
"Mi, jangan marah begitu dong.Kita kan baru aja baikan. Aku minta maaf ya!" ucap Dion.
"Iya gak apa-apa. Mia bisa ganti baju kok," ucap Mia.
Kembali hati Mia melunak saat mendengar permintaan maaf dan perlakuan Dion.
"Kamu memangnya mau ngomong apa sampai teriak begitu?" tanya Dion.
"Oh iya, Mia sampai lupa. Kita lupa ke rumah sakit. Reza pasti nungguin kita," ucap. Mia.
"Aku sudah mengabari Reza kok Mi. Kamu tenang aja," ucap Dion.
"Oh ya? Kapan?" tanya Mia.
"Tadi," ucap Dion.
"Maaf ya A. Mau berangkat sekarang aja? Mood aku udah baikan kok," ucap Mia.
Dion menggeleng.
"Besok aja. Sekarang kamu istirahat ya!" ucap Dion.
Mia mengangguk dan menunduk. Ia merasa sedih karena tidak bisa menguasai emosinya. Tidak seharusnya Mia marah pada Dion. Ini semua bukan salah Dion.
"A, memangnya Mia salah ya kalau cemburu?" tanya Mia.
"Gak dong. Itu wajar sih kalau menurut aku. Aku hanya ingin mengingatkan kalau gak ada yang harus kamu takutkan. Aku adalah suami kamu. Tidak ada alasan apapun untuk meninggalkanmu. Aku mencintaimu dan bayi kembar kita," ucap Dion sembari mengusap perut besar Mia.
"Makasih ya A. Mia janji Mia gak bakal peduli sama apapun yang wanita itu lakukan. Mia sayang sama Aa," ucap Mia.
Mia tersenyum dan memeluk Dion. Mia sendiri menyadari apa yang ia ucapkan dengan mudah, tidak akan semudah menjalaninya. Jangankan menghadapi Niki yang selalu membuatnya naik darah, hanya mengingat namanya saja bisa membuat ia cemburu tidak karuan.
Kriiing.. Kriiiing
Dering ponsel Dion terdengar sangat nyaring. Ia meraih ponsel dari dalam saku celananya, lalu melihat nama pemanggil.
"Papa," ucap Dion. "Sebentar ya!" lanjut Dion.
Setelah Mia mengangguk, Dion menjawab panggilannya.
"Pa, dimana?" tanya Dion.
"Di, Papa di bandara. Kamu dimana?" tanya Tuan Wira dari balik sambungan teleponnya.
"Aku di rumah Pa. Kenapa?" tanya Dion.
"Bisa temani Papa sekarang?" tanya Tuan Wira.
"Temani kemana Pa?" tanya Dion.
"Ada teman Papa. Bilangnya sih mau ngajak kerja sama. Tapi Papa cape. Kalau sendiri, takut Papa gak konsen. Mau ditolak juga gak bisa," jawab Tuan Wira.
"Kenapa gak besok aja Pa ketemuannya?" tanya Dion.
"Teman Papa ini dari luar negeri. Besok pagi dia sudah kembali ke negaranya. Jadi cuma ada waktu malam ini," ucap Tuan Wira.
"Oh gitu ya! Jadi dimana ketemunya?" tanya Dion.
"Kamu berangkat sekarang aja ya! Kita ketemu di cafe dekat sini," jawab Tuan Wira.
Dion yang sengaja mengaktifkan loudspeaker pada panggilannya, menatap Mia. Ia butuh tanggapan Mia. Rasa khawatir itu muncul karena takut jika Mia tidak mengizinkannya pergi. Namun Dion memang beruntung karena Mia selalu mengerti urusan pekerjaan. Mia tahu resiko yang harus ia tanggung saat memiliki suami seperti Dion.
"Oke Pa. Aku berangkat sebentar lagi ya!" ucap Dion dengan pasti.
Setelah mia mengangguk, Dion menajwab Tuan Wira dengan sangat yakin. Karena satu-satu alasannya untuk tidak pergi adalah Mia. Ketika Mia mengiyakan, maka tidak ada lagi beban. Ia pergi setelah berpamitan pada Mia.
Dion mencari Nyonya Helen untuk pamit. Saat mengetahui kalau Nyonya Helen sedang tidur, Dion mengurungkan niatnya. Biarlah ia tidak izin, ia tidak mau mengganggu ibunya yang sedang istirahat. Lagi pula, Nyonya Helen pasti tahu dari Tuan Wira atau Mia. Dion melaju cukup lambat karena jalanan cukup padat.
Beberapa kali Dion melihat jam berwarna silver yang melingkar di pergelangan tangannya. Gelisah mulai melanda dirinya. Tuan Wira pasti sudah menunggunya. Dion hanya berharap kalau teman ayahnya itu belum datang. Namun sepertinya harapannya pupus karena panggilan Tuan Wira membuktikan kalau teman ayahnya itu sudah ada di sana.
