
Waktu terus berlalu. Denting jam terus bergerak tak henti, membawa malam kian larut. Disaat semua terlelap, tapi tidak dengan Dion. Malam yang begitu larut masih membuatnya terjaga. Ya, rasa bersalah pada Mia yang sudah membuatnya belum bersambit dengan yang namanya ngantuk. Seah sedang beemusuhan, Dion dan ngantuk belum bertemu di satu waktu.
Mia, kamu sudah tidur? Aku harus bicara. Ada yang harus aku bicarakan denganmu Mia.
Dion menutup jendela kamarnya dan mencuci mukanya. Berjalan perlahan dalam keraguan. Antara takut dan malu. Mungkin itu yang tengah menguasai hati dan kepalanya. Beberapa saat Dion berhenti untuk meyakinkan dirinya. Meski sempat ingin mengurungkan niatnya, namun akhirnya keyakinan membawanya hingga ke depan pintu kamar Mia.
Tok.. Tok.. Tok...
"Mia," panggil Dion.
Tak ada jawaban.
Apa mungkin Mia masih marah?
"Mia," panggil Dion sekali lagi.
Masih sama. Tak ada jawaban dari Mia. Perlahan Dion meraih gagang pintu dan menekannya.
Tidak dikunci? Apa aku buka saja ya? Mia marah lagi gak ya?
Dion memberanikan diri membuka pintu kamar Mia yang tidak dikunci itu. Dari ambang pintu, Dion melihat Mia tengah tidur dengan nyenyak. Wajahnya terlihat tenang. Memeluk guling dengan begitu nyamannya, membuat Danu merasa ingin menggantikan gulingnya. Dion mendekat dan duduk di tepi ranjangnya. Mengusap pelan kepala Mia dan meminta maaf dalam hati.
Setelah puas melihat wajah Mia yang begitu cantik, Dion kembali ke kamarnya. Membaringkan tubuhnya dan tersenyum lebar saat mengingat wajah Mia.
"Selamat tidur, Mia." gumam Dion.
Pagi hari, Mia sudah bangun. Seperti dugaannya, Mia tidak bisa melakukan apapun. Hanya bisa menjadi penonton atas kesibukan setiap orang yang sedang bekerja pagi itu.
"Nona bisa tunggu di kamar saja," ucap seorang juru dapur.
"Tidak perlu. Mia tunggu di sini saja. Oh ya, nama saya Mia." Mia mengulurkan tangannya.
Sayang, tangannya tak bersambut. Bukan mereka benci, namun sungkan karena yang ada di hadapannya adalah calon Nyonya Dion.
"Apakah harus ada kasta yang jelas antara kita? Kita itu sama, kan?" tanya Mia.
Tak ada jawaban. Mereka hanya tersenyum dan menunduk hormat. Mia pasrah. Mungkin begitulah kebiasaan yang diterapkan di keluarga Dion.
"Mia," panggil Dion sambil berlari mencari keberadaan Mia.
Dion berhenti saat menemui Mia di ruang makan.
Ternyata kamu di sini. Aku pikir kamu kabur, Mia.
"Kamu sudah lapar?" tanya Dion.
"Gak, Tuan. Mia cuma bosan," jawab Mia.
"Mau jalan-jalan?" tanya Dion.
"Memangnya boleh?" tanya Mia.
Tanpa menjawab, Dion malah meminta juru dapur itu menyiapkan sarapan berupa roti dan susu yang akan ia bawa untuk bekal.
"Ayo!" ajak Dion.
Mia mengikuti Dion. Hatinya jauh lebih baik dibanding saat ia duduk sendiri. Tidak lama, Mia sampai di taman bunga. Hamparan tanaman dari berbagai jenis itu mampu mengembalikan mood Mia. Mia tersenyum bahagia pada Dion.
"Terima kasih, Tuan." ucap Mia.
"Sama-sama," jawab Dion.
Mia sudah tidak marah? Dia bukan pendendam. Hanya satu malam bahkan Mia sudah melupakan kesalahanku. Padahal aku sendiri masih belum bisa lupa dengan kejadian semalam. Kamu memang orang baik Mia.
"Tuan," panggil Mia.
"Hemm," jawab Dion.
"Kapan kembali ke kontrakan Mia?" tanya Mia.
"Kamu tidak betah tinggal di sini?" tanya Dion.
"Bukan begitu. Tapi Mia bolos kerja terus," jawab Mia.
