Janda Bersegel

Janda Bersegel
Besan


__ADS_3

"Ma, Mi mau cerita boleh?" tanya Mia.


"Kamu ini kayak sama siapa aja. Ya kamu cerita aja sama Mama. Apa fungsinya Mama kalau bukan bht kamu cerita? Mama siap jadi pendengar buat kamu," ucap Nyonya Helen.


Selalu begitu. Nyonya Helen menempatkan dirinya benar-benar sebagai ibu kandung bagi Mia. Ia selalu ingin memberikan ruang dan waktu agar Mia bisa bebas bicara dengannya. Saling berbagi dalam hal apapun.


Bahkan Nyonya Helen tidak meminta Mia bercerita saat ia sedang bahagia. Tapi saat sedih, Nyonya Helen ingin agar Mia selalu menceritakan semuanya padanya.


"Ini soal bapak," ucap Mia.


"Bapak?" tanya Nyonya Helen dengan wajah bingung.


Belum sempat bibirnya bercerita tentang Pak Baskoro, Mia sudah lebih dulu menangis. Mia terisak hingga membuat Nyonya Helen kebingungan.


"Mia, kamu kenapa? Bapakmu kenapa?" tanya Nyonya Helen.


Lama, Mia tidak bisa membuka mulutnya. Ia hanya menangis tersedu saat mengingat pertemuannya dengan Pak Baskoro, setelah tujuh tahun tidak bertemu.


"Mia," ucap Nyonya Helen.


Tangannya masih mengusap punggung Mia. Berharap bisa menenangkannya.


"Ma, Bapak masih hidup. Tapi bapak jahat," ucap Mia terbata-bata disela isak tangisnya.


"Bukannya dia memang jahat dari dulu?" tanya Nyonya Helen.


"Lebih jahat dari yang Mia bayangkan Ma," jawab Mia sambil masih terisak.


"Mia, kamu tenang. Kan Mama sudah bilang, masih ada Mama sama Papa yang selalu ada buat kamu. Biarkan bapak kamu hidup dengan dunia barunya. Toh kamu juga punya dunia baru di sini," ucap Nyonya Helen.


Mia menjelaskan tentang rasa sakitnya saat tahu kalau pendonor darah itu adalah anak kandung Pak Baskoro.


"Bapak mengkhianati Ibu, Ma." Mia menangis di pelukan Nyonya Helen.


"Mia, itu semua masa lalumu. Ibu juga sudah bahagia di surga. Tidak ada alasan untuk kamu menangisi hal seperti ini," ucap Nyonya Helen.


Memang benar, sudah tidak seharusnya Mia menangisi hal seperti ini. Kalau biasanya Mia berharap Bu Ningsih masih hidup, kini ia justru tahu apa alasan Tuhan mengambil ibunya lebih cepat.


Ibu pasti akan sangat sakit hati kalau tahu bapak mengkhianatinya. Bu, surga tempatmu. Ibu sudah tenang. Bantu Mia biar Mia juga tenang. Jangan sampai kebencian ini semakin besar. Mia tidak mau hidup Mia hanya sibuk dengan kebencian demi kebencian.


Mia mengsuap air matanya dan mencoba untuk menghentikan kesedihannya. Ia berusaha untuk melupakan kejadian tadi.


"Mama dan Papa janji ya akan selalu sayang sama Mia," ucap Mia penuh harap.


"Kamu jangan khawatir Mia. Kita semua sayang sama kamu. Prinsip kita adalah akan selalu lebih menyayangi siapapun yang sudah menyayangi kita," ucap Nyonya Helen.


Mia tersenyum dan berjanji akan selalu menyayangi Nyonya Helen dan Tuan Wira. Mia yang tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah, merasa hidupnya sempurna saat sosok Tuan Wira bisa menerima dan menyayangi Mia dengan begitu tulus.


"Ma, aku mau ke kamar dulu ya!" ucap Mia.


Nyonya Helen mengangguk dan membiarkan Mia masuk ke kamarnya. Setelah Mia pergi, ia jadi penasaran tentang Pak Baskoro. Seketika ia berniat untuk pergi ke rumah sakit menemui Pak Baskoro.


"Mba, kalau Mia tanya bilang saya ada pertemuan dengan teman saya ya!" ucap Nyonya Helen.


"Iya Nyonya," jawabnya.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Mia, Nyonya Helen pergi menemui Pak Baskoro. Nampak pendonor darah itu tengah duduk di depan ruangan ayahnya. Pak Baskoro.


"Nak Rian," panggil Nyonya Helen.


"Nyonya," ucap Rian sembari mengangkat kepalanya.


"Kenapa nunggu di luar?" tanya Nyonya Helen.


"Dokter sedang memeriksa Bapak," jawab Rian dengan suara gemetar.


"Bapak kamu?" tanya Nyonya Helen.


"Bapak koma Nyonya. Bapak saya koma. Saya harus gimana?" tanya Rian.


Rasa takut, cemas, dan khawatir membuat Rian tanpa sadar memeluk Nyonya Helen dengan begitu erat. Isak tangisnya pecah dalam pelukan Nyonya Helen. Entah mengapa rasa iba membuat Nyonya Helen ikut menangis.