"Pa," panggil Dion.
"Di, sini!" ucap Tuan Wira.
"Maaf terlambat," ucap Dion.
"Oke, gak masalah. Oh ya kenalin ini Tuan Felix, teman Papa dari Jerman." Tuan Wira mengenalkan Dion.
"Halo Tuan. Dion," ucap Dion mengenalkan dirinya sembari mengulurkan tangan.
"Felix," ucap Tuan Felix sembari menerima uluran tangan Dion.
__ADS_1
Dion mengangguk dan duduk. Tidak banyak bicara, Dion berusaha mencari tahu bagaimana Tuan Felix ini. Ia hanya selalu berusaha bersikap ramah dan sangat sopan.
Dion nampak terkejut saat mendengar Tuan Felix itu cukup pandai menggunakan bahasa Indonesia, walaupun logatnya terdengar sangat lucu. Bahkan selama mengobrol, Tuan Felix lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dibanding dengan bahasa Inggris. Bahkan Dion tidak mendengar Tuan Felix menggunakan bahasa Jerman sekalipun.
Saat ini, kali pertama bagi Tuan Felix mengunjungi Indonesia setelah hampir sepuluh tahun ia tidak menginjakkan kakinya di negara ini. Bertemu dengan Dion membuat Tuan Felix merasa kalau ia akan sering berkunjung ke Indonesia. Tawarannya untuk bekerja sama semakin menemukan titik terang. Dion memang pandai membuat Tuan Felix langsung menyusun kontrak yang akan mereka jalani dalam waktu dekat ini.
Cukup lama, jam sepuluh malam mereka baru menyudahi semuanya. Sempat memberikan tawaran untuk menginap di rumah Tuan Wira, namun tawarannya ditolak oleh Tuan Felix.
"Lain kali aku pasti akan ke rumahmu," ucap Tuan Felix.
"Aku tunggu," ucap Tuan Wira.
Setelah pamitan, Tuan Wira dan Dion pergi meninggalkan Tuan Felix dan seorang asistennya yang masih duduk di sana.
"Dion," panggil seorang wanita.
Suara itu tidak lagi asing di telinga Dion. Suara yang sangat ia rindukan saat itu, namun menjadi suara yang paling tidak ingin ia dengar saat ini. Tidak merespon, Dion tetap berjalan bahkan mempercepat langkahnya.
"Dion, tunggu!" ucap Niki.
Ya, wanita itu Niki. Bahkan Niki sampai harus berlari demi mengimbangi langkah Dion agar tidak ketinggalan. Niki meraih tangan Dion, namun Dion segera menghempaskan tangannya.
"Ada apa lagi?" tanya Dion ketus.
Tuan Wira tidak ingin ikut campur. Ia hanya masuk ke dalam mobil yang letaknya hanya beberapa langkah dari Dion dan Niki.
"Kamu kenapa sih menghindar begini? Aku tahu kamu sudah menikah, tapi kita masih bisa jadi teman baik kan?" tanya Niki.
"Maaf Niki tapi aku tidak butuh sahabat seperti kamu. Aku punya Mia. Dia adalah istriku tapi bisa menjadi teman baik dan partner di segala sisi. Jadi kehadiran Mia sudah cukup buat aku," jawab Dion.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu secara halus, jangan salahkan aku jika aku akan mendapatkan kamu dengan cara kasar. Kamu yang memaksaku untuk melakukan semua ini," ucap Niki.
"Heh, jangan salahkan aku kalau nanti nama dan foto kamu menjadi topik utama di setiap media," ucap Tuan Wira.
Dion dan Niki terkejut dengan sikap Tuan Wira. Tidak disangka ternyata Tuan Wira merekam apa yang Niki ucapkan pada Dion. Hingga Niki menjadi pucat saat Tuan Wira memperlihatkan layar ponselnya yang menayangkan adegan beberapa detik lalu itu.
"Semua pilihan ada di tangan kamu. Aku hanya ingin mengingatkan kamu untuk tidak macam-macam dengan menantuku. Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakiti menantuku, termasuk anakku sendiri." Senyum sinis Tuan Wira membuat Niki semakin pucat.
Niki tidak bisa berkutik dengan setiap ancaman Tuan Wira. Bahkan tidak seucap katapun yang keluar dari mulut Niki. Ia bungkam seketika dengan apa yang dilakukan Tuan Wira. Fikirannya melayang ke beberapa kemungkinan yang akan terjadi jika sampai video itu benar-benar menyebar.
"Bagaimana? Aku sudah menyimpan kartu as mu," ancam Tuan Wira.
