
"Kalian kenapa?" tanya Tuan Felix.
"Tidak apa-apa Tuan. Tadi kami hanya terharu saja dengan apa yang kami lihat," ucap Sindi.
Ya, mereka ikut bahagia karena Tuan Felix bisa bertemu dengan anak kandungnya. Namun, ada sisi sedih dalam diri Rian. Ia tidak bisa melanjutkan harapannya untuk sekolah di luar negeri.
"Rian, keberangkatan ke Jerman ditunda dulu ya! Aku mau ke Bandung dulu. Menemui makam wanita cantik yang belum aku lupakan sampai saat ini," ucap Tuan Felix.
Matanya menatap kosong, sementara bibirnya tersenyum bahagia. Rian melihat sosok baru pada diri Tuan Felix. Sekarang, ia tampak lebih bersemangat.
"Aku gak jadi ikut ke Jerman," ucap Rian.
"Kenapa?" tanya Tuan Felix terkejut.
"Aku tidak mau membuat Kak Mia sedih. Aku takut kalau ikutnya aku ke Jerman, akan membuat Kak Mia salah sangka. Hubungan kalian baru saja membaik. Aku takut semuanya rusak begitu saja hanya karena aku," ucap Rian.
Tuan Felix memperbaiki cara duduknya. Ia yang duduk santai kini duduk lebih tegak. Matanya mulai menyelidik arti ucapan Rian.
"Kamu menjaga perasaan Mia?" tanya Tuan Felix.
Rian mengangguk. Sindi turut menjelaskan kalau mereka takut Mia terluka lagi. Lama mengenal Mia, Sindi tahu bagaimana sifat Mia. Apa yang Mia lakukan kemarin-kemarin hanya karena ia cemburu. Ia takut kehilangan Tuan Felix. Dan saat ini, Rian hanya menjaga emosional Mia saja.
"Begitu berartinya Mia bagi kamu? Kenapa kamu harus peduli padanya? Bukankah kamu juga berhak bahagia?" tanya Tuan Felix.
"Tuan, Kak Mia itu orang baik. Tidak adil jika ia harus selalu menderita. Meskipun aku tahu kalau Kak Mia menyalahkanku atas kesalahan yang tidak aku perbuat, tapi aku mengerti keadaan Kak Mia." Rian tersenyum getir.
Tuan Felix diam. Ia tengah bingung memikirkan langkah apa yang harus ia ambil. Benar kata Rian, Mia akan cemburu jika Rian diajak ke Jerman. Tapi Rian adalah teman yang baik bagi Tuan Felix. Bersama Rian lah ia benar-benar merasa tidak sendiri.
"Nanti kita bicarakan lagi ya!" ucap Tuan Felix.
Meskipun Rian dan Sindi meminta Tuan Felix untuk tidak membahas semua ini lagi dengan Mia, tapi di hati Tuan Felix, ia tetap berharap Rian bisa ikut dengannya.
"Tuan, kami permisi dulu ya!" ucap Sindi.
Pamitnya Sindi dan Rian, menyudahi obrolan mereka yang membahas tentang Mia. Tuan Felix mengantarnya sampai pintu dan menutupnya kembali. Sindi dan Rian pergi ke taman belakang.
"Kak Sindi, terima kasih ya!" ucap Rian.
"Buat apa?" tanya Sindi.
"Karena Kakak udah nemenin aku ketemu sama Tuan Felix," ucap Rian.
"Aku harusnya minta maaf sama kamu Ri," ucap Sindi dengan rasa bersalah.
"Gak kak, aku yang terima kasih. Berkat Kakak, aku jadi tahu apa yang Kak Mia alami." Rian tersenyum pada Sindi.
Sindi menceritakan bagaimana Mia menderita karena tidak mendapat kasih sayang dari seorang ayah. Makanya saat Mia tahu Tuan Felix adalah ayah kandungnya, Mia cemburu melihat kedekatan Tuan Felix dan Rian. Ia takut jika Rian akan kembali mendapat perhatian Tuan Felix. Seperti bagaimana Pak Baskoro lebih menyayangi Rian dari pada Mia.
