Janda Bersegel

Janda Bersegel
PD turunan


__ADS_3

Besok adalah waktu yang dijadwalkan untuk membahas proyek baru itu. Sementara Mia belum memberi keputusan untuk ikut terlibat atau tidak. Tuan Wira cukup bingung saat dihadapkan dengan situasi seperti ini. Di satu sisi, Tuan Wira akan juga menghargai keputusan Mia. Namun di sisi lain, Tuan Wira juga belum siap melihat rekannya kecewa dengan keputusan Mia. Mereka memang tidak memaksa, namun mereka menggantungkan harapan besar pada Mia.


Tuan Wira menghela nafas panjang dan menatap secangkir kopi hitam yang ada di tangannya. Kopi itu masih panas, mungkin sama panasnya dengan kepalanya saat ini.


"Mungkin besok aku akan cari alasan dulu, agar mereka tidak terlalu kecewa. Siapa tahu sesekali Dion memberi kesempatan Mia untuk ikut andil dalam proyek baru ini. Seminggu lagi kan Dion pulang ke Jakarta. Mungkin Dion akan mengizinkan Mia pergi, kalau bersama dirinya," ucap Tuan Wira.


Sendiri. Tuan Wira bicara sendiri Ia tengah menenangkan hatinya dengan beberapa kemungkinan, yang bisa juga tidak mungkin sama sekali. Berbeda dengan istrinya, Tuan Wira tidak memaksakan kehendaknya. Ia tahu keputusan yang diambil anaknya pasti ada alasan yang kuat.


Setelah cukup larut, Tuan Wira masuk ke dalam kamarnya. Ia mencoba menenangkan fikirannya dan berusaha memejamkan matanya. Berharap kalau semuanya akan baik-baik saja.


Tuan Wira memeluk Nyonya Helen yang sudah tidur lebih awal. Ia mencium kepala istrinya.


"Selamat tidur Ma. Terima kasih untuk semuanya selama ini. Mama adalah alasan Papa bisa seperti ini sampai sekarang. Sekali terima kasih banyak sayang," ucap Tuan Wira.


Seandainya Nyonya Helen masih bangun, mungkin ia akan bersorak bahagia saat mendengar semua kalimat itu dari suaminya. Namun sayangnya, Nyonya Helen sedang asyik berada di alam mimpinya.


Rumah mewah yang dihuni oleh puluhan orang itu kini sepi. Banyak orang yang sudah tidur. Hanya beberapa para penjaga yang masih terjaga. Merek akan bergantian untuk tetap bangun dan memastikan kalau tidak ada apa-apa di setiap malamnya. Semuanya harus tetap baik-baik saja, karena kalau tidak, hidup mereka yang akan menjadi tidak baik.


"Pagi Maaa, Paaaa," sapa Mia.


Mia yang lebih dulu menunggu di ruang makan membuat Tuan Wira dan Nyonya Helen terkejut. Baju Mia yang sudah rapi dan senyumnya yang lebar dengan wajah cerianya, membuat Nyonya Helen dan Tuan Wira penuh tanya.


"Kamu sudah cantik aja pagi ini. Mau kemana sih?" tanya Nyonya Helen basa basi.


"Kan mau ke kantor," jawab Mia.


Tuan Wira yang sedang minum, sampai batuk saat mendengar jawaban Mia.


Apa Mia sedang membuat lelucon di pagi ini? Atau justru telingaku yang sedang bermasalah? Mia apa yang kau katakan sebenarnya?


"Apa maksudmu?" tanya Tuan Wira.


"A Dion mengizinkan Mia untuk ikut dalam proyek baru itu. Kata Aa, asal jangan kecapean. Lagi pula seminggu lagi Aa pulang. Jadi nanti Mia bisa ke kantor sama Aa," jawab Mia.


"Akhirnyaaaaa. Tuh Pa. Apa kata Mama. Dion itu pasti mengizinkan Mia," ucap Nyonya Helen penuh dengan rasa bangga.


