
Semalaman Sindi berusaha menenangkan perasaannya. Rasa untuk pulang selalu menghampiri dirinya, namun reda setelah melihat wajah Danu.
Sabar Sindi. Apa yang dilakukan Danu sebenarnya untuk kebaikan kamu juga.
"Belum ngantuk?" tanya Danu.
Sindi menggeleng.
"Mau makan?" tanya Danu.
Sindi masih menggeleng.
"Kamu kenapa sih? Marah sama aku?" tanya Danu.
"Gak," jawab Sindi.
"Terus kenapa? Aku gak ngerti sama kamu. Kalau sama Maya kamu ceria. Giliran sama aku kamu cuek," ucap Danu.
"Itu cuma perasaan kamu aja," ucap Sindi.
"Aku mau cari kopi dulu," ucap Danu.
Tanpa meminta persetujuan Sindi, Danu keluar dari ruangan itu. Namun ia tidak tega jika harus meninggalkan Sindi berdua dengan bayinya. Tapi kepalanya sudah sangat sakit. Nampaknya stok sabarnya sudah mulai menipis.
"Suster, tolong temani istri dan anak saya sebentar." Danu meminta seorang perawat untuk ke ruangan Sindi.
"Baik Tuan," jawab suster.
Danu melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kantin. Segelas kopi menemaninya malam ini. Bagaimanapun, ia harus tenang saat berhadapan dengan Sindi.
Sama-sama sendiri, keduanya menenangkan diri. Namun Sindi tidak lagi sendiri karena seorang perawat datang untuk menemaninya. Sempat badmood dengan apa yang sudah dilakukan oleh Danu.
Sindi kesal saat Danu mengirim suster untuk menemaninya. Padahal Sindi lebih menginginkan Danu yang berada di ruangan itu. Beruntung saat itu Mia meneleponnya.
"Sin, maaf ya aku sama Mama gak ke rumah sakit hari ini. Ada keperluan yang gak bisa ditinggalkan soalnya. Kamu kapan pulang?" tanya Mia.
"Gak apa-apa Mi. Aku udah mau pulang tapi kayaknya besom deh," ucap Sindi sedih.
"Kamu kenapa? Aku kan udah ingetin, jangan banyak pikiran. Itu gak baik buat produksi ASI kamu," ucap Mia mengingatkan.
Awalnya ragu, namun Sindi tidak bisa menahan semua rasa kesalnya pada Danu. Akhirnya Sindi bercerita tentang bagaimana perasaannya terhadap Danu saat ini.
Mia yang polos kini tumbuh menjadi seorang ibu yang sangat dewasa dan bijak. Ia menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Danu adalah bukti kasih sayangnya untuk Sindi.
"Kamu gak usah belain dia," ucap Sindi.
"Aku gak belain siapapun Sin. Mia cuma menjelaskan apa yang Mia alami. A Dion juga waktu Mia lahiran begitu. Gak boleh pulang dlu sebelum benar-benar sembuh total," ucap Mia.
"Tapi kamu juga kesel kan waktu itu?" tanya Sindi.
"Mia kesel. Tapi justru nyesel loh kalau inget Mia pernah menyia-nyiakan rasa cinta dari A Dion buat Mia," ucap Mia.
"Ah masa sih Mi?" tanya Sindi.
__ADS_1
Mia pun menjelaskan semuanya. Tentang perjuangan seorang suami yang ingin memastikan jika istrinya benar-benar baik-baik saja.
"Terima kasih ya Mi buat semuanya. Akhirnya aku lega banget karena udah ngeluarin semua unek-unek ini," ucap Sindi.
"Iya sama-sama. Istirahat yang cukup biar gak selalu berpikiran buruk," ucap Mia.
Setelah panggilan Mia berakhir, tak lama Danu kembali ke ruangan. Suster itu keluar saat Danu memberinya kode. Hal mengejutkan Danu rasakan saat Sindi tiba-tiba begitu baik dan sangat berubah dari sebelumnya.
"Kamu baik-baik aja kan Sin?" tanya Danu bingung.
Melihat Sindi yang cemberut, membuat Danu menghentikan pertanyaannya. Ia tidak lagi menunggu jawabannya. Bahkan melupakan pertanyaan itu. Merasa suasana tidak membaik, Danu meminta Sindi untuk segera tidur.
Sindi sendiri melakukan hal yang sama. Tidak ingin masalahnya muncul kembali, Sindi segera memejamkan matanya.
Mia, susah banget mau sabar dan mengerti maksud baik dari suami. Sepertinya aku harus banyak berlatih. Kasihan Danu kalau aku begini terus-terusan.
Keesokan harinya, Sindi benar-benar menanamkan dalam dirinya untuk sabar dan mengingat semua kasih sayang Danu padanya. Di waktu yang sama, Danu juga menanamkan hal yang sama. Sehingga mereka berdua saling memahami satu sama lain.
"Sin," panggil Nyonya Nathalie.
"Bu," ucap Sindi.
"Pulang sekarang?" tanya Nyonya Nathalie.