Kalimat itu membuyarkan lamunnya. Matanya hanya sekilas menatap wajah Tuan Wira lalu Niki pergi meningalkan kedua pria itu. Langkahnya semakin cepat dan semakin cepat. Hingga ia berlari sembari menangis. Beberapa kali Niki mengusap air matanya dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Bekali-kali Niki berteriak dan memukul setir kemudinya. Tangisannya semakin menjadi hingga isak tangisnya semakin terdengar nyata. Dadanya menjadi sakit, hingga harus menurunkan kecepatan mobilnya.
Semakin lama, sesaknya semakin menjadi hingga Niki menepi. Mematikan mesin mobilnya dan menunduk.
"Kenapa selalu aku yang kalah?" tanya Niki.
Niki meratapi nasibnya yang merasa selalu tidak beruntung. Niki yang gagal kembali dalam hubungan percintaannya, membuatnya melakukan hal ini. Disaat ia tengah terpuruk, ia mendengar bahkan melihat kalau Mia semakin naik daun. Namanya semakin terkenal bahkan sampai ke telinga Niki. Tentu hal ini membuat Niki iri. Ia tidak ingin menderita sendirian. Rasanya tidak suka saat melihat Dion bahagia bersama Mia. Padahal baru saja ia senang saat mendengar Reza sedang bermasalah dengan keluarganya. Bahkan ia bersorak saat mendengar karir Reza semakin hancur.
"Miaaaaa, semua gara-gara kamuuu." Niki berteriak.
Nama Mia memang selalu memacu amarahnya. Wajah Mia yang memang cantik, tidak terlihat seperti wanita kampung meskipun kadang sikapnya memang kampungan. Namun kini penampilannya semakin modis dan sudah bisa mengimbangi Dion. Itu membuat Niki semakin kesal.
Jika aku tidak bahagia, kalian juga tidak boleh bahagia. Reza sudah menderita. Dan sekarang kamu. Dion, kamu harus menderita. Tapi Tuan Wira benar-benar melindungi wanita kampung itu. Sial! Aku sulit untuk membuat Mia hancur. Apa sih yang kamu lakukan sampai Tuan Wira sebegitu menyayangimu?
Kepalanya meracau tak jelas. Niki nampak sangat frustasi. Ia bahkan mulai terfikir untuk pergi ke bar dan mencari ketenangan malam ini.
Sementara di tempat lain, Dion sedang sangat bahagia dengan apa yang Tuan Wira lakukan.
"Aku gak nyangka loh kalau Papa bisa secerdas ini," ucap Dion.
"Eh, kamu kemana aja? Papa itu udah cerdas dari lahir," ucap Tuan Wira.
"Baru dipuji segitu juga udah melayang. Apalagi kalau Niki benar-benar gak ganggu Mia lagi," ucap Dion.
"Kamu tenanh aja. Wanita itu tidak akan mengganggu Mia. Papa tidak akan membiarkan Mia diganggu. Dan kamu! Awas kalau sampai kamu berani menyakiti Mia. Papa gak akan maafin kamu Dion," ucap Tuan Wira mengingatkan.
"Siap. Papa tenang aja. Aku gak mungkin nyakitin Mia. Gak ada alasan aku buat bikin Mia sakit hati. Aku hanya akan berusaha untuk membuat Mia bahagia," ucap Dion.
"Nah begitu dong. Itu baru anak Papa," ucap Tuan Wira.
"Iya dong," jawab Dion.
Dion merasa bahagia saat melihat ketulusan kasih sayang Tuan Wira pada Mia. Ia merasa beruntung karena memilih wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Mia memang mendapatkan kasih sayang tulus, karena Mia juga menyayangi orang tua Dion dengan tulus.
"Lagian kamu kenapa bisa kenal sama wanita yang tadi itu sih?" tanya Tuan Wira.
Niki. Wanita yang dimaksud Tuan Wira adalah Niki. Wajah Dion yang tengah bahagia itu berubah menjadi masam. Rasanya ia enggan membahas kembali soal Niki. Ia tidak ingin membuka masa lalunya yang kelam.
__ADS_1
"Namanya juga takdir. Lagian itu kan hanya bagian dari masa lalu Pa," jawab Dion.
"Iya sih. Tapi hati-hati loh, jangan biarkan sedikitpun celah masa lalu masuk ke kehidupan kamu sekarang. Karena itu bisa merusak masa depanmu," ucap Tuan Wira.
Ucapan Tuan Wira dibenarkan oleh Dion. Bahkan ia sudah ribut dengan Mia karena kehadiran Niki tadi siang. Dion akan berusaha untuk menghindari Niki untuk bertemu dengan dirinya dan Mia.
"Iya. Aku juga tahu kok. Papa tenang aja," ucap Dion.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi karena keadaan jalan yang sudah mulai sepi. Setidaknya perjalanan pulang ke rumah lebih cepat dibanding saat Dion berangkat ke cafe.
"Papa, Dion," sapa Nyonya Helen saat kedua ayah dan anak itu baru membuka pintu.
