Janda Bersegel

Janda Bersegel
Reuni bakteri


__ADS_3

"Siapa dia?" tanya seorang wanita dengan gaya mewah meski sedang di dalam rumah.


Waduhh, numpang-numpang ya... Ini Mia gak ada maksud ganggu nih. Tenang Mia, selaaaw. Kamu berpengalaman menghadapi emak-emak galak seperti ini.


"Mia, Nyonya." Mia mengulurkan tangannya.


Ish, sombongnya gak ketulungan. Tuhaaan, kuatkan Mia. Sabar Mia, sabaaaar. Ini ujiaaaan.


Mia kembali menurunkan tangannya setelah uluran tangannya tak disambut sama sekali.


"Dari mana kamu bawa wanita seperti ini?" tanya Nyonya Helen.


"Dia calon menantu mama," jawab Dion begitu santai.


Nyonya Helen menatap Mia dari atas hingga bawah. Baju yang Mia kenakan memang terlihat modis. Tentu modis, karena dress warna pink itu dibelikan oleh Dion yang memang berselera tinggi soal fashion. Namun riasan wajah dan rambut yang sangat sederhana membuat Nyonya Helen tidak sreg pada Mia.


Emmm mampus, matanyaaaa. Kuat Mia kuat. Dia tidak mungkin menyerangmu disaat ada Dion. Tenanglah. Tidak perlu takut.


"Kamu bisa menggunakan make up tidak sih?" tanya Nyonya Helen.


"Bisa Nyonya," jawab Mia.


"Ini yang kamu bilang bisa? Begini caramu berdandan?" cecar Nyonya Helen.


"Tidak Nyonya. Tadi Mia dandan sewajarnya saja, lagipula perjalanan jauh membuat make up Mia luntur mungkin," jawab Mia.


"Kamu gunakan make murah pasti," ejek Nyonya Helen.


"Memangnya ada make up yang mahal Nyonya? Kamu pikir aku akan memakai make up abal-abal seperti yang kamu pakai?" ucap Nyonya Helen kesal.


Oh Tuhaaaan, emak sama anak sama gilanya memang. Awas ya.. Mia pasti balas kalian satu per satu.


"Mia tidak percaya. Bagi Mia semua make up sama saja Nyonya," jawab Mia.


"Enak saja kamu," ucap Nyonya Helen kesal.


"Kalau begitu, boleh tidak Mia lihat make up mahal itu Nyonya? Biar Mia percaya," ucap Mia.


"Hehh, merepotkan saja. Ayo sini ikuti aku," ucap Nyonya Helen.


"Baik Nyonya," jawab Mia sambil mengikuti Nyonya Helen ke dalam kamarnya.


Dion menarik tangan Mia dan berbisik. "Nikmati hari-harimu. Jangan lupa tugasmu. Selesaikan dengan baik atau aku ambil pilihan yang kedua," ucap Dion sambil meninggalkan Mia.


Sultan sableng, kalau ngomong suka seenak jidat. Lihat saja nanti. Mia balas kamu ya. Kamu gak jadi lucu kayak ikan lumba-lumba. Kamu beracun kayak ikan buntal. Nyebeliiiiin.


Mia menghela napasnya lalu melanjutkan langkahnya untuk mengikuti Nyonya Helen.


"Tunggu di sana!" ucap Nyonya Helen saat Mia di ambang pintu kamar Nyonya Helen.


Mia mengangguk dan sedikit menjauh dari kamar Nyonya Helen. Mata Mia mengedar ke setiap sudut ruangan. Jauh lebih mewah dari rumah Danu. Ternyata calon mertuanya yang baru jauh lebih kaya. Tapi jauh lebih galak juga.


"Nih, kamu lihat ini!" ucap Nyonya Helen sambil menyerahkan sekantong make up terbaik yang super lengkap.


Mata Mia terbelalak. Ternyata Nyonya Helen memang nomor satu urusan brand. Soal harga, jangan ditanya. Meskipun Mia tidak pernah membelinya, tapi Mia tahu kualitas produk make up yang ada di hadapannya itu.


"Ah, Mia juga bisa kok pakai make up ini. Beneran deh," ucap Mia.


"Aku tidak percaya," jawab Nyonya Helen dengan nada mengejek.


"Ayo, Mia buktikan ya!" ucap Mia.


"Boleh. Tapi kalau kamu tidak bisa mengaplikasikannya dengan baik, segera mundur dari kehidupan Dion. Kamu tidak cocok," ucap Nyonya Helen.


Waaaah, itu sih harapan Mia. Kalau seandainya tidak ada pilihan kedua, Mia jamin akan mengacak-ngacak muka Mia sendiri. Tapi bukan itu langkah yang harus Mia tempuh sekarang.


