Janda Bersegel

Janda Bersegel
Gara-gara jengkol


__ADS_3

Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie sudah menunggu di meja makan. Tapi Danu masih juga belum keluar dari kamarnya.


"Danu ngapain sih lama sekali?" gerutu Nyonya Nathalie yang sudah tidak sabar ingin segera makan jengkol.


"Mia, panggil Danu!" pinta Tuan Ferdinan.


"Baik pi," ucap Mia. Mia pergi ke kamar Danu untuk memintanya segera keluar untuk makan. "Mas," panggil Mia.


"Iya," jawab Danu.


"Papi udah nunggu," ucap Mia.


"Ayo!" ajak Danu untuk segera menemui Tuan Ferdinan.


Mia mengikuti Danu untuk segera ke ruang makan.


"Lama sekali. Kamu kalau bangun ya mata dulu. Jangan anuan kamu yang bangun duluan. Jadinya selalu telat," ucap Tuan Ferdinan kesal.


Danu diam tak menjawab ocehan Tuan Ferdinan karena tak ingin berdebat. Ini masih terlalu pagi untuk berdebat dengan ayahnya.


"Ayo makan!" ajak Nyonya Nathalie.


"Mia, ini sarapan bukan makan siang. Ini menu buat makan siang," ucap Danu.


"Tapi mas, kalau di sini menunya ya begini. Kalau mas gak mau, Mia ke warung dulu ya! Mia beli roti sama susu dulu. Tapi rotinya gak ada yang empuk seperti di rumah mas. Gak apa-apa?" tanya Mia.


"Danu, kamu itu jangan merepotkan Mia. Sudah, makan saja apa yang ada." Nyonya Nathalie merasa tidak enak pada Mia.


Danu dan Tuan Ferdinan cemberut dan menatap masakan Mia dengan malas.


"Ayo makan!" ajak Nyonya Nathalie.


Awalnya mereka enggan untuk sarapan makanan berat seperti itu. Apalagi menunya terlalu sederhana bagi Danu dan Tuan Ferdinan. Mungkin bagi Nyonya Nathalie juga sama, hanya saja ia menjaga perasaan Mia yang sudah menyiapkan masakan itu sejak pagi. Hingga Nyonya Nathalie terlihat sangat antusias dengan masakan Mia.


Mia terlihat sangat lahap menikmati sarapan dengan menu makan siang itu, mereka hanya menatap Mia. Perlahan suapan demi suapan masuk ke mulut Danu dan Tuan Ferdinan. Enak! Ya begitulah. Nasi hangat dengan menu sederhana itu ternyata bisa memanjakan lidahnya. Danu dan Tuan Ferdinan makan lebih lahap dari Mia.


Jengkol, makanan yang membuat Danu dan Tuan Ferdinan bergidik itu, kini menjadi madona. Diperebutkan oleh dua orang yang makan lebih banyak dari porsi biasanya itu.


"Pi, jangan banyak-banyak. Udah tua nanti asam urat kambuh," ucap Danu mengambil piring berisi goreng jengkol.


"No. Kamu yang jangan banyak-banyak. Masih muda, masa anak muda mulutnya bau jengkol sih? Malu nanti sama teman-teman kamu," ucap Tuan Ferdinan merebut piring itu dari tangan Danu.


Keduanya masih saling tarik piring itu, hingga Nyonya Nathalie menghentikan tingkah keduanya.


"Cukup! Sini piringnya" Nyonya Nathalie mengambil piring yang sedang diperebutkan itu.


Tuan Ferdinan dan Danu hanya menatap Nyonya Nathalie yang sedang membagi jengkol. Ada lima potong jengkol yang tersisa. Nyonya Nathalie membagi satu ke piring Danu dan Tuan Ferdinan, sementara toga potong lagi ia masukkan ke dalam piringnya.


"Aman. Ayo lanjut makan!" ucap Nyonya Nathalie menikmati kembali makan paginya.


"Aman apanya? Tidak adil kalau begini," gerutu Tuan Ferdinan.


Nyonya Nathalie tidak mau banyak berdebat dengan suami dan anaknya, hingga ia lebih memilih untuk pura-pura tidak mendengar ocehan suaminya.


"Nanti kalau di Jakarta, Mia buatkan lagi goreng jengkol buat papi dan mas ya!" ucap Mia.


Keduanya mengngguk namun masih cemberut. Nampaknya mereka masih belum ikhlas ketiga potong jengkol itu berpindah ke piring yang salah.


