
"Kamu gak mau?" tanya Mia.
"Maaf Kak. Aku lebih suka hidup sederhana tapi dengan kerja kerasku sendiri. Dari pada aku hidup mewah tapi mengandalkan belas kasih orang lain," ucap Rian.
Mia terpaku dengan ucapan Rian. Sama sekali tidak seperti Pak Baskoro yang mata duitan, Rian sangat berhati-hati. Ia tidak bisa menggadaikan harga dirinya. Ia tidak mau hidup atas belas kasih orang lain.
"Rian, kamu itu berbakat. Aku tidak mengasihani kamu. Aku mengagumi kamu," ucap Mia.
"Kagum? Pada si penjual lotek dan rujak?" tanya Rian.
Mia salah strategi. Ia pikir Rian akan dengan mudah dibawa ke rumahnya. Ternyata meskipun darah Pak Baskoro mengalir di tubuh Rian, tapi tidak serta merta membuat Rian memiliki sifat yang sama.
"Rian, aku tidak mengasihanimu. Tapi aku butuh kamu. Anak baik seperti kamu, yang bisa membantuku banyak hal di rumah." Mia masih berusaha membujuk Rian.
"Membantu banyak hal? Apa yang tidak bisa kakak lakukan dengan uang yang kakak miliki?" tanya Rian.
Mia menatap Rian penuh tanya. Kenapa Rian begitu sulit mengikuti apa yang ia inginkan.
"Apa kamu takut padaku?" tanya Mia.
"Apa yang harus aku takutkan?" tanya Rian.
Pertanyaan yang dibalas pertanyaan. Mungkinkah Rian memiliki emosi yang sama dengan apa yang Mia rasakan?
"Mungkin kamu takut aku menjahatimu?" tanya Mia.
"Apakah mungkin seorang wanita yang menangis meminta donor darah, untuk seseorang yang bukan siapa-siapanya adalah orang jahat?" tanya Rian.
Lagi, pertanyaan Mia dibalas dengan pertanyaan lagi oleh Rian. Mia tidak berpikir jika Rian akan begitu sulit untuk mengikuti maunya.
"Aku hanya simpati saja pada orang itu. Apa ada yang salah?" tanya Mia.
"Salah? Mungkin tidak. Tapi terkesan terlalu baik bagiku," jawab Rian.
Apa Rian memikirkan apa yang aku pikirkan?
"Rian, sudahlah. Niatku ke sini hanya untuk mengajakmu ke rumahku. Tidak untuk membahas ini dan itu," ucap Mia menyerah.
"Lebih baik Kak Mia pulang saja. Aku bisa tinggal sendiri. Berhenti mengasihaniku Kak. Aku bisa menjaga diriku dan bertahan hidup meskipun sendirian," ucap Rian.
Mia menelan salivanya. Ia rasanya sudah kehabisan ide untuk membujuk Rian agar bisa ikut dengannya.
"Rian, aku tahu kamu orang baik. Dan kamu pasti ingin membantuku. Aku hanya ingin berdamai dengan masa laluku. Bantu aku untuk tidak membenci Bapak lagi," ucap Mia.
"Aku tidak bisa melakukan apapun untuk kakak. Hanya diri kakak sendiri yang bisa melakukan semua itu. Lagi pula, kakak benci ataupun tidak pada Bapak, itu bukan urusanku. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai anak bapak. Itu saja," ucap Rian.
"Tapi aku juga anak bapak. Tujuh belas tahun aku hidup dengan bapak. Tapi tidak pernah sekalipun aku mendapat kasih sayangnya. Aku bahkan tidak mengerti kenapa Bapak bisa menyayangimu tapi tidak kepadaku," ucap Mia.
"Kak Mia mungkin sudah tahu jawabannya," ucap Rian.
"Jadi Bapak cerita sama kamu?" tanya Mia.
Rian diam. Rasanya ia ingin mengungkapkan semua yang ia tahu tentang Mia. Namun Rian masih merasa ini belum saatnya. Dan mungkin ini juga bukan kapasitasnya. Namun tidak saat Mia terus memohon untuk menceritakan apa yang Rian ketahui.
"Kata Bapak, Kak Mia bukan anak kandungnya. Bapak kecewa sama istrinya terdahulu karena sudah mengkhianati bapak. Aku tidak tahu apa semua itu benar atau tidak," ucap Rian.
Mia menangis. Sopirnya segera memburu Mia.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan pada Nyonya Mia?" bentak sopir.
"Cukup, cukup! Ini semua bukan salah dia," ucap Mia.
Entah mengapa hati Rian merasa iba pada Mia. Ia mendekat dan membantu Mia untuk berdiri.
"Apa aku boleh memeluk Kakak?" tanya Rian.
Mia yang tengah menunduk, mengangkat kepalanya.
"Untuk apa? Karena kamu merasa iba padaku?" tanya Mia sembari menghapus air matanya.
Rian diam. Ia kembali menjauh.
"Orang kaya seperti Kakak tidak pantas untuk dikasihani. Kakak bisa membeli apapun yang Kakak mau," ucap Rian.
"Tapi tidak kebahagiaan. Kamu tahu itu?" tanya Mia.
