
"Sin, aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Mia.
"Apa?" tanya Sindi.
Mia melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang.
"Kamu sudah mengabari keluargamu?" tanya Mia.
"Aku belum cerita sama kamu ya Mi?" tanya Sindi.
Wajah Sindi nampak sedih. Matanya nampak berair.
"Sin, kamu kenapa?" tanya Mia panik.
"Aku, aku," jawab Sindi.
Sindi tidak mampu menyelesaikan ucapannya. Bibirnya bergetar, tangisnya pecah. Mia terus memeluknya lebih erat. Ia memberikan bahunya untuk Sindi. Membiarkan sahabatnya itu tenang.
"Kalau kamu gak mau cerita, gak masalah. Aku gak maksa," ucap Mia.
Sindi hanya bisa menangis dan menangis. Berusaha menutupi semuanya dari Mia. Cukup dirinya yang tahu semua aib di keluarganya.
"Mau minum?" tanya Mia saat Sindi melepaskan pelukannya
"Gak Mi. Terima kasih ya!" ucap Sindi.
Mia hanya mengangguk dan menggenggam tangan Sindi.
"Kamu istirahat ya! Mia balik ke kamar dulu," ucap Mia.
"Iya Mi," ucap Sindi.
Sindi mengantarkan Mia dengan senyum manisnya. Setelah Mia pergi, Sindi menutup pintu kamarnya dan kembali menangis.
Kenapa nasibku seperti ini? Haruskah aku jujur atas apa yang terjadi dengan keluargaku? Bisakah Danu dan Ibu Nathalie masih menerimaku?
"Mia, maafin aku ya. Aku belum bisa cerita sama kamu," gumam Sindi.
Sindi merasa bersalah karena menyembunyikan masalah keluarganya pada Mia. Padahal Mia ingin tahu tentang keluarga Sindi
Kamu kenapa Sin? Kalau ada apa-apa padahal cerita aja sama Mia.
"Mi, kamu kenapa?" tanya Dion.
"Eh, Aa. Belum tidur A?" tanya Mia.
"Belum. Baru mau lihat Naura dan Narendra," jawab Dion.
"Mia juga mau ke sana A," ucap Mia.
Mia dan Dion pergi ke kamar bayi kembarnya. Mereka nampak sudah tidur. Tidak ingin mengganggu tidur bayi kembarnya, Mia dan Dion tidak lama. Hanya sekedar mengecup dan mengusap pipi Narendra dan Naura yang semakin gembil.
"Mi, jangan minta jatah ya! Malam ini aku cape, nanti gak maksimal." Dengan begitu percaya diri Dion mengucapkan kalimat itu.
Sementara Mia yang berdiri di belakangnya hanya bisa mengernyitkan dahinya.
"Kenapa?" tanya Dion.
"Gak," jawab Mia.
"Marah ya?" tanya Dion.
"Gak," jawab Mia
"Jangan bohong," jawab Dion.
"Gak," jawab Mia.
"Ya udah ayo!" ajak Dion.
"Ayo apa?" tanya Mia.
"Kalau mau gak apa-apa deh. Aku siap ayo!" ajak Dion.
"Ih, dasar aneh." Mia menggelengkan kepalanya dan bergegas ke kamar mandi.
"Gimana? Mau gak?" tanya Dion.
__ADS_1
Mia yang baru keluar dari kamar mandi menatap Dion dengan tatapan tajam. Ia berdecak dan menggelengkan kepalanya. Lalu beranjak ke atas ranjangnya.
"Mi, mau gak? Ini penawaran terakhir loh," ucap Dion.
"Mau," jawab Mia.
"Ayo!" ucap Dion semangat.
"Mau tidur," ucap Mia sembari menarik selimut dan memejamkan matanya.
