
Setelah acara foto keluarga selesai, Nyonya Helen menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga.
"Mba, tolong bawakan minum." Teriak Nyonya Helen.
Tidak lama, seorang pelayan membawa segelas air. Nyonya Helen nyaris menghabiskan satu gelas air itu, namun Tuan Wira menghentikannya.
"Ma, bagi-bagi kenapa sih?" ucap Tuan Wira.
Air yang tinggal seperempat gelas itu akhirnya diberikan pada Tuan Wira.
"Biar saya ambilkan lagi Tuan," ucap Mba.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin minum pada gelas yang sama dengan istriku," ucap Tuan Wira.
Nyonya Helen menatap Tuan Wira dan melihat suaminya menghabiskan minumnya. Tidak berubah, ia tetap selalu jatuh cinta dengan sikap suaminya meakipun kadang terkesan lebay. Namun rasa cinta Nyonya Helen pada suaminya membuat ia tidak mengenal kata lebay, pada setiap gombalan suaminya.
"Mama dan Papa istirhat saja. Ini juga sudah malam. Maafkan Mia yang sudah mengganggu waktu istirahat kalian," ucap Mia.
"Miaaaa, Mama dan Papa tidak terganggu sama sekali. Kita senang bisa berfoto dan berkumpul seperti ini. Harusnya kami yang minta maaf, karena mungkin waktu kami untuk kamu itu kurang." Nyonya Helen memeluk Mia.
"Ma, waktu dan perhatian yang Mama berikan sudah sangat cukup untuk Mia. Ditengah kesibukan Mama, masih selalu menyempatkan untuk menanyakan kabar Mia. Mia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya," ucap Mia.
Mia kembali memeluk erat Nyonya Helen. Hangatnya pelukan seorang ibu yang selalu Mia rindukan.
"Mia, jangan sedih. Sekarang ada Mama. Mama sudah menganggap kamu anak ketika pertama kali kita bertemu. Mama sayang sama kamu. Jangan sungkan sama Mama ya!" ucap Nyonya Helen.
Mia menatap wajah yang penuh dengan ketulusan itu dan tersenyum bahagia, sembari menganggukkan kepalanya. Sementara Dion hanya menatap kedua wanita di hadapannya.
Kalian adalah dua wanita yang akan aku jaga hingga akhir nafasku. Sehat selalu, bahagia selalu kalian.
"Mi, kamu juga harus istirhat. Kasihan bayi kembar kita," ucap Dion.
"Ah, Papa gak bisa bayangin nanti kalau bayi kembarnya sudah lahir, rumah ini pasti rame banget. Papa gak sabar," ucap Tuan Wira.
"Jangan senang dulu. Nanti kalau bayi kembar lahir, papa mau gak mau jadi pengasuh buat mereka ya! Pasti rebutan mau digendong sama Papa," ucap Nyonya Helen.
Tangan Nyonya Helen mengusap perut Mia yang semakin besar. Mia merasa beruntung karena kehadirannya semakin berarti setelah adanya bayi kembar dalam perutnya.
"Kan sama Mama nanti. Kayaknya Papa resign kerja deh kalau bayi kembarnya lahir. Papa mau jadi pengasuh saja ah di rumah. Mama juga ya! Kita saling satu Ma," ucap Tuan Wira.
"Loh, terus aku sama Mia gak kebagian dong?" tanya Dion.
"Kamu kan bisa bikin lagi. Nanti hamilnya kembar lagi ya! Biar kamu sama Mia juga gak rebutan," jawab Tuan Wira dengan entengnya.
"Enak aja main bikin lagi. Papa kira gampang apa? Aku sampai keringetan tiap malam," ucap Dion.
"Aa," ucap Mia mencubit pinggang Dion.
"Aw, apa sih Mi?" tanya Dion sambil mengusap pinggangnya.
"Ya ampun, itu sih bukan keringet sembarangan. Semakin berkeringat semakin mantap," ucap Tuan Wira.
"Eh, Papa. Udah mulai ya? Kebiasaan nih ah. Dion makanya jangan dipancing-pancing deh. Udah tahu Papa kamu gampang banget nyambernya kalau udah urusan begituan, udah kayak bensin aja." Nyonya Helen menatap tajam pada Tuan Wira.
"Loh, kan emang bener Ma. Keringet itu yang membuktikan bahwa mengkerut akan hilang sementara waktu," ucap Tuan Wora. "Iya kan?" tanya Tuan Wira pada Dion.
Dion menatap Tuan Wira, lalu menahan tawanya. Ia baru memahami kalau yang dibahas oleh ibu dan ayahnya tentang mengkerut adalah itu.
