Janda Bersegel

Janda Bersegel
Cara mematikan AC?


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Danu tak menemukan kedua orang tuanya. Danu memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Rasanya hari ini sangat lelah. Danu membuka baju dan membersihkan dirinya. Saat berada di bawah guyuran air, Danu mengingat semua tingkah konyol Mia. Tak sadar Danu tersenyum bahagia kala mengingat semua itu.


Selesai mandi, Danu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Satu kebodohan yang ia lakukan adalah saat melupakan nomor ponsel Mia. Seharian bahkan sampai malam mereka bersama, Danu sampai melupakan nomor ponsel Mia. Ah, tenang. Masih ada hari esok. Danu yakin besok mereka akan bertemu dan ia tidak akan melakukan kesalahan itu lagi.


Pagi ini hujan mengguyur kota metropolitan. Danu yanh terbangun segera melihat ke arah jendela kamarnya. Hujan lebat disertai kilatan petir membuatnya mengingat Mia. Hari ini adalah hari pertama Mia bekerja. Mia pasti kesiangan karena tak punya kendaraan. Danu berniat untuk menjemput Mia dan ke kantor bersama wanita itu.


Saat menuruni tangga, terlihat orang tuanya sudah duduk di ruang makan. Sudah rapi dan siap untuk ke kantor. Seperti biasa, sebelumnya mereka harus sarapan bersama. Sarapan atau tidak, setidaknya mereka harus duduk bersama di pagi hari.


"Kau pastikan anak itu agar tidak terlambat hari ini," ucap Tuan Ferdinan.


"Aku pastikan itu Pi," jawab Danu dengan sangat percaya diri, karena ia yang akan menjemputnya untuk ke kantor bersama.


"Bagus. Hari ini, kau ke kantor bersamaku." Tuan Ferdinan sepertinya tahu dengan rencana Danu. Tapi ia tidak akan membiarkan wanita kampung itu dimanjakan oleh Danu. Tuan Ferdinan ingin kalau wanita itu tahu apa arti berjuang. Jangan seenaknya karena ada Danu yang membantunya.


"Tapi, Pi?" ucap Danu.


"Apa? Kau akan menjemput wanita kampung itu?" selidik Tuan Ferdinan.


Danu menggeleng. "Tidak," jawabnya malas.


Selesai sarapan, Tuan Ferdinan dan Danu berangkat dengan mobil yang sama. Pemandangan yang langka sebenarnya, karena setiap pagi mereka akan ke kantor dengan mobil mereka masing-masing. Dalam perjalanan, Danu nampak gelisah. Dalam hujan deras, bayangan Danu tak pernah sedikitpun teralihkan dari Mia. Mia pasti kesiangan. Hujannya belum reda, sedangkan waktu terus berjalan semakin siang.


Tuan Ferdinan yang melihat kegelisahan Danu hanya tersenyum sinis. Seperti halnya Danu, Tuan Ferdinan juga berpikir kalau Mia akan kesiangan. Dn itu akan menjadi alasan Tuan besar itu untuk memaki Mia. Hatinya bersorak girang untuk melihat bagaimana kecewanya Danu, saat wanita yang disebut sebagai calon istrinya akan dimarahi dihadapannya.


Mobil sudah terparkir di parkiran khusus untuk pemilik perusahaan itu. Hujan masih sangat deras, hingga sopir pribadi Tuan Ferdinan membawa payung untuk melindungi Tuannya dari guyuran hujan. Mata Danu mengedar ke seluruh parkiran. Bagaimana caranya Mia bisa ke kantor jika hujan sederas ini? Lamunan Danu buyar saat sopir pribadinya mempersilahkan Danu untuk segera turun dan menuju kantor karena Tuan Besar sudsh menunggu.


Langkahnya gontai, merasa tak enak hati pada Mia. Padahal wanita itu ingin bekerja dan ini adalah kesempatan yang sangat tepat. Ah, mungkin Danu harus menitipkan Mia ke perusahaan temannya. Agar Mia tidak kecewa.


"Selamat pagi, Tuan Besar. Selamat pagi Tuan Muda," sapa Mia dengan menunduk hormat, saat melihat keduanya memasuki gedung mewah itu.


Mata keduanya terbelalak saat melihat sosok Mia sudah ada di kantor.


"Mia?" ucap Danu tak percaya.


"Iya Tuan," jawab Mia.


"Jam berapa kau datang?" tanya Tuan Ferdinan dengan nada dingin. Padahal hatinya sangat penasaran dengan kehadiran Mia di kantornya sepagi itu.

__ADS_1


"Jam 7 Tuan," jawab Mia.


"Jam 7? Kau tahu jam berapa kantor ini buka?" tanya Tuan Ferdinan.


"Jam 8 Tuan," jawab Mia.


"Lalu untuk apa kau ke sini sepagi ini?" tanya Tuan Ferdinan.


"Saya adalah karyawan Anda. Sudah sewajatnya saya datang lebih awal Tuan. Saya biasa berangkat bekerjam jam 6 saat di kampung, Tuan."


Danu terlihat tersenyum bahagia melihat Mia. Seolah hatinya bersorak, akhirnya tak ada alasan ayahnya untuk memaki Mia.


"Danu, tunjukkan ruangannya!" ucap Tuan Ferdinan. Sementara dirinya pergi ke ruangannya dengan wajah cemberut.


"Siap Pi," ucap Danu dengan sumringah.


Danu mengajak Mia untuk masuk ke ruangannya yang bersebelahan dengan ruangannya.


"Tumben kamu tidak norak di sini?" tanya Danu yang melihat Mia tampak lebih santai.


