diucapkan oleh suaminya itu.
Dengan berani, Mia segera mengahmpiri mereka. Nyonya Nathalie terlihat sangat panik saat melihat Mia ada di sana. Kebohongannya terbongkar sudah.
"Mas, ini Mia. Mas kemana saja? Kenapa mas tidak mencari Mia?" ucap Mia sambil merendahkan tubuhnya dan memeluk suaminya yang duduk di kursi roda.
"Mia, menyingkir. Pergi kamu!" bentak Nyonya Nathalie.
Danu diam tidak merespon. Ini bukan Danu yang Mia kenal. Danu tidak mungkin mebiarkannya dibentak seperti itu oleh Nyonya Nathalie. Tapi kali ini Danu diam. Tidak ada pembelaan untuk Mia sedikitpun. Apa mungkin Danu sudah melupakannya? Tidak adakah cinta yang tersisa di dalam hati Danu untuknya?
"Mas, kenapa mas diam saja? Mas ini Mia. Apakah mas sudah tidak mencintai Mia lagi?" tanya dengan berderai air mata.
"Siapa kamu?" tanya Danu.
"Mas?" ucap Mia tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Danu.
"Dia wanita pembawa sial yang menyebabkan kamu seperti ini," ucap Nyonya Nathalie.
"Nyonya pintar sekali memutar balikan fakta. Anda yang berbohong. Mengatakan Tuan Ferdinan di rumah sakit, padahal nyatanya tidak. Nyonya juga berbohong karena telah mengatakan mas Danu sudah meninggal. Saya mencari mas Danu ke setiap makam dan tidak ada. Lalu Nyonya menyediakan makam palsu agar Mia berhenti mencari mas Danu. Tapi Mia tahu Nyonya berbohong, makanya Mia cari mas Danu ke rumah. Mas tidak ada di sana. Mia tidak tahu mas disembunyikan dimana," ucap Mia.
PLAAAAKK
Mata Danu terbuka lebar dan terkejut dengan sikap ibunya yang menjadi begitu kasar pada Mia. Namun Danu justru semakin mencintai Mia saat melihat Mia masih sangat menghargai ibunya. Padahal bisa saja Mia membalas apa yang sudah dilakukan ibunya, tapi Mia lebih memilih menangis sambil memegang pipinya.
"Belum puas kamu membuat keluargaku hancur? Apa yang sudah kau lakukan suamiku Mia? Kau ingin membunuhnya?" bentak Nyonya Nathalie.
"Pergi, aku mohon kamu pergi. Kepalaku sakit," ucap Danu sambil memegang kepalanya.
"Mas," ucap Mia mendekati Danu.
"Mas, Mia pulang. Mas cepat sembuh. Mia mencintai mas dan akan selalu menunggu sampai mas kembali mengingat Mia," ucap Mia sambil mengusap air mata di pipinya.
Sebelum pulang Mia mencium tangan Danu dan menggenggam erat tangan suaminya seolah Mia meyakinkan kalau ia benar-benar menunggunya.
"Tuan, Mia pulang. Lekas sembuh," ucap Mia.
Mia berlalu meninggalkan ruangan Tuan Ferdinan.
"Bagus. Pergi sana!" ucap Nyonya Nathalie.
"Maafkan aku Mia, aku terpaksa bersikap seperti ini. Aku hanya tidak ingin permasalahanmu dengan Mami semakin rumit. Aku hanya akan mengikuti keinginan Mami. Ini hanya sementara. Sampai aku bisa berlari dan tidak duduk tak berguna di kursi roda seperti ini. Aku janji aku akan melindungi dan membawamu pergi jauh setelah aku sembuh. Aku janji Mia. Aku lebih mempercayaimu dari pada Mami. Sungguh. Terima kasih sudah menungguku dan masih setia untukku. I Love you Mia," Batin Danu.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Nyonya Nathalie.