"Kamu takut dipecat?" tanya Dion.
Mia mengangguk.
"Aku memegang kewenangan penuh di pabrik. Tidak ada yang bisa memecat kamu," jawab Dion.
"Tapi kan kalaungak kerja gak gajian," jawab Mia.
"Kamu butuh uang buat apa?" tanya Dion.
"Buat bayar kontrakan. Ya sebenarnya masih ada tabungan sih, tapi kan Mia harus nabung." jawab Mia.
"Kamu nabung buat apa sih? Maaf ya, kamu kan sudah tidak punya keluarga. Untuk apa kamu nabung begitu semangat?" tanya Dion.
Mia menghela napas panjang. Iya, memang benar. Mia memang sendiri dan tidak punya siapa-siapa. Jadi tidak harus tersinggung. Tapi entah mengapa rasanya sakit saat mengingat kenyataan itu.
"Mia kan harus jaga-jaga kalau Mia sakit, biaya pengobatan itu tidak ada yang murah. Jadi semangat nabung harus tetap ada," jawab Mia menyembunyikan kesedihannya.
"Kan nanti ada aku yang bisa bayarin semua kebutuhan kamu Mi," jawab Dion.
__ADS_1
Sebuah kode tipis yang Dion berikan agar Mia tahu kalau Dion benar-benar ingin menikahinya, bukan hanya karena sebuah taruhan saja. Namun sepertinya Dion harus kecewa karena Mia tidak menangkap sinyal itu sama sekali.
"Mia hanya belajar dari pengalaman saja Tuan. Dulu juga saat Mia menikah dengan mantan suami Mia, semuanya tidak berjalan sesuai harapan. Saat kecelakaan, orang tuanya membawa anaknya pergi dan meninggalkan Mia dan harus membiayai pengobatan Mia sendiri. Padahal Mia dan mantan suami saling mencintai. Apalagi sama Tuan, kita kan hanya nikah-nikahan," jawab Mia.
"Hussst, nikah-nikahan. Nikah beneran lah kan ada penghulu dan saksi. Gimana sih kamu," ucap Dion kesal.
"Iya mkasudnya nikahnya bukan atas dasar cinta gitu Tuan. Makanya Mia harus ekstra hati-hati untuk masa depan," jawab Mia.
"Eh tapi Mi, emang kamu bisa jatuh cinta?" tanya Dion.
"Pernah dong Tuan. Memangnya Tuan saja yang bisa," jawab Mia.
Berarti kamu juga akan bisa mencintaiku Mi. Aku janji akan membuatmu jatuh cinta padaku dan melupakan mantan suami kamu itu.
"Makan dulu!" ucap Dion memberikan roti pada Mia.
Namun saat Mia akan mengambil roti itu, Dion justru menarik rotinya. Dion ingin menyuapi Mia. Akhirnya Mia mengikuti apa yang Dion minta, setelah sebelumnya ia melihat situasi sekeliling.
"Kamu kenapa sih panik begitu?" tanya Dion.
"Takut ada yang lihat, Tuan." jawab Mia.
"Memangnya kalau ada yang lihat gimana?" tanya Dion.
"Nanti dia minta rotinya," jawab Mia.
Sial! Kamu gak bisa apa sekali saja membuat jawaban yang bikin aku senang? Nyesel tahu aku nanya sama kamu. Mending nanya sama ulat yang berbulu itu.
"Ulat?" ucap Dion menunjuk ke depannya.
Mia berteriak dan memeluk Dion dengan erat.
DEG.
Jantung Dion serasa akan berhenti saat merasakan hangatnya tubuh Mia dalam dekapannya.
"Tuan, buang ulatnya. Jangan cuma diam dong," teriak Mia dengan panik.
"Iya, sebentar." jawab Dion.
Sebentar ya Mi. Sepertinya aku masih ingin dipeluk sama kamu. Hihi
"Sudah," ucap Dion.
Dengan cepat Mia melepaskan pelukannya dari Dion.
"Kamu kenapa takut sama ulat?" tanya Dion.
"Oh gitu. Terus kalau nanti ternyata aku berbulu kamu geli juga sampai teriak-teriak kayak tadi gak?" goda Dion.
"Ish, tahu ah." jawab Mia sambil pergi.
"Hahahaha, Mia. Ini maksudku ini loh Mi yang berbulu (memegang dagunya). Kamu sensitif banget sih?" ucap Dion sambil mengejar Mia.
