
Danu masih menemani Mia di Bandung, dan hari ini Tuan Ferdinan serta Nyonya Nathalie sedang dalam perjalanan. Rasa bela sungkawa dari orang tua Danu sebagai calon mertua Mia, mendorong mereka meninggalkan kesibukan di Jakarta untuk pergi ke Bandung menemui calob menantunya itu.
Kedatangan Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie disambut dengan tatapan kagum dari puluhan pasang mata yang melihatnya. Mobil mewah serta pakaian yang sangat rapi membuat penduduk sekitar terkagum-kagun dengab kedua tamu yang akan menemui Mia itu.
"Wah, itu pasti bosnya si Mia deh,"
"Gila ya si Mia pergi ke Jakarta gaulnya sama orang kaya,"
"Pake pelet apaan ya? Itu mas-masnya juga gantengnya gak ketulungan,"
"Apa jangan-jangan dia jual diri ya?"
"Tarifnya pasti mahal, kan dibelinya sama orang kaya,"
Gosip dadi beberapa tetangga yang merasa iri dengan apa yang Mia miliki juga masih saja terdengar. Mereka seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Mia. Kesuksesan dan keberuntungan Mia selalu menajdi bahan gosip bagi mereke. Namanya juga tetangga, mau baik ya di omongin, kalau jelek apalagi. Tapi Mia bukan orang yang peduli dengan ocehan tetangga. Mia lebih memilih untuk diam dan pura-pura tidak mendengar gosip ibu-ibu rumpi.
Sampai saat ini orang yang paling dekat dengan Mia di kampungnya hanya Bu RT dan Bu Dian. Termasuk yang membawa Bu Ningsih ke Rumah Sakit juga mereka berdua.
Bu RT dan Bu Dian juga orang yang menyambut orang tua Danu. Atas permintaan dari Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie, Bu RT dan Bu Dian juga menceritakan semua kisah Mia ketika masih tinggal di Bandung.
Orang tuan Danu saling menatap dan menganggung. Seolah keduanya sepakat, kalau Mia memang orang yang sangat jujur. Apa yang diceritakan Mia saat di rumah mereka, sama persis dengan apa yang dijelaskan oleh Bu RT dan Bu Dian hari ini.
Malam hari, hanya ada Mia, Danu dan kedua orang tua Danu. Rumah yang sangat besar namun kuno menurut Tuan Ferdinan itu, terasa sangat sepi.
"Mia, maafkan mami tidak bisa menemanimu lama-lama. Mami dan papi harus kembali ke Jakarta besok. Kamu bisa di sini hingga kamu merasa kalau kamu akan memulai menunjukkan cita-citamu pada mendiang ibumu," ucap Nyonya Nathalie.
Kata-kata itu menampar hati Mia sekencang-kencangnya. Mia awalnya tidak ingin pergi ke Jakarta lagi. Mia hanya akan di rumah menikmati masa-masa kerinduannya pada Bu Ningsih. Tidak ada lagi yang perlu ia lakukan. Uang dari Haji Hamid ia rasa cukup untuk memenuhi semua kebutuhannya seumur hidup. Biaya hidup di kampung tidak sebanyak pengeluaran ketika ia sedang di Jakarta.
Dengan ucapan Nyonya Nathalie, ia kembali bangkit. Benar! Ibunya harus tahu kalau ia bisa sukses dan mewujudkan cita-citanya. Ibunya pasti senang saat melihat Mia sukses.
"Iya Nyonya, nanti Mia ke Jakarta kalau sudah 40 hari ibu ya. Mia masih mau di sini. Tidak apa-apa kan Tuan? Nanti Mia buat surat lamaran lagi," ucap Mia.
"Mia, aku minta maaf jika selama ini aku selalu membuatmu kesal, atau terkesan merendahkanmu. Aku juga minta maaf selalu menganggapmu adalah bawahanku. Mulai sekarang, panggil aku Papi. Kapanpun kamu ke Jakarta, rumah dan perusahaan akan selalu terbuka untukmu. Mami dan Papi sudah merestui hubungan kalian. Kapanpun kalian menikah, papi siap menjadi saksi hari bahagia itu." Tuan Ferdinan terlihat berkaca-kaca.