Selesai makan, Mia dengan cekatan membereskan dan mencuci piring dan gelas kotor. Semua ia lakukan sendiri. Tanpa lelah Mia terus melakukan pekerjaan rumahnya sendirian.


"Kau tidak lelah Mia?" tanya Tuan Ferdinan.

__ADS_1


"Mia sudah biasa, Pi. Dulu Mia dapat uang dari kerja begini," ucap Mia.


Perasaan sedihnya singgah kembali kala Mia mengingat perjuangan hidupnya bersama Bu Ningsih. Dulu Mia bekerja banting tulang seperti itu semata-mata untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, Mia juga tetap bekerja meskipun kadang ia merasa lelah dan tidak enak badan. Karena kalau Mia tidak memberi uang pada Pak Baskoro, maka Bu Ningsih yang akan jadi korban kekesalan ayahnya. Tak jarang Bu Ningsih dimaki bahkan dipukul, ketika Pak Baskoro melampiaskan kekesalannya.


"Mia, apa papi salah bicara?" tanya Tuan Ferdinan saat melihat raut wajah Mia terlihat murung.


"Ah, tidak. Papi tidak salah apapun. Mia hanya mengingat masa lalu Mia yang begitu kelam. Mia selalu menggunakan otot untuk mengahasilkan uang. Tapi sekarang, setidaknya otak Mia masih bisa bermanfaat. Mia bisa bekerja menggunakan otak. Semua berkat keluarga papi. Terima kasih banyak ya pi," ucap Mia.


"Semua berkat kecerdasan yang kamu miliki, Mia. Kamu memang berkompeten, hanya saja saat itu lingkungan di sini tidak mendukungmu." Tuan Ferdinan bangga pada Mia.


Waktu sudah semakin siang. Sudah waktunya mereka kembali ke Jakarta. Hanya Mia yang tidak ikut karena menunggu 40 hari kepergian ibunya.


"Maafin Mami ya! Mami tidak bisa menemani kamu di sini lama-lama," ucap Nyonya Nathalie.


Mia memeluk dan mengangguk dalam dekapan Nyonya Nathalie. Mia merasa ada ketulusan seorang ibu dari Nyonya besar itu. Air mata Mia mengantarkan kepergian ketiganya untuk kembali ke Jakarta, meninggalkan Mia yang kesepian di Bandung.


Danu sebenarnya tidak enak hati jika harus melihat Mia sendirian di Bandung. Namun apa daya, pekerjaannya sudah menunggu. Lagipula, Danu juga tidak mau Mia menjadi bahan gunjingan lagi kalau ia berlama-lama di rumah Mia.


"Jangan sedih begitu dong! Makanya cepat nikahin, jangan digantungin. Jemuran aja digantung lama-lama hilang ada yang maling. Apalagi rasa. Jangan salahin Mia ya kalau tiba-tiba kamu dapet undangan dari Mia," ucap Tuan Ferdinan.


"Apaan sih pi," ucap Danu.


"Loh, tapi bisa jadi loh. Mia itu ibarat janda kembang. Pasti banyak juragan sawah yang ngincer Mia. Dia kan pinter sama jago masak," ucap Nyonya Nathalie.


"Mami, bukan juragan sawah," ucap Tuan Ferdinan.


"Apa dong?" tanya Nyonya Nathalie.


"Juragan kebon," jawab Tuan Ferdinan yang tertawa lepas.


Nyonya Nathalie ikut tertawa mendengar jawaban suaminya. Hanya Danu yang terlihat kesal dengan kelakuan orang tuanya.


Tapi benar juga! Mia itu tidak hanya cerdas dan pintar masak. Tapi Mia itu masih muda dan sangat cantik. Pasti akan banyak duda yang mengincarnya. Danu jadi tidak enak perasaan. Rasanya ingin segera sampai ke rumah dan menghubungi Mia, untuk memastikan kalau janda cantik itu tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dengan dirinya.


"Pak, berhenti dulu di toilet," ucap Danu.


Mobil berhenti sampai pom. Danu keluar dan berlari menuju toilet. Danu merasa perutnya sangat sakit hingga tak bisa di tahan.


Tuan Ferdinan juga segera turun dan menyusul Danu ke toilet. Ternyata apa yang dirasakan Danu juga dirasakan oleh Tuan Ferdinan.


Danu keluar dari toilet dengan wajah yang pucat sambil memegang perutnya. Ia terkejut ketika melihat ayahnya juga keluar dari toilet dengan wajah dan ekspresi yang sama dengannya.


"Papi?" tanya Danu.


"Apa?" tanya Tuan Ferdinan dengan kesal.