Dion yang awalnya hanya pura-pura tidak mau, berharap kalau Mia memaksanya. Namun karena Mia tidak memaksanya, Dion berusaha memancing Mia agar menginginkan hal itu. Akhirnya, semua ekspektasinya harus berakhir kecewa. Karena Mia memilih untuk tidur lebih dulu.
Mia ini benar-benar gak peka. Masa ia tiap mau aku dulu yang harus ngajakin. Kali-kali kan aku mau dibujuk dirayu gitu sama kamu, Mi.
Dengan perasaan kecewa, Dion ikut berbaring disamping Mia. Meskipun belum ngantuk, namun ia berusaha memejamkan matanya. Berharap bisa tidur nyenyak seperti Mia.
Tidur nyenyak? Tunggu dulu! Siapa yang tidur nyenyak? Nyatanya Mia juga sedang menunggu hal yang sama.
A Dion kok malah tidur sih? Katanya mau. Ih, benar-benar ya jadi suami kok gak ngerti banget.
Baru saja Mia berusaha untuk tidur, dering ponsel membangunkannya. Bukan hanya Mia, tapi Dion juga ikut bangun.
"Siapa?" tanya Dion.
"Papa Felix," jawab Mia.
"Angkat!" ucap Dion.
Panggilan video bersama Tuan Felix pun dimulai.
"Papa gak ganggu kamu kan, Mi?" tanya Tuan Felix.
"Gak dong Pah," jawab Mia.
"Oh ya gimana perkembangan hubungan Sindi?" tanya Tuan Felix.
"Banyak sekali perkembangannya Pah. Minggu depan mau ada acara lamaran," ucap Mia.
"Benarkah? Rian belum cerita apapun pada Papa," ucap Tuan Felix.
"Mungkin Sindi belum mengabari Rian," ucap Mia.
"Kalau untuk menikah, belum ada pembicaraan lagi Pah. Tapi nanti Mia kabari ya kalau udah ada tanggalnya," ucap Mia.
"Ok Mia. Terima kasih banyak ya!" ucap Tuan Felix.
"Sama-sama Pah," ucap Mia.
"Oh ya Dion kemana?" tanya Tuan Felix.
"Ini Pah," ucap Mia.
Kamera ponselnya Mia arahkan pada Dion.
"Hai Pah, apa kabar?" tanya Dion.
"Hai Dion. Papa baik. Oh ya Papa titip Mia ya! Bahagiakan Mia, jangan sampai kamu kecewakan anak Papa ya!" ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan Mia," ucap Dion.
"Baguslah. Papa percaya padamu. Oh ya, Papa punya permintaan padamu. Bukan hanya padamu sih, permintaan ini juga berlaku untuk Mia." ucap Tuan Felix.
"Apa pah?" tanya Dion.
"Tolong tambah cucu lagi ya buat Papa. Biar nanti kalau ke sana gak rebutan sama orang tuamu," ucap Tuan Felix.
Akhirnya ada alasan untuk melanjutkan harapan yang sempat terkubur. Ayo Mia! Bukan aku yang mau. Ini Papa kamu loh yang minta.
Kameranya langsung diarahkan pada Mia. Dion canggung dan malu jika Tuan Felix sudah membahas hal itu.
"Apaan sih Papa," ucap Mia malu-malu.
Tuan Felix tertawa dan mengakhiri panggilannya. Saat panggilan itu sudah berakhir, Mia kembali menyimpan ponselnya di atas nakas. Namun pada saat ia merebahkan tubuhnya, Dion memegang tangannya dengan mesra.
"A," ucap Mia.
"Aku hanya ingin memenuhi apa yang diinginkan ayah mertuaku. Ayo!" ajak Dion.
__ADS_1
Tidak ingin mendengar penolakan, Dion segera mematikan lampu kamarnya dan mulai beraksi. Heningnya malam menjadi saksi betapa dua manusia tengah menikmati detik demi detik yang terlewati malam ini.
Mungkin tidak terlalu lama. Namun Dion berhasil membuat Mia menyerah, hingga tidur karena kelelahan.
