Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kecebur


__ADS_3

Ketika sampai di rumah, ketiganya berjalan dengan gontai menuju kamar masing-masing. Dalam kamarnya, Danu diam mengingat ucapan ayahnya. Mia itu memang cantik. Usianya juga masih muda. Pasti akan banyak yang mengincarnya. Banyak kelebihan yang Mia miliki. Bahkan Danu merasa kalau Mia tidak memiliki kekurangan sama sekali. Eh ada! Dia norak.


Danu segera meraih ponsel untuk menghubungi Mia. Sibuk? Siapa yang meneleponnya malam-malam begini? Apa mungkin juragan sawah atau juragan kebon? Perasaan Danu sudah kacau. Danu segera mengirim pesan pada Mia.


'Kalau sudah selesai, hubungi aku.'


Pesan yang ia kirim sesingkat mungkin itu, lama sekali tak mendapat respon. Danu sudah beberapa kali masuk ke kamar mandi, namun ponselnya tak berdering sama sekali.


Danu segera meminum obat dari dokter untuk meredakan sakit perutnya. Karena pengaruh obat itu, Danu merasa kalau matanya sangat berat. Ia mengantuk, tapi Mia belum menghubunginya. Danu menahan rasa ngantuknya, demi menunggu telepon dari Mia.


Lama-lama, reaksi obat itu semakin nyata. Mata Danu sudah tak bisa dibuka lagi. Ia tertidur tak lama setelah obat itu masuk ke dalam lambungnya.


Dering ponsel yang ia simpan tepat di telinganya, membangunkan Danu. Volume yang full itu membuat matanya terbuka seketika. Danu meraih ponselnya dan menatapnya, memastikan kalau Mia yang meneleponnya. Mia? Ya benar! Dia Mia.


Danu segera bangun dan duduk di atas ranjangnya.


"Mas ada apa menelepon?" tanya Mia.


"Kamu sudah teleponan sama siapa? Kok sibuk?" tanya Danu.


"Tadi Pak Haji yang nelepon," jawab Mia.


Pak Haji? Nanti dulu! Danu seperti tak asing dengan sebutan itu. Oh iya, Danu ingat. Pak Haji adalah orang yang sering menghubungi Mia selama ini.


"Siapa dia?" tanya Danu.


"Pak Haji itu teman sekaligus saudara bagi Mia. Meskipun Pak Haji sudah menceraikan Mia, tapi kami masih tetap berteman mas. Makanya Pak Haji sesekali mengbubungi Mia, karena Pak Haji baru tahu kalau ibu sudah meninggal. Terus Pak Haji --" ucapan Mia terhenti.


Tut.. Tut.. Tut...


"Hallo, mas? Loh kok mati?" ucap Mia sambil melihat layar ponselnya. "Apa pulsa Mia habis ya?" ucap Mia sambil mengecek ponselnya. "Masih ada kok," ucap Mia.


Mungkin Danu sudah tidur, begitu pikir Mia. Padahal Mia tidak tahu kalau Danu sedang marah dan sengaja mematikan ponselnya. Bagaimana Danu tidak marah kalau selama ini, ternyata Mia masih berhubungan dengan mantan suaminya.


"Mia, kamu keterlaluan." Danu menyimpan ponselnya dan merebahkan tubuhnya kembali. Kepalanya melayang memikirkan semua masa depan yang sempat ia rencanakan dengan Mia ternyata harus pupus sia-sia. Sakit perut karena jengkol kini hilang seketika berganti dengan sakit hati yang menguras emosi.


Rasa ngantuk karena efek obat juga hilang seketika, karena terganti dengan efek kejujuran Mia. Danu bingung dengan sikap Mia. Mana mungkin kalau dia berselingkuh? Kalau Mia berselingkuh dengan Pak Haji, lalu kenapa Mia harus menceritakan semuanya pada Danu. Tapi kalau dibilang tidak selingkuh, kenapa Mia masih berhubungan dengan mantan suaminya?


Danu menutup matanya sebentar. Mencoba meyakinkan dirinya kalau hatinya baik-baik saja. Tapi semua itu sia-sia. Karena nyatanya hati Danu terasa sakit. Haruskah Danu mengakhiri semuanya? Relakah Danu kehilangan Mia?


"Untuk apa aku memikirkan Mia, pernikahan dengan Mia pun bahkan hanya sebuah kepura-puraan. Mia hanya orang yang akan bekerja sama denganku. Kenapa aku harus sakit hati?" gumam Danu.


Danu sudah memutuskan untuk tidak akan menghubungi Mia lagi. Kalau Mia kembali ke Jakarta, maka pernikahan itu akan terjadi. Tapi kalau Mia kembali rujuk dengan mantan suaminya, maka Danu harus mencari wanita lain yang akan siap untuk menikah pura-pura dengannya.


