Janda Bersegel

Janda Bersegel
SAH


__ADS_3

"Kalian baru pulang?" tanya Tuan Wira yang nampak sudah siap dengan kopernya.


"Iya pa. Abis belanja seserahan. Mia kan tidak punya dres dan gaun, Dion beli beberapa untuk kebutuhannya nanti." ucap Dion.


"Ya, papa mengerti." jawab Tuan Wira.


Tak lama, Tuan Wira berpamitan pada Dion dan Mia. Mereka mengantar Tuan Wira sampai ke pintu utama. Ciuman hangat dari Nyonya Helen mengantarkan Tuan Wira berangkat ke luar kota. Membuat Mia dan Dion harus membuang muka agar tidak menyaksikan adegan yang akan membuat mereka susah tidur.


"Dion, kamu fokus ke perusahaan kita di Surabaya saja. Urusan pernikahan kalian, biar mama dan papa yang urus. Kalau semua berjalan sesuai rencana, sekitar dua minggu lagi pernikahan itu akan digelar. Begitu kan ma?" tanya Tuan Wira pada Nyonya Helen.


"Iya pa. Papa juga fokus kerja saja. Nanti mama urus semuanya. Gampang itu," ucap Nyonya Helen.


"Terima kasih Tuan, Nyonya." ucap Mia dengan hormat pada kedua orang tua Dion.


"Mia, berhenti memanggilku Tuan. Itu tidak nyaman di telingaku. Bisakah kau memanggilku papa?" tanya Mia.


Papa? Panggilan itu mengingatkannya pada Tuan Ferdinan. Dulu Tuan Ferdinan juga memintanya untuk tidak memanggil Tuan. Panggil papi saja. Begitu kata Tuan Ferdinan dulu. Dan tidak sampai satu tahun, semua berubah. Mia kembali memanggilnya Tuan.


Ada trauma saat Tuan Wira memintanya memanggil dengan sebutan papa. Rasa takut yang membelenggu jiwanya nampak sangat nyata dalam raut wajahnya.


"Kamu keberatan?" tanya Tuan Wira.


"Ti-tidak Tuan. Hanya saja mungkin akan sulit karen belum terbiasa," jawab Mia gugup.


"Makanya biasakan ya! Jangan sampai ketika pernikahan nanti, aku masih mendengar kamu memanggilku dengan sebutan Tuan. Tidak enak didengar tamu undangan," jawab Tuan Wira.


Mia hanya mengangguk dan ikut melambaikan tangannya saat melihat mobil yang ditumpangi Tuan Wira melaju semakin menjauh.


"Benar kata papa. Mia harus membiasakan memanggil mama dan papa saja. Kamu juga masa calon istrimu sendiri memanggilmu Tuan. Nanti mereka menganggap kita merendahkan Mia," ucap Nyonya Helen pada Dion.


"Iya, nanti aku bicarakan dengan Mia." jawab Dion.


Yess ada kesempatan lagi masuk ke kamar Mia.


"Mia," panggil Dion.


Mia membuka pintu kamarnya. Sesuai dugaan Mia, Dion datang untuk membahas panggilan mama papa itu. Mia juga menceritakan alasan lidahnya sulit untuk mengikuti keinginan orang tua Dion.


"Jadi kamu menyamakan aku dengan mantan suamimu? Kamu bahkan menyamakan keluargaku dengan keluargamantan suamimu? Begitu?" desak Dion.


"Ti-tidak begitu, Tuan." jawab Mia gugup.


Aduhhh gimana ini? Sepertinya sultan sableng ini tidak menerima alasan Mia.


"Mia, aku tidak mau tahu. Mulai besok aku tidak ingin memanggilku dan orang tuaku dengan sebutan itu lagi. Panggil mereka sesuai yang mereka inginkan," jawab Dion.


Hening. Mia tidak mengiyakan tapi enggan juga untuk menolaknya.


