Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kamu pilih Mama atau Mia?


__ADS_3

Mobil sudah terparkir di depan gedung rumah sakit yang menjulang sangat tinggi dan megah. Mia semakin tegang, ia bingung apa yang akan ia katakan jika nanti bertemu dengan Nyonya Nathalie. Matanya mengedar ke setiap bagian yang bisa ia pandang. Mencari sosok wanita yang katanya ingin menemuinya. Tidak ada. Mia tidak menangkap sosok itu.


"Mau ketemu dimana A?" tanya Mia.


"Kita ke ruang dokter dulu," jawab Dion.


"Ngapain? Kan gak ada jadwal kontrol," ucap Mia.


"Kamu fikir Mama bisa percaya begitu saja? Kita harus tetap menemui dokter agar saat Mama mengecek kedatangan kita, memang ada draftnya di rumah sakit. Ngerti?" tanya Dion.


Ah benar. Kenapa Mia bisa tidak berfikir sejauh itu? Mia mengangguk dan mengikuti langkah Dion. Ke ruangan Dokter dan berkonsultasi. Ya meskipun banyak hal receh yang memang keduanya sudah ketahui, namun semua ini hanya sebagai bukti saja kalau mereka memang tidak sepenuhnya berbohong.


Selesai pemeriksaan, Mia dan Dion keluar dari ruangan dokter. Dion nampak meraih ponsel dari saku celananya dan menghubungi Nyonya Nathalie.


"Baik Nyonya, kami ke sana." Dion menutup panggilannya setelah mengucapkan kalimat itu.


"Dimana A?" tanya Mia.


"Di kantin. Ayo!" ajak Dion.


Mia mengikuti langkah Dion. Tidak terlalu jauh. Hati Mia semakin tidak menentu sampai akhirnya mereka melihat sosok yang memang ia nantikan. Nyonya Nathalie nampak duduk berdua dengan suaminya.


Nafas Mia semakin terasa berat. Kepalanya sudah mulai memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya ia fikirkan. Tapi entah mengapa Mia tidak bisa setenang itu. Kepalanya masih saja merangkai kata. Ia takut tiba-tiba saja terbawa suasana. Bisa menangis atau justru marah saat mengingat semua yang sudah dilakukan Nyonya Nathalie padanya saat itu.


"Selamat siang Nyonya," sapa Dion saat sudah berhadapan dengan Nyonya Nathalie.


Nyonya Nathalie nampak tersenyum bahagia. Ada rasa lega di hati Dion saat tidak ada Danu di sana. Namun tidak dengan Mia. Ia sangat canggung. Bahkan sampai Dion duduk saja, Mi masih bungkam dan berdiri.


"Sayang, duduk!" ucap Dion menarik tangan Mia.


"Oh iya. Terima kasih," ucap Mia.


Mia duduk dan menunduk. Belum siap rasanya jika harus bicara dari hati ke hati. Saat ini hatinya masih tidak karuan. Namun akhirnya Mia harus mengangkat kepalanya saat Nyonya Nathalie memanggil namanya. Senyum canggung nampak di bibir Mia. Tangannya yang gemetar membuat Dion menguatkannya. Dion menggenggam erat tangan Mia.


"Mia, maafkan Mami." Nyonya Nathalie mulai berlinang air mata.


Mami? Apa Itu? Dion menatap Nyonya Nathalie tajam. Rasa kesal mulai muncul di wajahnya yang tampan. Melihat respon Dion, Tuan Ferdinan mencoba menenangkannya.


"Dion, bisa kita bicara sebentar?" pinta Tuan Ferdinan.


Dion diam. Ia tahu kalau ini adalah sebuah alasan Tuan Ferdinan agar ia meninggalkan Mia berdua dengan Nyonya Nathalie. Haruskah? Dion ragu. Takut jika Mia akan terpengaruh dan kembali ke keluarga Danu.


"Dion, Mia itu wanita cerdas dan tangguh. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa yang tidak seharusnya kamu khawatirkan," ucap Tuan Ferdinan.


