Janda Bersegel

Janda Bersegel
Mia berubah


__ADS_3

Tiba saatnya makan malam. Tuan Felix dan Rian menuju ruang makan. Sudah ada Nyonya Helen dan Tuan Wira. Tak lama, Sindi datang. Mereka semua duduk menunggu Mia dan Dion. Tapi sudah lima menit tapi Mia dan Dion belum kunjung datang.


"Mba, Mia sama Dion sudah dipanggil?" tanya Nyonya Helen.


"Sudah, Nyonya!" jawab Mba.


Tidak seperti biasanya, Mia datang terlambat untuk makan malam. Waktu terus berjalan. Mereka tidak tahu kalau Dion sedang berusaha keras membujuk Mia agar mau makan bersama.


"Mia ayo dong sayang!" ajak Dion.


"Mia udah bilang gak mau ya gak mau A. Mia gak mau. Aa aja sana," ucap Mia.


"Mia, jangan sampai mereka khawatir sama keadaan kamu. Jangan juga membuat mereka tidak enak dengan sikap kamu," ucap Dion.


"Aa pikir jadi Mia enak? Gak enak A, Mia gak mau begini," ucap Mia.


Air matanya kembali berjatuhan dan membuat Dion menyerah. Ia sadar jika saat ini Mia sedang tidak stabil. Mungkin membiarkannya sendiri akan lebih baik dibanding memaksanya untuk makan bersama.


"Ya sudah aku makan ya! Nanti aku minta Mba bawain makan malam buat kamu," ucap Dion mengalah.


"Gak perlu A. Mia gak lapar," jawab Mia.


Apa? Kamu bilang gak lapar? Apa kabar ASI yang harus diproduksi buat kedua anak kita Mia?


Dion menurunkan egonya sebisa mungkin. Bukan saatnya untuk berdebat dengan Mia. Saat ini istrinya sedang menjadi api. Jika ia ikut menjadi api, maka yang terjadi api itu malah akan semakin besar dan membakar. Maka yang Dion lakukan adalah berusaha untuk menjadi air.


Berharap semua bisa mereka lalui secepatnya. Dion tidak nyaman dengan sikap Mia. Ia bahkan kehilangan cara untuk bisa menenangkan Mia. Tapi ia tidak lupa jika ia memiliki Sindi. Anak itu selalu punya cara agar Mia bisa tersenyum kembali.


Masih dengan wajah cemberut, Mia tidak menghiraukan Dion yang sudah keluar kamar. Mia kembali menangis dengan kertas yang ada di tangannya. Ingin rasanya ia membakar dan menghancurkan hasil test DNA itu. Tapi percuma. Semua itu tidak akan mengubah keadaan.


Tuan Felix akan tetap menjadi ayah kandung Mia. Itu tidak bisa ia hapus dalam hidupnya. Namun Mia menyesali keputusannya untuk melakukan test DNA itu. Jika saja waktu bisa diputar kembali, ia tidak ingin tahu tentang ayah kandungnya.


Mia akan lebih senang dengan kehidupannya yang sebatang kara. Dimana rasa sakit itu sudah mulai hilang karena tidak lagi ia pedulikan. Tapi sekarang? Keadaannya sudah berbeda. Mia sendiri yang mengungkap semuanya, tapi kenapa seakan Mia menolak keras kenyataan itu.


"Di, mana Mia?" tanya Tuan Wira.


"Mia sedikit pusing. Mungkin dia lelah. Nanti Mia makan di kamar aja," jawab Dion.


"Mba, bawakan makan malam untuk Mia," ucap Nyonya Helen.


"Tidak perlu. Nanti saja aku yang bawa," cegah Dion.


"Loh, lama dong kalau nunggu kamu Di. Kasihan Mia," ucap Nyonya Helen.


"Tadi Mia lagi tidur Ma. Biarkan saja dulu. Jangan diganggu," ucap Dion dengan bohong.


Makan malam berlangsung canggung. Tidak ada obrolan sama sekali. Sampai akhirnya selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing. Termasuk Tuan Felix dan Rian.


"Rian," panggil Tuan Felix.


"Iya," jawab Rian.

__ADS_1


Rian yang akan kembali ke kamarnya, akhirnya berakhir di kamar Tuan Felix. Keduanya sama-sama mengeluh tentang ketidaknyamanan yang mulai mereka rasakan.


"Ajari aku agar segera bisa jalan lagi," ucap Tuan Felix.


"Tuan pasti bisa. Asal sering latihan saja," ucap Rian.


Sepulang dari rumah sakit, Tuan Felix memang selalu dibantu Rian untuk belajar berjalan. Kehadiran Rian memang menjadi anugerah tersendiri di tengah sakit yang diderita oleh Tuan Felix.


"Setelah sembuh, aku mau pulang ke Jerman. Aku pasti akan sangat merindukanmu," ucap Tuan Felix.


"Pasti. Aku sudah sedih duluan, Tuan. Semoga Tuan sehat-sehat ya nanti di sana," ucap Rian.


"Terima kasih. Kamu juga sehat-sehat di sini. Yang betah ya!" ucap Tuan Felix.


Betah? Wajah Rian berubah menjadi murung. Ia tidak yakin jika akan tetap bertahan di rumah itu setelah Tuan Felix kembali ke negaranya.


"Ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Tuan Felix.


"Ah, tidak Tuan." Rian mencoba merubah raut wajahnya.


"Jujurlah! Ada apa?" tanya Tuan Felix.


"Mungkin aku juga akan keluar dari rumah ini. Kembali ke rumahku dan menjadi diriku yang dulu," ucap Rian.