"Mama, bikin kaget aja deh," ucap Tuan Wira.
"Mama kan sengaja menyambut Papa. Kok malah marah sih?" tanya Nyonya Helen.
"Siapa yang marah sih?" tanya Tuan Wira.
"Itu tadi Papa marah sama Mama," jawab Nyonya Helen.
"Papa gak marah, cuma kaget aja. Tanya Dion. Papa gak marah kan Di?" tanya Tuan Wira.
"Aku gak ngerti apa-apa. Aku masuk dulu ya! Mau bobo," jawab Dion sembari mengangkat tangannya.
Dion pergi meninggalkan Nyonya Helen dan Tuan Wira yang masih berdebat. Hal itu tentu membuat Tuan Wira semakin kesal, apalagi saat Nyonya Helen terus mengajaknya berdebat panjang lebar.
"Mia," panggil Dion.
Setelah membuka pintu kamar, Dion melihat istrinya tengah tertidur. Punggungnya napak membelakangi arah pintu. Namun tidak adanya jawaban dari Mia, Dion yakin kalau Mia sudah tidur. Namun Dion merasa heran saat melihat ponsel Mia berada di atas telinganya.
Dion berjalan mendekati Mia, mendekat dan mendengarkan panggilan itu. Tidak terdengar apapun. Dengan pelan Dion mengambil ponsel dari atas telinganya, tidak ada panggilan dari siapapun. Karebna penasaran, Dion memeriksa ponsel Mia. Mengecek panggilan terakhir Mia.
Dahi Dion mengerut.
"Sindi?" ucap Duon pelan.
Dion mencari kemungkinan yang membuat Mia menghubungi Sindi sampai ia ketiduran dengan posisi ponsel di telinganya. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Dion menelepon kembali Sindi menggunakan ponsel Mia.
"Halo Mi. Kok bangun lagi? Tuan Dion belum pulang?" tanya Sindi dari balik sambungan teleponnya.
Tanpa menjawab, Dion justru menutup. panggilan telepon itu. Sindi yang merasa khawatir, justru kembali. menghubungi Mia.
"Ada apa? Jangan ganggu istriku malam-malam begini," ucap Dion.
"Tuan?" tanya Sindi tidak percaya.
Berkali-kali Sindi meminta maaf. Hal ini tentu dijadikan kesempatan oleh Dion untuk mencari tahu apa yang Mia bahas dengan Sindi. Akhirnya Dion tersenyum bahagia saat mendengar jawaban Sindi.
Dari penjelasan Sindi, Dion menyimpulkan apa yang Mia rasakan. Mia sangat mencintai Dion, hingga mungkin terkesan posesif karena takut kehilangan. Karena bagi Mia, hanya keluarga Dion yang membuatnya bertahan sampai saat ini. Sempat tersentuh jika mendengar Mia kembali membahas ibunya yang sudah tidak ada.
"Tetaplah temani istriku saat ia membutuhkanmu. Tapi ingat jangan mengganggu waktu istirahatnya. Kamu kan tahu kalau istriku sedang hamil," ucap Tuan Wira setelah puas dengan penjelasan Sindi.
Entah ke berapa kali Dion menyebut kata istriku. Dion seolah menegaskan kalau Mia adalah miliknya.
"Iya Tuan maaf. Tapi saya menelepon Nyonya Mia karena tadi ada panggilan masuk," ucap Sindi membela diri.
"Apapun alasannya," ucap Dion.
"Ah iya baik Tuan. Maafkan saya," ucap Sindi.
Tak lama panggilan itu berakhir. Dion mengganti pakaian dan tidur disamping Mia. Rasanya bahagia saat Mia mulai menceritakan perasaan cintanya untuk Dion.
"Maafin aku karena udah ninggalin kamu sampai malam begini ya? Kamu pasti kesepian dan butuh teman cerita, makanya kamu nelepon Sindi sampai ketiduran. Kasihan sekali kamu, Mi. Apa aku perlu membawa Sindi ke sini agar kamu tidak kesepian?" gumam Dion pelan.
Tangannya mengusap kepala Mia.
CUP
Kecupan hangat mendarat di dahi Mia. Mia yang tidur nyenyak tidak bergeming sedikitpun. Tak lama Dion mengusap perut besar Mia.
"Selamat tidur kembarnya Papa. Sehat-sehat ya! Maaf Papa belum sempat jenguk. Besok Papa gas ya! Kalian tunggu kiriman oleh-oleh dari Papa. Dijamin banyak dan berkualitas deh pokoknya," ucap Dion sembari tertawa kecil. Ia merasa geli sendiri dengan ucapannya.
####################
Buat pembaca semua, mohon maaf ya kalau cerita mimin gak sesuai dengan harapan kalian. Ini memang yang ada di kepala Mimin saat ini. Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..