
Malam ini, Mia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sebelum tidur, tangannya meraba ke atas nakas. Sebuah ponsel berhasil ia genggam.
Mia mengecek ponselnya. Ada panggilan dari Sindi yang sudah ia lewatkan.
"Sindi nelepon A," ucap Mia.
"Angkat dong," ucap Dion.
"Tadi siang," ucap Mia.
Dion menatap jam yang menempel di dinding kamarnya.
"Besok aja. Sekarang udah malam," ucap Dion.
"Iya A," ucap Mia.
Mia kembali menyimpan ponselnya dan tidur. Malam ini ia merasa sangat bahagia. Mia bisa tidur dengan begitu cepat tanpa beban yang mengganggu malamnya.
"Pagi," sapa Dion saat Mia membuka pintu.
"Ya ampun. Mia kesiangan ya A?" tanya Mia terkejut saat melihat Dion sudah mengenakan setelan kantornya.
"Gak kok. Aku sengaja bangun lebih pagi karena harus berangkat lebih awal. Beberapa berkas belum aku selesaikan sementara hari ini Reza akan ke kantor," ucap Dion.
"Oh gitu ya A. Semoga semuanya lancar ya A!" ucap Mia.
"Terima kasih buat semua doa dan dukungannya ya Mi," ucap Dion.
Bagi Dion, Mia memang selalu memberi semangat baru. Saat ia merasa urusan pekerjaan sudah merenggut kebahagiaannya, Mia adalah orang yang bisa meyakinkan jika semua itu adalah sebuah kesalahan. Mia selalu menyemangati dan mengingakan Dion jika bekerja itu harus dengan hati.
Mia sarapan bersama yang lain kecuali Dion. Dion tidak sarapan di rumah, namun Mia sudah menyiapkan bekal untuk suaminya.
"Dion itu sangat semangat dalam urusan pekerjaan. Aku suka dengan semangatnya. Rian, kamu harus bisa mencontoh semangat Dion." Tuan Felix mengingatkan.
"Iya Pah," jawab Rian.
Tanpa diingatkan, Rian memang sudah suka dengan gaya bekerja Dion. Selalu semangat dan totalitas dalam tanggung jawabnya. Tapi Tuan Felix pun yakin jika Rian akan bisa mengimbangi Dion beberapa tahun ke depan.
Bermodal semangat, Rian dilatih oleh Tuan Felix sejak saat ini. Sempat mengeluh, namun akhirnya Rian bisa menyesuaikan dengan kebiasaan yang diterapkan oleh Tuan Felix.
Seperti pagi ini, setelah sarapan Rian langsung kembali ke kamarnya. Ada beberapa tugas yang harus ia kerjakan. Libur dari sekolah bukan berarti ia bisa bermalas-malasan. Rian termasuk anak berkualitas meskipun berasal dari latar belakang yang kurang bagus.
"Pah, Rian tertekan gak sih belajar di sana? Waktu libur kok masih ngerjain tugas?" tanya Mia.
"Rian itu semangatnya oke. Dia selalu siap mengejar ketertinggalannya. Gak ada yang nyangka kalau Rian anak yang berasal dari keluarga kurang beruntung," ucap Tuan Felix.
"Papa bangga?" tanya Mia.
"Papa jauh lebih bangga sama kamu. Anak mandiri dan hebat," jawab Tuan Felix.
Sebagai seorang ayah, Tuan Felix tahu Mia mulai cemburu saat ia membanggakan Rian.
"Beneran?" tanya Mia.
"Pernah gak Papa bohong sama kamu?" tanya Tuan Felix.
Mia menggeleng.
__ADS_1
"Oh ya, Papa lupa mau nunjukin sesuatu sama kamu. Sebentar," ucap Tuan Felix.
Mia dengan bingung menunggu apa yang akan ditunjukan oleh Tuan Felix. Ayahnya nampak memainkan ponselnya. Entah apa yang sedang ia cari.
"Lihat ini!" ucap Tuan Felix sembari memberikam ponselnya.
Mia menatap wajah Tuan Felix sebelum ia menerima ponsel itu. Mia melihat beberapa foto yang tersimpan di galeri ponsel Tuan Felix.
"Apa ini?" tanya Mia.
Mia nampak ragu dengan kesimpulan yang sudah ia buat.
"Ya, itu foto rumah dan makam Ibu kamu. Wanita hebat yang membuatku tidak bisa melupakannya," ucap Tuan Felix.
"Papa serius?" tanya Mia.
Mia nampak tidak percaya saat melihat Tuan Felix menganggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka, Tuan Felix yang berada di Jerman bisa merawat dengan baik rumah dan makam ibunya di Bandung.
"Terima kasih Pah," ucap Mia.
Kini Mia tersadar jika uang bisa mengubah segalanya. Rumah yang dianggap sebagai rumah hantu itu, kini nampak bersih dan segar meskipun tidak ada yang menghuni.