Danu menggeleng dan tersenyum.
"Papi, papi sudah sadar?" tanya Nyonya Nathalie pada Tuan Ferdinan saat melihat suaminya sudah membuka matanya.
"Mami, Danu," panggil Tuan Ferdinan dengan suara parau.
Tuan Ferdinan mengangguk.
"Apa yang sudah Mia lakukan pada papi, sampai papi pingsan begini hah?" tanya Nyonya Nathalie.
Tuan Ferdinan mengerutkan dahinya. Mia? Terakhir kali yang ia ingat adalah rasa sesak di dadanya hingga ia kesulitan bernapas dan setelah itu, ia tidak mengingat apapun. Dan tidak ada Mia di sana. Kenapa istrinya menyebut nama Mia? Apakah Mia ke kantor untuk menemuinya? Ada apa? Pasti ada hal penting yang ingin Mia sampaikan padanya.
"Sayang, kepalaku pusing." Tuan Ferdinan memegang kepalanya.
Tidak. Tuan Ferdinan tidak merasa sakit di kepalanya. Ia hanya tidak ingin istrinya membahas Mia. Tuan Ferdinan takut, Danu semakin berpikiran buruk tentang Mia. Sudah cukup semua asupan buruk tentang Mia di kepala anaknya.
Nyonya Nathalie mencoba menutupi kepanikannya karena satu kebohongannya sudah terbongkar secara terang-terangan oleh Mia.
"Mami kenapa?" tanya Danu.
__ADS_1
"Mami hanya kurang istirahat saja, sayang. Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja." ucap Nyonya Nathalie sambil mengelap keringat dingin di dahinya.
"Aku minta sopir untuk mengantar mami pulang ya?" ucap Danu.
Pulang? Membiarkan Danu dan Tuan Ferdinan berdua tanpa pengawasannya di sini? Ah tidak! Ini tidak baik untuknya. Tapi kepalanya pusing sekali. Nyonya Nathalie menjadi semakin takut saat membayangkan Mia terus-terusan menemui Danu. Lalu dia akan menceritakan semuanya pada Danu.
Sudah cukup Tuan Ferdinan yang tahu semua kebohongan Nyonya Nathalie. Namun ia sudah berhasil membuat Tuan Ferdinan tidak marah lagi padanya. Tapi Danu? Ia takut kalau Danu tidak bisa memaafkannya. Bisa jadi Danu pergi bersama dengan Mia dan meninggalkannya. Nyonya Nathalie bergidik ngeri saat membayangkan bagaimana jika semua itu benar-benar terjadi.
"Mami, mami kenapa?" tanya Danu.
"Gak kenapa-kenapa. Mami baik-baik saja. Tapi mungkin mami butuh istirahat. Mami tidur dulu sebentar ya!" ucap Nyonya Nathalie sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Mami lebih baik pulang saja ya!" bujuk Danu.
"No. Mami di sini saja. Mami ingin menjaga papi," ucap Nyonya Nathalie.
"Ada aku di sini," ucap Danu.
"Tidak. Mami di sini saja. Jangan berisik! Mami mau tidur dulu," ucap Nyonya Nathalie dan memejamkan matanya.
Sial! Danu tidak bisa membujuk ibunya untuk pulang. Padahal ia ingin sekali memiliki kesempatan untuk bisa berdua dengan ayahnya. Danu ingin mencari tahu apa penyebab Nyonya Nathalie semakin membenci Mia. Apa salah wanita yang selalu bersikap tulus itu?
Melihat Mia yang sudah berhasil bertemu dengannya, membuat Nyonya Nathalie justru semakin mengekangnya. Ia bahkan memberi jarak antara Danu dengan Tuan Ferdinan. Mungkin Nyonya Nathalie tahu kalau Tuan Ferdinan sudah hampir membela Mia. Dan itu tidak baik untuk hubungannya dengan Danu.