"Mia, jangan marah begitu dong ah. Ayo kita pulang!" ajak Dion sambil menggandeng tangan Mia.
Tanpa penolakan, Mia hanya mengikuti Dion untuk kembali ke rumahnya. Pikirannya tentang yang berbulu sudah kemana-mana. Membuat kepala Mia dipenuhi racun. Padahal ini masih pagi sekali.
"Tuan, jadi kapan Mia kembali ke pabrik?" tanya Mia.
"Siang ini ya!" jawab Dion.
Mia mengangguk senang dan kemarahannya sudah hilang seketika. Begitulah Mia. Tidak bisa marah berlarut-larut.
"Dari mana? Pagi-pagi udah gandengan aja kayak truk," ucap Tuan Wira.
Mia segera melepaskan tangannya ketika mendengar ucapan Tuan Wira.
"Tadi jalan-jalan sebentar pa," jawab Dion malu-malu.
Bukan Dion. Kali ini ia jelas terlihat malu-malu dengan tingkahnya sendiri.
"Oh ya ma, pa, siang ini aku mau ke Surabaya." ucap Dion.
"Ya sudah, pergi sana. Tapi Mia jangan dibawa ya! Mia calon menantu mama dan tidak boleh meninggalkan rumah ini. Mia sebagai jaminan kalau kerja kamu tidak bagus, maka Mia yang akan mendapat hukumannya." ancam Nyonya Helen.
Apa? Ini makin sableng aja dari hari ke hari. Sama anaknya dijadiin bahan taruhan, eh sama emaknya dijadiin bahan jaminan. Emang bener-bener gak ada akhlak ini. Ayo, bapaknya mau nambahin apa? Nanggung pak, ayo ngomong pak, ngomong.
"Ma, kan barang-barang Mia masih di sana. Jadi Mia ikut aku dulu," bela Dion.
"Memangnya kamu gak bisa ngurus barang Mia sendirian? Kan banyak anak buah kamu. Kerahin dong. Masa begitu aja repot? Biarin lah Mia di sini. Dia harus banyak istirahat," ucap Tuan Wira.
"Tapi Tuan," jawab Mia.
"Gak ada tapi-tapian. Sudah ayo sini duduk. Kita sarapan. Nanti siang, biarkan Dion ke Surabaya. Kamu ikut aku ke salon. Kamu harus di vermak," ucap Nyonya Helen.
Maaaaak, pupus sudah harapan Mia keluar dari kesablengan ini. Baiklah, hanya sabar yang bisa lakukan saat ini. Semangat menjalani hari-hari yang baru Mia.
Dion menatap Mia. Nampak raut kepasrahan dari wajah Mia.
Ma**afkan aku Mia. Tapi ini juga memang inginku. Lebih baik kamu di sini saja ya! Aku akan bereskan semua barangmu di sana. Kamu tetap di sini dan siapkan dirimu untuk jadi istriku. Bahkan aku tidak bisa menjamin untuk menunda sampai satu bulan lagi. Orang tuaku sudah sangat mengingingkan pernikahan kita. Bukan hanya aku. Jadi maafkan aku.
"Mia kamu mau kan ikuti semua permintaanku?" tanya Nyonya Helen yang melihat Mia terlihat keberatan.
__ADS_1
Mia hanya mengangguk dan tersenyum.
Bagus anak manis. Selalu menjadi penurut ya! Biar aku makin sayang sama kamu. Eh maksudku, biar nanti kubuat kamu sayang sama aku. Begitu maksudku Mia.
Sarapan yang menyenangkan bagi Danu, namun menegangkan bagi Mia. Rasanya Mia tidak mau berada di sana. Mia lebih baik sarapan lontong sayur di rumah kontrakannya bersama Sindi.
"Mia, aku ke kantor dulu ya!" ucap Tuan Wira.
Mia mengangguk dan cium tangan pada Tuan Wira. Kesan yang baik bagi Tuan Wira. Bukan ingin menarik perhatian, tapi memang Mia selalu apa adanya. Begitulah Mia yang berusaha menghargai dan menghormati orang yang lebih tua darinya. Apalagi Tuan Wira adalah calon mertuanya.
"Aku mau ke kamar dulu ya! Ke salonnya nanti siang aja ya kalau Dion sudah berangkat ke Surabaya. Sekarang, kamu temani Dion dulu. Dia pasti masih ingin bersama kamu," ucap Nyonya Helen.
