
"Sayang," panggil Dion sembari menarik tangan Mia.
"Apa A?" tanya Mia.
Dion membawa Mia sedikit menjauh dari pusat suara.
"Terima kasih. Kamu terlihat begitu hebat tadi," ucap Dion.
"Yang mana?" tanya Mia.
Dion yang berapi-api tiba-tiba dingin. Ia malas jika harus mengingatkan semua kejadian dengan Nyonya Nathalie tadi. Kesal saat Mia tidak peka dengan apa yang menjadi hal penting baginya.
"Aku lapar," ucap Dion.
"Kok gak nyambung A? Mia jawab apa, Aa jawab apa. Aa kenapa?" tanya Mia.
"Efek lapar," jawab Dion ketus.
Mia mengikuti Dion yang kembali masuk dan berbaur dengan keramaian. Meskipun kepalanya masih pusing dengan perubahan Dion yang terjadi dengan begitu cepat, namun Mia berusaha tetap berada di samping Dion.
"Za," sapa Dion.
Wajah Dion kembali berseri saat matanya berhasil menemukan sosok sahabatnya yang sudah terpisah jauh dan cukup lama.
"Dion," sapa Reza.
Saling mengangkat kepalan tangan dan berpelukan. Melepas rindu. Keduanya sudah lama tidak gila bersama. Hal yang sampai akhirnya bisa mempertemukan Dion dengan Mia.
"Mana Maya?" tanya Dion.
"Di sana," jawab Reza sembari menunjuk salah satu meja yang tidak jauh dari tempat mereka.
"Mia, apa kabar?" tanya Reza.
"Baik. Reza gimana?" Mia bertanya kembali.
"Baik. Udah hamil lagi belum?" tanya Reza.
"Hussst," ucap Dion sembari menyikut Reza.
Mia hanya tertawa saat melihat tingkah keduanya. Wajar jika Reza bertanya seperti itu. Karena cita-cita Dion adalah mempunyai anak yang banyak. Bahkan dia sempat memimpikan memiliki tim kesebelasan dari anaknya sendiri. Namun setelah melihat Mia melahirkan, rasanya ia enggan untuk memiliki anak lagi.
"Ayo ke sana!" ajak Dion yang mencoba mengalihkan perhatian.
Mia kembali mengikuti langkah Dion. Ia bergabung dengan Maya. Obrolan ringan terjadi diantara bisingnya musik dalam gedung itu. Mia beberapa kali mengusap perut Maya yang terlihat begitu besar.
"Berapa bulan?" tanya Mia.
"Delapan bulan," jawab Maya.
"Wah, sebentar lagi launching nih bayinya. Pasti udah gak sabar ya?" tanya Mia.
"Iya Mi. Udah gak sabar," jawab Maya.
Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja. Terasa begitu cepat sampai akhirnya Reza mengajak Maya untuk pulang lebih awal. Keadaan Maya yang tengah hamil besar membuat Reza tidak bisa membiarkan istrinya berlama-lama di tempat ramai seperti itu.
Tak lama setelah Maya dan Reza pamit, Kalin dan Dev datang. Kebahagiaan Mia terus bertambah saat tak lama datang Haji Hamid yang disusul oleh Dokter Leoni. Setelah mengucapkan selamat pada Sindi, mereka duduk melingkar dalam satu meja besar.
"Akhirnya kita bisa kumpul juga ya!" ucap Mia.
__ADS_1
Mereka semua menyambut senang dengan ungkapan Mia. Rasa bahagia itu mereka ekspresikan dengan tawa yang terlihat begitu ringan.
"Pak Haji baik-baik aja kan?" tanya Mia.
Mia khawatir saat melihat Haji Hamid beberapa kali merubah posisi duduknya.
"Baik, baik. Aku baik Mia," jawab Haji Hamid.
Mia tersenyum dan kembali melanjutkan pembicaraan dengan semua temannya. Tapi sesekali matanya melihat melihat Haji Hamid. Ia harus memastikan kalau orang yang berjasa dalam hidupnya itu benar-benar baik-baik saja.
Dan semua memang baik. Sampai akhirnya Haji Hamid dan yang lainnya pamit setelah cukup lama di sana. Walaupun berat, Mia akhirnya melambaikan tangannya melihat mereka semua berlalu meninggalkan pesta itu.
Jangan sedih Mia. Aku masih punya kejutan buat kamu. Aku yakin kamu akan sangat bahagia.
Setelah tamu mulai pamit satu per satu, Mia merasa sepi. Ia kembali mendekat kepada Sindi. Duduk satu meja saat Sindi dan Danu tengah makan.
"Selamat ya Sin. Akhirnya kamu jadi seorang istri juga. Kamu cantik banget," ucap Mia.
"Terima kasih Mi," ucap Sindi.
Tangan Sindi menggenggam erat tangan Mia. Tidak ada sama sekali kecanggungan diantara keduanya. Danu senang melihat keduanya begitu akrab, namun mulai tidak nyaman saat Dion menatapnya tidak suka.
Tidak ingin ada salah paham, Danu pamit untuk ke toilet. Hanya sebuah alasan klasik sebenarnya. Karena ia hanya berusaha memberikan waktu agar Mia dan Sindi bicara bebas tanpa kehadirannya.
