Janda Bersegel

Janda Bersegel
Gak jadi LDR


__ADS_3

"A," panggil Mia saat membuka pintu kamar.


"Hemm," jawab Dion.


Mata Dion masih fokus melihat layar ponsel. Mia mendekat dan menyimpan sarapan Dion di atas meja. Ia duduk menunggu Dion di atas sofa kamarnya. Pandangan Mia lekat pada suaminya. Melihat setiap gerakan dan garis wajah suaminya.


Ah, Mia kok rasanya berat ya kalau Aa sampai tugas di Surabaya lagi. Mia gak bisa tinggal diam. Kalau Aa tugas di Surabaya, Mia harus ikut sama Aa.


"Hey, kok ngelamun?" tanya Dion.


Mia terkejut saat sadar tangan Dion sudah melambai-lambai di depan wajahnya.


"Eh, ayo A sarapan!" ajak Mia.


"Kamu mikir jorok lagi ya?" tanya Dion.


"Ya ampun A. Buruk sangka aja sama Mia," ucap Mia.


"Bukan buruk sangka, aku kan cuma nebak aja. Biasanya sih kamu gitu Mi," ucap Dion.


Mia hanya cemberut dan menggelengkan kepala saat mendengar ucapan Dion. Ia kembali memperhatikan Dion saat suaminya sedang memakan roti.


"Kamu gak sarapan juga?" tanya Dion.


"Mia lagi nunggu nasi goreng. Kalau sarapan roti begitu gak kenyang Mia. Harus abis sebungkus gede, baru bisa kenyang." Mia tersenyum lebar.


Dion hanya ikut tesenyum mendengar jawaban Mia yang apa adanya itu. Memang setelah melahirkan, nafsu makan Mia semakin bertambah. Dion mengerti, karena ibu menyusui memang butuh banyak asupan agar produksi ASI juga bagus.


Berat badan Mia juga belum kembali ke semula. Ia masih bertahan dengan tubuh gempalnya. Padahal dulu Mia berharap ketika sudah melahirkan, berat badannya bisa kembali ke ukuran normal. Tapi ssat menyusui, Mia justru tidak bisa mengontrol nafsu makannya. Tak jarang Mia merasa lapar pada saat Dion sudah terlelap.


"A, Mia gendut ya?" tanya Mia.


"Iya," jawab Dion.


Mia mengerucutkan bibirnya saat mendengar jawaban Dion. Apalagi jawaban dingin Dion itu dipertegas dengan anggukan kepalanya.


"Ih, Aa jahat." Mia membalikkan badannya.


Dion menghentikan suapan rotinya dan mengerutkan dahinya, saat melihat tingkah Mia yang aneh. Dion bingung saat melihat Mia tiba-tiba saja sampai membelakanginya.


"Kamu marah Mi?" tanya Dion.


"Aa fikir aja sendiri. Pakai nanya lagi," jawab Mia ketus.


"Dih, kamu kenapa sih? Aneh deh," ucap Dion.


"Aneh, aneh. Aa yang aneh. Gak bisa jaga perasaan istri deh, ucap Mia.


"Loh memangnya kenapa? Kamu marah aku jawab iya? Kan memang kenyataannya berat badan kamu belum turun," ucap Dion.


"Aa, gak setiap apa yang Aa lihat, apa yang ada di kepala Aa harus jadi konsumsi publik. Aa kan bisa ngeles," ucap Mia kesal.


Giliran balik-balikin omongan aku aja, pinter banget kamu Mi.


"Ngeles sama bohong apa bedanya, Mi?" tanya Dion.


Dion menahan tawanya saat melihat Mia semakin geram. Bukan hanya Mia, Dion juga membalikkan kata-kata Mia. Berharap keadilan ini bisa sama-sama membuat Mia merasakan kekesalannya di pagi hari. Karena Dion tahu Mia akan sangat dongkol jika sudah membahas berat badan. Padahal topik tentang berat badan Mia sendiri yang mulai, tapi ujung-ujungnya tetap saja Dion yang salah.