"Kamu anak baik. Terima kasih sudah mengerti keadaan Mia," ucap Sindi.
Sindi tidak meminta Rian untuk tidak ikut ke Jerman. Awalnya ia hanya meminta maaf pada Rian atas sikap Mia yang mungkin berlebihan padanya. Ia tidak mau jika Rian menyimpan rasa benci pada Mia.
Sikap Mia yang berlebihan dan cenderung kekanak-kanakkan tentu akan mendapat kesan buruk bagi Rian. Namun Sindi mampu menghilangkan tanggapan itu dari Rian.
"Iya Kak. Aku juga sayang sama Kak Mia," ucap Rian.
Rian hanya berharap jika suatu saat Mia bisa menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri, meskipun kemungkinannya kecil. sangat kecil, atau bahkan tidak mungkin sama sekali. Meski butuh waktu, Rian ingin jika Mia tidak hanya merangkulnya atas alasan iba saja.
"Mia juga pasti sayang sama kamu," ucap Sindi.
Miris mungkin bagi Rian saat mendengar kalimat itu. Walaupun Rian tahu kalau Mia orang baik, tapi banyak alasan untuk Rian tidak benar-benar mendapatkan kasih sayang dari Mia.
Wanita yang tengah dibicarakan oleh Rian dan Sindi pun tengah memikirkan hal yang sama dalam kamarnya.
__ADS_1
"Mi, sudahlah. Rian pasti mengerti," ucap Dion menenangkan.
"Mia gak enak aja sama Rian. Kasihan, dia pasti sedih banget. Mia harus gimana ya Mas?" tanya Mia.
"Kalau kamu mau minta maaf, aku siap nemenin kamu." Dion menawarkan jasa.
"Memangnya Mia anak SD pakai dianter segala," ucap Mia.
"Ya kali aja kamu butuh aku. Bukannya kamu gak bisa hidup tanpa aku ya?" goda Dion.
"Mas, kebiasaan deh." Mia melempar Dion dengan sebuah bantal.
"Eh tapi Mi, gimana pendapat kamu soal yang tadi?" tanya Dion.
"Yang tadi apa, A?" tanya Mia.
"Yang nambah cucu, biar gak pada rebutan." Dion tersenyum nakal.
"Mas," ucap Mia sembari cemberut.
Dion membawa Mia ke dalam kamar, tidak benar-benar untuk menambah cucu untuk orang tuanya. Ia hanya menghindari perdebatan yang membuatnya pusing. Lagi pula ada Rian di sana. Jadi Dion lebih memilih untuk menghindar.
Ketukan pintu membuat Dion yang sedang memeluk Mia saling menatap. Siapa? Mungkin itu yang mereka pertanyakan. Tanpa diungkapkan, pertanyaan itu sudah terjawab saat mendengar pengetuk pintu memanggil nama Mia.
"Iya Pah," jawab Mia.
"Cieee, yang punya Papa baru." Dion masih belum puas menggoda istrinya.
"Mas," ucap Mia kesal.
Dion tertawa melihat Mia yang kesal padahal dihatinya Mia pasti bahagia. Apalagi saat pintu kamarnya terbuka dan Tuan Felix berdiri tepat di hadapan Mia.
Tuan Felix tampak melihat pergelangan tangannya. Lalu menatap Mia dan sedikit melihat ke dalam kamar.
"Kalian sudah beres kan?" tanya Tuan Felix.
Sudah beres? Seketika wajah Mia memerah. Ia malu sendiri. Padahal sejak tadi, Mia tidak melakukan apapun dengan Dion. Sementara Dion yang terkejut mendengar pertanyaan konyol dari ayah mertuanya, segera keluar kamar.
"Tuan," panggil Dion.
"Bisakah kamu memanggilku seperti Mia?" tanya Tuan Felix.