"Jawab! Iya apa gak?" tanya Tuan Wira sambil menyikut Dion.
"Tahu ah, gak ngerti aku. Masih polos," jawab Dion. "Ayo Mi, kita tidur." Dion menarik tangan Mia.
"Sialan. Anak kurang ajar, gak bisa apa bantuin Papa. Cuma bilang iya aja susah banget," ucap Tuan Wira.
Kekesalan Tuan Wira membuatnya melempar bantal ke punggung Dion.
"Apaan sih Pa?" tanya Dion.
Dion membalikkan badannya sesaat lalu melangkah pergi lagi meninggalkan Tuan Wira.
"Hey, mau kemana kamu?" tanya Tuan Wira.
"Cek yang mengkerut. Mau jenguk bayi kembar dulu. Papa jangan ngintip ya!" teriak Dion.
Setelah Dion pergi, Tuan Wira menatap Nyonya Helen.
"Apa?" tanya Nyonya Nathalie.
"Cek yang mengkerut juga yu Ma!" ajak Tuan Wira.
Tidak sesuai harapan, Nyonya Helen bahkan tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya dam berlalu meninggalkan Tuan Wira.
__ADS_1
"Ini orang-orang pada kenapa sih? Kok pada sentimen banget sama aku ya?" gumam Tuan Wira.
Setelah menghabiskan secangkir kopi, Tuan Wira juga mengikuti Nyonya Helen ke dalam kamarnya.
"Belum tidur Ma?" tanya Tuan Wira.
Saat Tuan Wira masuk, Nyonya Helen nampak sedang menggunakan lotion di kakinya. Begitulah Nyonya Helen, selalu mengutamakan kesehatan tubuhnya. Meskipun dia bilang ngantuk dan lelah, namun matanya dipaksa untuk tetap terbuka. Meski dengan energi sisa, Nyonya Helen akan selalu menyempatkan u tuk perawatan diri.
"Mama udah siap-siap aja nih?" goda Tuan Wira.
Tuan Wira mendekati Nyonya Helen dan duduk di tepi ranjang di samping istri tercintanya.
"Ya siap-siap dong. Mau tidur itu harus perawatan. Biar kulit tetap mendapatkan nutrisi. Memangnya cuma perut yang butuh Asupan? Kulit juga perlu dong Pa," jawab nyonya Helen.
"Apalagi kalau mau cek yang mengkerut ya Ma?" goda Tuan Wira.
Tangan Tuan Wira sudah mulai beraksi. Menyentuh tangan Nyonya Helen dengan lembut. Berharap kalau malam ini ia bisa menjenguk mantan rumah Dion dulu.
"Nih, Papa cek sendiri. Mama ngantuk!" ucap Nyonya Helen.
Tuan Wira membelalakkan matanya saat melihat Nyonya Helen memberikan lotion padanya. Sementara istrinya malah berbaring dan membelakanginya. Menutup tubuhnya dengan selimut hingga hanya menyisakan kepalanya saja.
"Ma, kok jahat banget sih sama Papa. Mama dendam apa sih?" tanya Tuan Wira.
Tidak menjawab. Nyonya Helen masih memejamkan matanya, tanpa merespon ucapan Tuan Wira.
Mama memang keterlaluan. Masa iya sih aku harus cek yang mengkerut sendirian? Bisa jatuh harga diriku. Kalau pakai lotion ini sih mengkerutnya bisa hilang, tapi rasanya tidaj seperti sama Mama. M**ending mengkerut dulu deh. Nunggu sampai Mama mau cek yang mengkerut ini.
Akhirnya Tuan Wira menyimpan lotionnya di atas nakas, lalu tidur di samping Nyonya Helen dan memeluk istrinya dengan penuh cinta. Mengecup kepala bagian belakang istrinya dan tersenyum penuh rasa bahagia.
Ma, terima kasih sudah menemani aku hingga titik ini. Semua yang kamu lakukan untuk keluarga kita adalah pengorbanan dan bukti cintamu. Seandainya nanti aku pergi lebih dulu, aku percaya kalau kamu bisa menjaga dirimu dengan baik. Kamu berhasil mendidik Dion hingga menemukan istri yang akan menyayangi kita seperti orang tuanya sendiri. Kamu wanita hebat Ma. Aku sangat mencintaimu.
Lagi, kecupan penuh kasih itu mendarat di kepala Nyonya Helen. Entah mengapa malam ini tiba-tiba Tuan Wira mengingat kematian. Jujur saja, ia merasa takut. Rasanya ia belum siap untuk pergi meninggalkan istrinya yang sangat ia cintai.
"Aaaaaaaa," teriak Mia.
