Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kamu?


__ADS_3

"Gimana A?" tanya Mia.


"Ide kamu cemerlang. Aku berhasil membawa Maya ke Jakarta. Terima kasih buat bantuannya ya Mi," ucap Dion.


Ternyata, ide itu muncul dari Mia. Mia yang meminta Dion untuk membawa Reza dan istrinya ke Jakarta. Termasuk segala ucapan, bujukan, rayuan yang menyentuh itu adalah sebuah pesan dari Mia yang Dion ucapkan. Dion yang bersikap tegas dan memaksa, lalu ucapan yang begitu meyakinkan itu semua adalah settingan Mia. Mia yang membuat Dion bersikap seperti itu.


Mungkin jika tidak ada Mia, Dion hanya akan ikut bersedih dan membiayai perawatan Maya di Lombok. Seperti yang Dion lakukan saat tahu kalau Reza tengah kesusahan, hal pertama yang Dion lakukan adalah mengirim uang.


Jika tanpa Mia, Dion memang masih meyakini uang adalah segalanya. Dion hanya perlu melibatkan uang untuk menyelesaikan setiap permasalahannya. Berbeda dengan Mia yang selalu menganalisis dan mencari penyelesaian lebih tepat.


"Mia senang kalau Reza sudah di Jakarta. Semoga istrinya cepat sembuh," ucap Mia.


"Iya. Maya sudah ditangani oleh dokter yang tepat di sini. Kualitas rumah sakit juga nomor satu. Aku yakin Maya akan segera sembuh. Aku pulang sebentar lagi ya!" ucap Mia.


"Aa kalau masih mau menemani Reza gak apa-apa di sana aja dulu. Mia kan di sini ada Mama dan Papa," ucap Mia.


"Reza udah gede. Dia gak bakal nangis kalau aku tinggalin. Aku kan juga kangen sama kamu," ucap Dion.


"Sama dede kembar gak?" tanya Mia.


"Loh, kan kangen kamu nanti berakhirnya jadi jenguk dede kembar," jawab Dion.


Mia hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Dion. Memang Dion itu selalu menjurus ke sana kalau dipancing oleh Mia.


Dion tersenyum lebar saat panggilannya sudah berakhir. Fikirannya sudah travelling kemana-mana. Dion sudah rindu pada istrinya. Sangat merindukannya. Terlebih ia rindu pada gerakan bayi kembarnya yang begitu lincah.


"Mau pulang?" tanya Reza.


"Pulang lah. Emang situ aja yang punya istri? Aku juga punya," jawab Dion.


"Ya kali aja masih kangen sama aku Di," ucap Reza.


"Gak usah. Terima kasih," jawab Dion.


Reza dan Maya tertawa mendengar jawaban Dion.


"May, aku pamit ya!" ucap Dion.


"Iya. Terima kasih Kak. Salam ya untuk Mia," ucap Maya.


"Siap. Nanti aku atur jadwal supaya Mia bisa ke sini," ucap Dion.


"Gak usah. Mia lagi hamil besar kan?" tanya Reza.


"Iya sih. Nanti aku tanya Mia dulu ya! Tapi kayaknya Mia mau ketemu sama kamu deh," ucap Dion.


Maya tersenyum. Ia membayangkan betapa beruntungnya menjadi Mia. Sahabat baik dari suaminya itu memang sangat peduli. Sama sahabat saja sebegitu pedulinya. Apalagi sama istrinya sendiri.


"Miaaa," teriak Dion saat tidak mendapati Mia di kamarnya. "Mana Mia? Dimana istriku?" teriak Dion dengan panik.


"Tuan, Nyonya Mia ada di atas. Di kamar Nyonya Helen," jawab salah seorang Mba di sana.


"Oh, ya sudah." Dion mengibaskan tangannya agar Mba pergi menjauh.


Wajah panik itu sudah hilang. Ia menjadi tenang setelah tahu keberadaan Mia.


"Mia," panggil Dion setelah mengetuk pintu kamar Nyonya Helen.


"Aa?" jawab Mia.


Dion membuka pintu kamar Nyonya Helen dan melihat Mia tengah tidur di atas ranjang bersama Nyonya Helen.