"Bukankah Kakak sudah bahagia dengan semua yang Kakak miliki?" tanya Rian.
"Aku belum tenang karena belum berdamai dengan masa laluku. Makanya aku butuh kamu," jawab Mia.
Rian tidak menjawab. Ia melihat Mia dengan penuh rasa iba. Ternyata bukan hanya dirinya yang menderita. Ada orang lain yang bisa menderita juga padahal dalam perekonomian di lebih dari cukup.
Kini Rian semakin sadar kalau kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun. Kini hatinya mulai goyah. Bisakah ia ikut dengan Mia? Apakah itu justru tidak akan menyakiti hati keduanya?
"Apa yang Kakak mau?" tanya Rian.
"Harus berapa kali aku bilang, aku mau kamu ikut denganku Rian. Hanya itu," jawab Mia.
"Aku akan belajar untuk berdamai dengan masa laluku. Dan aku harap kamu juga bisa menerimaku. Meskipun katanya aku bukan anak kandung bapak, tapi aku harap kita bisa bersama," ucap Mia.
"Kak Mia?" ucap Rian.
Mata Rian mulai berlinang. Tak lama ia memeluk Mia dan tangisnya pun pecah.
"Rian," ucap Mia dengan bibir bergetar.
"Ini yang aku mau. Aku menginginkan Kakak mengucapkan hal ini. Meskipun katanya ini dan itu, tapi paling tidak kita pernah hidup bersama Bapak. Bapak pasti senang melihat kita bersama," ucap Rian.
Ya, Rian benar. Sekarang Pak Baskoro sudah tidak ada. Menyimpan kebencian sama dengan memperpanjang masalah. Rian yang akan jadi korban. Dan itu tidak ada artinya sama sekali.
"Rian, jadi kamu mau ikut sama aku?" tanya Mia.
"Aku akan ikut dan membantu apa saja yang aku bisa. Asal aku bisa bersama Kakak," jawab Rian.
"Terima kasih Rian. Terima kasih," ucap Mia.
"Harusnya aku yang terima kasih Kak," ucap Rian.
Rian membawa beberapa potong pakaian yang masih sangat layak. Ia tidak mau jika penampilannya malah mempermalukan keluarga Mia.
Mia pulang dengan perasaan yang cukup senang, meskipun hasil test DNA membuatnya masih tegang.
"Kak," panggil Rian.
"Hemmm," jawab Mia.
__ADS_1
"Apa Kakak sakit?" tanya Rian.
"Gak. Aku baik-baik aja," jawab Mia.
"Tapi Kakak pucat," ucap Rian.
"Mungkin hanya kurang tidur aja," jawab Mia.
Setelah itu, perjalanan kembali hening. Baik Mia maupun Rian tidak ada yang berani buka mulut hingga akhirnya mobil sampai ke rumah Nyonya Helen.
"Mia," sambut Nyonya Helen sembari memeluk Mia.
Rasa khawatirnya sudah menghilang saat melihat Mia kembali dengan sehat, meskipun benar kata Rian. Mia terlihat pucat. Nyonya Helen tersenyum menyapa Rian. Sebagai anak yang sopan, Rian meraih tangan Nyonya Helen dan menciumnya. Lalu ia menunduk hormat.
"Selamat datang, Rian. Semoga kamu betah di rumah ini ya! Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja ini rumahmu," ucap Nyonya Helen.
"Terima kasih Nyonya," ucap Rian.
Tidak jumawa, Rian menempatkan dirinya sebagai seorang pekerja. Bukan sebagai anak angkat di rumah mewah dari keluarga terhormat itu.
"Ayo masuk!" ajak Mia.
Rian mengikuti Mia. Tuan Felix yang tengah duduk di ruang santai melihat orang asing yang masuk dengan tas gandong di punggungnya. Tuan Felix kembali mengamati anak itu.
"Rian," panggil Tuan Felix.
"Tuan," panggil Rian.
Sama seperti pada Nyonya Helen, Rian segera menghampiri Tuan Felix dan mencium tangannya.
"Kamu di sini?" tanya Tuan Felix.
Sebelum Rian menjawab, Mia lebih dulu menjawab alasan Rian ikut dengannya.
"Anak baik, akhirnya aku bertemu lagi denganmu. Bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Felix.
Basa basi antara Rian dengan Tuan Felix pun terjadi. Mia dan Nyonya Helen mengamati keduanya. Mungkin karena ada darah sama yang mengalir dalam tubuh mereka berdua, atau memang karena Rian bisa menyesuaikan diri. Obrolan itu nampak sangat akrab dan hangat.
"Rian, kamu istirahat dulu ya!" ucap Nyonya Helen. "Sekarang jadwal Anda minum obat Tuan," lanjut Nyonya Helen.
Rian mengangguk dan membantu Tuan Felix untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu istirahat saja. Ayo saya tunjukkan kamarmu," ajak Nyonya Helen.
Rian melepaskan kursi roda Tuan Felix dan mengikuti Nyonya Helen untuk mengetahui kamarnya. Menyimpan dulu pakaiannya. Baru ia akan kembali membantu dan menemani Tuan Felix.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1