Tapi apa mungkin ia akan menemukan wanita lain seperti Mia? Sepertinya tidak mungkin. Mia itu wanita unik yang tidak pernah ia temukan sebelumnya. Danu juga sempat pesimis, mungkin ia tidak usah menikah sama sekali dari pada harus mencari wanita lain.


Hari-hari Danu ia lalui penuh dengan kehampaan. Sering melamun dan tidak fokus, hingga Tuan Ferdinan sering memarahi Danu karena leteledorannya. Danu sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sejak telepon malam itu, Danu tidak pernah sekalipun mendapatkan kabar apapun dari Mia.

__ADS_1


Begitu cepat Mia melupakan perjanjiannya dengan Danu. Selalu itu yang menjadi bahan kekecewaannya. Tak pernah terpikir kalau kehangatan dan kedekatan yang sudah mereka jalin hilang seketika.


Nyonya Nathalie pernah berkali-kali meminta Danu untuk menyusul Mia, namun Danu menolak. Bagi Danu, tak ada yang harus dikejar. Dengan menutupi perasaan kecewanya pada Mia, Danu berdalih kalau ia sudah bosan pada Mia.


Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan sempat sangat kesal atas keputusan anaknya. Danu dengan mudahnya memutuskan semua itu, tanpa meminta pendapat orang tuanya. Padahal baik Nyonya Nathalie maupun Tuan Ferdinan adalah orang yang sudah menyayangi Mia seperti anaknya sendiri. Apalagi setelah Mia kehilangan ibunya. Bagi Nyonya Nathalie, Mia adalah anak yang butuh kasih sayang dan ia siap memenuhi kebutuhan Mia. Nyonya Nathalie sudah sangat menyayangi Mia, apalagi Mia adalah calon menantunya. Namun semua harapan itu sia-sia.


"Wanita mana lagi yang akan kamu permainkan Danu? Kau boleh nenyakiti puluhan wanita cantik, tapi jangan Mia. Dia itu polos dan sangat tulus. Mami mau ketemu sama Mia. Bawa Mia ke sini!" ucap Nyonya Nathalie pada Danu.


"Sudahlah mi, Danu sudah tidak ingin membahas Mia lagi. Danu pusing," ucap Danu yang meninggalkan ibunya.


"Pi, lihat tuh anak papi! Jadi laki-laki tidak gentle sama sekali. Masa ninggalin anak orang gitu aja. Mami gak suka," ucap Nyonya Nathalie marah-marah pada Tuan Ferdinan. Ia tidak bisa menahan kekecewaannya, hingga langsung masuk ke kamar tanpa mendengar tanggapan dari suaminya.


"Giliran anaknya begini aja, anak papi. Kemarin-kemarin perasaan Mami selalu bilang anak kesayangan Mami deh," gerutu Tuan Ferdinan sambil menepuk dahinya.


Istrinya sedang marah, Danu juga sedang marah. Tuan Ferdinan tidak ingin menjadi korban kemarahan anak dan istrinya. Ia lebih memilih untuk duduk di luar. Menenangkan kepalanya yang terasa sangat pusing. Anak dan istrinya berdebat di depannya, disaat pekerjaan kantor sedang menumpuk.


Tuan Ferdinan menikmati secangkir kopi di depan sebuah kolam. Ia duduk menatap langit yang menampakkan banyak bintang bertebaran. Sesekali ia menyeruput kopi hitam yang ada di depannya. Ia membayangkan bagaimana masa depannya kelak? Ah, bukan masa depan. Mungkin lebih tepatnya bagaimana masa tuanya kelak? Danu anak satu-satunya yang ia miliki. Hanya Danu harapannya untuk bisa mendapatkan seorang cucu yang akan meneruskan perusahaannya. Tapi sekarang bagaimana? Danu sudah hilang semangat lagi. Mungkinkah ia harus membawa anak dari panti asuhan?


"Tuan, maaf. Ini sudah malam. Lebih baik Tuan istirahat," ucap salah seorang asisten rumah tangganya mengingatkan Tuan Ferdinan.


Tuan Ferdinan sedikit terkejut saat mendengar suara itu membuyarkan lamunannya.


"Kau membuatku jantungan saja," ucap Tuan Ferdinan kesal.


"Maaf Tuan, tapi ini sudah larut. Sebaiknya Anda istirahat di dalam saja," ucap asisten rumah tangga itu.


"Iya, iya. Nanti aku masuk. Aku masih ingin di sini sebentar lagi," ucap Tuan Ferdinan.


Sepuluh menit sudah berlalu. Tuan Ferdinan merasa ia memang harus istirahat. Besok, pekerjaan sudah menantinya. Kalau ia masih terus di sana, ia takut tubuhnya tidak siap untuk bekerja besok.