"Mana Papa?" tanya Dion.


"Ke Surabaya. Ada masalah di sana," jawab Nyonya Helen.


"Ke Surabaya? Masalah apa Ma? Kok gak ada yang ngasih tahu aku sih?" tanya Dion.


Dion merasa menyesal dan serba salah. Begitu baiknya Tuan Wira hingga ia menghandle urusannya di Surabaya, padahal sampai saat ini cabang perusahaan yang di Surabaya masih menjadi tanggung jawab Dion. Tapi karena Tuan Wira tahu apa yang sedang dilakukan oleh Dion, ia bahkan tidak memberi tahu apapun. Padahal tadi Tuan Wira sempat menjawab panggilan dari Dion.


"Masalah kecil kok. Kamu jangan khawatir," jawab Nyonya Helen.


"Harusnya aku yang ke sana," ucap Dion sedih.


"Memangnya kamu naruto?" ejek Nyonya Helen.


"Hah? Naruto?" tanya Dion.


"Iya. Memangnya kamu punya jurus seribu bayangan? Kalaupun Papa meminta kamu ke Surabaya, kamu pasti gak bisa kan?" ucap Nyonya Nathalie.


"Mama kok tahu tentang naruto sih?" tanya Dion.


"Kamu fikir Mama langsung tua? Mama juga tahu dong. Lagi pula di zaman sekarang apa sih yang gak tahu? Semua bisa kita tahu dalam genggaman," ucap Nyonya Helen.


Benar! Zaman memang serba canggih. Apa yang ada di belahan dunia manapun, bisa kita ketahui dalam sebuah ponsel. Tidak heran jika Nyonya Helen juga tahu tentang naruto.


"Iya deh Iya. Tapi ngomong-ngomong, Mia tidur di kamar aku kan malam ini?" tanya Dion.


"Ya tergantung Mia sih. Tanya saja sama Mia. Dia maunya tidur sama kamu atau sama Mama," ucap Nyonya Helen.


Jawaban membingungkan. Dion sudah kecil harapan saat diberi jawaban seperti itu. Ia sudah pasrah dan menerima kalau kenyataannya malam ini ia hanya tidur bersama guling saja.


"Gimana Mi?" tanya Dion basa basi.


Seperti dugaan Dion, Mia menjawab kalau malam ini tidur dengan Nyonya Helen saja. Mungkin ada perasaan tidak enak pada ibu mertuanya, walaupun sebenarnya Mia ingin sekali tidur dalam pelukan Dion. Apalagi tadi mereka sempat membahas tentang jenguk menjenguk. Tapi apalah daya kalau situasimya seperti itu, Mia dan Dion hanya bisa pasrah.


Melihat kekecewaan anak dan menantunya, Nyonya Helen berusaha untuk menutupi senyumnya. Ia tahu betul kalau Dion sedang menggerutu pada dirinya.


"Tapi sayangnya Mama lagi mau tidur sendiri. Kamu gak keberatan kan kalau keluar saja dari kamar Mama?" tanya Nyonya Helen dengan wajah pura-pura memelas.


Mia dan Dion terkejut. Drama apalagi ini? Mungkin itu yang ada di kepala mereka sekarang.


"Hah?" ucap Mia dan Dion bersamaan.


"Eh maaf Ma. Maksudnya gimana?" tanya Mia.

__ADS_1


"Kamu gak ngerti atau pura-pura gak ngerti sih?" tanya Nyonya Helen.


"Ayo buruan Mia. Nanti keburu Mama berubah fikiran lagi," ucap Dion.


Dion menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Mia dan membantu Mia turun dari ranjangnya.


"Dadah Mama. Selamat malam. Mimpi indah," ucap Dion.


Mia tidak berkata apapun. Ia hanya mengikuti Dion saat tangannya ditarik oleh suaminya itu.


"A, sabar dong pelan-pelan." Mia menghempaskan tangan Dion.


"Eh iya maaf. Terlalu semangat aku," ucap Dion.


"Semangat mau jenguk kan?" goda Mia.


"Ya mau ngapain lagi dong. Aku cuma takut Mama berubah fikiran dan gak ngizinin kamu buat tidur sama aku," ucap Dion.