Dion tersenyum puas mendengar ucapan ibunya. Seolah sangat mengerti dan mendukung apa yang ia inginkan.
"Apa?" tanya Mia.
"Gak," jawab Dion.
"Apakah setiap wanita yang dibawa ke rumah ini diperlakukan seperti ini oleh Nyonya Helen?" tanya Mia.
"Seperti ini gimana maksudnya?" tanya Dion.
"Ya, seolah-olah anaknya bebas memperlakukan wanita yang ia bawa sesukanya," jawab Mia.
"Mungkin," jawab Dion.
"Kok mungkin?" tanya Mia.
"Karena cuma kamu yang aku bawa ke rumah," jawab Dion.
Mia melihat Dion yang semakin jauh dari tempat duduknya. Mungkin kembali ke kamarnya karena marah dengan pertanyaannya.
Benarkah baru Mia yang dibawa ke rumah ini? Apa jangan-jangan Tuan Dion juga ada kelainan ya makanya belum pernah bawa wanita ke rumah? Apa lagi ini?
Mia bergidik membayangkan kemungkinan yang terjadi pada pernikahannya nanti. Tapi Mia berusaha bersikap bodo amat. Karena baginya, pernikahan itu hanya sebuah kekonyolan. Mau apapun kelemahan dan kekurangan Dion, itu bukan urusannya lagi. Satu hal yang pasti, Dion tidak boleh menceraikannya. Sudah cukup dua kali bercerai dan menjadikannya janda.
Walaupun mungkin pernikahannya tidak diinginkan, tapi Mia juga tidak menginginkan adanya perceraian.
"Tuan," ucap Mia mengetuk pintu kamar Dion.
"Masuk Mia, pintunya tidak dikunci." jawab Dion dari dalam kamarnya.
Perlahan Mia membuka pintu kamar Dion. Terlihat Dion sedang duduk di sofa dengan laptop di depannya.
"Apa Mia mengganggu?" tanya Mia.
"Masuk saja," jawab Dion.
Rasanya sesibuk apapun Dion, jika Mia yang mengganggunya lebih baik ia menunda dulu pekerjaannya. Mia masuk dan duduk di dekat kaki Dion.
"Diduk di sini!" Dion bergeser dan menepuk kursi di sampingnya.
Dengan ragu Mia duduk di samping pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, tapi memang inilah kenyataan hidupnya. Takdir membawanya untuk bersama Dion. Meskipun jalannya nyeleneh, tapi tidak bisa dipungkiri. Mereka akan menikah. Apapun alasannya, pernikahan itu akan dilangsungkan secara agama dan hukum.
"Boleh Mia bicara?" tanya Mia.
"Ada apa?" tanya Dion.
"Pernikahan ini kan sudah tidak mungkin dibatalkan Tuan," ucap Mia.
"Lalu?" tanya Dion.
"Tuan tidak lupa kan perjanjian kita?" tanya Mia.
"Yang mana?" tanya Dion pura-pura lupa.
Hemm, Mia sumpahin cepat pikun Anda ya.
"Jangan ceraikan Mia," jawab Mia.
"Tergantung," jawab Dion dengan dinginnya.
"Maksdunya?" tanya Mia.
"Tergantung kamu bikin masalah atau gak sama aku? Ingat, kamu sudah tidak bisa mengancamku ya! Orang tuaku sudah tahu atas dasar apa pernikahan kita," ucap Dion.
Mia cemberut sambil menggulung ujung bajunya. Kesalnya sudah di ubun-ubun. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa Mia lakukan kecuali mengiyakan saja. Ah, rasanya kini Mia sudah terjebak dalam permainan Dion. Yang harus ia lakukan adalah manut saja. Bersikap selucu mungkin agar Dion tidak menceraikannya.
"Ya sudah kalau begitu Mia permisi dulu ya!" ucap Mia.
"Hemmm," jawab Dion.
Mana mungkin aku menceraikan wanita unik sepertimu Mia. Apapun yang terjadi, aku akan menjadikanmu wanita satu-satunya dalam rumah tangga kita. Aku hanya akan mencintaimu, tidak yang lain. Ah, sudah tidak sabar ingin segera menikahimu Mia. Aku tidak sabar ingin menatap wajah cantikmu semalaman.
##################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1