Dion terkejut saat ucapan Tuan Ferdinan seolah menjawab apa yang sedang ia fikirkan. Ia hendak menolak. Tapi benar apa yang Tuan Ferdinan katakan. Istrinya bukan wanita bodoh yang mudah dibodohi. Ia pasti wanita kuat yang tidak mungkin berpaling begitu saja. Jadi untuk apa dia di sana? Hanya untuk menyaksikan hal yang menurutnya lebay?


Memang ada rasa iba saat melihat Nyonya Nathalie memohon. Namun saat ia menyebut dirinya sebagai Mami, rasa itu hilang begitu saja. Saat ini Dion hanya ingin semua masalah segera selesai. Ia tidak ingin masalah ini berlarut-larut.


"Baik," ucap Dion.


Dion berdiri dan meninggalkan Mia. Tuan Ferdinan mengajak Dion ke taman. Ia tahu kalau Dion butuh udara yang lebih segar agar lebih tenang.


"Dion, aku mohon kamu bisa mengerti keadaan istriku. Kamu tidak perlu khawatir soal Mia, dia sudah menjadi istrimu dan akan tetap menjadi istrimu. Istriku hanya butuh Mia untuk meyakinkannya kalau Mia benar-benar sudah memaafkannya," ucap Tuan Ferdinan.


Dion diam. Ia melihat wajah Tuan Ferdinan. Memelas penuh permohonan.


"Iya. Hanya kali ini dan aku harap ini pertama dan terakhir. Bagaimanapun, ada ibuku yang harus aku jaga perasaannya. Aku harap Tuan juga mengerti," ucap Dion.


"Tentu. Kamu jangan khawatir," ucap Tuan Ferdinan.


Dion kembali diam. Ia tak ingin banyak bicara tentang apa yang tidak seharusnya ia bicarakan. Ia takut jika tidak bisa mengontrol emosinya.


"Dion," panggil seorang wanita yang berdiri di belakang Mia.


Dion membulatkan bola matanya. Telinganya yang sudah tidak asing dengan suara itu membuatnya membalikkan badan. Berharap apa yang ia duga itu sebuah kesalahan, taoi ternyata harapannya sia-sia.


"Mama," ucap Dion terkejut.


"Kamu jahat," ucap Nyonya Helen.


Dion menelan salivany dengan susah. Tubuhnya lemas. Ia tidak berfikir sama sekali jika ibunya akan menyusulnya ke rumah sakit.


"Nyonya, saya bisa jelaskan." Tuan Ferdinan berdiri dan mencegah Nyonya Helen untuk pergi.


"Apa yang akan Anda jelaskan Tuan?" tanya Nyonya Helen dengan suara bergetar.


Mata Nyonya Helen sudah berkaca. Dion benar-benar merasa bersalah. Ia bingung bagaimana cara menjelaskan pada ibunya. Apapun penjelasannya, Dion tetap salah. Ia sudah berbohong pada ibunya.

__ADS_1


"Anda beruntung karena berhasil mendidik anak seperti Dion. Dia pria dewasa yang benar-benar bijakasana. Meskipun saya tahu kalau Dion memang terpaksa melakukan semua ini, tapi dia sudah berbesar hati mengalahkan egonya. Saya harap Anda tidak marah pada Dion. Dia tidak jahat. Dio hanya ingin menyelesaikan semuanya sampai tuntas," ucap Tuan Ferdinan.


Meskipun rasa kecewa dan sakitnya belum sirna, tapi setidaknya ada secuil rasa bahagia atas pujian Tuan Ferdinan. Tapi tetap saja, ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Dion berani membohonginya.


"Terima kasih Tuan. Tapi sepertinya saya masih gagal mendidik anak saya menjadi anak yang jujur," ucap Nyonya Helen.


"Sebentar Tuan, aku permisi dulu." Dion pamit pada Tuan Ferdinan dan menarik tangan ibunya.


Meskipun mendapat penolakan berkali-kali dari Nyonya Helen, tapi Dion terus berusaha untuk bicara dengan ibunya. Pergi menjauh dari Tuan Ferdinan adalah langkah awal yang Dion lakukan. Ia mulai menjelaskan maksud kebohongannya pada Nyonya Helen.