"Aa benar-benar nyebelin. A, ngeles sama bohong gak ada bedanya. Tapi Aa harus tahu kalau berbohong demi kebaikan itu gak apa-apa. Aa kan bisa bohong. Bilang kalau Mia itu gak gendut. Ini malah bilang Mia gendut. Datar begitu lagi mukanya. Bikin kesel," ucap Mia.


"Jadi kamu lebih suka dibohongin?" tanya Dion.


"Bukan begitu A. Tapi kan Aa bisa pakai bahasa lain selain gendut," jawab Mia.


"Yang bilang gendut siapa?" tanya Dion.


"Aa," jawab Mia cemberut.


"Mana aku bilang begitu? Kamu yang bilang," ucap Dion membela diri.


"Tapi kan Aa mengiyakan," ucap Mia kesal.


"Terus aku harus gimana? Aku harus bohong biar kamu senang? Kamu kok suka sih bahagia di atas sehuah kebohongan?" tanya Dion.


"Tahu ah," jawab Mia.


"Gak tempe nih?" goda Dion.

__ADS_1


Terlihat Mia semakin kesal. Gurat marah jelas terlihat di wajahnya yang cantik. Dion melakukan apapun yang Mia lakukan pada saat ia sedang kesal padanya. Dan ternyata berhasil. Mia sama kesalnya dengan Dion. Walaupun tidak adil karena kedua masalah itu memang bersumber dari Mia.


Satu sama Mia. Hehe


Mia menghentakan kakinya dan meninggalkan Dion. Ia merangkak ke atas ranjang dan membalut tubuhnya dengan selimut tebal berwarna putih. Dion tidak sedetikpun melepaskan Mia dari pandangannya. Senyumannya terpasang saat melihat tingkah Mia.


Dion menghabiskan sarapannya. Setelah itu ia berjalan dan membuka pintu kamar. Lalu menutupnya kembali. Seperti dugaannya, Mia langsung membalikkan badannya dan menatap ke arah pintu. Mia pikir Dion akan meninggalkannya. Nyatanya Mia salah. Mia malah mendapati Dion dengan wajah yang mengolok-ngoloknya dan tertawa puas.


Dion tidak benar-benar meninggalkan kamar. Ia hanya berpura-pura membuka pintu dan seolah-olah meninggalkan Mia sendirian. Padahal ia menutup kembali pintunya dan masih tetap berdiri di balik pintu. Hal itu tentu membuat Dion sangat puas karena Mia benar-benar mencarinya.


"Aa," teriak Mia kesal.


Sebuah bantal terbang melayang hingga menghantam tubuh Dion yang tengah tertawa.


"Takut aku pergi ya?" ucap Dion.


Mia tidak menjawab. Ia kembali membelakangi Dion. Kali ini selimut itu menutup seluruh badannya. Entah karena malu atau kesal, ia tidak mau melihat wajah Dion yang masih mengolok-oloknya.


Kembali Dion membuka pintu dan menutupnya lagi hanya dalam hitungan detik.


"Gak bakal ketipu lagi. Terserah Aa mau keluar juga. Mia gak peduli," ucap Mia dari balik selimut yang menggulung tubuhnya.


Tidak ada jawaban. Mia tersenyum sinis. Ia senang karena tidak terpancing lagi oleh ulah suaminya. Lama di dalam selimut membuat Mia merasa panas. Napasnya juga semakin sesak. Mungkin karena sirkulasi oksigen tidak berjalan dengan baik.


Semakin lama terasa semakin hening. Tidak terdengar suara tawa atau derap langkah sama sekali. Perlahan Mia membuka selimutnya sedikit demi sedikit. Matanya mengedar mencari sosok pria yang tak jarang membuatnya kesal namun selalu membuatnya jatuh cinta, dan gelisah dilanda kerinduan saat tidak sedang bersamanya.


"A Dion kemana ya? Kok gak ada? Jadi dia benar-benar ninggalin Mia? Ampuuuuun, istri lagi ngambek, bukannya dibujuk malah ditinggalin. Benar-benar ya!" gerutu Mia.