Kebanggaan Nyonya Helen pagi ini tidak hanya karena kecerdasan Mia, tapi ia juga bangga pada dirinya sendiri. Dion bisa mengizinkan Mia, itu semua karena bujukan dari Nyonya Helen.


"Dion pasti mengizinkan Mia karena Mama menekannya kan?" ucap Tuan Wira.


"Apapun itu, tapi Papa suka kan dengan hasil kerja Mama? Yang penting sekarang Mia akan ikut terlibat dalam proyek itu kan?" ucap Nyonya Helen.


Tuan Wira benar. Ia memang tidak bisa membohongi perasaannya. Saat ini ia hanya senang saat Mia bisa ikut dalam proyek itu.


"Mama sama Papa tenang aja. A Dion gak terpaksa kok ngasih izin Mia. Semuanya sudah Aa putuskan dengan beberapa pertimbangan. Jadi tidak ada masalah sama sekali," ucap Mia menengahi Nyonya Hwlen dan Tuan Wira.


Benar! Dion yang pada awalnya merasa kalau Mia tidak perlu ikut terlibat dalam proyek apapun, malam itu kembali menelepon Mia. Setelah Dion banyak merenung, akhirnya ia mendapat keputusan yang menurutnya terbaik.


Malam itu Dion menatap langit-langit kamarnya di Surabaya. Ia mencoba memejamkan matanya. Namun kepalanya masih memikirkan Mia dan proyek itu. Dion membuka matanya kembali dan bangun. Menyandarkn tubuhnya dan mencoba duduk sesantai mungkin. Ia merasa benar-benar gelisah malam itu.


"Mia, apa yang harus aku lakukan?" gumam Dion.


Matanya terpejam beberapa detik. Ia memaksakan dirinya meyakini kalau dengan Mia diam saja di rumah, itu adalah keputusan terbaik untuk Mia. Namun tiba-tiba bayangan Nyonya Nathalie melintas begitu saja di kepala Dion. Bagaimana Nyonya Nathalie selalu menganggap Mia benalu dan wanita matre. Wanita tidak berguna yang hanya mengejar pria kaya agar bertahan hidup.


Saat itu juga, Dion segera menelepon kembali Mia dan mengabarkan kalau ia mengizinkan Mia untuk ikut terlibat dalam proyek itu. Benar kata Nyonya Helen, kalau selama ini Mia punya potensi untuk terang benderang. Tidak ada alasan bagi Dion untuk membuat sinar itu redup.


Perihal kehamilan Mia, Dion yakin kalau Mia pasti bisa menjaga dan mengatur waktunya sendiri. Lagi pula, anak kembarnya pasti bangga saat melihat ibunya adalah wanita cerdas yang disegani oleh banyak orang. Bukan wanita cerdas yang selalu dianggap rendah, hanya karena kecerdasannya tidak terekspose.


Kembali ke meja makan yang ada di rumah Tuan Wira. Rasa tidak percaya itu masih dirasakan oleh Tuan Wira. Ia benar-benar merasa kalau semua ini hanyalah mimpi.


"Mia, terima kasih." Tuan Wira tersenyum menatap Mia.


"Sama-sama Pa. Mia juga minta maaf kalau mungkin nanti Mia tidak bisa seperti yang Papa harapkan. Mia tidak yakin kinerja Mia sebagus yang mereka impikan," ucap Mia.


Ya, lama tidak bergelut dalam perusahaan, membuat Mia menjadi tidak percaya diri. Mia takut jika saja ia mengecewakan semuanya yang sudah banyak berharap pada Mia. Namun apapun hasilnya, Mia hanya akan memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya.


Dion juga berpesan hal yang sama. Lakukan semampumu. Karena prioritas utamanya saat ini adalah bayi kembar mereka.


Baru saja Tuan Wira akan berangkat, ponselnya berdering. Hingga ia memutuskan untuk duduk kembali dan menjawab dulu panggilan itu. Dari siapa lagi kalau bukan dari Dion. Ia menitipkan istrinya pada Tuan Wira.