"Aku tahu aku salah. Pembelaan apapun dariku tidak akan mengubah kenyataan kalau aku sudah membohongi Mama. Tapi itu alasanku. Aku harap Mama bisa memberi sedikit saja pengertian Mama untukku. Aku berada diantara masalah rumit," ucap Dion.


"Dan kamu memilih dia?" tanya Nyonya Helen.


Pertanyaan itu menyudutkan Dion. Sekecewa itukah ibunya? Jauh dari bayangan Dion. Tapi semua sudah terjadi. Yang bisa ia lakukan hanya menjelaskan. Percaya atau tidak, diterima atau tidak, itu semua diluar kuasanya.


"Karena hasilnya untuk Mama juga. Aku gak mau Nyonya Nathalie ke rumah terus hanya dengan alasan belum mendapat kata maaf dari Mia. Mama gak tahu kan gimana sakitnya aku kalau Mama sudah bertengkar dengan dia? Aku hanya ingin melihat Mama bahagia. Mama sehat dan hidup tenang. Mama ngerti maksud aku kan?" tanya Dion.


Dion? Benarkah? Kenapa kepala Mama tidak berfikir sampai ke sana? Apa hanya karena rasa cemburu Mama yang begitu besar hingga semua yang kamu lakukan dengan wanita itu hanya untuk menyakiti Mama?


"Lalu kenapa kamu harus bohong? Kamu tahu tidak akan ada orang yang senang jika dibohongi, apapun alasannya. Benarkan?" ucap Dion.


"Karena kalau jujur, Mama gak bakal ngizinin aku. Dan masalah ini akan terus panjang gak kelar-kelar. Mama mau?" ucap Dion.


"Buktinya Mama masih memberi kamu waktu kan untuk bisa bertemu dengan dia?" tanya Nyonya Helen.


Dion menganga saat tahu kalau Nyonya Helen sudah tahu apa yang Dion dan Mia rencanakan.


"Mama tahu dari mana?" tanya Dion.


"Kamu gak perlu tahu dari mana. Yang harus kamu tahu kalau seorang ibu akan selalu mencari tahu tentang hidup anaknya agar ia selalu bahagia. Mama selalu membawa rumah tangga kalian dalam doa Mama. Mama ingin memastikan kalau anak dan menantu Mama hidup bahagia," ucap Nyonya Helen.


"Ma, sekali lagi aku minta maaf ya. Aku janji gak akan mengulangi semua kesalahan ini lagi. Tapi Mama jangan marah ya! Aku ajak Mia pulang sekarang," ucap Dion.


"Dion," panggil Nyonya Helen.


Saat Dion berlalu untuk mengajak Mia pulang, namun Nyonya Helen menahan tangan Dion.


"Ada apa Ma?" tanya Dion.


"Kalau seandainya aku di suruh memilih, kamu pilih Mama atau Mia?" tanya Nyonya Helen.


Sepertinya sia-sia. Karena tangan Nyonya Helen lagi-lagi menarik tangan Dion.


"Dion, jawab dulu!" ucap Nyonya Helen.


"Ma, aku gak bisa milih." ucap Dion.


"Kamu gak mau milih Mama?" tanya Nyonya Helen.


"Ma, kok ngomongnya gitu sih?" tanya Dion bingung.


"Terus kenapa kamu gak bilang mau pilih Mama? Apa rasa cintamu pada Mia mengalahkan kasih sayangmu pada Mama?" tanya Nyonya Helen.


"Bahkan Mama sendiri tidak bisa menyamakan Mia dan Mama. Seperti kata Mama, aku memang mencintai Mia tapi aku juga menyayangi Mama. Mama dan Mia dua orang yang gak bisa dibandingkan. Kalian dua orang dengan kehebatan masing-masing," ucap Dion.


"Jadi kamu gak bisa pilih Mama?" tanya Nyonya Helen.


"Ma, gak gitu. Mama kenapa sih?" tanya Dion.


