
"Di, kalau mau pulang ya pulang aja. Mia biar sama Mama aja ke Bandungnya," ucap Nyonya Helen.
"Ish Mama, sudah ah. Jangan mulai lagi. Udah tahu Mia kalau ngambeknya suka bersambung. Ini dikasih jalan lagi ah," ucap Dion.
"Jadi kamu maunya gimana?" tanya Nyonya Helen sambil menahan tawanya.
Sesuai keputusan awal, Mia berangkat ke Bandung di antar Dion dan seorang dokter kandungan. Meskipun Mia merasa risih, tapi itu adalah langkah satu-satunya yang harus ditempuh agar ia bisa ke makam ibunya.
"Maafkan Mama tidak bisa mengantarmu Mia," ucap Nyonya Helen memeluk Mia.
"Gak apa-apa Ma. Mama sehat-sehat ya di sini. Mia juga tidak lama pulang lagi ke Jakarta. Terima kasih sudah izinin Mia ke Bandung ya Ma," ucap Mia dalam dekapan ibu mertuanya.
"Sampaikan salamku pada ibumu," ucap Nyonya Helen.
Mia mengangguk.
Ibu pasti bahagia kalau tahu punya besan sebaik Mama Helen. Wanita sosialita yang tidak pernah mempermasalahkan latar belakang Mia.
Lambaian tangan Nyonya Helen mengantarkan Mia untuk pergi ke Bandung. Dalam perjalanan ke Bandung, Mia risih saat mendengar pertanyaan dokter yang itu-itu saja.
"Apa Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya dokter yang ikut bersama Mia.
Entah untuk keberapa kalinya Mia mendengar pertanyaan itu. Bahkan kini Mia tidak lagi menjawab pertanyaan itu dengan mulutnya. Ia hanya cukup menganggukkan kepalanya.
"Mia, Mia," panggil Dion. "Dokter, tolong istriku. Dia kenapa?" tanya Dion panik.
Mobil berhenti dan dokter mulai mengguncang pelang bahu Mia. Perlahan Mia membuka matanya.
"Ada apa ini?" tanya Mia bingung.
"Nyonya, maaf. Saya harus memeriksa tekanan darah Anda," ucap dokter.
"Buat apa?" tanya Mia.
"Aku khawatir tekanan darah Anda terlalu rendah," ucap dokter itu.
"Kalau rendah?" tanya Mia.
"Sepertinya Anda harus diinfus, Nyonya." jawab dokter itu.
"Ah, buat apa?" tanya Mia.
"Agar Anda tidak lemas," jawab dokter.
Namun setelah memeriksa darah Mia, sepertinya semua normal dan baik-baik saja.
"Kenapa? Mia baik-baik saja kan? Mia hanya ngantuk. Ini tuh kebiasaan Mia, kalau di mobil dan perjalanan lama, ya tidur. Jadi jangan ganggu tidur Mia lagi ya!" ucap Mia.
Apa? Tidur? Bagaimana mungkin dia tidur begitu lelap? Padahal ini di dalam mobil. Aku sampai menepuk-nepuk pipinya tadi. Tapi dia gak bangun-bangun. Aku pikir kamu pingsan Mia.
"Jalan!" pinta Dion pada sopirnya.
Mobil kembali melaju dan Mia kembali memejamkan matanya. Dokter yang duduk di depan Dion dan Mia hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. Seolah ia menyesal sudah ikut dalam mobil itu, hingga harus ikut dalam drama keluarga Mia dan Dion.
Bandung, tempat Mia lahir dan tumbuh. Mia membuka matanya saat jalan yang tidak semulus di Jakarta mengguncang tubuhnya.
"Mia, pegang perutmu!" ucap Dion.
"Hah? kenapa?" tanya Mia panik.
Mia segera mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya. Ia memegang bagian bawah perutnya dengan kedua tangannya.
"Aku takut bayi kembar kita keluar. Kamu duduknya yang rapat dong. Biar ketahan," jawab Dion dengan panik.
"Ya ampun A," ucap Mia.
Mia melepaskan tangannya dan tangan Dion dari perutnya.
"Mia, pegangin perut kamu!" ucap Dion.
"A, ya gak mungkin keluar dong. Kan belum waktunya lahir. Aa tenang aja," ucap Mia.
"Iya tapi jalannya ancur begini. Kamu kok gak bilang sih?" tanya Dion.
"Ya ampun A. Ini tuh udah bagus. Kalau Aa dulu ke sininya, uhh naik mobil berasa naik kuda lumping." Mia bergidik.
"Makan beling dong," ejek Dion.
"Ish, Aa ngeselin." Mia mendelik kesal.