"Kamu tenang saja Dion. Mia ini sudah besar. Papa tidak perlu menggendong Mia kan?" ucap Tuan Wira.


"Enak saja. Cuma aku yang boleh menggendong Mia," ucap Dion.


"Memangnya kamu kuat menggendong Mia sendirian?" tanya Tuan Wira.


"Bantuin sama Papa lah. Mia kan sekarang bohay Pa," jawab Dion.


"Aaaaaa," teriak Mia.

__ADS_1


"Eh Mia, maksud aku kamu itu seksi. Aku senang kok kamu bohay. Jadi bayi kita sehat," ucap Dion panik.


Rupanya Dion tidak tahu kalau Mia ada bersama Tuan Wira. Terlebih Tuan Wira meloudspeaker panggilan Dion, hingga Mia mendengar jelas apa yang Dion katakan.


"Papa kok gak bilang ada Mia sih?" tanya Dion.


"Lah, orang kamu juga gak nanya sama Papa," jawab Tuan Wira.


"Ya kan Papa bisa bilang tanpa aku tanya," ucap Dion.


"Gak mau. Wartawan juga kalau ngasih berita harus dibayar. Memangnya kamu mau bayar Papa berapa untuk informasi sepenting ini hah?" tanya Tuan Wira.


"Oh, jadi kalau Mia gak tahu, Aa bisa bebas mengejek Mia begitu?" tanya Mia.


"Ya ampun, ini masih loudspeaker?" tanya Dion kesal.


"Jawab dulu," ucap Mia.


"Mia, gak begitu. Aku senang kok kamu sekarang jadi berisi. Kan semua demi anak kembar kita yang sangat lucu itu," jawab Dion.


"Papa gak ikutan ya!" ucap Tuan Wira sambil tertawa.


"Mia, nanti aku hubungi kamu ya! Sekarang aku mau bicara sama Papa dulu," ucap Dion. "Hallo Pa! Aku serius loh ini Pa. Aku cuma tidak mau kalau Mia terlalu cape. Ingatkan Mia saat makan siang dan minum susu," lanjut Dion.


"Iya siap. Kamu tenang aja," jawab Tuan Wira.


"Awas kalau sampai lupa," ucap Dion.


"Papa pakai alarm, tenang saja ya!" ucap Tuan Wira.


Saat panggilan telepon itu terputus, Nyonya Helen menatap Mia.


"Mia, kamu tidak marah beneran kan sama Dion? Mood kamu masih bagus kan?" tanya Nyonya Helen panik.


Nampaknya Nyonya Helen tidak tahu kalau Mia sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Ia memang sering marah pada Dion saat mengatainya lebih gendut. Termasuk saat ini juga Mia masih merasa sedikit kesal. Namun Mia cukup profesional. Selama bekerja, Mia selalu berusaha untuk tidak mencampuri urusan pekerjaan dengan urusan pribadi.


"Mia baik-baik saja kok Ma. Mia berangkat dulu ya!" ucap Mia sembari meraih tangan Nyonya Helen dan menciumnya.


"Hati-hati sayang," ucap Nyonya Helen sembari memeluk Mia.


"Iya. Oh ya Ma, terima kasih ya karena Mama sudah bantu Mia buat wujudin cita-cita Mia," ucap Mia.


"Ayo Mia!" ajak Tuan Wira. "Nanti lebay-lebayannya dilanjut lagi kalau sudah pulang," lanjut Tuan Wira.


Dengan wajah cemberut Tuan Wira berjalan lebih dulu meninggalkan ruang makan. Bukan takut kesiangan, ia hanya tidak ingin melihat Mia menangis karena keharuan pagi ini. Seperti yang ia tahu kalau Mia itu sangat lembut, dan mudah sekali tersentuh. Air matanya sangat cepat tumpah dan Tuan Wira tidak ingin melihat semuanya pagi ini.


Setibanya di kantor, Mia dan Tuan Wira disambut hormat oleh karyawan yang sudah datang lebih dulu. Mia dengan kerendahan hatinya mengangguk hormat dan tersenyum lebar.