Rasa bersalahnya semakin besar saat melihat Nyonya Helen duduk cemberut. Lagi, Dion menjelaskan kalau ibu dan istrinya tidak bisa dipilih. Mereka sama-sama berarti dalam hidup Dion. Ia justru menginginkan Mia menjadi bagian dari keluargnya agar ibunya tidak merasa bersaing dengan Mia.


"Di, Mama cuma takut kalau suatu saat kamu akan ninggalin Mama. Mama cuma punya kamu," ucap Nyonya Helen.


Dion memeluk Nyonya Helen dengan erat. Jangan pernah takut akan hal seperti itu Ma. Gak mungkin aku ninggalin Mama. Aku dan Mia sayang sama Mama. Mama itu ibu aku dan Mia. Gak akan ada yang berubah Ma. Apa Mama merasa kasih sayang aku berkurang untuk Mama?" tanya Dion.


Nyonya Helen tersenyum.


Tidak! Dengan kehadiran Mia, kamu justru lebih sayang dan perhatian sama Mama. Mama sayang dan bangga banget punya anak seperti kamu. Apalagi saat kamu menemukan sosok Mia dalam hidup kamu, Di.


"Ma, kok ngelamun sih?" tanya Dion.


"Gak, Mama cuma lagi seneng aja." Nyonya Helen kembali tersenyum dengan tatapan kosongnya.


"Seneng?" tanya Dion.


Dion bingung dengan jawaban Nyonya Helen. Baru saja ibunya marah-marah karena ia sudah membohonginya dan baru saja Nyonya Helen mengatakan kalau saat ini sedang senang.

__ADS_1


Dion tidak tahu kalau Nyonya Helen sudah mendengar apa yang Mia bicarakan dengan Nyonya Nathalie.


"Mia sudah memaafkan Nyonya. Tapi saat ini, Mia sudah menjadi bagian dari keluarga Mama Helen. Mia cuma gak mau menyakiti keluarga yang sudah menerima Mia dengan segala kekurangan Mia," ucap Mia.


Nyonya Nathalie menangis. Ia menyesali semua yang sudah ia lakukan pada Mia saat itu.


"Mia, jangan pernah membenci Danu. Semua kesalahan Mami. Mami yang memaksa Danu untuk meninggalkan kamu. Mami yang salah. Semua salah Mami," ucap Nyonya Nathalie.


Sakit, memang sakit. Hati Mia kembali sakit saat mendengar ucapan Nyonya Nathalie. Mau tidak mau, fikirannya kembali ke waktu itu. Saat ia sedang sangat mencintai Danu, Danu dengan begitu tega menceraikannya. Saat itu ia merasa sudah tidak ada harga dirinya lagi. Bahkan Mia sampai pergi tak tentu tujuan dan akhirnya berujung ke Surabaya.


Dion? Tidak! Rasa sakitnya sudah sirna saat mengingat betapa rencana Tuhan sangat indah. Berkat sikap Nyonya Nathalie, akhirnya ia bertemu dengan Dion yang membawanya ke keluarga yang menerimanya apa adanya.


"Nyonya, Mia tidak membenci mas Danu, Tuan Ferdinan dan Nyonya. Mungkin sempat sakit dan kecewa, tapi Mia mengucapkan terima kasih karena sudah memberi Mia kesempatan untuk bisa bertemu dengan Mama Helen," ucap Mia.


"Terima kasih karena kamu sudah tidak membenci Danu. Apa kamu sangat menyayangi Nyonya Helen?" tanya Nyonya Nathalie.


"Sangat. Mia sangat sayang Mama Helen. Saat Mia tidak punya siapa-siapa Mama Helen adalah orang yang berubah menjadi seorang ibu yang bisa membela Mia mati-matian meskipun kita belum kenal lama," ucap Mia.


Nyonya Nathalie tertunduk. Ia malu karena merasa tersindir. Ya, Nyonya Helen memang membelanya mati-matian saat ia sempat memaki dan memojokan Mia.


Seperti sebuah balas jasa, banyak lagi pembelaan Mia tentang Nyonya Helen. Dan Nyonya Helen mendengarkan sendiri bagaimana Mia begitu membanggakannya. Kini, tidak ada lagi ketakutannya jika Mia kembali pada keluarga Nyonya Nathalie.