Merasa emosinya sudah di ubun-ubun, Mia benar-benar melempar selimutnya hingga terjuntai ke lantai, ia turun dan bergegas untuk keluar kamar. Kekesalannya membuat lapar yang ia rasakan tidak bisa ditahan lagi. Mia ingat kalau Mba sedang menyiapkan nasi goreng untuknya.


"Bodo amat Aa bilang mia gendut atau apalah itu. Yang penting sekarang Mia mau makan. Mia lapar. Suruh siapa Aa bikin Mia kesal. Aa gak tahu apa kalau emosi itu menguras energi?" gerutu Mia sesaat sebelum tangannya menyentuh handle pintu.


Baru saja tangannya menempel pada handle pintu, handle pintunya terdorong hingga Mia ikut terdorong dan nyaris jatuh. Hendak marah, namun mulutnya mendadak bungkam saat Dion datang membawa sebuah nampan berisi nasi goreng dan air mineral satu gelas besar. Karena setelah menyusui, Mia memang lebih banyak minum. Bukan hanya sekedar disarankan oleh Dokter, namun memang Mia lebih sering haus dibanding sebelum ia menyusui.


Aroma nasi goreng ternyata mengalahkan keromantisan yang Dion lakukan untuk Mia. Dibanding tersipu dan berterima kasih untuk sikap romantis suaminya, Mia lebih memilih untuk menyambar nampan itu dan segera duduk di sofa. Ia meletakkan nampan itu dan segera menyantap nasi goreng yang menggugah seleranya. Mia yakin cacing di dalam perutnya juga sedang berpesta karena mendapat jatah makan enak dan banyak di agi hari.


Dion tidak berkomentar. Ia hanya berjalan ke tepi ranjang. Duduk di sana dan menatap Mia yang sedang makan nasi goreng dengan lahap di hadapaannya. Perlahan Dion mengulum senyum. Ia membayangkan bagaimana lelahnya Mia saat menjadi ibu menyusui. Waktu istirahatnya berkurang. Tapi Dion senang karena badan Mia masih subur, hingga ia tidak perlu khawatir dengan kondisi Mia.


Mia menarik tissue dan mengusap bibirnya setelah menghabiskan nasi goreng dan air mineral yang dibawa oleh Dion. Tidak tersisa sedikitpun. Mata Mia tak sengaja melihat Dion yang nampak seperti sedang mengamatinya.


"Kenapa? Illfeel karena Mia makannya banyak?" tanya Mia yang sudah tidak percaya diri dengan tatapan suaminya.


Mia tidak menjawab ucapan Dion, ia hanya mengusap kembali bibirnya dengan tissue baru. Membiarkan Dion mengelap kerungatnya yang mulai membasahi lehernya juga.


"Carikan Mia dokter yang bagus A," ucap Mia.


"Apa dokter yang sekarang gak bagus, Mi?" tanya Dion.


"Bukan gak bagus. Mia cuma butuh dokter baru," ucap Mia.


"Buat apa nambah dokter? Kalau mau tuh nambah anak," goda Dion.


"Aa, Mia serius." Mia menahan tangan Dion dan memegangnya.


"Buat apa?" tanya Dion.


Tatapannya begitu serius. Dion tidak mengerti mengapa tiba-tiba Mia butuh dokter baru yang lebih baik. Ia menyelidiki apakah mungkin pelayanan dokter keluarganya itu tidak baik? Apakah Mia tidak puas dengan cara kerja dokter pribadinya?


"Mia gak suka sama dokter yang ini. Dia gak pernah dukung Mia buat diet," ucap Mia.


Jawaban Mia sontak membuat deretan asumsinya mendadak pecah berkeping-keping. Ia menyesali keputusannya untuk memaksa kepalanya berpikir seserius itu. Ternyata hanya alasan receh yang membuat Mia sampai ingin menambah dokter.


"Mia, aku yang meminta dokter itu biar gak bantu kamu buat diet," ucap Dion.


"Ya ampun, Mia gak nyangka punya suami yang jahatnya gak ketulungan," ucap Mia dengan wajah penuh kecewa.