"Siap Nyonya. Tenang saja," jawab Mia.


Pertama Mia memilah apa saja yang akan ia pakai untuk merias wajahnya. Setelah itu Mia mencuci wajahnya, membersihkannya dari make up yang pertama. Mia mengambil cermin dan mulai mengaplikasikannya satu per satu. Ya mungkin jauh lebih lama. Mia melakukannya dengan sangat hati-hati. Bukan untuk mempertahankan perannya sebagai calon istri Dion, tapi Mia tidak mau direndahkan oleh Nyonya Helen.


Merasa lama tidak turun, Dion menyusul Mia ke kamar ibunya.


"Taraaaaa, selesai Nyonya." Teriak Mia sambil berputar layaknya princess.


Miaaaaaa, sempurna.


"Tuan, suka kan?" tanya Mia sambil menggoda Dion dengan matanya.


Dion yang tengah mengagumi Mia langsung tersadar dan memalingkan wajahnya.


"Biasa saja," ucap Dion.


Haha.. Bagaimana biasa saja kalau wajah Anda sampai merah begitu? Malu kan ketahuan lagi merhatiin Mia? Ini belum seberapa Tuan.


"Tapi ini bagus Dion. Dimana kamu belajar merias?" tanya Nyonya Helen.


Apa? Mama sudah mulai luluh? Mia apa jangan-jangan kamu ke dukun dulu sebelum ke sini?


"Mia dulu sempat belajar Nyonya. Tapi tidak privat, Mia hanya di kirim beberapa tutorial bermake up." Mia dengan bangganya menceritakan semua itu.


"Ini best," ucap Nyonya Helen sambil bertepuk tangan.


"Nyonya itu mau diberesin lagi? Memangnya Nyonya masih mau pakai make up bekas Mia? Kalau nanti ternyata ada bakteri yang nempel di situ gimana?" ucap Mia.


"Ah iya juga. Buang saja," ucap Nyonya Helen.

__ADS_1


"Jangan dibuang, mubadzir. Mending buat Mia saja ya!" ucap Mia.


"Kan kata kamu ada bakterinya," ucap Nyonya Helen.


"Loh, kan bakterinya dari wajah Mia. Jadi kalau nanti Mia pakai lagi juga gak masalah. Kan itung-itung bakteri itu reuni sama anak cucu bakteri yang tersisa di wajah Mia," jawab Mia.


Kekonyolan macam apa ini? Sejak kapan bakteri kalau ketemu bisa reuni sama anak cucunya?


Dion memalingkan wajahnya menahan tawa atas apa yang ia dengar.


"Ah, terserah kamu lah. Ambil saja!" ucap Nyonya Helen yang pergi meninggalkan Mia dan Dion.


Yeaaayyy.. Lumayan, make up baru dengn brand cihuy nih. Kalau beli bisa abis gaji sebulan. Eh, masih kurang deh kayaknya. Emang rejeki anak soleh sih ini.


Mungkin Nyonya Helen tidak terlalu memikirkan kekonyolan yang diucapkan Mia. Karena bagi Nyonya Helen, harga untuk make up yang ia berikan untuk Mia itu tidak berarti sama sekali.


"Senang kamu ya?" tanya Dion.


"Ya senang dong. Siapa yang gak senang dapat make up mahal begini?" ucap Mia.


"Tapi kan itu bekas," ucap Dion.


"Gak apa-apa kan bekas calon mama mertua," goda Mia dengan senyum lebarnya.


Aihhh, bisa aja nih anak bikin aku baper. Jangan begitu kamu Mia. Jangan sampai kegilaanku naik seribu persen.


"Jangan berharap lebih kamu. Ingat pernikahan kita hanyalah sebuah kekonyolan. Ingat itu," ucap Dion menutupi perasaannya.


"Oooh, jadi begi--" teriakan Mia tiba-tiba berhenti saat tangan Dion menutup mulut Mia.


"Jangan macam-macam kamu!" ancam Dion.


"Tuan yang memulainya," jawab Mia sambil menjulurkan lidahnya mengejek Dion.


Sial. Janda aneh ini membuatku gila. Bukan gila karena kecantikannya saja. Tapi gila karena tingkah konyolnya.


"Sudah, ayo turun. Kita makan!" ajak Dion.


"Nah begitu dong. Cacing di perut Mia sudah berdemo minta asupan. Tamu bukannya disuruh makan, malah disuruh make up. Susah sih kalau sama keluarga holang kaya," ucap Mia.


"Jangan berisik. Ayo makan!" ucap Dion.