"Tuan," panggil Mia saat Dion beranjak dari kamarnya.


"Apa lagi? Masih mau menolak?" tanya Dion.


"Bukan. Mia hanya ingin bertanya, Mia memanggil Tuan Dion dengan panggilan apa?" tanya Mia.


"Sayang," jawab Dion.


"Hah?" tanya Mia panik.


"Telingamu bermasalah? Apa aku perlu memanggil dokter ke sini?" tanya Dion.


Hahaha, Ayo Mia. Panggil aku sayang. Tunjukkan ke setiap orang kalau kamu memang menyayangiku.


"Tidak perlu," jawab Mia.


Dasar si tukang cari kesempatan dalam kesempitan. Awas aja ya!


"Bagus," jawab Dion dengan sangat dingin dan meninggalkan kamar Mia dengan penuh kemenangan.


Sesampainya di kamarnya, Dion nampak berjingkrak bahagia. Akhirnya Mia nyaris masuk dalam genggamannya. Malam ini Dion bisa tidur bahagia. Dan besoknya, Dion hanya menunggu Mia menyenangkan hatinya.


"Pagiii, Mia." teriak Dion saat melihat Mia dan Nyonya Helen di ruang makan.


"Pagiii," jawab Mia.


Mata Dion layaknya penagih hutang yang langsung ditangkap sinyalnya oleh Mia. Hingga Mia harus mengulangi ucapannya.


"Pagi, sayang." ucap Mia pelan.


Apa ini? Bahagianya pagi ini. Tak apa pelan begini. Aku masih bisa mendengarnya. Mungkin Mia belum terbiasa.


"Haii ma," panggil Dion pada Nonya Helen.


Anak dan ibu itu lalu sibuk dengan persiapan pernikahan. Sedangkan Mia, hanya mendengar tanpa ingin ikut terlibat terlalu jauh. Bagi Mia, biarkan saja mereka yang mengurusnya. Mia takut selera Mia hanya akan mengacaukan rencana pernikahan yang sedang mereka susun.


Mia hanya akan jadi pelaksana sekaligus penikmat pesta yang baik. Tanpa harus mengutarakan ide atau permintaan di pesta pernikahannya sendiri, Mia yakin semua akan berjalan jauh lebih baik di atas ekspektasinya.

__ADS_1


"Mia, bagaimana kau setuju?" tanya Dion.


Mia tahu ini hanya sebuah basa basi Tuan. Lakukan saja sesuka kalian. Mia sih ngikut saja.


Mia mengangguk dan memberikan senyum manisnya.


Waktu berjalan sangat cepat bagi Mia, namun terasa lambat bagi Dion. Dua minggu sudah berlalu. Persiapan sudah nyaris rampung, sedangkan Mia tidak ikut terlibat apapun. Mia hanya berusaha untuk menjadi bagian dari keluarga Dion. Meski kadang Mia tidak cocok berada satu lingkungan dengan mereka. Tapi bagi Mia, ini hanya perkara waktu saja. Mia yakin kalau Mia bisa menyatu dengan keluarga Dion.


Telepon masuk dari Kalin, Haji Hamid, Dokter Leoni. Mereka semua terkejut dengan surat undangan yang diterimanya. Meskipun Kalin tahu kalau Mia akan menikah, tapi Kalin tidak menyangka kalau pernikahan Mia dilakukan secepat itu. Hanya Sindi yang terlihat santai. Karena Sindi adalah satu-satunya orang yang tahu semua rencana Mia dari awal hingga akhir.


"Ada yang kamu inginkan sebelum dua hari lagi kita menikah?" tanya Dion.


"Mia hanya ingin tamu Mia datang lebih awal saja. Mia kan tidak punya siapa-siapa, Tuan." jawab Mia.


"Kau panggil aku apa?" tanya Mia.


"Tuan, Mia shock kalau harus manggil Tuan dengan sebutan sayang. Lagi pula rasanya terlalu mencolok memanggil dengan sebutan itu di depan semua orang. Mia panggil Mas saja ya!" pinta Mia.