"Mia, kamu tunggu di sini saja ya!" ucap Tuan Wira.


"Iya Pa," jawab Mia.


Mia duduk di sebuah ruangan yang sangat rapi. Piala dan foto-foto Tuan Wira berjejer di sebuah rak yang ada di sana. Kursi empuk yang tersedia membuat Mia merasa nyaman. Ia duduk dengan santai. Mengamati setiap sudut ruangan di kejauhan.


Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah foto wanita cantik dengan pakaian formalnya. Mia mendekat, mengamati dari dekat. Benar! Tidak salah lagi, itu adalah Nyonya Helen. Mertua terbaik yang selalu menyayanginya.


"Mama," gumam Mia sembari mengusap foto itu.


"Mia," panggil Tuan Wira.


"Eh, Papa," jawab Mia.


Mia segera menyimpan kembali foto itu dan menghampiri Tuan Wira. Sementara Tuan Wira menatap Mia. Sepertinya ia ingin sekali menceritakan sesuatu. Namun mungkin ini bukan waktu yang tepat, karena tamu sudah menunggu.


"Mereka sudah datang," ucap Tuan Wira.


"Oh, ayo Pa!" ucap Mia.


"Selamat datang Tuan-Tuan. Senang bis bertemu kembali," ucap Mia mengawali basa basi pagi ini.


Dengan gaya bicara Mia saja, sudah membuat mereka suka. Apalagi saat Mia mulai memberi ide untuk proyek barunya. Seperti tidak ada beban, Mia menceritakan semua ide yang ia temukan dengan sangat ringan. Pengemasan kata yang cukup sederhana, membuat mereka lebih mudah mencerna maksud kalimat yang Mia sampaikan.


"Woooow, ide yang sangat hebat! Senang bekerja sama dengan Anda, Nyonya." Salah seorang dari mereka bertepuk tangan.


Kepuasan mereka adalah bayaran termahal bagi Mia. Ia merasa dirinya dihargai. Idenya berarti, dan merasa kalau hidupnya mulai berguna.


"Terima kasih," jawab Mia singkat.


Mia selalu berusaha untuk tidak terbuai dengan pujian dari setiap orang. Karena Mia takut akan jatuh dalam buaian itu. Mia selalu menjadikan semua itu tantangan agar ia bisa terus memberikan yang terbaik.

__ADS_1


"Untuk sekarang, mungkin ini sudah lebih dari cukup. Kita akan realisasikan semua ini secepatnya," ucap salah satu dari mereka.


Mia dan Tuan Wira hanya mengangguk. Mereka juga mengantar tamunya saat berpamitan untuk pulang. Kali ini, tidak ada wartawan yang menunggu di luar. Sepertinya mereka di tahan oleh security yang berjaga di sana. Ulah siapa lagi kalau bukan Dion.


Dion memberikan ancaman pemecatan jika sampai ada wartawan yang berhasil mengambil dan menyebarkan foto istri tercintanya itu.


"Mia, terima kasih." Tuan Wira menepuk bahu Mia.


"Sama-sama Pa," jawab Mia.


"Mau pulang sekarang?" tanya Tuan Wira.


"Nanti siang saja. Katanya Mama mau ke cafe dekat sini. Mau makan siang bareng, baru pulang." Mia tersenyum setelah menjawab pertanyaan Tuan Wira.


"Wah bagus dong. Tapi kok Papa gak di ajak sih?" tanya Tuan Wira.


"Loh, kata Mama, Papa ada acara makan siang kan sama teman Papa?" tanya Mia.


"Oh ya ampun. Papa sampai lupa kalau ada janji sama teman Papa," jawab Tuan Wira sembari menepuk dahinya.


"Pa, Mia masih boleh nunggu di ruangan tadi kan?" tanya Mia.


"Oh tentu. Ayo Papa antar!" ucap Tuan Wira.