"Nyonya Helen bagaimana?" tanya Mia.


"Mama diet. Gak biasa makan yang begini," jawab Dion.


"Ayahnya Tuan?" tanya Mia.


"Papa lagi di luar kota. Sudah ayo makan!" ucap Dion.


Dengan semangat Mia mengambil piring dan mulai mengambil satu per satu jamuan yang sudah dihidangkan di meja makan.


Kalin, terima kasih. Kalau bukan karena kamu, mana bisa Mia makan yang beginian?


Mia mulai melahap makananya. Dion hanya bisa menelan air liurnya melihat porsi makan Mia yang di luar dugaannya.


Anak ini lapar apa doyan? Heran, gak ada jaim-jaimnya sih jadi perempuan.


"Kenapa?" tanya Mia.


Dion menggeleng dan kembali fokus dengan piring yang ada di hadapannya.


"Aaaah, terima kasih Tuan. Makanannya enak sekali," ucap Mia sambil mengusap perutnya yang sudah terasa sangat begah.


"Hemmm," jawab Dion.


"Kamu istirahat saja di kamar. Nanti kalau papa pulang, baru keluar. Aku mau kenalin kamu ke papa. Mungkin malam ini papa pulang," ucap Dion.


"Jangan begitu Tuan, kita belum mahrom. Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya!" ucap Mia.


"Hey, jangan terlalu percaya diri kamu. Siapa yang mau ambil kesempatan? Ya kamu tidur di kamar kamu lah," ucap Dion kesal.


Tapi nanti, aku akan membuatmu memelukku dan tak akan melepaskanku Mia. Kita lihat saja nanti.


"Oh, Mia pikir anuan. Maaf," ucap Mia malu-malu.


"Anuan-anuan. Jangan berpikiran jorok makanya. Ayo ikut aku!" ucap Dion.


Mia mengikuti Dion. Kepalanya melirik ke kanan dan ke kiri melihat keadaan rumah Dion. Waaw, sempurna. Begitu yang ada di kepala Mia. Kamar Dion memang terletak di lantai satu. Namun posisi kamarnya di paling ujung. Tapi meskipun di ujung, tidak membuat kemewahan itu berkurang.


Awalnya kamar Dion ada di lantai atas, namun karena Nyonya Helen sering terganggu dengan kedatangan Reza yang tidak kenal waktu, membuat Nyonya Helen memindahkan kamar Dion ke lantai satu. Di simpan di ujung karena ketika ada Reza, suara mereka berdua bisa terdengar seperti satu kompi. Tidak ingin mengganggu tamu arisannya, Nyonya Helen membuat kamar ujung sebagai kamar Dion.


BRUUUGH


"Cari alasan saja. Kalau mau peluk sih bilang aja," ucap Dion.


Mia segera menjauhkan tubuhnya. Karena asyik melihat kondisi rumah Dion yang super mewah, membuat Mia tidak sadar kalau Dion sudah berhenti. Mau tidak mau Mia harus menabrak dan bersandar di dada bidang Dion.


"Ish, ogah. Kalau mau rem pakai aba-aba dong. Ayo masuk!" ajak Mia.


Waaaw.. Asli kamar sultan ini.


Mia berlari dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk dengan ranjang yang sangat luas dan terlihat mewah. Tak lama Dion juga ikut berbaring di samping Mia. Dengan segera Mia bangun dan menjauh dari Dion.


"Jangan macam-macam ya Tuan. Anda sudah berjanji tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Mia sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

__ADS_1


"Siapa yang mengambil kesempatan? Kamu yang mengambil kesempatan. Ini kan kamar aku. Ngapain kamu tidur di ranjangku? Tenang satu bulan lagi kamu bisa tidur nyenyak sambil memelukku sepuasnya. Haha," ucap Dion dengan sangat puas.


"Ish, ngarep. Ogah. Mana kamar saya? Kenapa Tuan malah bawa saya ke kamar Tuan?" tanya Mia.


"Makanya punya telinga itu dipakai. Ini telinga kan? Bukan pajangan," ucap Dion sambil menjewer telinga Mia.


"Awas ah," ucap Mia melepaskan tangan Dion dari telinganya.


"Tadi aku bilang. Tunggu di sini, aku mau ke kamarku dulu. Mana aku tahu kalau kamu ikut sampai ke depan kamarku," ucap Dion.


"Bodo amat ah. Mana kamarku. Ayo buruan ah!" ucap Mia kesal.


"Ayo sini," ajak Dion. "Nah ini kamar kamu," lanjut Dion sambil membuka kamar tamu yang akan ditempati Mia.