"Ibu gak dikasih tahu sama Danu kalau aku mau pulang?" tanya Sindi.
"Tahu, makanya Mami ke sini. Mami sengaja mau jemput kamu," ucap Nyonya Nathalie.
Sindi masih belum terbiasa dengan sebutan Mami pada Nyonya Nathalie. Ia masih setia dengan panggilan Ibu.
"Ih, mana mungkin Mami membiarkan kamu pulang sendiri. Tapi maaf, Papi gak bisa ke sini. Soalnya ada meeting penting pagi ini," ucap Nyonya Nathalie.
"Bu, terima kasih ya!" ucap Sindi dengan penuh haru.
Sindi berjalan dibantu oleh Danu. Sementara bayinya digendong oleh Nyonya Nathalie. Ada rasa sedih saat mengingat Nyonya Helen tidak ikut menjemput. Padahal ia sudah memberi tahu Nyonya Helen dan Mia perihal kepulangannya. Namun ia segera menepisnya. Mungkin sedang sibuk. Begitu pikiran Sindi.
"Kamu mikirin apa?" tanya Danu.
"Gak," jawab Sindi sembari menggelengkan kepalanya.
Mobil melaju dengan cepat. Dalam perjalanan, Sindi masih terus meredam rasa kecewanya. Ia berusaha menerima kenyataan jika hanya Nyonya Nathalie yang menjemputnya.
"Hey, ayo turun! Sudah sampai," ucap Danu.
"Eh iya," ucap Sindi.
Dengan langkah gontai, Sindi keluar dari mobil. Tangannya yang digenggam oleh Danu, membuat Sindi berusaha menguatkn dirinya. Perlahan dia mengikis rasa kecewanya.
"Surpriseeee," teriak orang-orang saat menyambut kedatangan Sindi.
Semanya berkumpul. Mata Sindi berlinang terlebih saat melihat Tuan Felix dan Rian.
"Selamat datang ibu hebat," ucap Nyonya Helen sembari memeluk Sindi.
__ADS_1
"Aku pikir Mama gak ke sini," ucap Sindi.
"Mana mungkin Mama gak peduli sama kamu. Mama sayang banget sama kamu," ucap Nyonya Helen sembari mencium pipi Sindi.
"Mama," ucap Sindi dengan penuh rasa bahagia.
"Sindi, mau peluk aku?" tanya Tuan Felix saat Nyonya Helen sudah melepaskan Sindi.
Tanpa jawaban, Sindi berjalan mendekat dan memelum Tuan Felix yang sudah lebih dulu merentangkan tangannya.
"Selamat ya! Kamu ibu hebat," ucap Tuan Felix.
"Terima kasih," ucap Sindi.
"Halo Mama hebat. Ini buatmu," ucap Rian.
"Apa ini?" tanya Sindi.
"Buka saja!" jawab Rian.
Sebuan kotak ringan yang sudah berada di tangannya perlahan ia buka. Sesekali matanya melihat ek arah Rian, berharap Rian menjawab rasa penasarannya. Namun Rian hanya tersenyum. Sepertinya Rian lebih menginginkan Sindi mencari jawabannya sendiri.
"Waw," ucap Sindi dengan mata yang terbuka lebar.
"Suka?" tanya Rian.
"Suka," jawab Sindi dengan begitu kagum.
"Maaf ya Kak, saat ini aku belum bisa menghasilkan uang sendiri. Aku mau ngasih Kakak dengan apa yang aku punya. Makanya untuk saat ini aku cuma kasih lukisan itu," ucap Rian.
"Ini bagus Rian. Dari mana kamu dapat foto anakku?" tanya Sindi.
"Kak Mia yang kirim fotonya," jawab Rian.
"Mia? Jadi Mia tahu kalau kamu mau ke sini?" tanya Sindi.
Mia bahkan tidak memberi tahunya kalau Tuan Felix dan Rian akan ke Indonesia. Bahagianya semakin besar saat tahu kalau mereka berdua sengaja datang ke Indonesia untuk menengok Sindi.
Rasa kecewanya kini hilang tak tersisa. Ia sungguh bahagia saat melihat semuanya berkumpul dan memberinya selamat serta semangat.
Terima kasih semuanya. Aku janji akan selalu berusaha menjadi ibu yang baik. Aku akan tunjukkan kalau aku benar-benar bisa menjadi ibu yang hebat.
"Permisi," ucap Maya dan Reza.
"Haii," ucap Sindi.
Sebuah bucket bunga berukuran cukup besar diberikan Maya untuk Sindi. Sebuah kartu ucapan Sindi ambil dan baca.
'Selamat atas kelahiran anaknya, Ibu hebat.'
Bibir Sindi kembali merekah. Ia senang saat semua orang menyebutnya ibu hebat. Ia merasa benar-benar semangat untuk berusaha menjadi ibu yang hebat.
"Terima kasih Nyo," ucapan Sindi terhenti.
__ADS_1
"Maya," potong Maya.
"Oh ya. Terima kasih Maya," ucap Sindi sembari memeluk Maya.