"Oh, jadi mau panggil sayangnya pas berdua saja ya?" goda Dion.


Terserah Anda lah Tuan. Dari pada Mia panggil-panggil sayang di depan orang. Mending iyain aja deh. Biar seneng dia. Kan nyenengin orang dapat pahala. Ya gak sih? Iya aja deh lah biar cepat.


"Mia, tentang tamu undanganmu, kamu hubungi mereka dan katakan permintaanmu. Semoga mereka bisa menjadi saksi di pernikahan kita ya!" ucap Dion menatap lekat bola mata Mia.


Eh apa ini? Kenapa Mia ngerasa kesetrum ya pas mata Tuan Dion menatap Mia begitu? Jangan bilang kalau Mia cinta sama sultan sableng itu. Jangan sampai Tuhaaaan. Mia dinikahin juga cuma buat jadi bahan taruhan saja. Jangan mimpi Mia. Ayo bangun.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Gak. Mana surat perjanjiannya?" tanya Mia.


"Nanti saja. Malam pertama kita bahas surat perjanjian kita ya!" ucap Dion.


Hah? Malam pertama? Kok Mia deg-degan ya Tuan Dion bahas malam pertama. Aduh, tenang Mia tenang. Semuanya akan baik-baik saja kalau kamu bisa mengusai dirimu.


Hari yang ditentukanpun telah datang. Pesta yang disiapkan seapik mungkin oleh keluarga Dion benar-benar membuat Mia terkagum-kagum. Beginikah pesta yang disebut sederhana?


Kalau di kampung Mia, ini namanya hajatan mewah. Dimana sederhananya? Semuanya serba mewah untuk ukuran Mia.


Sepuluh menit lagi ijab kabul dimulai. Namun Mia tidak melihat satupun orang yang Mia kenal. Rasanya ingin menangis saat tak ada satupun yang Mia kenal. Mia benar-benar sendiri. Tapi tidak setelah lima menit kemudian. Kalin dan Dev, Haji Hamid, Dokter Leoni bahkan Sindi datang secara bersamaan.


Raut wajah Mia berubah seketika. Bahagia tak lagi bisa Mia sembunyikan. Pelukan satu per satu datang dari sahabat Mia. Terlebih Sindi. Ucapan dan doa terbaik terus mengalir untuk Mia. Aliran cairan bening di pipi Sindi sebagai saksi betapa sahabatnya itu ikut bahagia dengan hari pernikahan Mia.


Waktunya ijab kabul. Mia benar-benar mendengar Dion menyebut namanya dan berjanji akan melindunginya. Hatinya bergetar, hingga Mia menangis. Air mata yang mungkin sulit Mia artikan.


SAH


Dia suami Mia? Benarkah?


Rasa yang campur aduk menguasai diri Mia. Bahagia karena sudah ada pria yang menikahinya dan menerima masa lalunya. Sedih, karena sadar pernikahannya mungkin tidak sesempurna yang ada di kepala para tamu undangan. Dan juga terselip rasa terharu, karena bisa kembali berkumpul dengan orang-orang yang menyayanginya.


"Selamat ya Mi, selamat," ucap Sindi dengan sangat bahagia.


Mia hanya mengangguk dan tersenyum.


Belum lagi ucapan selamat menyusul dari sahabat dan kerabat. Ada hal menarik yang tak Mia duga. Kehadiran Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan di sana membuat Mia mengeratkan tangannya pada Dion. Dion menatapnya penuh tanya. Tapi saat ini, Mia tak punya waktu untuk menjawab. Mia hanya ingin terlihat dan bahagia di hari pernikahannya.


"Mia, selamat." ucapan dan tatapan dingin dari Nyonya Nathalie membuat hati Mia sakit.


"Terima kasih," jawab Mia tak kalah dingin.