"Jahat apanya? Aku hanya gak mau kamu stres hanya karena mikirin diet. Buat apa kamu diet? Kamu itu butuh asupan energi agar bisa mencukupi kebutuhan ASI buat Narendra dan Naura. Aku tahu itu bukan hal yang mudah. Aku tahu kamu cape dengan semua ini. Makanya aku gak mau kamu nambah cape cuma buat mikirin diet. Nikmati saja Mia. Jangan membebani dirimu sendiri!" ucap Dion.


Sesaat Mia diam. Ia tengah mencerna dan menyimpulkan ucapan suaminya. Memang benar. Ah tapi tidak! Mia wanita normal yang memang pada kenyataannya mendambakan tubuh ideal apapun alasannya.


"Tapi Mia gak percaya diri A," keluh Mia.


"Apa yang membuatmu tidak percaya diri?" tanya Dion.


"Ya gak enak aja di lihatnya. Mia gak suka aja kalau ngaca," ucap Mia.


"Kalau gitu jangan ngaca. Gampang kan?" ucap Dion dengan begitu entengnya.

__ADS_1


Mia menatap Dion dengan wajah penuh kebingungan. Ia tidak habis pikir kalau suaminya bisa berpikir segampang itu.


"Gak bisa gitu dong A," ucap Mia.


"Kok gak bisa? Bisa dong. Ingat! Pikiran kamu yang menentukan. Kalau kamu berpikir A, maka semua akan berjalan A. Kalau kamu berpikir B, maka jalannya juga akan B. Memangnya kenapa sih kamu harus diet?" tanya Dion.


"Ya Mia mau lebih percaya diri aja. Biar Aa juga gak malu gitu ngenalin Mia ke orang lain," ucap Mia.


"Udah lewat Mia. Semua orang tahu kalau kamu itu istri aku. Aku gak perlu ngenalin siapa kamu ke siapapun. Lagi pula aku gak malu sama sekali dengan keadaanmu sekarang. Seingatku, aku juga gak pernah bahas masalah fisik sama kamu." Dion mengusap rambut Mia.


Dion berusaha meyakinkan Mia agar tidak terbebani dengan kondisi fisiknya saat ini. Meskipun Mia berkali-kali mendebatnya, namun akhirnya Dion berhasil membuat Mia bungkam dengan pertanyaannya.


"Apa alasan kamu diet agar enak dipandang oleh orang lain?" tanya Dion. Sebelum Mia menjawab, Dion sudah kembali mencercanya dengan pernyataan yang membuat Mia tidak bisa berkuti. "Karena aku sama sekali gak mempermasalahkan tentang berat badanmu," lanjut Dion.


Mulut Mia benar-benar terkunci. Hanya terlihat matanya yang mulai berkaca. Tak lama, tubuhnya jatuh di pelukan Dion.


"Terima kasih ya A. Mia kadang merasa beban kalau lihat badan Mia sekarang. Padahal Mia berharap kalau udah lahiran berat badannya bisa kembali normal," ucap Mia.


"Jika berat badan hanya membuat kamu terbebani, jangan sekalipun memikirkan hal itu. Kamu sudah cukup lelah untuk memikirkan perkembangan Naura dan Narendra," ucap Dion.


Mia hanya mengangguk dalam pelukan Dion. Lama dalam pelukan suaminya, membuat Mia semakin mengeratkan pelukannya. Seolah Mia takut jika kehilangan kesempatan untuk menikmati momen itu lagi.


"A makasih ya buat gak menjadikan fisik sebagai acuan Aa buat bertahan," ucap Mia.


"Aku mencintaimu karena perhatian dan kasih sayangmu. Jika semua itu gak berubah dari kamu, gak ada alasan buat aku buat berubah. Jadi jangan membabani dirimu sendiri," ucap Dion.


Lagi, Mia mengangguk dalam pelukan Dion. Hari libur yang nyaris gagal untuk bahagia, ternyata terselamatkan hanya karena Dion membawakan sarapan untuk Mia. Dion mulai mengerti, bahwa untuk membuat wanita bahagia, tidak melulu dengan berlian atau kemewahan lainnya. Ternyata hanya dengan sikap sederhana seperti itu saja sudah membuat Mia bahagia. Karena wanita yang mencintai pria benar-benar dengan hatinya, tidak akan memprioritaskan harta sebagai tolak ukur bahagianya. Tapi bagi pria, jika ia benar-benar mencintai wanitanya dengan hati maka ia akan selalu memprioritaskan kebahagiaan wanitanya.