"Kalau marah makin cantik deh," ucap Dion.
"Ya bagus dong. Jadi aku marah aja sampe setahun setengah," ucap Mia.
Aduh, bahaya. Salah ngomong nih.
"Ehh gak jadi. Kamu jadi jelek kalau marah," ucap Dion.
"Jadi kalau gak marah, Mia cantik kan?" tanya Mia.
Dion diam. Kepalanya masih terus berpikir. Mau bilang iya, tapi Mia sangat jarang bahkan hampir tidak pernah memujinya tampan. Tapi dari pada marahnya lama, Dion mengalah dari rasa egoisnya.
"Iya, kamu cantik." Dion menunduk.
"Kok nunduk gitu sih? Kayak gak ikhlas sih bilang cantiknya?" tanya Mia.
"Kamu cantik Mia. Sangat cantik," ucap Dion.
__ADS_1
Dion mendekatkan wajahnya pada Mia. Hingga Mia harus mundur agar menjauh dari Dion.
"Aa mau ngapain?" tanya Mia.
"Katanya jangan nunduk. Itu kode kan? Biar aku makin deket sama kamu," ucap Dion.
"Awas Aa," ucap Mia mendorong tubuh Dion.
Dion tertawa mendengar respon Mia. Melihat wajah Mia yang marah, kesal, malu dan mau membuatnya terlihat sangat lucu.
Mohon maaf ya! Tapi kali ini aku gak bisa nahan Mi. Kamu terlalu menggemaskan.
CUP
Dion mengecup pelan bibir Mia. Mia membelalakkan matanya. Namun sebelum Mia marah, Dion segera menyambar kembali bibir Mia yang sudah mangap dan bersiap untuk memarahi Dion. Seorang sopir dan dokter yang berada di jok depan seolah hanya dua manusia yang buta dan tuli. Mereka pura-pura tidak bernyawa saat di dalam mobil itu.
"Awww," ucap Mia dan Dion bersamaan.
Jalan yang tidak semulus di Jakarta, membuat gigi Mia dan Dion saling beradu saat ban mobil menempuh jalanan yang bolong-bolong. Dokter dan sopir berusaha untuk menahan tawanya.
"Kamu kok bisa sih tinggal di daerah pedalaman begini?" ucap Dion sembari mengelap bibirnya.
Mia tidak menjawab. Ia hanya segera mengeluarkan cermin dan merapikan lipstiknya yang sedikit berantakan.
"Di depan belok kanan ya Pak," ucap Mia
"Oh iya Nyonya," jawab sopir.
Dion menyandarkan tubuhnya. Rasanya lucu saat mengingat kejadian tadi. Bisa-bisanya acara romantis itu gagal hanya karena jalanan berlubang.
"Depan rumah warna putih, berhenti ya pak!" ucap Mia.
Telunjuk Mia menunjuk sebuah rumah yang paling besar dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain di daerah itu. Tidak lama mobil mewah milik Dion berhenti tepat di depan rumah yang Mia tunjuk.
"Rumah kamu?" tanya Dion.
"Iya. Ayo turun!" ucap Mia.
Dion dan yang lainnya ikut turun dan mengikuti Mia. Salah seorang wanita mendekati Mia dan memberikan kunci. Lalu Mia membuka pintu itu. Pintu yang sudah lama tidak pernah terbuka Karena setelah ibunya meninggal, rumah itu tidak di urus. Mia hanya menitipkan rumah itu pada tetangganya. Namun mereka tidak ada yang mau masuk. Kabarnya, rumah itu juga ada hantunya setelah dua tahun tidak ditinggali.
"Mia, ini udah kayak rumah hantu saja. Kenapa banyak jaring laba-labanya begini sih?" tanya Dion.
Dion berputar. Melihat sekeliling rumah Mia. Rumah berukuran besar itu, tampak menyeramkan bagi Dion.
"Ah, Apaan sih Aa. Mana ada hantu. Zaman sudah modern kayak begini sih, gak usah takut sama hantu," ucap Mia.
"Memangnya siapa yang takut?" Tany Dion.
BRUGGH
Suara benda jatuh membuat Dion sangat terkejut.
Aduh, sialan. Kenapa aku pakai acara kaget segala sih? Ini kan bisa menurunkan harga diriku.
Dion mencoba mengalihkan pembahasan Mia.
"Mi, ini gak baik buat keadaan kamu yang sedang hamil. Biarkan dia membersihkan dulu rumah ini. Kita langsung ke makam ibu aja gimana?" tanya Dion.
"Aa gak cape?" tanya Mia.
"Oh ya ampun. Maafkan aku Mia, kamu istirahat dulu. Aku tahu kamu cape," ucap Dion.