Tuan Ferdinan tidak mengucapkan apapun, ia hanya mengulurkan tangannya. Mia menyambutnya lebih hangat dibanding sikapnya pada Nyonya Nathalie.


"Kamu kok gak cari gadis sih? Kenapa milih janda?" ucap Nyonya Nathalie pada Dion dengan nada mengejek.


"Aku mencintainya, bukan yang lain." jawaban Dion mampu membuat Nyonya Nathalie kesal dan berlalu begitu saja.


"Nasib kamu memang selalu di bawah aku ya!" ucap Nyonya Nathalie pada Nyonya Helen.


"Apa sih maksudmu? Kenapa kamu harus datang? Padahal aku hanya mengundang suamimu," jawab Nyonya Helen.


"Eh, jangan harap suamiku akan datang jika tidak bersamaku ya!" jawab Nyonya Nathalie.


"Lebih bagus jika tidak datang saja. Kalau bukan karena suamiku, aku juga malas mengundang orang sombong sepertimu," jawab Nyonya Helen.


"Ih, nyebelin. Tapi aku kasihan sama kamu. Kok dapat menantu janda sih? Anakmu gak bisa dapat gadis ya? Kasihan sekali ya?" ucap Nyonya Nathalie dengan nada mengejek.


Berharap Nyonya Helen akan marah dan merusak pestanya sendiri, nyatanya Nyonya Nathalie salah. Nyonya Helen justru terlihat lebih santai dan membanggakan Mia.


"Mia itu meskipun janda tapi baik, pintar, sopan, ah menantu idaman pokoknya. Situ gak mau carikan janda buat anaknya yang duda itu?" ejek Nyonya Helen.


"Anakku meskipun duda bisa dapat gadis dong. Aku gak cari janda buat anakku," jawab Nyonya Nathalie.


"Oh, ya bagus dong. Kapan nih nikahnya? Gosipnya sudah dari kemarin-kemarin. Kok masih belum hajatan sih? Jangan bilang gak ada modal ya jeng," ucap Nyonya Helen.


Nyonya Nathalie sudah bersiap ingin membela diri, namun Tuan Ferdinan menarik tangan istrinya sambil meminta maaf pada Tuan Wira dan Nyonya Helen. Dari kejauhan, Mia masih bisa melihat perdebatan kecil antara Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan.

__ADS_1


Mia masih mengeratkan tangannya pada Dion. Sesekali Nyonya Nathalie melihat tajam ke arah Mia, hingga Mia belum bisa melepaskan tangannya dari Dion. Sementara Dion memanfaatkan kesempatan ini. Dion kembali menggenggam tangan Mia dengan lebih erat dan sesekali merangkulnya. Meakipun Mia risih, namun selama masih ada Nyonya Natahlie Mia harus terlihat sangat bahagia.


"Tuan, aw," ucap Mia.


"Jangan membuat orang lain berpikir kalau pernikahan kita tidak baik. Ayo, bersikaplah baik Mia. Aku suamimu sekarang. Jangan panggil aku Tuan," ucap Dion yang mencubit tangan Mia.


"Ba-baik mas," ucap Mia gugup.


Mas? Ah, kamu romantis sekali Mia. Ini manis. Menggemaskan Mia, aku suka. Tak apa kau tak memanggilku dengan panggilan sayang. Panggil mas saja cukup. Kamu berhasil membuat ku senang Mia. Ini jauh lebih baik dari pada kau harus memanggilku Tuan.


Pesta pernikahan usai. Meskipun sempat ada drama saling sindir antara Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie, tapi itu tidak mengganggu hari bahagia Dion dan Mia. Pesta sederhana itu hanya berlangsung hingga pukul lima sore. Tamu undangan yang tidak terlalu banyak diatur dengan waktu yang berbeda, agar tidak terlalu berdesakan pada waktu yang sama.


Tamu undangan satu per satu mulai undur diri, termasuk orang terdekat Mia. Hanya Sindi yang belum pulang karena dia datang dari Surabaya.