"Papi," ucap Danu dan Nyonya Nathalie bersamaan.
Baik Danu maupun Nyonya Nathalie, keduanya tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Tuan Ferdinan. Pria berkumis yang selalu saja berdebat dengan Mia, kini hatinya luluh dan melunak. Ia sudah merestui Danu untuk menikah dengan Danu. Kini sudah tidak ada lagi pertimbangan tentang status Mia sebagai seorang janda.
Banyak hal yang sudah membuat Tuan Ferdinan merubah keputusannya. Mia yang terlihat selalu apa adanya tanpa ingin menarim simpati Tuan Ferdinan, justru merasa jatuh hati. Calon menantunya yang cerdas dan mandiri itu bisa membuatnya berubah. Cara pandang Tuan Ferdinan pada Mia tidak sama seperti dulu lagi.
"Tuan besar," ucap Mia sambil memeluk Tuan Ferdinan.
Air mata langsung mengalir deras. Isak tangisnya terdengar sangat jelas dikesunyian malam. Nyonya Nathalie juga ikut memeluk Mia dan Tuan Ferdinan.
"Kami menyayangi kamu, Mia. Tetaplah menjadi wanita yang kuat. Jangan pernah mengeluh, ada kami bersamamu." Nyonya Nathalie mencium kening Mia.
"Terima kasih, semuanya. Tuan Muda, terima kasih." Mia menatap ke arah Danu yang duduk diam menatap merek bertiga.
"Untuk?" tanya Danu.
"Kalau Mia tidak bertemu dengan Tuan Muda, Mia tidak bisa menemukan kedua orang hebat ini," jawab Mia.
Danu terharu. Orang hebat? Orang tuanya, Mia sebut sebagai orang hebat? Bahkan ia sendiri selalu mengeluh dengan sikap ayah dan ibunya yang kadang membuatnya kesal. Danu baru menyadari kalau memiliki mereka adalah anugerah terindah dalam hidupnya.
__ADS_1
Mia sendiri merasa sangat terharu saat krang tua Danu mau menganggapnya sebagai anak mereka. Terutama perubahan sikap Tuan Ferdinan, itu membuat Mia sangat bahagia. Mia yang selama ini tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah, tapi saat ini rasa itu akan ia dapatkan dari Tuan Ferdinan.
"Jangan panggil aku Tuan Muda! Aku sudah muak mendengarnya," ucap Danu.
"Betul itu, jangan panggil Danu Tuan muda. Dia sudah tidak muda lagi. Usianya sudah 35 tahun. Panggil dia Tuan Tua saja," ejek Tuan Ferdinan.
Jelas ucapan Tuan Ferdinan membuat Nyonya Nathalie dan Mia tertawa lepas. Sedangkan Danu hanya diam cemberut menahan kesalnya.
"No. Panggil Danu aja, cukup." Danu sudah sangat kesal karena tawa mereka belum juga reda.
"Jangan Danu. Nanti kan kalian menikah. Panggil mas saja ya! Biar romantis. Dulu mami juga panggil papi itu mas loh," ucap Nyonya Nathalie malu-malu.
"Ya, mas itu cocok buat manggil papi. Mas-Masyaalloh ini orang kok begini banget ya?" ejek Danu.
Mia dan Nyonya Nathalie kembali tertawa. Dan gantian, Tuan Ferdinan nampak sangat kesal dengan ulah Danu.
"Danu...." ucap Tuan Ferdinan geram.
"Nah kalau mami, panggil mami. Jangan Nyonya ah. Sebentar lagi kan kamu jadi menantu mami. Masa panggil Nyonya. Belajar dari sekarang ya!" ucap Nyonya Nathalie.
"Ba-baik ma-mami," ucap Mia dengan gugup.
"Nah begitu. Mami suka banget dengernya. Lebih enak gitu ya masuk ke telinganya," ucap Nyonya Nathalie sambil memeluk Mia.
"Papi juga tidak mau dipanggil Tuan Besar lagi. Papi kan sudah diet, jadi sudah tidak besar. Panggil papi saja. Kau harus mulai membiasakan diri ya!" ucap Tuan Ferdinan.
"Ya udah Mia, panggil aja papi itu Tuan kurus. Atau Tuan kecil saja sekalian," ejek Danu.