"Mia," panggil Nyonya Helen.


Mia terkejut namun keberadaan Dion di belakang Nyonya Helen membuat Mia sedikit merasa tenang.


"Mama maaf," ucap Mia.


"Gak apa-apa. Mama rasa kamu memang harus segera menyelesaikan semua masalah ini," ucap Nyonya Helen.


Kali ini Nyonya Helen terlihat lebih tenang meskipun melihat Mia sedang bersama Nyonya Nathalie. Biasanya, setiap kali ia bertemu dengan Nyonya Nathalie, ia selalu berapi-api. Mungkin karena ia ingin berdamai dengan masa lalu Mia.


Eitss berdamai bukan berarti kembali ke masa lalunya. Nyonya Helen hanya ingin Nyonya Nathalie tidak lagi mengganggu Mia. Membiarkan Mia tenang, hidup bahagia dengan masa depannya.


"Maafkan saya yang sudah menemui Mia sembunyi-sembunyi seperti ini. Saya hanya," ucap Nyonya Nathalie.


Belum selesai Nyonya Nathalie bicara, Nyonya Helen sudah memotong ucapannya.


"Saya tahu Anda masih sangat menyayangi Mia dan saya ucapkan terima kasih. Saya rasa wajar jika semakin banyak orang yang menyayangi Mia, karena Mia anak baik. Tapi satu hal, Mia menantu saya. Tolong jangan pernah mengganggu hal itu," ucap Nyonya Helen mengingatkan.


"Tentu. Tentu saya tahu itu. Tidak mungkin saya mengganggu Mia. Melihat Mia bahagia saja saya sudah ikut bahagia," ucap Nyonya Nathalie.


Bohong, karena sebenarnya ia masih saja berharap jika Mia bisa kembali ke rumahnya. Namun ia harus sadar siapa Mia sekarang. Mungkin yang akan ia lakukan sekarang adalah belajar menerima semuanya dengan hati yang lapang.


"Baguslah. Terima kasih untuk pengertian Anda. Apakah sudah selesai? Bisakah Mia pulang sekarang? Ada dua bayi yang menunggunya di rumah," ucap Nyonya Helen.


"Sebentar. Bolehkah saya memeluk Mia sekali lagi?" tanya Nyonya Nathalie.


"Nyonya," ucap Mia.


Mia segera memeluk Nyonya Nathalie dengan sangat erat. Ia meraksakan bahunya basah oleh air mata Nyonya Nathalie. Tak terasa, ia juga menangis. Pelukan Nyonya Nathalie masih sehangat dulu saat pertama kali ia memeluknya. Tuan Ferdinan yang melihat sikap tidak suka dari Nyonya Helen, segera menngingatkan istrinya.


"Mi, udah dong. Ayo pulang! Bayi Mia sudah menunggu di rumah. Kasihan, mereka butuh Mia. Mami juga istirahat yu!" ajak Tuan Ferdinan.


Perlahan Nyonya Nathalie melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang membanjiri pipinya.


"Mia, terima kasih ya! Mami seneng banget hari ini," ucap Nyonya Nathalie.


"Iya Nyonya sama-sama," jawab Mia.


Walaupun Nyonya Nathalie menyebut dirinya Mami di hadapan Mia, namun Mia tidak sekalipun kembali ke masa itu. Ia tetap memanggilnya Nyonya.


"Cepat sembuh Nyonya! Kami permisi," ucap Nyonya Helen.


Mia dan Dion digiring oleh Nyonya Helen seperti anak yang habis keluyuran. Mereka semua meninggalkan Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan yang masih duduk di sana. Melihat Mia yang semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.


"Ayo Mi," ajak Tuan Ferdinan.


Nyonya Nathalie mengangguk dan mengikuti suaminya untuk meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Meskipun tidak bahagia sepenuhnya, tapi setidaknya ia sudah merasa tenang. Tidak ada lagi beban yang mengganjal di hatinya saat ini.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2