"Kak Danu," sapa seseorang.
Danu mengerutkan dahinya saat melihat sosok itu. Ia mengingat wajahnya namun lupa namanya.
"Aku Rian. Temannya Kak Sindi," ucap Rian mengenalkan dirinya saat Danu berusaha mengingatnya.
"Hai Rian. Kata Sindi kamu tidak datang," ucap Danu.
"Iya, ini kejutan untuk Kak Sindi. Selamat ya! Aku titip Kak Sindi sama Kakak. Kak Sindi begitu tulus mencintai Kakak. Tolong jangan kecewakan dia," ucap Rian.
Rian dengan begitu senangnya memeluk Danu.
"Terima kasihku bukan hanya untuk Kakak. Tapi juga kepada Tuhan karena sudah mempertemukan Kak Sindi dengan orang yang tepat," ucap Rian.
"Rian," panggil Tuan Felix.
"Papa," ucap Rian.
Mendengar panggilan Tuan Felix, Rian segera melepaskan pelukannya. Ia memanggil Tuan Felix dengan sebutan Papa, seperti apa yang diinginkan oleh Tuan Felix.
"Ini suami Sindi?" tanya Tuan Felix.
"Iya Pah," jawab Rian.
"Oh jadi ini si monster ganteng itu? Selamat Nak!" ucap Tuan Felix sembari mengulurkan tangannya.
"Monster?" tanya Danu bingung sembari membalas uluran tangan Tuan Felix.
"Iya Kak. Dulu Kak Sindi memanggil Kakak dengan sebutan monster galak. Tapi aku selalu menggodanya dengan sebutan monster ganteng. Mukanya mendadak merah loh Kak," ucap Rian.
Mau mukanya merah atau hijau juga tetep aja kalian nyebut aku monster. Apa-apaan ini Sindi? Memangnya apa yang membuatmu menyebutku dengan sebutan monster?
"Dimana Sindi?" tanya Tuan Felix.
"Ada di dalam," jawab Danu.
__ADS_1
Tuan Felix pamit untuk menemui Sindi. Kedatangannya tentu disambut dengan teriakan bahagia dari Mia dan Sindi. Mia berlari meneluk Tuan Felix, sedangkan Sindi berlari memeluk Rian.
"Aku pikir Papa gak datang," ucap Mia sembari mengusap sudut matanya.
"Mana mungkin Papa gak datang di acara spesial ini?" ucap Tuan Felix. "Sindi, selamat ya!" lanjutnya pada Sindi.
"Terima kasih Tuan," ucap Sindi.
"Selamat ya Kak," ucap Rian.
"Rian," ucap Sindi yang kembali memeluk Rian.
"Kamu kenapa gak bilang mau ke sini?" tanya Sindi.
"Ini kejutan buat Kakak," jawab Rian.
"Kedatangan kalian adalah hadiah spesial dari kalian buat aku," ucap Sindi.
"Jadi hadiah ini gak usah nih?" tanya Tuan Felix semari mengangkat sebuah goodie bag berwarna pink.
"Eh, kalau maksa sih gak apa-apa. Sindi terima Tuan," ucap Sindi sembari tertawa.
Tawa bahagia kembali bergema di gedung itu. Cukup lama menghabiskan waktu bersama, akhirnya mereka harus pulang. Ada air mata saat Nyonya Helen harus menerima kenyataan jika Sindi tidak lagi pulang ke rumahnya.
"Sehat-sehat ya Sin," ucap Nyonya Helen.
"Iya. Mama juga ya!" ucap Sindi.
Pelukan perpisahan membuat Sindi dan Nyonya Helen semakin sedih. Begitupun Mia.
"Ma, Sindi kan sama suami dan keluarga barunya. Mama jangan khawatir. Sindi pasti bahagia," ucap Mia menenangkan.
Akhirnya Nyonya Helen dan semua keluarganya pulang ke rumahnya. Meninggalkan gedung itu yang kini kembali sunyi. Dalam perjalanan, pandangannya kosong. Kepalanya memikirkan Sindi yang kini sudah tidak lagi di rumahnya.
"Ma, Sindi juga pasti sering-sering ke rumah kita kok. Iya kan Mi?" ucap Tuan Wira.
"Iya Pah, Sindi pasti akan sering ke rumah. Mama tenang aja," ucap Mia.
Sesampainya di rumah, semua anggota keluarga mandi dan beristirahat. Tuan Felix yang akan di Indonesia beberapa hari membuat Mia tidak mengganggu waktu tidurnya.
Papa dan Rian pasti lelah. Padahal Mia masih kangen. Mia mau ngobrol banyak sama kalian. Gak apa-apa. Masih ada besok.
"Ayo tidur!" ajak Dion.
"Iya A," ucap Mia.
Matanya memang sudah terpejam. Namun Mia masih terjaga. Ia masih tidak percaya dengan kebahagiaanny hari ini. Bisa berkumpul dengan temannya di masa lalu adalah hal luar biasa dalam hidupnya. Belum lagi kejutan atas kehadiran Tuan Felix dan Rian membuat Mia kebahagiaannya terasa begitu nyata.
Sebelum ia benar-benar tidur dengan nyenyak, bibir Mia tersenyum lebar.
Tuhan, terima kasih untuk semua kebahagiaan hari ini.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.