Janda Bersegel

Janda Bersegel
Lepas alat bantu?


__ADS_3

Setibanya di hotel, Mia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kini ia sudah tidak sibuk memimirkan keindahan dan kemewahan suasana di sana. Kepalanya penuh dengan bayangan Haji Hamid.


Pak Haji, cepat sembuh. Mia sedih lihat Pak Haji tidur begitu. Biasanya Pak Haji selalu semangat. Bahkan Pak Haji selalu nyemangatin Mia buat jadi lebih baik. Pak Haji bangun!


Beberapa kali Mia menyebut kata 'bangun'. Berharap kata itu di dengar dan terwujud sebelum ia kmebali ke Indonesia.


"Mi, kamu tidur ya!" ucap Dion.


"Iya A," ucap Mia.


Mia memejamkan matanya. Padahal tidak ada rasa ngantuk sama sekali.


"Tidur yang bener. Besok kamu harus ke rumah sakit lagi," ucap Dion.


Mia membuka matanya.


"Ke rumah sakit lagi?" tanya Mia.


"Besok aku meeting. Gak aman kalau kamu di sini sendirian. Aku takut ada bule nyasar ke sini. Ini kan hotel favorit, banyak bule yang tidur di sini. Makanya kamu tunggu aku di rumah sakit aja ya! Untuk sekarang, di sana lebih aman. Biar aku gak kepikiran pas lagi meeting," ucap Dion.


Hati Mia bersorak bahagia. Ia begitu senang saat Dion yang memintanya untuk ke rumah sakit lagi. Itu yang ia harapkan.


"Iya A," ucap Mia.


Senyumnya yang lebar membuat Dion yakin jika istrinya sedang bahagia. Dan memang benar, Mia langsung tidur karena sudah tidak sabar menunggu hari esok.


Dion mengecup dahi istrinya. Mengusap kepalanya dan ikut berbaring di sampingnya.


Tidurlah Mi. Maafkan aku jika selama ini aku terlalu membatasimu. Aku hanya takut kehilanganmu. Bahkan hanya kehilangan sebuah perhatian kecilmu saja aku takut. Tapi apa yang kamu lakukan semalam menyadarkanku, jika kamu wanita baik. Wanita yang selalu memprioritaskan aku sebagai suamimu.


Mia yang polos tidak tahu jika Dion memang sedang berbohong. Hotel di sana sangat aman dan tidak mungkin ada pengunjung lain masuk ke kamar mereka. Namun Dion mencari cara agar Mia bisa pergi ke rumah sakit.


Tidak terang-terangan. Sama seperti perhatian kecil Mia padanya. Tidak terang-terangan, namun jelas terasa oleh Dion.


"Pagi sayang," ucap Dion.


"Ya ampun, Mia kesiangan?" tanya Mia.


Mia membuka matanya pelan. Cahaya yang masuk dari gorden kamar hotelnya membuat Mia silau. Ia mengucek matanya.


"Gimana tidurnya?" tanya Dion.


"Nyenyak A. Kasurnya empuk, ruangannya wangi." Mia mencium aroma kamar yang memang begitu wangi.


"Jadi di rumah kasurnya gak empuk dan gak wangi?" tanya Dion.


"Bu-bukan begitu A," ucap Mia gugup.


Ia takut jika ucapannya membuat Dion kesal dan mengurungkan niatnya, untuk mengizinkannya ke rumah sakit. Namun Dion malah tersenyum.


"Mandi sana!" ucap Dion.


Mia segera turun dari ranjangnya. Ia menyibakkan selimut hingga terjuntai ke lantai. Berbeda dari biasanya, kali ini Dion yang menyiapkan pakaian untuk Mia. Ia memilihkan baju paling tertutup yang Mia bawa.


"Pakai baju ini ya! Aku mau keluar sebentar," ucap Dion.


"Aa mau kemana?" tanya Mia sembari menerima baju yang diberikan oleh Dion.


"Ada perlu sebentar. Gak lama kok. Kamu tunggu ya!" jawab Dion.


"Jangan lama-lama A. Mia takut ada bule masuk ke sini," ucap Mia.


Dion hanya bisa menahan tawanya. Ternyata Mia benar-benar menganggap ucapannya serius.


Sepolos itukah istriku?


Dion hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Mia segera mengunci pintu kamar setelah Dion keluar.


"A Dion mau kemana sih?" gumam Mia.


Mia memakai baju yang Dion pilihkan untuknya. Ia tidak berdandan. Hanya memakai bedak natural dan lipstik nude. Ia akan berdandan sangat sederhana saat keluar tanpa Dion.


Seperti saat ini, ia akan ke rumah sakit fanoa ditemani suaminya. Ia tidak mau jika dandanannya mengundang pandangan dari pria lain.


"Mi," panggil Dion saat akan masuk ke dalam kamarnya.


"Siapa?" tanya Mia.