Ketakutannya saat ini adalah saat Mia mengadukan semua hal yang ia lakukan pada Danu. Nyonya Nathalie takut kalau Danu kecewa dan meninggalkannya begitu saja. Danu adalah anak semata wayangnya. Bahi Nyonya Nathalie, Danu adalah anaknya. Pria kecil yang diharapkan selalu menuruti semua keinginannya.
Hal ini tidal berjalan sesuai harapannya. Ternyata Danu lebih membela Mia dari pada Nyonya Nathalie. Ia cemburu pada Danu yang selalu membela Mia dan lebih memilih Mia dibandingkan dengan dirinya.
Nyonya Nathalie selalu merasa kalau Mia sudah merebut Danu darinya. Perasaan itu kian membesar dan tumbuh menjadi monster yang menakutkan. Mia merupakan bom waktu yang akan menghancurkan semua harapannya. Begitu pikiran buruk tentang Mia yang selalu berputar di kepalanya.
"Danu, apa kau tahu Mia?" tanya Tuan Ferdinan saat melihat istrinya tidur.
"Dia wanita yang ke sini tadi, kan?" tanya Danu.
Masih harus berpura-pura. Danu belum bisa jujur karena ia takut ibunya mendengarkan percakapan mereka.
"Dia ke sini?" tanya Tuan Ferdinan tidak percaya.
"Iya," jawab Danu.
"Kamu bertemu dengannya tadi?" tanya Tuan Ferdinan.
"Iya," jawaban Danu.
"Apa kamu mengenalnya?" selidik Tuan Ferdinan.
"Kata Mami dia wanita yang menyebabkan Danu dan papi seperti ini," jawab Danu.
"Danu, kau harus tahu--" ucapan Tuan Ferdinan terhenti setelah Danu memotong ucapannya.
"Sudahlah pi. Papi istirahat saja. Kasihan mami kalau kita berisik. Lupakan saja wanita itu," ucap Danu.
"Danu," ucap Tuan Ferdinan tidak percaya.
"Maaf pi. Ini bukan waktu yang tepat. Aku janji akan mencari waktu yang tepat agar papi bisa membantu aku untuk bertemu dengan Mia. Tapi bukan sekarang," batin Danu.
Melihat ekspresi Tuan Ferdinan, Danu semakin yakin kalau ayahnya berbeda dengan ibunya. Tapi ini bukan situasi yang tepat. Danu tidak bisa menjamin kalau ibunya sudah tidur dengan nyenyak.
"Papi istirahat ya! Aku mau tidur dengan Mami," ucap Danu dan mendekati ibunya.
Benar dugaan Danu, Nyonya Nathalie tidak tidur. Ia mendengar semua percakapan antara suaminya dengan Danu. Sempat tegang namun akhirnya Nyonya Nathalie bisa bernafas lega saat Danu lebih memilih percaya padanya dibanding pada ayahnya.
"Mami, tidur yang nyenyak ya!" ucap Danu mengusap kepala ibunya.
Danu mengamati ibunya. Wanita yang sudah menua di hadapannya itu adalah ibunya. Wanita yang rela bertaruh segalanya demi dirinya. Danu yakin, apapun yang dilakukan oleh ibunya adalah demi kebaikannya. Danu percaya kalau ini adalah bentuk kasih sayang dan cinta seorang ibu pada anaknya. Nyonya Nathalie sangat menyayangi Danu dan ingin yang terbaik untuk anak semata wayangnya itu.
"Tapi ini salah Mi. Apa yang mami lakukan ini salah. Aku mencintai Mia. Nanti setelah sembuh, maaf karena aku akan mengejar Mia. Aku akan buktikan sama mami kalau Mia adalah wanita terbaik untukku. Aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya seperti dulu lagi. Kehidupan kita yang selalu indah dengan tawa bahagia. Aku akan kembalikan keluarga kita seperti dulu," batin Danu.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..