"Gak A, Mia gak cape. Aa cape gak?" tanya Mia.
"Aku sih biasa aja," jawab Dion.
Sebenarnya ia merasa tubuhnya agak lelah setelah perjalanan yang cukup jauh. Namun dari pada Mia membahas tentang dirinya yang takut hantu, lebih baik ia langsung ke makam ibunya Mia saja. Lagi pula Dion tahu, Mia sudah tidak sabar untuk ke makam ibunya.
"Aya sudah ayo A," ajak Mia.
"Mana kunci mobil?" teriak Dion pada sopirnya yang sedang membersihkan teras rumah Mia.
"Aa mau kemana?" tanya Mia.
"Mau ke makam," jawab Dion.
"Tapi jalan ke makam gak bisa dilewati mobil, A." ucap Mia.
"Terus?" tanya Dion.
"Jalan kaki," jawab Mia.
Jalan kaki? Mia beneran atau cuma ngprank aku ya? Masa iya jalan kaki?
"Jauh gak Mi?" tanya Dion.
"Lumayan," jawab Mia.
Dion mengikuti Mia untuk pergi ke makam. Tak lupa, dokter itu berjaga di belakang Mia. Ia harus siap sedia saat Dion terlihat panik walaupun hanya melihat Mia meringis.
Baru lima menit perjalanan, mata Dion terbelalak saat melihat hamparan sawah.
"Mia, kita mau kemana?" tanya Dion.
"Ke makam," jawab Mia.
"Melewati sawah?" tanya Dion.
__ADS_1
Melihat Mia mengangguk, Dion berjalan lebih depan. Ia bergidik saat melihat pematang sawah yang kecil untuk dilewati.
"Jangan jalan sini. Cari jalan lain," ucap Dion.
"Gak ada A. Paling kita muter balik ke jalan kebun. Lebih jauh dan harus melewati sungai," ucap Mia.
Mia menatap Dion yang hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.
"Jadi Aa mau pilih jalan mana?" tanya Mia.
Mia, itu bukan pilihan. Bisa-bisanya kamu tinggal di tempat seperti ini. Bahkan untuk memakamkan ibumu saja, jalannya sungguh menguji adrenalin.
Mia yang terbiasa dengan pematang sawah, merasa semuanya baik-baik saja. Lagi pula, makam ibunya tidak jauh dari sawah.
"A, gimana?" tanya Mia.
"Lanjut. Tapi kamu hati-hati Mia! Kamu itu lagi hamil. Awas, biar aku duluan!" ucap Dion dengan sangat percaya diri.
Ini memang pengalaman pertama Dion. Bahkan ia sendiri tidak terlalu yakin bisa melewati jalan itu. Namun sebagai suami, Dion ingin melindungi istrinya.
Dion berjalan di depan Mia. Sangat lambat bagi Mia. Ketiganya berjalan di pematang sawah, dengan dokter yang mengikuti di belakang Mia. Baru setengah perjalanan, Dion sudah terjatuh. Kaki kanannya masuk ke sawah, sedangkan tubuhnya masih bisa ia tahan.
Tidak sakit, tidak malu, Dion hanya meringis saat melihat kakinya kotor.
"Berani kotor itu baik, A." ucap Mia.
Sementara dokter di belakang Mia hanya bisa menahan tawanya saat melihat Dion dan mendengar respon Mia. Dion nampak cemberut. Kalau saja bukan untuk ke makam mertuanya, Dion pastikan mereka akan kembali lagi saat itu juga.
Dion bangun dan melanjutkan perjalanannya. Tanpa seucap kata yang keluar dari mulutnya, Dion berjalan jauh lebih hati-hati. Meskipun ia merasa sangat tidak nyaman, namun perjalannya tidak bisa dihentikan.
"Ibuuuu," teriak Mia.
Teriakan Mia seketika menyayat hati Dion. Ia belum pernah melihat Mia sesakit itu. Mia nampak sangat lemah. Selama mengenal Mia, baru pertama kali Dion melihat Mia menjadi sangat tidak berdaya seperti itu.
"Bu, Mia bahagia. Mia baik-baik saja. Mia bawa suami dan calon cucu buat ibu. Ibu senang kan? Ibu bahagia kan? Ibu tersenyum kan? Mia sayang sama ibu. Mia rindu ibu. Tapi ibu tenang saja ya! Sudah ada Mama Helen yang akan menjaga Mia selama Mia belum bertemu ibu. Mama Helen itu sangat baik dan sayang sama Mia. Mia juga punya Papa Wira. Ibu jangan khawatir lagi sama Mia ya!" ucap Mia sambil mengusap batu nisan bertuliskan nama Ningsih.