"Danuuuu," ucap Tuan Ferdinan kesal.
Mereka memang lelah, namun demi Mia mereka rela menahan ngantuknya. Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie ingin menghibur Mia agar tidak berlarut dalam kesedihan.
Pagi sekali Mia sudah bangun dan membereskan rumah. Mia juga memasak khas kampungnya. Hanya tumis kangkung, ikan asin, sambal terasi, goreng tahu dan tempe. Tak lupa menu andalannya goreng jengkol.
Jam delapan pagi, Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan baru bangun. Tuan Ferdinan mencium aroma masakan dari dapur.
"Mi, bau apa ini?" tanya Tuan Ferdinan.
Nyonya Nathalie menajamkan indera penciumannya. Ia mengendus seperti buldog, dan berteriak kegirangan.
"Ini jengkol papi, jengkol. Makan enak kita pi. Ayo cepat keluar!" ajak Nyonya Nathalie.
Jengkol bukanlah makanan asing bagi keluarga Tuan Ferdinan. Hanya saja, entah kapan terakhir mereka memakan jengkol. Tuan Ferdinan tidak mau kalau rekan kerjanya membatalkan kontrak, hanya karena aroma mulut Tuan Ferdinan yang mengganggu.
"Mia, siapa yang masak?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat Mia sedang menata masakan di meja makan.
"Mia. Memangnya kenapa?" tanya Mia.
"Kamu bisa masak?" tanya Nyonya Nathalie.
"Ya, kalau masakan kampung sih bisa. Tapi kalau masakan seperti di rumah Nyonya, Mia belum bisa. Harus belajar dulu," ucap Mia.
"Yang beres-beres?" tanya Nyonya Nathalie.
__ADS_1
"Mia juga. Memangnya kenapa?" tanya Mia bingung.
Nyonya Nathalie menggelengkan kepalanya karena merasa tak percaya kalau Mia bisa mengerjakan semua itu sendirian. Nyonya Nathalie ingat betul saat ia belum tidur, keadaan ruangan tengah saja sangat berantakan. Belum lagi di dapur, dan ruang tamu. Sekarang baru jam delapan, Mia sudah menyelesaikan semua pekerjaan itu sendiri.
"Mia, kamua bangun jam berapa?" tanya Tuan Ferdinan.
"Jam empat, Tuan." Mia menunduk hormat.
"Papi," ucap Tuan Ferdinan.
"I-iya pa-pi," ucap Mia gugup.
"Bagus," ucap Tuan Ferdinan mengacungkan jempolnya pada Mia. "Mana Danu?" lanjut Tuan Ferdinan.
"Sepertinya masih tidur, Pi. Mau dibangunkan?" tanya Mia.
"Bangunkan! Sudah siang," jawab Tuan Ferdinan.
Mia mengangguk dan segera pergi ke kamar tamu. Ada Danu yang nampak masih tertidur pulas.
"Tuan muda, bangun" ucap Mia.
Danu masih tidur dan tidak merespon ucapan Mia.
Mia mendekat dan mengguncang bahu Danu.
"Tuan, bangun!" ucap Mia.
Masih sama, Danu masih tertidur. Mia mencoba untuk menyentuh pipi Danu.
"Mas, bangun!" ucap Mia pelan.
Danu memegang tangan Mia dan membuka matanya.
"Kau panggil aku apa?" tanya Danu.
"Mami yang meminta. Maaf kalau Mia salah," ucap Mia.
"No, aku senang. Ucapkan itu sekali lagi!" pinta Danu.
"Bangun mas," ucap Mia dengan wajah yang memerah karena malu. Mungkin panggilan mas itu tidak salah, hanya saja Mia merasa masih canggung.
"Aku bangun sayang," ucap Danu.
Danu segera bangun dan pergi ke kamar mandi. Mia segera keluar dan menemui Nyonya Nathalie kembali.
"Mana Danu?" tanya Tuan Ferdinan.
"Lagi ke kamar mandi dulu, Pi." Mia melanjutkan menyiapkan sarapan.
#################
Yuks like, vote, love dan rate 5... Jempol kalian adalah semangat mimin. Jangan males goyang jempolnya ya kak...
__ADS_1
Happy reasing semuaaa..