
Saat Sindi dan Danu semakin menjauh dari ruangan tadi, perlahan tangan Danu melonggar. Semakin jauh dari kantor, jarak antara keduanya juga semakin nyata.
"Berani-beraninya kamu mempermalukan diri kamu sendiri. Kamu jangan gegabah. Kalau bertindak itu ya dipikir dulu dong," ucap Danu kesal.
"Maaf," ucap Sindi.
Sindi tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sedihnya. Ia masih ingat jelas bagaimana mata mereka memandang rendah atas sikap gegabahnya itu.
"Sudahlah. Jadikan ini sebuah pelajaran," ucap Danu.
"Iya. Terima kasih sudah menyelamatkan aku dari setengah rasa maluku," ucap Sindi.
"Maaf aku terlambat menyelamatkanmu harga dirimu," ucap Dion.
"Seharusnya aku bersyukur. Aku permisi," ucap Sindi.
"Tunggu!" cegah Danu.
"Ada apa?" tanya Sindi.
"Kenapa kamu jahat sama Mami?" tanya Danu.
"Jahat?" tanya Sindi yang tidak tahu apa-apa.
"Semalam Mami menghubungi kamu berkali-kali. Tapi tidak sekalipun kamu menjawab panggilan Mami," ucap Danu.
"Kapan?" tanya Sindi.
Sindi meraih ponselnya dan segera memeriksa ponselnya. Ia tidak menemukan nama Ibu Nathalie dalam ponselnya. Ia menepuk dahinya saat sadar jika ia memang tidak menyimpan nomornya.
"Jadi, nomor baru itu?" tanya Sindi.
"Aku permisi," ucap Danu.
Danu melangkah pergi tanpa mendengar penjelasan Sindi. Karena tidak mau mempermalukan dirinya untuk kesekian kalinya, Sindi memilih untuk masuk ke dalam mobil dan segera pergi meninggalkan kantor itu.
Dalam perjalanan pulang, Sindi mencoba menghubungi nomor baru itu. Tidak dijawab. Ia menghela napas panjang dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Sin, kamu kenapa?" tanya Mia saat Sindi sudah sampai ke rumah.
"Aku galau Mi," ucap Sindi dengan wajah malas.
Sindi menjatuhkan bokongnya di kursi. Pandangannya menatap kosong, nampak sangat kecewa.
"Galau kenapa? A Dion marah sama kamu?" tanya Mia panik.
Pasalnya Mia lupa memberi tahu suaminya kalau ia tidak jadi ke kantor mengantarkan berkas itu.
"Bukan itu," ucap Sindi.
"Lalu apa?" tanya Mia.
"Tadi ketemu sama monster galak, tapi dia.. Ah panjang deh ceritanya," ucap Sindi.
Sindi enggan bercerita pada Mia. Karena ia harus menceritakan semuanya dari nol. Sementara ia hanya ingin menceritakan kejadian tadi.
Rian, hanya Rian orang yang tepat. Sindi pamit untuk istirahat, padahal ia mencari Rian. Saat bertemu dengan Rian, tanpa pikir panjang ia segera menceritakan semuanya tanpa kecuali.
"Rian, kamu kok diam aja sih? Gak mau komentar apa gitu," ucap Sindi.
"Kak Sindi serius jatuh cinta sama dia?" tanya Rian.
Sindi terdiam. Jatuh cinta? Benarkah? Sindi sendiri tidak yakin dengan perasaannya. Apakah ia benar-benar mencintai Danu? Atau hanya sekedar terobsesi dengan ketampanannya saja?
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Sindi.
"Mana aku tahu. Tanya sama hati Kakak," jawab Rian.
Sindi diam. Ia jadi bingung sendiri.
Ah kenapa aku jadi gak tahu diri begini? Sadar Sindi sadar. Kamu belum tentu seberuntung Mia.
"Hah? Ibu Nathalie?" tanya Sindi.
Sebelum menjawab panggilan dari Nyonya Nathalie, Sindi bimbang. Rasanya ia tidak ingin menjawab panggilan itu agar ia berhenti menggantungkan harapannya pada Danu. Harapan yang mungkin tidak bisa terwujud. Dan itu semua hanya akan membuatnya terluka.
"Kak, itu dijawab dong panggilannya." Rian mengingatkan.
"Bingung aku," jawab Sindi.
"Kasihan Bu Nathalie. Dia kan gak tahu apa-apa," ucap Rian.
Sindi akhirnya menjawab panggilan dari Nyonya Nathalie. Suaranya benar- benar ceria dan penuh ketulusan.
"Kamu nanti dijemput Danu ya buat ke sini," ucap Nyonya Nathalie.
"Kapan-kapan saja ya Bu," tolak Sindi secara halus.
"Kenapa? Kamu ada acara?" tanya Nyonya Nathalie.
"Ah iya Bu. Kebetulan ada acara keluarga kecil-kecilan," jawab Sindi bohong.
"Begitu ya?" ucap Nyonya Nathalie dengan nada penuh kecewa.
Sindi berusaha membuat Nyonya Nathalie ceria kembali. Namun sampai panggilan itu berakhir, Nyonya Nathalie masih tetap sedih.
"Kak Sindi kok bohong?" tanya Rian.
"Kamu sendiri yang bilang kalau aku gak boleh berekspektasi terlalu tinggi. Kalau nanti aku ke sana, aku ketemu lagi sama si monster galak." Sindi cemberut.
"Aku kadang berharap bisa seberuntung Mia. Kita berasal dari kaum bawah, tapi Mia bertemu dengan Tuan Dion. Pangeran dari kasta atas yang membawa Mia ke istana megah ini," ucap Sindi dengan dramatis.