Seperti inikah sakitnya ditinggalkan oleh ibu? Kepala Dion langsung mememikirkan Nyonya Helen. Ia masih punya orang tua yang lengkap, namun ia melupakan kesempatan untuk berbakti pada kedua orang tuanya.
Pantas saja aku melihat ketulusan dalam diri Mia untuk Mama dan Papa. Ternyata Mia benar-benar kehilangan. Dan Mia menemukan sosok yang hilang itu dari Mama dan Papa. Sedangkan aku? Kadang aku tidak begitu peduli dengan mereka. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ma, Pa, aku ingin melihat kalian bahagia.
Dion mengusap kepala Mia. Menenangkannya, menguatkannya. Mia tidak sendiri, ada Dion dan keluarganya yang selalu ada untuk Mia. Sementara dokter yang menjaga Mia, sampai menyeka sudut matanya yang mulai basah. Sedih karena dirinya juga mengingat ibunya. Baru dua bulan yang lalu ibunya meninggal. Tangis dokter itu juga karena melihat keberuntungan Mia yang sudah memiliki Dion yang sangat menyayanginya.
Mereka bertiga duduk dan mendoakan ibunya Mia. Setelah melihat Mia puas dan lebih tenang, Dion mengajak Mia untuk pulang. Gerimis membuat Dion khawatir saat mengingat pematang sawah yang harus ia lalui nanti.
Dengan berat hati, Mia melangkah meninggalkan makam ibunya. Kembali melewati pematang sawah, dan kejadian yang sama. Ya, Dion kembali terjatuh dalam sawah. Namun kali ini Mia tidak berkomentar apapun. Ia hanya membantu suaminya untuk bangun dn melanjutkan kembali perjalanannya.
Sampai di rumah, hujan turun semakin besar. Petir menyambar-nyambar, membuat suasana semakin tidak nyaman bagi Dion. Namun bagaimanapun ia harus terlihat berani dan tenang di hadapan Mia.
Setelah hujan reda, klakson mobil terdengar sangat nyaring ke dalam rumah.
"Mamaaaaa," teriak Dion saat melihat Nyonya Helen masuk ke dalam rumah.
Nyonya Helen terlihat terkejut dengan sikap Dion yang menurutnya tidak biasa itu. Dion terbawa suasana. Setelah melihat Mia menangis di makam ibunya, seketika Dion sangat merindukan ibunya. Saat ini, sosok yang ia rindukan ada di hadapannya. Dion tidak bisa menahan diri untuk meluapkan perasaannya.
"Di?" tanya Tuan Wira.
Tuan Wira memegang dahi Dion saat Dion sudah melepaskan pelukan ibunya.
"Papa apaan sih?" tanya Dion.
"Kamu gak kesambet kan?" tanya Tuan Wira.
"Ya gak lah. Memangnya kenapa sih?" tanya Dion.
Tuan Wira merentangkan tangannya dan menatap Dion.
"Apaan sih?" tanya Dion.
"Papa gak dipeluk nih? Kok cuma Mama aja?" tanya Tuan Wira.
Haruskah? Kok rasanya beda sih? Masa iya harus meluk papa?
Dion mendekat dan memeluk Tuan Wira. Pelukannya semakin erat. Tadinya Tuan Wira hanya berniat menggoda Dion, tapi merasakan pelukan Dion yang semakin erat membuat Tuan Wira merasa tersentuh. Bahkan Tuan Wira lupa kapan terakhir kali Dion memeluknya.
"Di, sudah berapa lama Mia gak ngasih kamu jatah?" tanya Tuan Wira.
"Maksud Papa?" tanya Dion.
Dion langsung melepaskan pelukannya saat mendengar pertanyaan konyol dari Tuan Wira.
"Kamu kok tumben-tumbenan sih meluk Papa? Karena Mia gak ngasih pelukan kan?" tanya Tuan Wira.
"Tahu ah," ucap Dion kesal.
Seketika rasa haru Dion berubah menjadi kesal. Kekesalannya terjadi karena ketidakpekaan ayahnya atas perasaannya. Padahal sebenarnya pertanyaan itu hanya sebagai tameng. Tuan Wira sudah tidak tahan saat merasakan pelukan Dion, hingga ia harus segera mengalihkan pembahasan.
"Padahal enak nih lagi hujan-hujan begini. Kalau Mia gak mau peluk kamu, sini peluk Papa lagi." Tuan Wira kembali merentangkan tangannya.
Gelak tawa terdengar dari setiap orang yang ada di sana. Termasuk Tuan Wira, ia merasa senang karena sudah berhasil membuat suasana menjadi lebih ceria. Hanya Dion yang masih cemberut menahan kesal.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..