"Aduh," pekik keduanya bersamaan dan segera masuk kembali ke dalam toilet.


Setelah drama bolak balik masuk ke kamar mandi, akhirnya mereka kembali ke dalam mobil. Keduanya nampak berjalan gontai dan sangat pucat.


"Pi, langsung ke dokter ya! Aku gak kuat," ucap Danu.


"Iya, papi juga gak tahan ini. Lemes banget," ucap Tuan Ferdinan.


"Berangkat pak!" ucap Danu pada sopirnya.


"Maaf, Tuan. Tapi Nyonya masih di luar," jawab sopir itu.


"Mami?" ucap Tuan Ferdinan yang baru menyadari kalau istrinya tak ada di dalam mobil.


"Kemana mami?" tanya Danu.

__ADS_1


"Ke toilet, Tuan." Doni menunjuk ke arah toilet.


"Sama dong pi?" tanya Danu sambil menahan tawa.


"Semua gara-gara jengkol," ucap Tuan Ferdinan.


"Papiiii," teriak Nyonya Nathalie dari luar mobil.


"Mami gak kuat. Mules, sakit banget perut mami. Panggil dokter!" ucap Nyonya Nathalie.


"Iya Mi iya. Ayo cepat naik. Nanti kita langsung ke dokter. Papi juga udah gak kuat ini," ucap Tuan Ferdinan.


"Tapi mami udah gak kuat Pi," ucap Nyonya Nathalie.


"Mami mau berobat di dokter sembarangan? Papi mau ke dokter langganan aja. Biar obatnya bagus dan cocok. Kalau dokternya sembarangan, takut makin sakit perut papi." ucap Tuan Ferdinan.


"Ya sudah cepat pak, ngebut bawa mobilnya." Nyonya Nathalie meminta sopirnya untuk segera tancap gas.


Mobil melaju dengan cepat dengan membawa tiga orang pasien korban jengkol. Mereka terus mengaduh dan memegang perutnya dengan wajah yang semakin pucat. Setiap ada toilet, mereka berhenti dan sudah pasti terjadi drama bolak balik kamar mandi.


Saat sudah sampai Jakarta, mereka dijemput oleh tiga orang perawat untuk segera diperiksa dokter.


"Silahkan berbaring, biar saya periksa!" Dokter itu mempersilahkan mereka satu persatu untuk diperiksa.


Namun ternyata Dokter itu dibuat terkejut saat melihat ketiga pasiennya justru berebut untuk diperiksa lebih dulu.


"Maaf, bergantian saja. Saya tidak bisa memeriksa tiga pasien sekaligus," ucap Dokter itu.


"Saya dulu," ucap Danu.


"Tidak bisa, Mami dulu. Mami udah gak kuat ini," ucap Nyonya Nathalie.


"Eh, papi dulu dong. Papi kan kepala keluarga. Jadi harus papi yang duluan. Minggir," ucap Tuan Ferdinan menggeser istri dan anaknya.


"Tidak bisaaaa," teriak Danu dan Nyonya Nathalie bersamaan.


Dokter itu menggelengkan kepalanya. Akhirnya ia mengambil jalan tengah untuk konsultasi dulu. Dokter menanyakan apa keluhan yang dialami oleh mereka bertiga. Dokter itu menahan tawa saat mendengar keluhan mereka. Ternyata hanya karena makan jengkol mereka semua mules dan lemas seperti itu.


Akhirnya dokter memberikan obat untuk ketiganya.


"Kok obatnya sama begini?" tanya Tuan Ferdinan.


"Memangnya kenapa?" tanya dokter itu.


"Sebenarnya dokter sudah benar-benar memeriksa kami belum?" tanya Tuan Ferdinan.


"Sudah," jawab Dokter itu dengan bingung.


"Terus kenapa obatnya sama?" ucap Tuan Ferdinan masih ngotot.


"Maaf Tuan, tapi keluhan kalian sama. Jadi saya pasti memberi obat yang sama," ucap Dokter itu.


"Oh, iya ya!" ucap Tuan Ferdinan merasa malu.


"Ih Papi. Ayo cepat pulang! Mami mau istirahat," ucap Nyonya Nathalie.


Mereka bertiga keluar dari ruangan pemeriksaan, meninggalkan Dokter yang masih menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan kelakuan keluarga Tuan Ferdinan.


################


Hayuuukk jempolnya digoyang.. Jangan males like, vote, love, rate bintang 5 ya.. Biar aku makin semangat.

__ADS_1


Terima kasih... happy reading....


__ADS_2