"Hey, kamu jangan pergi dari sini!" ucap Tuan Felix.


"Untuk apa aku bertahan di sini? Sudah tidak ada yang membutuhkan aku. Hanya Tuan yang membutuhkan kehadiranku di sini," ucap Rian.


Tuan Felix tidak memberikan komentar apapun. Memang benar apa yang diucapkan oleh Rian. Apalagi setelah Mia berubah, mereka sibuk dengan Mia dan pekerjaan mereka masing-masing. Apalagi ditambah dengan kedatangan Sindi. Sudah tidak ada lagi yang bisa Rian kerjakan.


"Tidak, Tuan. Tuan membutuhkan kehadiranku hanya karena belum sehat saja," ucap Tuan Felix.


"Bukan. Aku membutuhkanmu karena aku kesepian," ucap Tuan Felix.


"Apa?" tanya Rian.


"Aju sendiri dan butuh teman. Kamu mau kan jadi temanku?" tanya Tuan Felix.


Rian belum bisa menjawab. Ia tidak ingin kejadian hal yang sama ia alami untuk yang kedua kalinya. Ia tidak mau dikecewakan seperti saat ini. Mia berkata jika ia membutuhkannya karena ingin berdamai dengan masa lalu. Nyatanya ia malah terjebak dalam perubahan sikap Mia.


Saat Rian ragu, Tuan Felix berjanji akan menyekolahkannya dan mengajarkannya tentang bisnis. Hal yang tidak ia minati sama sekali.


"Aku tidak berminat Tuan, aku lebih suka menjadi seorang arsitek. Meskipun itu mustahil bagiku," ucap Rian.


"Hey, jangan berkata mustahil. Setiap orang berhak mewujudkan impiannya. Baiklah kalau kamu mau jadi arsitek. Aku akan menyekolahkanmu di jurusan arsitek nantinya," ucap Tuan Felix.


Entah mengapa Rian menjadi semangat dan mengiyakan tawaran itu begitu saja. Mungkin karena ia benar-benar berharap jika suatu saat cita-citanya itu terwujud.


"Sudah malam. Kamu tidur dan istirahat ya! Semoga besok kamu masih semangat mengajariku untuk berjalan," ucap Tuan Felix.


Rian melihat jam di dinding kamar Tuan Felix. Ya memang sudah jam sebelas malam. Rian harus tidur karena memang ia tidak terbiasa begadang.

__ADS_1


"Aku permisi dulu ya! Selamat tidur," ucap Rian.


Setelah kepergian Rian, Tuan Felix mengunci kamarnya. Ia membuka lemari yang menyimpan foto Mia. Memeluknya erat hingga matanya berlinang.


Tuan Felix segera mengucek kedua matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah meskipun hatinya memang sedang rapuh.


Mia, apa yang terjadi padamu sebenarnya? Apa kamu benar-benar sakit? Atau justru kamu hanya menghindar? Ada apa ini?


Tuan Felix menyimpan kembali foto itu ke dalam lemari. Ia merangkak ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Sudah banyak perubahan yang terjadi padanya. Ia sudah bisa naik dan turun ke atas ranjangnya tanpa bantuan. Meskipun ia masih harus selalu menggunakan kursi roda.


"Mia, semoga kamu tidak apa-apa. Aku rindu wajah ceriamu. Aku rindu senyuman dan sapaan lembutmu. Aku tidak lagi menemukan sosok Ningsih pada dirimu saat ini," gumam Tuan Felix.


Seolah merasakan apa yang Tuan Felix rasakan, malam ini Mia gelisah. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Yang ia tahu, ia belum menerima kenyataan ini.


"A," panggil Mia.


"Hemm," jawab Dion yang tengah fokus menatap layar laptopnya.


"A, lihat Mia dulu. Mia mau nanya," ucap Mia.


Dion mengalihkan pandangannya. Ia menyimpan laptop yang ada di pangkuannya ke atas meja. Lalu mendekat pada Mia yang ada di atas ranjang.


Dion duduk di tepi ranjang dan mengusap kepala Mia. Merapikan rambut Mia yang sedikit berantakan.


"Mau nanya apa?" tanya Dion.


"Apa Mia harus memberi tahu semua ini pada Tuan Felix?" tanya Mia.


"Jangan paksakan diri kamu untuk mejalani hal yang tidak kuat. Aku hanya tidak mau kamu semakin terbebani dengan semua ini," ucap Dion.


Mia bercerita banyak hal. Ia takut jika kemungkinan-kemungkinan buruk akan terjadi jika kenyataan ini ia ungkapkan. Tapi ia juga bisa jika harus memendam semua ini terus menerus.


"Mi, sudahlah. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah tenangkan diri kamu. Kamu butuh ketenangan. Berpikirlah dengan kepala yang dingin, baru ambil keputusan. Jangan ambil keputusan saat kamu masih emosi," ucap Dion.


Mia mengerti maksud suaminya. Benar, yang harus ia lakukan saat ini memang menenangkan dirinya sendiri.


"Terima kasih ya A," ucap Mia.


"Iya. Sayang, ini sudah malam. Kamu harus istirahat. Ingat jaga kesehatan demi kedua anak kembar kita," ucap Dion.


Dion membantu Mia untuk merebahkan tubuhnya dan menyelimuti istrinya. Mengucapkan selamat tidur yang tak lupa memberinya sebuah kecupan hangat sebagai pengantar tidur.


Setelah Mia memejamkan matanya, Dion tidak ikut tidur. Ia kembali menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2