"Waaaaaw," ucap Mia dengan sangat kagum.


Mia masuk dan duduk di tepi ranjang. Mengusap dan menepuk kasurnya, lalu merebahkan tubuhnya dengan sangat nyaman. Melihat kelakuan Mia, rasanya Dion perlu membiarkan Mia untuk menikmati waktunya sendirian.


"Tuan," panggil Mia.


"Jangan bilang mau ditemani olehku," ucap Dion.


"Oh, tentu tidak Tuan. Mia hanya bingung saja," ucap Mia.


"Bingung kenapa?" tanya Dion.


"Kamar tamu kok di depan, tapi kamar Tuan di pojok belakang? Sudah kayak kamar pembantu. Apa jangan-jangan Tuan itu anak angkat kali ya? Makanya Nyonya Helen pilih kasih. Iya gak sih?" tanya Mia.


"Miaaaaa," ucap Dion geram dengan mengangkat kepalan tangannya.


Mia spontan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ampuuuun, maafkan Mia Tuan. Mia kan hanya bertanya," ucap Mia dibalik tangannya.


Mia perlahan melepaskan kedua tangannya dari wajahnya saat merasakan sentuhan halus di kepalanya.


Tuan Dion?


"Istirahat! Jangan selalu membuatku kesal. Aku tidak tahu apakah aku akan selalu bisa memaklumi tingkahmu atau tidak," ucap Dion.


Tak menunggu respon Mia, Dion langsung keluar dari kamar Mia dan menutup pintu kamarnya. Mia memegang dadanya. Mengandalikan perasaan dan pikirannya. Setelah cukup lama, Mia membuka pintu kamarnya dan melihat ke sekeliling. Tidak ada. Dion tidak terlihat. Mungkin Dion marah dan kembali ke kamarnya. Namun Mia menahan dirinya untuk menemui Dion, bukan waktu yang tepat.


Mia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang mewahnya. Karena rasa lelahnya, akhirnya Mia tidur dengan nyenyak. Melupakan semua beban hidupnya sementara waktu.


Sementara di kamar Dion, pria itu terlihat sedang menatap lepas ke luar jendela kamarnya. Memikirkan jalan hidupnya yang tidak terprediksi sama sekali. Rasa cintanya pada Niki membuatnya patah hati dan enggan mengenal cinta kembali. Tapi setelah bertemu Mia, perasaannya tidak bisa dikontrol. Entah apa yang terjadi dengan dirinya.


Benarkah aku mencintai Mia? Tuhaan. Bagaimana mungkin?


"Di," teriak Reza.


"Reza?" ucap Dion yang langsung tersadar dari lamunannya.


"Main PS yuk! Gabut nih," ucap Reza yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Dion.


Kedekatan keduanya memang seolah tidak ada batasan. Reza bisa dengan bebas keluar masuk kamar Dion, bahkan ketika Dion sedang tidak di kamarnya.


"Males ah," jawab Dion.


"Kenapa? Takut kalah ya? Tenang! Kali ini, gak pake taruhan kok. Maen aja maen. Ayo ah!" ajak Reza.


"Tuan," panggil Mia saat melihat kamar Dion terbuka.


Karena melihat ada orang yang tidak dikenal, Mia langsung kembali ke kamarnya.


"Siapa Di?" tanya Reza.


"Calon istri," jawab Dion.


"Yang bener? Si Mia itu?" tanya Reza.


Reza berdiri hendak menyusul Mia namun tangannya ditarik oleh Dion.


"Heh, mau kemana?" tanya Dion.


"Kenalan. Kan calon istri temen sendiri. Masa gak boleh?" tanya Reza.


"Gak," jawab Dion sambil menutup pintu kamarnya dan mengunci pintunya.


"Ya elah, posesif banget sih. Tapi gak nyangka ya bisa cantik juga pilihanku. Harusnya kamu berterima kasih sama aku Di," ucap Reza.


"Hemmm," jawab Dion malas.


Dion memang ingin berterima kasih pada Reza karena sudah secara tidak langsung mempertemukannya dengan Mia. Namun gengsinya yang menggunung membuat itu menjadi sebuah kemustahilan.


Baik Reza maupun Dion, ketika memilih calon istri untuk Dion memang tidak menggunakan foto. Hanya sebuah identitas dan beberapa riwayat hidupnya saja. Urusan wajah, biar jadi kejutan untuk keduanya. Dan keduanya benar-benar terkejut dengan kecantikan Mia.


###################


Mon maaf kalau up nya gak maksimal. Lambung mimin lagi gak bersahabat. Nanti kalau udah sehat banget, siap gaspol.


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2