"Ih, otaknya ke situ terus. Dasar mesum," ucap Mia.


Padahal sebenarnya Mia juga memikirkan hal itu. Namun Mia berusaha menutupinya. Mia terlihat biasa saja padahal ia juga menginginkan hal yang sama dengan Dion. Beruntunglah Dion yang mendominasi kegiatan menjenguk bayi kembarnya, hingga Mia bisa menyembunyikan rasa itu.


"Bayi kembar kita pasti lagi pesta," ucap Dion.


"Pesta apa?" tanya Mia.


"Biasa, oleh-oleh super dong." Dion malu sendiri dengan jawabannya.


Setelah lelah dengan kegiatan malam ini, Mia dan Dion terlelap. Seperti biasa, Mia tidur dalam dekapan Dion. Dekapan Dion memang selalu membuat Mia merasa sangat nyaman.


Kriiing.. Kriiiing


Dering ponsel Dion terdengar nyaring. Mata yang masih terpejam karena rasa ngantuk yang masih menguasai Dion, memaksa tangannya meraba nakas yang ada di samping ranjangnya. Dengan sedikit membuka matanya, terpampang nama Reza dalam ponselnya. Matanya langsung terbuka lebar. Dion segera menjawab panggilan itu dengan perasaan berdebar. Matanya melihat ke adah dinding, masih jam tiga pagi.


"Ada apa Za?" tanya Dion panik.


"Ada kopi hitam nih sama nyamuk," jawab Reza dengan santai.


Apa? Mungkinkah Reza sudah mulai gila?


"Serius. Ada apa sih?" tanya Dion.


"Yey, dibilangin ada kopi sama nyamuk," jawab Reza.


"Kamu ngapain nelepon aku jam segini?" tanya Dion.


"Iseng aja," jawab Reza dengan datarnya.


"Sialan. Nelepon jam tiga pagi cuma karena iseng? Bener-bener definisi teman gak ada akhlak emang," ucap Dion kesal.


"Yaelah, biasanya juga jam segini masih depan ponsel atau PS. Memangnya kamu udah tidur?" tanya Reza.


"Aku sudah berubah. Sekarang udah jadi calon bapak. Jadi gak bisa menghabiskan waktu buat hal yang gak penting. Kalau ada waktu istirahat, aku tidur. Karena besok pagi harus gaspol kerja. Cari cuan buat masa depan anak-anak," jawab Dion.


"Cieee, calon bapak. Gaya bener Di," ucap Reza.


"Udah tahu gak ada kerjaan nih. Aku bingung Di," ucap Reza.


"Jangan lebay. Fokus sama pengobatan Maya. Kalau Maya udah sembuh, cabang perusahaan di Surabaya butuh kamu." Dion memberi semangat.


"Hah? Gimana?" tanya Reza semangat.


"Ah pura-pura budeg lagi. Udah ah aku ngantuk. Besok aku ke sana buat bahas masalah itu ya!" ucap Dion.


Tidak menunggu jawaban Reza, Dion segera mengakhiri panggilan itu. Menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas dan tidur kembali.


Sesuai janjinya semalam, Dion akan menemui Reza untuk membahas tentang perusahaannya di Surabaya. Saat Dion meminta izin, Mia justru ingin ikut ke rumah sakit.


"Jam makan siang aku jemput kamu ya!" ucap Dion.


"Gak perlu. Mia kan mau ikut sama Aa sekarang ke kantor!" ucap Mia.


"Jangan lah Mia. Kamu istirahat aja di sini!" ucap Dion.


"Gak bisa," ucap Mia.


Mia bicara dengan santai sembari membantu Dion memasangkan dasinya. Namun Dion menahan tangan itu dan menatap wajah Mia. Butuh penjelasan atas kalimat Mia.


"Apa maksudnya gak bisa? Kamu sudah mulai tidak mau aku atur?" tanya Dion dengan tatapan tajam.


"Bukan. Karena seperti kata Mama. Kamu bukan naruto," jawab Mia.


"Ayolah Mia. Ada apa sih?" tanya Dion.