Rian hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Sindi.
"Berasa lagi di negeri dongeng tahu gak," ucap Rian.
"Ah, kamu gak asyik. Intinya aku ingin seperti Mia. Hidup enak bersama suami dan mertua yang menyayangi dan menerima Mia dengan penuh ketulusan. Ah, keluarga Tuan Dion memang limited edition. Nyonya Helen ngasih makan apa sih ke Tuan Dion," ucap Sindi.
"Ya makan nasi lah," ucap Rian.
"Nasi super sih kayaknya. Beda Rian, beda. Tuan Dion benar-benar baik dan perhatian sama Mia. Tuan Dion bisa membawa Mia ke dalam keluarga ini. Beda sama dia," ucap Sindi.
"Kalau dia gimana?" pancing Rian.
"Aku gak tahu Ibu Nathalie ngasih makan dia pakai apa. Jus cabai mungkin. Galak banget ampun," jawab Sindi.
"Galak tapi bisa bikin kangen ya Kak?" tanya Rian.
"Iya," jawab Sindi.
Rian menahan tawanya saat mendengar jawaban Sindi yang sangat jujur.
"Eh, gak." Sindi meralat jawabannya saat ia sudah sadar kalau jawabannya membuat Rian menertawakannya.
"Iya juga gak apa-apa kok Kak," ucap Rian.
__ADS_1
"Ah, kamu bikin kesel deh. Aku balik ke kamar dulu ya!" ucap Sindi.
Jalan ninja Sindi sejauh ini ya kabur. Ia pasti pergi saat ia sudah salah tingkah dan semakin terlihat bodoh dengan kekonyolannya.
Setibanya di kamar, Sindi berusaha menyingkirkan Danu dari kepalanya. Namun ia tidak bisa. Kepalanya masih saja memikirkan Danu.
Bayangan Danu saat memanggilnya sayang dan melingkarkan tangannya pada pinggangnya, membuat ingatannya semakin kuat. Bibirnya tersenyum lebar tanpa mampu ia kendalikan.
"Monster galak itu lagi apa ya?" gumam Sindi.
Bukan hanya Sindi, ternyata Danu juga memikirkan kejadian tadi. Danu tak habis pikir jika Sindi bisa ada di sana dan bertindak sebodoh itu.
"Ya ampun, kenapa aku gak tanya dia ya tadi? Ngapain dia ada di tempat itu?" gumam Danu.
Duduk berhadapan dengan Dion, membuat Danu lebih tenang dari biasanya. Ia yang biasanya sibuk dengan rasa cemburu yang tak beralasannya pada Dion, kini tidak punya waktu untuk itu. Kepalanya hanya dipenuhi oleh bayangan Sindi yang membuatnya rindu.
Kelakuan Sindi memang kadang menyebalkan, tapi dengan seperti itu ternyata justru membuat Danu rindu. Merindukan sosok Sindi adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dua kali bertemu dengan Sindi membuat Danu semakin tertarik dengan wanita itu.
Aku harus cari tahu siapa dia. Karena dia adalah salah satu orang yang membuat Mami senang. Aku harus mencarinya untuk Mami.
Masih berusaha untuk mengelak atas perasaannya, Danu mengatasnamakan Nyonya Nathalie.
Selesai acara di kantor, Danu dan Dion saling berjabat tangan. Biasa, tidak ada tatapan dingin atau justru penuh amarah. Danu sama sekali tidak membuat Dion marah saat ini.
"Dia kenapa sih? Tumben banget gak bertingkah," gumam Dion.
Sama-sama menuju rumah masing-masing, Danu dan Dion membawa cerita masing-masing ke rumahnya.
Jika Dion disambut dengan wajah ceria dari istrinya, Danu justru disambut dengan wajah sedih dari ibunya.
"Mami kenapa?" tanya Danu.
"Sindi besok gak bisa ke sini," jawab Nyonya Nathalie.
"Ya udah gak apa-apa. Kan ada aku sama Papi juga. Masa cuma gak ada dia Mami jadi sedih? Aku sama Papi gak ada artinya dong," ucap. Danu.
"Ya bukannya begitu. Besok kan ulang tahun Mami. Mami maunya ngumpul sama orang-orang terkasih gitu loh," ucap Nyonya Nathalie.
"Kan aku sama Papi juga orang terkasih Mi," ucap Danu.
"Mami tahu. Tapi kan kalau ada Sindi bisa lebih lengkap," ucap Nyonya Nathalie.
Danu menyimpulkan jika kehadiran Sindi akan menjadi kado paling istimewa bagi Nyonya Nathalie. Maka ia sudah memutuskan untuk membawa Sindi ke rumah itu apapun alasannya.
"Mami tenang aja ya! Sindi pasti datang kok," ucap Danu.
"Beneran?" tanya Nyonya Nathalie.
"Iya. Tapi Mami janji ya jangan sedih lagi," ucap Danu.
"Kamu jangan bohong Danu. Gimana kamu bisa bawa Sindi ke rumah ini kalau kamu sendirj galak banget sama dia. Ingat perempuan itu akan nyaman saat bersama dengan orang yang lembut. Pantas aja kamu belum dapat jodoh lagi," ucap Nyonya Nathalie.
"Ah, Mami ujung-ujungnya ke sana lagi. Cari bahasan yang lain kan bisa Mi," ucap Danu.
"Ah kamu, selalu aja begitu. Mami mau istirahat ah. Ingat janji kamu ya! Besok kamu akan bawa Sindi ke rumah ini," ucap Nyonya Nathalie.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.