Dion tahu Mia bukan wanita yang materialistis, namun ia juga sadar bahwa mereka hidup di zaman berkembang dan semakin maju. Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi dengan uang setidaknya kita bisa lebih bahagia. Realistis saja, sekarang semuanya butuh uang dan serba mahal. Tidak ada alasan Dion untuk bermalas-malasan bekerja hanya karena uang keluarganya sudah cukup untuk menjamin masa depannya. Dion punya cita-cita yang jauh lebih besar untuk anaknya. Hingga ia harus bekerja lebih giat lagi.


Mia memang tidak pernah menuntut materi yang berlimpah dari Dion, tapi ia sadar masa depan Mia akan jauh lebih bahagia saat ia memiliki tabungan yang gendut. Mungkin jauh lebih gendut dari istrinya.


Bicara tentang bekerja, tiba-tiba Dion ingat perusahaannya di Surabaya. Ia pasrah jika harus kembali bertugas di sana, mengingat Reza yang tak kunjung memberinya kejelasan.


"Mi, suatu saat nanti kita pasti akan merindukan masa-masa seperti ini. Kamu harus ingat meskipun jarak kita tidak sedekat ini, tapi cinta aku serapat nadi. Meskipun raga kita tak saling mendekap, tapi doaku tak lepas dari namamu." Dion mencium pucuk kepala Mia.


Mia yang mengerti arah ucapan Dion, semakin mengeratkan pelukannya. Tak ingin menjawab ucapan suaminya, ia hanya menangis. Ia takut menghadapi hari itu. Hari dimana ia akan merindukan kekesalan Dion hanya karena ulahnya yang konyol. Saat dimana Dion selalu mampu membuatnya laksana ratu.


"Kita bakal LDR dong A?" tanya Mia.


Dion melepaskan pelukannya dan menatap Mia sambil tersenyum.


"Gaya banget bahasa kamu. LDR, udah kayak anak muda yang lagi pacaran aja." Dion mencoba mencairkan suasana yang semakin membuatnya sedih.


"Ih Aa, kan sama aja. Intinya hubungan jarak jauh kan?" ucap Mia sembari memukul dada bidang milik Dion.


Kriiiing.. Kriiiing..


Dering ponsel Dion membuat Mia menjauh dari Dion.


"Siapa?" bisik Mia.


"Reza," jawab Dion.


Mia dan Dion larut dalam dugaannya masing-masing. Meskipun mereka berharap kabar baik dari Reza, tapi mereka tetap menyiapkan diri untuk jawaban yang tidak mereka harapkan.


Mia mendekatkan telinganya ke dekat ponsel Dion yang tengah menempel pada telinganya. Karena posisi Dion sedikit miring pada sofa, maka tubuh Mia menindih tubuhnya.


"Apaan sih? Geseran. Berat," bisik Dion sembari menjauhkan dirinya.


"Ih, katanya jangan mikirin berat badan. Kok sekarang jadi bawa-bawa badan sih? Body shaming ini namanya. Lagian pelit banget sih?kan Mia juga mau tahu. Di loudspeaker dong A," pinta Mia sembari berbisik.


"Husssst," kode Dion dengan menempelkan telunjuknya di bibirnya.


Dion menggeleng dan malah berdiri lalu keluar kamar. Bukan ingin menyembunyikan apapun dari Mia, tapi Dion tidak ingin melihat Mia kecewa dengan jawaban dari Reza. Dion hanya ingin melihat Mia bahagia.


Mia cemberut saat melihat sikap Dion. Namun kemarahan dan kekecewaannya tidak berlangsung lama, karena hanya sekitar sepuluh menit Dion kembali lagi ke kamar sembari berteriak kegirangan.


"Miaaa, kita gak jadi LDR. Kita bakal sama-sama terus," ucap Dion sembari memeluk Mia dengan penuh bahagia.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2