Sembari mengusap sudut matanya, Nyonya Helen membantu Rian untuk duduk kembali. Ia mengusap punggung anak itu.


"Kamu yang sabar ya!" ucap Nyonya Helen.


"Nyonya, saya harus gimana? Apa yang harus saya lakukan?" tanya Rian penuh kebingungan.


"Maaf Rian, kenapa kamu gak sama ibumu?" tanya Nyonya Helen ragu-ragu.


"Ibu sudah meninggal sebulan yang lalu," jawab Rian di sela isak tangisnya.


Apa? Sebulan lalu dia baru ditinggalkan ibunya? Lalu sekarang bapaknya koma? Kasihan sekali anak ini.


"Maaf ya. Kamu tinggal sama siapa sekarang?" tanya Nyonya Helen.


"Sama Bapak," jawab Rian.


"Dokter, gimana keadaan Bapak saya?" tanya Rian.


"Belum ada perkembangan. Kami masih memantau keadaan Bapak kamu. Kamu yang sabar ya!" ucap Dokter.


Tangis Rian kembali pecah. Ia masuk dan menangis sejadi-jadinya.


"Pak, bangun Pak. Ini Rian. Bapak pasti kuat," ucap Rian tersedu.


"Nak, sabar ya! Kamu tidak sendiri," ucap Nyonya Helen.


Pamit pada Rian, Nyonya Helen menunggu di luar ruangannya. Tak lama,


Tiiiiiiit,,


"Bapaaaaaaak," teriak Rian.


Mata Nyonya Helen membulat sempurna mendengar teriakan Rian. Ia segera masuk dan memeluk erat tubuh Rian. Tak lama dokter masuk dan menyatakan Pak Baskoro sudah meninggal.


"Nyonya, Bapak saya Nyonya," ucap Rian.


Hanya itu yang Rian ulang saat Dokter membuka semua alat medis yang terhubung dengan Pak Baskoro.


"Rian, mau di makamkan dimana?" tanya Nyonya Helen.

__ADS_1


"Di dekat makam ibu. Sebentar Nyonya, saya mau bayar administrasinya," ucap Rian.


"Tidak perlu. Kamu langsung bawa bapak kamu ke makam. Administrasinya biar saya yang bayar," ucap Nyonya Helen.


"Tapi saya juga masih punya uang Nyonya," ucap Rian.


"Gunakan untuk bekalmu nanti ya Nak," ucap Nyonya Helen.


Rian berterima kasih dan segera membawa jasad Pak Baskoro untuk dikebumikan di samping dengan makam ibunya.


Selesai menyelesaikan administrasi, Nyonya Helen menemui Tuan Felix. Ternyata sudah ada Dion dan Tuan Wira di sana. Pelan, Nyonya Helen berbisik memberi tahu Dion tentang kepergian Pak Baskoro.


"Apa?" tanya Diom terkejut.


Cubitan di tangan Dion membuat Dion gugup dan segera keluar ruangan.


"Sebentar Tuan, saya menemui dulu Dion." Nyonya Helen pergi mengikuti Dion.


Meskipun tidak tahu apa yang terjadi, Tuan Felix hanya mengangguk saja. Sedangkan Tuan Wira yang menjaga perasaan sahabatnya, pura-pura tidak peduli. Tapi lama Dion dan Nyonya Helen tidak kembali masuk, Tuan Wira tidak bisa menahan keingintahuannya.


Ia mencari cara agar bisa keluar ruangan tapi tidak dicurigai. Tiba-tiba muncul ide di kepala Tuan Wira. Ia memainkan ponselnya. Menekan tombol ringtone dengan volume yang cukup tinggi.


"Sebentar ya! Ada telepon," ucap Tuan Wira.


Setelah melihat anggukan dari Tuan Felix, Tuan Wira segera keluar. Ia mencari anak dan istrinya, tapi sepertinya keduanya tak ada di sekitar sana.


"Mereka pada kemana sih? Bisa-bisanya Papa gak diajak. Giliran keuangan aja, Papa selalu jadi nomor satu." Tuan Wira menggertu.


Tuan Wira mencoba menghubungi nomor Nyonya Helen namun nomornya sedang ada dalam panggilan lain.


Waduh, Mama kok sibuk?


Tak putus asa, Tuan Wira menghubungi Dion.


Gak aktif. Ini orang-orang pada kemana sih?


Tuan Wira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia melihat ke setiap sudut mencari keberadaan Nyonya Helen dan Dion. Tidak ada. Tuan Wira berniat untuk masuk kembali ke ruangan Tuan Felix namun langkahnya terhenti saat Nyonya Helen memanggil dirinya.


"Papa," panggil Nyonya Helen.


"Siapa?" tanya Tuan Wira dengan bola mata membulat saat Nyonya Helen mengikuti perawat yang membawa jenazah.


"Besan kita," bisik Nyonya Helen.


"Besan?" tanya Tuan Wira.


Dahinya berkerut. Bapaknya Mia? Tuan Wira yang belum tahu cerita tentang Pak Baskoro dibuat bengong dengan kejadian itu.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2