"Ini aku, Dion." Dion menjawab dengan wajah bingung.


"Serius kamu Dion?" tanya Mia.


"Mia, iya ini aku. Buka pintunya. Kamu kenapa sih ngunci pintunya begini?" tanya Dion.

__ADS_1


"Coba sebutkan nama anak kita," ucap Mia.


"Mia, kamu ini apa-apaan sih? Buka pintunya!" ucap Dion.


"Sebutkan dulu nama anak kita!" ucap Mia.


"Narendra dan Naura. Cepat buka pintunya!" ucap Dion kesal.


Mi membuka pintu kamarnya dan tersenyum melihat Dion berdiri di depan kamarnya.


"Aa," ucap Mia sembari memeluk Dion.


"Kamu kenapa sih?" tanya Dion yang masih kesal.


"Mia takut itu bukan Aa," ucap Mia.


"Masa kamu gak kenal suara aku sih?" tanya Dion.


"Ya kan bisa aja niru suara Aa," jawab Mia.


"Tapi kan kamu bisa lihat dari sini!" ucap Dion.


Dion menunjuk lubang intip yang terdapat pada pintu kamar hotelnya.


"Mia kan panik A," ucap Mia.


Dion cemberut saat hatinya masih kesal. Ia tidak hanya kesal dengan sikap Mia. Tapi ia juga kesal karena sudah berbohong pada Mia soal bule itu.


Tahu begitu aku gak bakal bilang sola bule yang bisa masuk ke kamar ini. Niat baik malah jadi kesel.


"A, jangan marah dong. Mia kan cuma mengutamakan keamanan. Kan lebih baik mencegah dari pada mengobati," ucap Mia.


"Iya terserah kamu aja deh," ucap Dion.


Dion harus mengalah sebelum emosinya semakin menjadi-jadi. Ia tahu saat berdebat dengan Mia, walaupun ia menang tapi ia akan semakin kesal. Mia memang akan mengalah. Tapi sebelum menyerah, Mia akan mengeluarkan hal-hal yang membuat kepala Dion pusing.


"Aa dari mana?" tanya Mia yang mencoba mencairkan suasana.


"Dari luar," jawab Dion.


"Ya dari luar itu dari mana A?" tanya Mia.


"Ya kalau dari luar, berarti bukan dari dalam. Masa begitu aja kamu gak ngerti sih Mi," jawab Dion.


Mia cemberut saat mendengar jawaban Dion. Sedangkan Dion tersenyum penuh kemenangan. Setidaknya satu sama. Mia juga bisa merasakan apa yang ia rasakan.


"Makan dulu Mi!" ucap Dion.


Mia segera menyantap sarapan yang disediakan di meja.


"Pelan-pelan," ucap Dion.


Dion dan Mia sarapan. Hening, hanya terdengar dentingan piring dengan sendok sesekali.


"Aku mau berangkat sekarang ya! Nanti akan ada orang yang datang ke sini. Ikut dengannya! Dia akan mengantarmu ke rumah sakit," ucap Dion.


"Kenapa gak bareng sama Aa aja?" tanya Mia.


"Jam besuk belum buka sepagi ini Mi. Aku gak bisa biarin kamu nunggu di sana," ucap Mia.


"Tapi kalau Mia di sini takut. Gimana kalau ada bule yang tiba-tiba masuk ke sini?" ucap Mia.


Dion menghela napas cukup panjang.


"Gak ada Mi. Kamu aman di sini," ucap Dion.


"Kata Aa semalam gak aman," ucap Mia.


"Aman. Di sini aman," ucap Dion menahan kesalnya.


"Jadi semalam Aa bohongin Mia ya?" tanya Mia.


"Yang penting kamu aman di sini. Tunggu orang yang jemput kamu ya! Aku berangkat," ucap Dion.


Tanpa menunggu ucapan dari Mia, Dion segera mengecup singkat bibir Mia dan segera melambaikan tangan. Pergi hingga akhirnya pandangan Mia tidak lagi melihat sosok suaminya.


"Aa kenapa harus bohong sih? Kan dosa," gumam Mia.


Hal seperti itu yang kadang membuat Dion kesal. Ia jadi malas untuk bersikap manis. Caranya tidak ditangkap baik oleh Mia.


Tahu begini aku gak perlu so romantis sama Mia. Mia gak peka. Masa dia gak ngerti sih kalau apa yang aku lakuin semalam itu buat dia...Ah, tahu ah. Bikin kesel aja.


Dion mengusap kasar wajahnya saat ingat apa yang terjadi padanya pagi ini. Merasa percaya pada keselamatan dan perasaan Mia, Dion meeting dengan fokus. Ia benar-benar menyajikan yang terbaik sesuai kemampuannya.

__ADS_1


Sementara Dion tengah berjuang untuk membuat nama perusahaannya semakin tinggi, Mia sedang berjuang untuk membuat Haji Hamid sadar. Mia bahkan mengeluarkan sebuah kartu ATM.