Sebelum masuk ke dalam rumahnya, Tuan Ferdinan berdiri dulu di tepi kolam. Ia memainkan air itu dengan kakinya.


"Sudah lama aku tidak berenang," ucap Tuan Ferdinan.


Ia membayangkan bagaimana saat dulu ia masih sangat dekat dengan Danu. Danu yang belum sedewasa ini, selalu menunggunya pulang kerja hanya untuk mengajak lomba renang. Setelah Danu beranjak dewasa, hubungannya kian renggang. Setelah ada Mia, hubungannya bisa dikatakan menjadi lebih dekat. Dan sekarang, hubungannya kembali merenggang karena Mia sudah tidak bersama Danu.


Gerimis hujan terlihat sangat indah saat airnya jatuh di atas permukaan kolam renang. Tuan Ferdinan menengadahkan kepalanya ke arah langit bebas. Ia membiarkan wajahnya dibasahi oleh air hujan yang masih malu-malu. Semakin lama, hujan itu semakin deras. Tuan Ferdinan memutuskan untuk masuk dan beristirahat.


Saat ia membalikkan badannya, ia terkejut dengan kehadiran Nyonya Nathalie.


"Aaaaaa," BYUUUURRRR.


Tuan Ferdinan yang terkejut dengan kehadiran Nyonya Nathalie di belakang dirinya membuat dirinya spontan melompat ke dalam kolam renang.


"Mamiiii," ucap Tuan Ferdinan kesal.


"Papi ngapain hujan-hujan malah berenang?" tanya Nyonya Nathalie.

__ADS_1


"Berenang dari hongkong? Papi kecebur. Mami ngapain sih datang tiba-tiba? Papi kan kaget," ucap Tuan Ferdinan.


"Mami mau nyuruh papi masuk dan istirahat. Kok papi malah marah-marah sama mami sih? Papi udah gak sayang lagi sama mami," ucap Nyonya Nathalie sambil menangis dan masuk ke dalam rumahnya.


"Mami, mami, bukan begitu Mi. Maksud papa itu," Tuan Ferdinan menghentikan ucapannya saat istrinya semakin menjauh. "Mami kenapa sih? Perasaan aku yang teraniaya, kok jadi aku yang disalahin?" gumam Tuan Ferdinan.


"Bibiiiii," teriak Tuan Ferdinan.


"Ya Tuan," jawab asisten rumah tangga itu dengan mata yang terbelalak saat melihat Tuan Ferdinan basah kuyup. "Tuan berenang malam-malam begini?" lanjutnya.


"Bawakan handuk," ucap Tuan Ferdinan. "Cepat!" bentak Tuan Ferdinan saat melihat bibi malah menatapnya dengan penuh kebingungan.


"Ba-baik Tuan. Saya permisi dulu bawa handuknya," ucap bibi dengan gugup.


"Ini Tuan," bibi menyerahkan handuknya pada Tuan Ferdinan.


Tuan Ferdinan lanjut masuk ke dalam rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian. Namun sialnya ia malah berpapasan dengan Danu. Danu menatap pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Papi renang jam segini? memangnya tidak bisa besok sore Pi?" tanya Danu bingung.


"Papi kecebur gara-gara mami," jawab Tuan Ferdinan dengan kesal.


Danu tertawa keras saat mendengar jawaban ayahnya.


"Padahal ajak mami sekalian, biar nyebur bareng. Kan biar romantis," ucap Danu mengejek ayahnya.


"Apa kamu bilang?" ucap Nyonya Nathalie yang tiba-tiba muncul di belajangnya.


"Mami?" ucap Danu terkejut.


"Coba tadi bilang apa? Ayo bilang sekali lagi," ucap Nyonya Nathalie yang mendekatkan tubuhnya pada Danu.


"Rasain. Hajarrr mi," ucap Tuan Ferdinan yang merasa puas melihat Danu ketakutan.


"Mi, itu lihat papi kenapa?" ucap Danu menunjuk ke arah Tuan Ferdinan.


Nyonya Nathalie segera membalikkan badannya melihat ke arah suaminya. Di saat yang bersamaan Danu segera memanfaatkan kesempatan untuk pergi.


"Kabuuuuuuuur," teriak Danu berlari kencang dan masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa ia mengunci kamarnya, jaga-jaga kalau ibu atau ayahnya menyusulnya ke kamar.


"Danuuuuu," teriak ibu dan ayahnya bersamaan.


###############


Jempol baik, tolong ya kondisikan jempolnya buat like, vote, love dan rate bintang 5...


Jempol kalian sangat berarti buat mimin...

__ADS_1


Happy reading all...


Sehat2 ya kalian biar bisa mampir terus di lapak mimin.


__ADS_2