Pagi ini, Dion sampai harus membangunkan Mia karena Mia masih belum bangun. Padahal Dion sudah selesai mandi.
"Mi, bangun! ASI buat Narendra sama Naura jangan lupa. Nanti abis itu kamu boleh tidur lagi," ucap Dion.
Entah sudah keberapa kali Dion membangunkan Mia. Akhirnya Mia menggelisik. Ia menggisik matanya kemudian menutup mulutnya yang sedang menguap.
Merasa ASInya sudah banyak, Mia segera mandi dan bersiap menyusui Narendra dan Naura.
"Mi, cape ya? Aku hebat sih," goda Dion.
"Apaan sih A," ucap Mia yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Dion hanya tersenyum saat melihat Mia cemberut. Padahal dalam hatinya, Mia mengiyakan apa yang Dion ucapkan. Dion memang selalu hebat dalam urusan memuaskan Mia.
"Ayo sarapan!" ajak Dion.
"Mia ke kamar Narendra dulu ya A. ASI udah banjir," ucap Mia.
"Oh begitu? Ya sudah aku juga ikut," ucap Dion.
Setelah sampai ke kamar bayi kembarnya, nampak kedua bayi itu masih tidur nyenyak.
"Mana pompa ASI? Biar Mia pompa dulu," ucap Mia.
"Mau ku bantu, Mi?" tanya Dion.
"Aa," ucap Mia.
Nada peringatan sekaligus ancaman itu membuat Dion menutup mulutnya rapat-rapat. Apalagi saat jedua perawat itu nampak menahan tawanya. Padahal semua itu tidak seperti yang mereka pikirkan. Kali ini Dion benar-benar ingin membantu Mia. Ya sekedar menyiapkan botolnya mungkin.
"Kalian di sini?" tanya Nyonya Helen.
"Eh, Mama. Iya, Mia pompa ASI dulu." Mia tersenyum dan membereskan alat pompanya.
"Mau sarapan sekarang?" tanya Nyonya Helen.
"Ayo Ma!" ajak Dion.
Mia dan Dion mengikuti Nyonya Helen menuju ruang makan. Di sana sudah ada Tuan Wira yang sedang duduk menunggu. Sedangkan Sindi sedang membantu Mba untuk menyiapkan sarapan.
Setelah sarapan selesai, Tuan Wira dan Dion pamit untuk pergi ke kantor. Sindi, Mia, dan Nyonya Helen masih duduk di ruang makan.
"Sin, gimana buat acara lamaran nanti? Apa calon mertuamu itu tidak bertingkah aneh-aneh?" tanya Nyonya Helen.
"Ma," ucap Mia.
"Mama kan cuma nanya Mi," ucap Nyonya Helen.
"Ibu Nathalie hanya titip pesan buat Mia," ucap Sindi.
"Apa?" tanya Mia.
"Katanya Bu Nathalie izin mengundang Nyonya Kalin dan Tuan Dev," jawab Sindi.
"Siapa dia?" tanya Nyonya Helen.
"Aku juga gak tahu Nyonya," jawab Sindi.
"Dia teman Mia. Sekaligus rekan kerja Tuan Ferdinan juga," ucap Mia menjelaskan.
"Ya Tuhaaaaan. Si wewe gombel benar-benar kebangetan. Katanya pesta lamaran mau digelar tertutup dan sederhana. Eh, belum apa-apa udah heboh ngundang sana sini. Dia pasti mau pamer. Karena dia bangga bisa besanan sama Mama," ucap Nyonya Helen dengan begitu percaya diri.
Mia dan Sindi hanya saling menatap. Mengartikan ucapan Nyonya Helen dengan kepalanya masing-masing.
Mau sampai kalian seperti ini Ma? Mia gak bisa bayangin gimana jadinya nanti? Mungkin gak ya kalian bisa akur?
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.