Mia bangun dengan nafas yang terengah-engah.
"Mia, ada apa?" tanya Dion.
Dion bangun dan panik saat melihat Mia berteriak dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.
"Aa, Mia mimpi buruk. Aa ninggalin Mia," ucap Mia.
"Mia, sayang. Dengarkan aku!" ucap Dion.
Dion meraih wajah Mia dan mengusap pipinya yang basah dengan tangannya. Menghadapkan wajah Mia tepat di hadapannya. Memastikan jika mata Mia menatap matanya.
"Mia, aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali jika Tuhan memanggilku. Aku mencintaimu. Tidak ada alasan untuk aku pergi darimu," ucap Dion dengan sangat lembut.
Mia memeluk Dion. Ya, Mia juga sangat mencintai Dion. Mia tidak ingin ada perpisahan dengan suaminya. Jika pun Tuhan sudah memberikan waktu akhir, Mia meminta ia yang pergi lebih dulu. Mia takut kalau ia tidak bisa hidup tanpa suami tercintanya.
"Mia, kamu percaya sama aku, kan?" tanya Dion.
Masih dalam pelukan Dion, Mia tak bisa menjawab. Hanya terdengar isak tangisnya yang kian mengeras.
"Mia mau ikut sama Aa. Mia gak mau jauh-jauh sama Aa," ucap Mia disela isak tangisnya.
"Sayang, bukannya aku gak mau ditemenin sama kamu. Tapi sekarang kamu lagi hamil anak kembar. Aku tidak mau perjalanan jauh kita mengganggu bayi kembar yang ada di sini," ucap Dion sambil mengusap perut Mia.
Ya, Mia tidak boleh egois. Ada dua nyawa dalam tubuhnya yang harus dipertanggungjawabkan. Mia tidak boleh bersikap seenaknya. Percaya, itu kuncinya. Mia harus percaya pada suaminya.
Perihal mimpi, mungkin Mia hanya terbawa perasaan karena kemarin sudah bertemu dengan Niki. Namun setelah Dion meyakinkan dirinya tentang perasaannya, Mia berusaha melupakan semua mimpi buruk itu.
"Tidak ada gunanya ia berkutat dengan rasa cemburu di masa lalu. Bukan hanya Dion, Mia pun memiliki masa lalu. Jika ia cemburu, apa kabar dengan Dion? Tapi suaminya itu bisa meredam rasa cemburunya, lalu mengapa Mia tidak bisa? Rasanya tidak adil.
"A, maafin Mia ya!" ucap Mia.
"Aku yang harusnya minta maaf. Maaf kalau aku belum bisa meyakinkan kamu atas perasaan yang aku miliki. Jauh di dalam hati aku, semua masa lalu sudah aku kubur saat mengucap ijab kabul di depan saksi. Ya, mungkin ini kedengarannya konyol, karena yang ada di kepala kamu aku menikahimu karena sebuah taruhan saja. Begitu kan?" tanya Dion.
"Memang itu kenyataannya, kan?" ucap Mia.
"Mungkin iya. Tapi satu hal yang tidak kamu ketahui, Mia. Tanpa kamu sadari, aku sudah mulai mencintaimu sebelum kita menikah. Puncak cintaku adalah saat mendapati kesucianmu di malam pernikahan kita," ucap Dion.
"Kalau kesucian Mia diambil sama oleh orang lain?" tanya Mia.
"Aku gak tahu. Yang aku tahu, Tuhan memberiku jalan seperti ini. Dan aku menikmatinya. Aku tidak mau berandai-andai atas apa yang sudah aku lalui. Aku hanya sedang berusaha menikmati dan menjadi yang terbaik untuk masa depanku. Kamu, kamu masa depanku, Mia. Istriku, ibu dari anak-anakku. Aku mencintaimu," ucap Dion.
"Aa, maafin Mia udah cemburu sama masa lalu Aa ya!" ucap Mia.
"Kamu berhak cemburu, namun jangan sampai rasa cemburu itu menghancurkan kepercayaanmu. Kalau kamu sudah tidak percaya padaku, apapun yang aku lakukan akan selalu salah di matamu. Aku adalah bagaimana yang kamu pikirkan. Kalau di pikiranmu aku baik, maka aku baik. Tapi kalau aku buruk di pikiranmu, maka aku buruk. Apapun itu," ucap Dion.
__ADS_1
"Aa makan apa sih? Kok mendadak bijaksana sih?" tanya Mia.
"Makan daging mentah, sampai overdosis aku. Mau aku makan lagi?" tanya Dion.