"Sin, kamu nginep kan di sini?" tanya Mia saat membuka baju pengantinnya.


"Nginep, tapi di hotel. Sudah disiapkan sama Tuan Dion, Mi. Ih, suamimu itu baik sekali," ucap Sindi.


"Di hotel? Kenapa tidak di rumah Tuan Dion saja?" tanya Mia.


"Mana boleh? Nanti mengganggu malam pengantin kalian," ucap Sindi.


"Dih, gak ada yang terganggu kok. Kamu tidur di rumah Tuan Dion saja ya!" bujuk Mia.


"Ekhem, ekhem," dehaman Dion menghentikan percakapan keduanya.


Dari sana saja, keduanya mengerti kalau Dion memang menginginkan Sindi di hotel saja. Lagi pula, besok pagi sekali Sindi sudah harus kembali ke Surabaya.


Dengan berat Hati Mia melepas rindu sebelum kembali ke rumah Dion. Karena pesta pernikahan berlangsung di sebuah gedung yang cukup mewah dan jarak yang lumayan dari rumah Dion.


"Nyonya, Tuan, terima kasih." ucap Mia sesampainya di rumah.


"Ulangi," pinta Nyonya Helen.


"Nyonya, Tuan, terima kasih." ucap Mia mengulangi ucapannya.


"Ulangi yang benar Mia," pinta Nyonya Helen.


"Jangan panggil Nyonya," ucap Dion mengingatkan.


"Mama, papa, terima kasih." ucap Mia dengan sangat hati-hati.


Tiba-tiba saja Nyonya Helen memeluk Mia dengan sangat hangat dan mengusap kepala Mia.


"Sama-sama. Maafkan mama belum menyiapkan kado apapun. Tiket bulan madunya dipe ding dulu ya sayang. Mama cari jadwal libur papa dulu. Biar mama dan papa juga bisa ikut liburan," ucap Nyonya Helen.


"Mama, ini sudah lebih dari cukup. Mia hanya butuh mama dan papa sehat terus ya!" ucap Mia.


"Kalian harus bulan madu biar cepat di kasih momongan. Mama sudah gak sabar ingin gendong cucu," ucap Nyonya Helen.


Cucu? Mama, jangan macam-macam ya! Aku sama Dion gak mungkin ngasih mama cucu.


"Oh ya Ma, terima kasih tadi sudah belain Mia di depan Nyonya Nathalie." ucap Mia.


"Eh, tuh kan jadi inget lagi. Memangnya kamu kenal sama wewe gombel itu?" tanya Nyonya Helen.


Mia menahan tawanya saat mendengar kata wewe gombel. Sepertinya mereka berdua memang tidak berhubungan baik.


Duh bilangnya gimana ya? Kan jadi gak enak.


"Mia, kamu kenal sama wewe gombel itu?" ulang Nyonya Helen.


"Nyonya Nathalie itu mantan mertua Mia," jawab Mia dengan sangat pelan dan hati-hati.


"Aappaaaa? Pantas saja. Awas ya kamu Nathalie. Mia pokoknya Mama gak mau tahu kamu harus hamil secepatnya," ucap Nyonya Helen sambil meninggalkan Mia dan Dion.


Hah? Kenapa ujung-ujungnya jadi harus hamil? Mohon maaf tapi Mia gak ngerti sama konsepnya Nyonya.


Mia menatap wajah Dion yang nampak tidak bersahabat.


"Ikut aku!" ajak Dion.


"Mau kemana?" tanya Mia.


"Kamu gak dengar kata mama? Kamu harus segera hamil," ucap Dion.


Mia segera menggeleng dan menyilangkan tangannya di depan dadanya.


Ayo Dion, ini bukan kamu yang minta. Ini permintaan mama loh. Kamu gak perlu malu dong. Maaa, makasih banyak ya buat pengertian dan kebaikan mama sama Dion. Haha


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2