"Pak Haji ingat ini?" tanya Mia.


Mia mengangkat kartu ATM itu.


"Ini adalah kartu ajaib. Pak Haji yang pertama kali mengubah dunia Mia. Bahkan Mia tahu barang ini dan fungsinya dari Pak Haji. Mia masih ingat betul kalau Pak Haji mentransfer uang banyak sekali ke kartu tipis ini. Isinya masih banyak Pak Haji. Mia cuma minjem sedikit. Tapi nanti Mia ganti ya!" ucap Mia.


Mia terus bicara seolah-olah Haji Hamid mendengarnya. Ia melanjutkan ceritanya. Semua cerita di masa lalunya diceritakan kembali. Bahkan Dev sampai tersenyum saat mendengar cerita Mia.


Hamid bangun! Aku akan ceritakan nanti bagaimana Mia berusaha menyadarkanmu. Bagaimana Mia begitu mengkhawatirkanmu. Bangunlah! Kamu pasti kuat.


Mia tertawa lepas lalu sesekali tangannya mengusap kedua pipinya yang mulai basah karena ceritnya sendiri.


"Mi, kamu makan dulu." Dev mengingatkan.


"Mia gak lapar Dev," ucap Mia.


"Tapi kamu harus makan. Jangan sampai kamu sakit. Kamu harus sehat," ucap Dev.


Sudah jam makan siang. Dev mencarikan makan siang untuk Mia karena Mia tidak mau makan di luar.


"Makan dulu! Nanti suami kamu marah dan gak ngizinin kamu ke sini lagi," bujuk Dev.


Mia ingat Dion. Ini sudah jam makan siang, tapi Dion tidak menemuinya. Apakah dia sibuk? Apa dia sudah makan? Begitu banyak kekhawatiran Mia saat Dion tidak di sampingnya.


"Dev, terima kasih ya! Ayo makan bareng!" ajak Mia.


Mia makan setelah sebelumnya menanyakan makan siang Dion. Lalu ia mengirim foto menu makan yang ada di hadapannya. Kali ini ia tidak menelepon Dion. Mia takut mengganggu suaminya.


"Mi, kamu beruntung ya punya suami seperti Dion," ucap Dev.


Dev memang tidak mengenal Dion. Hanya saja, Kalin memberinya informasi tentang Dion.


"Iya Dev. Semua berkat doa Pak Haji juga. Makanya Mia mau Pak Haji bangun. Mia mau ceritain semua kebahagiaan Mia sama Pak Haji. Biar Pak Haji juga ikut bahagia," ucap Mia.


Dev menunduk. Berat rasanya jika harus menceritakan semunya pada Mia. Tapi Dev kasihan melihat Mia begitu banyak berharap. Dev menunggu Mia selesai makan.


"Mi," panggil Dev.


"Kenapa Dev?" tanya Mia.


"Aku boleh cerita?" tanya Dev.


"Boleh," jawab Mia.


Akhirnya Dev menceritakan apa yang terjadi semalam. Dokter menyarankan untuk membuka semua alat bantu Haji Hamid. Karena sudah lama tidak ada respon dari pasien.


"Apa?" ucap Mia.


Bibirnya bergertar. Tangisnya kembali pecah. Dev berusaha menenangkan Mia. Tapi sepertinya Dev kalah. Mia tidak bisa menahan air matanya.


"Mia, kamu kenapa?" tanya Dion.


Dion yang tiba-tiba datang dibuat terkejut saat melihat Mia tengah menangis. Dev sudah nampak panik saat Dion sudah menatapnya tajam.


"Bukan aku," ucap Dev.


"Mi, kamu kenapa?" tanya Dion lagi.


"Pak Haji A," ucap Mia.


"Dia kenapa?" tanya Dion.


Mia memeluk Dion dan menceritakan apa yang ia tahu dari Dev dengan suara terbata di sela isak tangisnya.


"Sayang, tenang. Kamu harus yakin kalau semuanya sudah diatur sama Tuhan. Urusan hidup dan mati, itu hanya kuasa Tuhan." Dion berusaha menenangkan Mia.


"Tapi kalau keadaannya begini, itu sama artinya dengan kita yang sengaja membuat Pak Haji pergi. Kita semua tahu kalau tanpa alat ini, Pak Haji gak bisa bertahan." Mia terus menangis.


"Tapi ini kembali ke keputusan pihak pasien Mi. Kalau kamu mau Hamid tetap bertahan dengan alat bantu ini, kita bisa mengajukannya ke pihak rumah sakit." Dev memberi pilihan.


"Mia mau alat ini tetap terpasang. Mia gak mau Pak Haji meninggal," ucap Mia.


Dion dan Dev diam. Mereka membiarkan Mia meluapkan emosinya dulu. Percuma bicara dengan Mia kalau keadaan Mia tidak siap diajak bicara.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2