"Tadi aku di tegur oleh satpam, katanya aku norak. Jadi aku tidak mau semakin banyak yang mengejekku norak. Makanya aku tak banyak tingkah," ucap Mia sesantai mungkin.


Danu tercengang saat mendengar jawaban Mia. Jadi Mia ke kantor dengan menyewa motor pemilik kostan dan memakai jas hujan. Mia memakai baju bebas dari rumahnya, kemudian ia mengganti pakaiannya saat sampai ke kantor.


"Kenapa kau tidak menggunakan grab?" tanya Danu.


"Aku takut di culik. Orang kota itu banyak yang jahat," ucap Mia.


Danu menahan tawanya. Wanita yang selalu saja bisa membuat dirinya bahagia, itulah Mia. Banyak ucapan dan tingkahnya yang membuat Danu bisa tersenyum bahagia.


Danu kembali ke ruangannya setelah Tuan Ferdinan memerintahkan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Mia hanya duduk manis saat Dsnu sudah pergi. Tidak ada pekerjaan yang bisa ia kerjakan. Mejanya masih bersih, tidak ada laptop dan berkas yang harus dikerjakan. Akhirnya Mia berjalan mengelilingi ruangannya, melihat apa saja yang ada di sana. Ada beberapa foto yang terpajang di dinding ruangannya. Foto Tuan Ferdinan dengan beberapa pengusaha luar negeri. Banyak penghargaan yang diperoleh oleh Tuan Ferdinan. Mia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Tuan Besar itu adalah seorang pengusaha sukses. Tapi Mia sempat tersenyum geli saat berpikir kalau Tuan Besar itu cukup narsis. Ya menurut Mia narsis karena di ruangan Mia saja harus ada foto dirinya. Mia berpikir, pasti di setiap ruangan juga ada foto Tuan besar.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Tuan Ferdinan saat melihat Mia sedang tersenyum menatap foto dirinya.


"Ah Tuan, tidak. Saya hanya sedang menghilangkan kejenuhan Tuan," ucap Mia yang berusaha menghilangkan kegugupannya saat Tuan Besar dan Danu masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi. Beginikah sikap seorang atasan pada bawahan? Mia merasa Tuan Besar terlalu sombong dan menganggap anak buahnya tidak berharga. Tapi tak apa, Mia sudah biasa.


"Danu, simpan laptop dan berkasnya di sana!" pinta Tuan Ferdinan menunjuk meja Mia.

__ADS_1


"Baik, Pi." Danu segera mengikuti instruksi ayahnya.


"Pelajari dan kerjakan. Kalau ada yang ingin ditanyakan, hubungi aku!" ucap Tuan Ferdinan.


Mia mengangguk tanda kalau ia sudah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh atasannya itu.


"Danu, kembali ke ruanganmu. Bekerjalah dengan lebih baik!" ucap Tuan Ferdinan.


Danu mengikuti ayahnya untuk keluar dan kembali bekerja di ruangannya. Mia mulai membuka berkas-berkas yang ada di mejanya. Mempelajarinya satu per satu. Tidak terlalu sulit. Meskipun Mia membutuhkan waktu yang lumayan lama, tapi akhirnya Mia berhasil mempelajarinya. Ia membuka laptopnya dan mulai bekerja.


Hal yang menyenangkan bagi Mia karena bisa bekerja di ruangan dingin dan duduk di meja empuk dengan pakaian yang sangat rapi. Lama-lama, Mia merasa pusing. Tubuhnya kedinginan. Mungkin karena AC di ruangannya. Mia biasanya menggunakan kipas angin. Bukan AC seperti di kantor itu. Kepalanya pusing dan sedikit mual. Mia segera pergi dari ruangannya.


"Permisi, Tuan!" ucap Mia mengetuk pintu Tuan Besar.


"Masuk," ucap Tuan Ferdinan. "Ada apa?" lanjutnya dengan wajah penasaran.


"Ada yang ingin saya tanyakan, Tuan. Bukankah tadi Tuan mengatakan kalau ada yang ingin ditanyakan harus menghubungi Anda," ucap Mia.


"Maksudku, kau tidak harus ke sini. Kau tinggal tekan telepon yang ada di ruanganmu. Kau tidak melihat ada telepon sebesar itu?" tanya Tuan Ferdinan kesal.


"Oh, maaf Tuan. Baiklah kalau begitu, tapi saya tidak tahu nomor Anda. Berapa nomor telepon Anda? Saya akan bertanya melalui telepon saja," ucap Mia mengeluarkan sebuah kertas dan pulpen.


Tuan Ferdinan mendengus kesal.


Nomor telepon? Padahal dia tinggal menekan angka 1 dan akan langsung terhubung padaku. Tuhaaan, kenapa dia kampungan sekali?


"Tidak perlu, langsung saja. Apa yang akan kau tanyakan?" ucap Tuan Ferdinan.


"Cara mematikan AC bagaimana, Tuan? Saya pusing dan mual. Besok kalau bisa saya minta kipas angin saja, Tuan. Saya tidak bisa bekerja dengan maksimal," ucap Mia.


"Apa? Kau ke sini hanya untuk menanyakan cara mematikan AC? Miaaaaa...." Teriak Tuan Ferdinan.


Mia terkejut dan segera berlari keluar dari ruangan Tuan Ferdinan.


"Aneh sekali Tuan Besar itu. Katanya suruh menghubunginya jika ada yang ingin ditanyakan. Giliran Mia bertanya, Tuan Besar malah marah sama Mia. Suruh pake telepon, tapi tidak memberi tahu berapa nomor teleponnya. Orang kaya memang aneh," gerutu Mia.


##################

__ADS_1


Likenya janga lupa, vote seikhlasnya...


Terima kasih readers baik....


__ADS_2