Dion diam sebentar. Canggung sekali rasanya. Namun ia harus membiasakan diri. Karena bagaimanapun, Tuan Felix adalah mertuanya.
"I-iya Pah," ucap Dion gugup.
"Terima kasih," ucap Tuan Felix.
"Oh ya ayo masuk Pah!" ajak Mia.
"Bisa kita bicara di luar saja?" pinta Tuan Felix.
Mia dan Dion segera keluar dan duduk santai di sebuah sofa. Tuan Felix mulai mengutarakan keinginannya untuk ke Bandung.
"Tapi Papa mau sama siapa?" tanya Mia.
"Ada sopir yang tahu alamatnya?" tanya Tuan Felix.
"Ada, tapi sopir gak tahu makamnya. Soalnya waktu kita ke makam, dia gak ikut." Mia berharap bisa ikut menemani Tuan Felix.
"Gak masalah. Papa bisa tanya sama orang di sana," ucap Tuan Felix.
"Biar aku yang antar," ucap Dion.
__ADS_1
Mia menatap wajah Dion tidak percaya. Ia tidak menyangka Dion bisa menawarkan diri untuk mengantar Tuan Felix, sementara ia memiliki kesibukan sendiri di kantor.
"A, biar Mia aja. Aa kan sibuk," ucap Mia.
"Gak apa-apa Mi. Kan bisa izin dulu dua hari," ucap Dion.
Mia tersenyum dan bahagia saat Dion mau mengantar Tuan Felix. Ia merasakan kasih sayang Dion untuk ayah kandungnya.
"Terima kasih ya A," ucap Mia.
"Iya," jawab Dion.
"Kapan kita berangkat?" tanya Tuan Felix yang sudah tidak sabar.
"Mau sekarang?" tanya Dion.
"Bisa?" tanya Tuan Felix penuh harap.
"Ayo!" ajak Dion.
Mia mengantar Dion dan Tuan Felix hingga pintu utama, setelah sebelumnya mereka berdua ke kamar Narendra dan Naura. Tetes air mata sedikit terjatuh dari pelupuk matanya mengantar kepergian keduanya.
"Bu, dua pria terbaik dalam hidup Mia mau ke sana. Ibu pasti bahagia," gumam Mia.
Mia segera mengusap sudut matanya dan berniat kembali ke kamar. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Sindi dan Rian tengah tertawa di taman belakang.
"Kalian lagi apa?" tanya Mia.
Ramah dan hangat. Rian dan Sindi sudah merasakan Mia yang dulu.
"Kita lagi main tebak-tebakan nih, Mi. Soalnya jenuh banget," ucap Sindi.
"Jenuh? Kamu bosan di sini?" tanya Mia.
"Abisnya di rumah segede ini, gak ada yang bisa aku lakuin. Ini gak boleh, itu gak boleh," ucap Sindi.
"Ya bagus dong, kamu kan jadi gak perlu cape." Ucap Mia.
"Ya terus gunanya kita apa?" tanya Sindi.
Gunanya apa? Mia bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu. Bukankah Sindi ke rumah itu memang untuk menemani Mia?
"Iya. Aku juga gak ada kerjaan Kak. Tuan Felix sama Kak Dion juga pergi ke Bandung. Maaf ya, kita jadi malas-malasan begini," ucap Rian.
"Ya ampun, kalian kenapa sih? Kok mikirnya begitu? Kalian di sini ya buat tinggal di sini. Bukan buat kerja. Jadi santai aja. Gak perlu mikirin ini dan itu," ucap Mia.
"Ya kita gak enak aja, Mi." Sindi melirik Rian untuk meminta dukungan.
Ternyata Rian mengerti. Ia mengangguk, yang berarti menyetujui ucapan Sindi.
"Ah kalian ini. Kalau gak enak kasih kucing aja," ucap Mia sembari tertawa.
Sindi dan Rian ikut tertawa. Melihat Mia yang sudah kembali ceria, membuat Sindi dan Rian benar-benar bahagia atas kembalinya Mia yang mereka kenal.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.