Makam Bu Ningsih yang harus melewati pematang sawah kini terbentang jalan yang bisa dilewati oleh kendaraan. Mia begitu bangga pada Tuan Felix. Rasa cintanya ia buktikan dengan menggelontorkan dana tang tidak sedikit. Padahal Bu Ningsih sudah meninggal sebelum mereka sempat bertemu lagi.
"Kamu tahu kan kenapa Papa ingin membangun perusahaan ini?" tanya Tuan Felix.
"Biar Mia mewujudkan semua impian Mia?" tanya Mia.
"Tentu. Dengan uang kamu bisa didengar. Dengan uang kamu bisa membahagiakan dirimu dan semua orang yang kamu cintai," jawab Tuan Felix.
Kini Mia semakin sadar jika ia harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Menjadi wanita mandiri namun tetap tidak melupakan semua tugasnya sebagai seorang ibu dan istri.
"Mama," sapa Mia.
"Hey Mi," jawab Nyonya Helen.
"Mama lagi apa?" tanya Mia.
"Mama kesepian. Mau ke kamar si kembar, mereka lagi pada tidur. Semenjak ada Tuan Felix, Mama kok merasa tersisihkan ya!" ucap Nyonya Helen.
"Loh, kok Mama ngomongnya gitu sih?" tanya Mia sembari mendekat dan memeluk Nyonya Helen.
Nyonya Helen ingin sekali ikut bergabung dengan Mia dan Tuan Felix. Namun ia merasa tidak enak. Takut jika kehadirannya malah mengganggu obrolan keduanya.
"Ma, gak mungkin Mama ganggu Mia. Maafin Mia ya kalau Mia gak lihat Mama tadi. Mia pikir Mama istirahat di kamar," ucap Mia.
"Mama takut Mi," ucap Nyonya Helen.
"Mama takut apa?" tanya Mia.
"Sindi udah gak ada di rumah ini. Kamu juga kalau ada Tuan Felix kok Mama jadi takut," ucap Nyonya Helen.
"Ma, kok ngomongnya gitu sih? Mia tetap anak Mama. Gak mungkin ninggalin Mama. Sindi juga masih anak Mama. Meskipun tinggal di rumah suaminya, tapi..." ucapan Mia terhenti saat Sindi berteriak dengan girang memanggil Nyonya Helen.
"Mamaaaa, Miaaaaa," teriak Sindi.
"Sindi?" tanya Nyonya Helen pada Mia.
__ADS_1
"Iya Ma," jawab Mia.
"Mama di sini," teriak Nyonya Helen.
Sindi segera memeluk erat Nyonya Helen. Matanya tak kuasa lagi menahan tangis rindunya. Padahal baru sehari mereka tidak bertemu.
"Kamu sehat Sin?" tanya Nyonya Helen sembari mengusap pipi Sindi.
"Aku sehat. Mama juga sehat kan?" tanya Sindi.
"Iya. Mama sehat," jawab Nyonya Helen.
"Mia gak bohong kan? Meskipun Sindi gak tinggal di sini, tapi dia gak mungkin lupain Mama." Mia mengusap punggung Nyonya Helen.
"Terima kasih ya. Kalian bikin Mama terharu deh," ucap Nyonya Helen.
"Kamu sendiri?" tanya Mia.
"Tadi diantar sama sopir," jawab Sindi.
"Mertua kamu tahu gak kamu kesini?" tanya Nyonya Helen.
"Ya tahu dong Ma. Kan izin dulu," ucap Sindi.
"Dia gak marah?" tanya Nyonya Helen.
"Gak. Memangnya marah kenapa? Masa mau ketemu sama Mama sendiri gak boleh," jawab Sindi.
Syukurlah hatinya sudah terbuka. Aku pikir dia bakal rebut Sindi dari aku. Si wewe gombel kayaknya udah taubat deh.
Ketiganya bicara banyak hal. Saling melepas rindu hingga terdengar gelak tawa. Rian menajamkan pendengarannya. Ia segera keluar setelah yakin jika itu adalah suara Sindi.
"Kak Sindi," panggil Rian.
"Riaaaaan," teriak Sindi.
Pelukan hangat Sindi mendarat untuk Rian. Kedekatan mereka tidak bisa diragukan lagi. Bahkan Rian adalah saksi hidup perjalanan cinta Sindi pada Danu.
"Kamu udah beres ngerjain tugasnya?" tanya Mia.
"Udah Kak," jawab Rian.
"Ya ampun kamu rajin banget sih. Padahal gak sekolah tapi masih aja ngerjain tugas. Best deh," ucap Sindi sembari mengangkat kedua jempolnya.
"Aku kan the next Kak Dion. Iya kan Kak?" tanya Dion pada Mia.
"Harus lebih bagus dong. Kamu harus lebih sukses," ucap Nyonya Helen.
Rian senang saat banyak sekali orang yang mendukungnya. Padahal dia bukan siapa-siapa di rumah itu. Namun Nyonya Helen selalu menganggap dirinya bagian dari keluarga itu. Segala dukungan dan motivasi selalu ia dapatkan dari Nyonya Helen dan Tuan Wira.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.