Tuan Wira mengantarkan Mia sampai ke ruangan. Saat Tuan Wira akan pamit, Mia menahannya.


"Pa," panggil Mia.


"Iya," jawab Tuan Wira.


"Mia boleh bertanya sesuatu?" tanya Mia.


"Apa?" tanya Tuan Wira.


"Ini ruangan apa?" tanya Mia.


Tuan Wira menatap Mia. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Mia.


"Duduk!" pinta Tuan Wira pada Mia.


Mia duduk di depan Tuan Wira. Ia mulai mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Tuan Wira. Mia cukup terkejut saat mendengar kalau ruangan itu adalah ruangan Nyonya Helen.


Dulu Nyonya Helen adalah bagian dari perusahaan itu. Ia berperan penting bahkan bisa dikatakan pemegang kendali perusahaan saat itu. Namun akhirnya Nyonya Helen meninggalkan perusahaan karena merasa gagal dan membuat perusahaan nyaris gagal.


Nyonya Helen sempat keliru saat membuat laporan keuangan dan pernah membuat perusahaan kalah bersaing. Hal itu membuat Nyonya Helen merasa menjadi orang yang tidak berguna dan memilih untuk pergi. Melupakan semua mimpinya karena takut akan membuat perusahaan semakin memburuk.


Saat itu menjadi ibu rumah tangga sejati adalah pilihannya. Meskipun kadang masih ada beberapa pekerjaan yang melibatkan Nyonya Helen. Namun sejak saat itu, ia lebih suka bekerja di balik layar.


Untuk mengenang jasa Nyonya Helen selama di perusahaan itu, Tuan Wira tetap merawat ruangan itu. Memang sudah banyak perubahan karena sempat beberapa kali renovasi. Namun foto Nyonya Helen masih setia berada di ruangan itu.


"Lalu kenapa Mama justru meminta Mia untuk mewujudkan cita-cita Mia?" tanya Mia.


"Karena cita-cita kamu adalah impiannya dulu. Mama kamu itu trauma, tapi saat melihat kamu berhasil ia kembali semangat. Namun saat ini, Mama menggunakan kamu untuk mewujudkan impiannya. Bagi Mama, wanita itu tidak melulu harus diatur suami. Mama bilang, wanita bisa mewujudkan semua impiannya tanpa terhalang status jika bersama suami yang tepat," jawab Nyonya Helen.


"Mama," ucap Mia dengan mata yang berkaca.


Aduh, Mia sudah mulai nih. Banjir lagi nih kalau begini ceritanya. Ayo Wira, jangan sampai Mia nangis. Nanti Dion nyangka aku yang bikin Mia nangis. Bisa-bisa panjang nih urusan. Sepanjang jalan kenangan deh udah. Bahaya kalau dibiarin.


"Tapi bukan berarti Papa bukan suami yang tepat ya! Papa ini tidak pernah mengekang Mama. Catat ya Mia! Mama berhenti kerja karena dia yang trauma. Bukan karena larangan dari Papa. Papa itu kan suami idaman. Papa selalu memperlakukan Mama sebagai seorang putri. Dion begitu juga kan? Itu karena Papa yang ajarin loh," ucap Tuan Wira.


Ternyata rasa percaya diri tingkat internasional Dion itu bersumber dari ayahnya sendiri. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Untuk kali ini, Mia sangat membenarkan pepatah itu. Kalau Mia bilang, PD turunan.


"Kalau gak?" tanya Mia.


"Diajarin sama emaknya kali," jawab Tuan Wira.


"Oh ya? Mia bilangin Mama nih," ucap Mia.


"Eh jangan Mi. Bisa-bisa terjadi perpecahan dalam rumah tangga nanti," ucap Tuan Wira.


Mia tertawa sangat puas saat melihat wajah panik dari Tuan Wira. Ia membayangkan bagaimana Nyonya Helen memarahi Tuan Wira saat tahu apa yang dituduhkan oleh suaminya.


Nah begitu dong. Tertawalah Mia. Aku lebih senang melihatmu begini dari pada menangis.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2