"Gak, Mia mau mandi." Mia segera turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Dalam kamar mandi, Mia menatap perutnya yang semakin besar. Ini buah cintanya dengan Dion. Bagaimana mungkin Mia selalu mencurigai suaminya? Curiga itu membuatnya cape hati sendiri. Lagi pula, benar kata Dion. Kalau ia terus-terusan berpikiran buruk tentang Dion, kebaikan apapun yang dilakukan oleh Dion akan selalu buruk di matanya.
Kembar, bantu Mama biar kuat menghadapi semua ini ya! Jangan biarkan Mama buruk sangka terus ya!
"Mi, Mi, bisa mandi lebih cepat?" tanya Dion sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya A, sebentar." Mia mempercepat mandinya.
Hatinya terus bertanya, ada apa dengan Dion. Tapi dari nada suaranya, Dion nampak panik.
"A, ada apa?" tanya Mia setelah selesai mandi.
"Aku harus segera berangkat ke Surabaya. Ada kecelakaan di pabrik. Aku harus segera mengurus semuanya," ucap Dion.
Tak ingin Mia mengintrogasinya terlalu lama, Dion segera masuk ke kamar mandi. setelah beres mandi, Mia sudah menunggunya. Seperti dugaan Dion, hal yang akan Mia bahas adalah berita kecelakaan itu.
"Tapi bukan Sindi, kan?" tanya Mia.
"Bukan. Kamu jangan banyak pikiran. Dia sama sekali bukan orang yang kamu kenal, Mia." Dion mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Mia menyiapkan pakaian dan sepatu untuk suaminya. Meskipun hatinya terasa sangat berat, karena seharusnya, masih ada tiga hari lagi waktu libur Dion.
"Mi, kamu gak apa-apa kan?" tanya Dion.
"Aa hati-hati ya!" ucap Mia.
Terlihat sangat sedih, wajah Mia nampak murung. Dion tahu Mia kecewa, karena ia juga merasakan hal yang sama.
"Aku janji akan pulang lebih cepat dari biasanya ya!" ucap Dion.
Mia hanya mengangguk dan tersenyum. Tak ingin banyak berharap lebih, takut hatinya semakin kecewa.
"Di, apa kamu sudah mendengar kabar itu?" tanya Tuan Wira.
"Aku berangkat hari ini, Pa." Dion menjawabnya dengan penuh rasa yakin.
"Papa pikir kamu tidak ke sana. Kalau kamu cape, biar papa yang berangkat saja. Kamu istirahat di sini saja," ucap Tuan Wira.
Dion diam. Itu memang yang ia harapkan. Tapi apa mungkin itu keputusan yang baik?
"Biarkan Aa yang ke Surabaya Pa. Aa kan pemimpin di sana. Bagaimanapun, Aa yang harus bertanggung jawab atas semuanya." Mia menggenggam tangan Dion.
Mia, terima kasih untuk pengertianmu. Aku bakhan berpikir untuk mengiyakan ucapan Papa. Tapi kamu lebih tahu yang terbaik. Tuhaaaan, terima kasih sudah mengirimkan istri sepertu Mia untukku.
"Iya Pa, biar aku saja." Dion menatap mata Mia.
"Kamu gak apa-apa Mia?" tanya Tuan Wira.
Seperti yang Mia kira, Tuan Wira merasa tidak enak oleh Mia. Padahal Mia selalu belajar untuk profesional. Jika itu urusan kerja, Mia harus membedakannya dengan urusan pribadi. Mia harus tahu, kapan waktu untuk dirinya dan juga perusahaan. Sejatinya, apapun yang Dion lakukan, untuk Mia dan anak kembarnya juga.
"Nanti kan setelah semuanya selesai, Aa bisa pulang lagi. Jadi kenapa harus apa-apa," ucap Mia.
Jawaban yang sangat diharapkan oleh Tuan Wira dan Dion. Setelah sarapan, Mia memeluk Dion untuk salam perpisahan. Rasa rindunya masih membuncah, namun ini adalah resiko atas pekerjaan suaminya.
"A, hati-hati ya!" ucap Mia setelah mencium tangan Dion.
Dion mengangguk dan memeluk Mia. Setelah pamitan dengan istrinya, Dion pamit pada Nyonya Helen dan Tuan Wira.
"Jangan banyak pikiran. Mia akan baik-baik saja di sini. Ada Mama," ucap Nyonya Helen.
"Terima kasih, Ma." Dion memeluk Nyonya Helen.
"Di, jangan banyak pikiran. Nanti semakin mengkerut. Bahaya," ucap Tuan Wira.
Mia yang sudah mengerti dengan maksud mengkerut itu tidak bisa menahan tawanya. Tawa Mia akhirnya diikuti oleh Dion dan orang tuanya.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..