"Hari ini orang-orang di proyek Aa ingin bertemu. Selain itu, orang di proyek Papa juga ingin bertemu. Karena Papa gak ada jadi sepertinya Aa butuh Mia. Ya kecuali kalau Aa udah bisa jurus seribu bayangan. Soalnya waktunya sama-sama jam sembilan," jawab Mia.


"Hah? Jam sembilan? Sekarang?" tanya Dion panik.


"Iya," jawab Mia santai.


"Eh tunggu dulu! Apa maksud kamu orang di proyek aku?" tanya Dion tidak percaya.


Mia tersenyum dan mengangguk.


"Mia proyek itu berhasil? Kamu gak becanda kan?" tanya Dion penuh harap.


"Iya," jawab Mia.


Ya, Dion melupakan proyek itu. Bukannya tidak percaya pada Mia. Tapi sebenarnya Dion juga merasa tidak percaya kalau ia bisa memenangkan proyek itu.


"Kamu?" tanya Dion.


"Ini namanya rejeki bayi kembar kita A," jawab Mia.


"Sayaaaaang, terima kasih." Dion berlutut dan mencium perut Mia.

__ADS_1


Dion merasa setelah menikah dengan Mia, terlebih saat Mia mengandung anaknya, banyak hal dalam hidupnya jauh lebih mudah. Bagi Dion, kehadiran Mia dan bayi kembar dalam perut istrinya itu selalu membawa berkah.


"Sayang, aku malu sama kamu." Dion memeluk Mia.


"Malu kenapa?" tanya Mia.


"Kamu sudah kedua kalinya membantu perusahaan Papa. Aku gak tahu kalau gak ada kamu dalam hidupku," ucap Dion.


"Jangan begitu. Mia juga gak tahu apa jadinya hidup Mia kalau gak ada Aa. Aa yang membuat Mia bisa mewujudkan mimpi Mia. Keluarga Aa yang membuat Mia tidak lagi dilihat sebelah mata. Tidak ada lagi yang merendahkan Mia," ucap Mia.


"Kamu itu cantik, baik, dan pintar. Tidak ada alasan untuk mereka merendahkanmu," ucap Dion. "Tapi kok kamu gak bilang sih kalau orang-orang itu mau ketemu? Aku kan gak ada persiapan apa-apa," lanjut Dion.


"Mereka akan membawa beberapa rencana kegiatannya, nanti Aa lihat saja. Terus kasih respon. Udah gitu aja A. Selebihnya Mia yakin Aa pasti bisa," ucap Mia.


Mia yang sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang bisnis kini tidak lagi tegang saat harus bertemu dengan para pembisnis. Termasuk hari ini, meskipun posisinya nanti menggantikan Tuan Wira, Mia sama sekali tidak terlihat tegang.


"Mama ikut!" ucap Nyonya Helen saat Mia dan Dion pamit.


Bukan hanya keinginannya, namun ini juga masukan dari Tuan Wira. Tuan Wira yang tahu jadwal Dion bentrok dengn Mia, meminta istrinya agar bisa menemani Mia.


"Mama istirahat saja ya!" ucap Mia.


"Gak bisa," jawab Nyonya Helen.


Tidak ingin berdebat terlalu lama, Mia mengiyakan. Hingga akhirnya Nyonya Helen menemani Mia bertemu dengan orang-orang itu.


Dion yang bertemu di luar kantor, harus meninggalkan Mia. Untung ada Nyonya Helen yang menemani Mia di kantor. Ternyata sekarang Dion baru mengerti maksud Nyonya Helen yang ingin ikut ke kantor.


"Ma, terima kasih. Titip Mia ya! Aku berangkat sekarang!" ucap Dion.


Dion mencium tangan Nyonya Helen. Hal yang selalu membuat Nyonya Helen terharu. Semenjak menikah dengan Mia, Dion emmang selalu manis terhadap Nyonya Helen. Mencium tangan contohnya, hal sederhana namun sangat istimewa bagi wanita yang sudah mengandung Dion selama sembilan bulan itu.


"Mi, semangat kerjanya ya!" ucap Dion.


"Iya. Aa juga ya!" ucap Mia.


Kini giliran Mia yang mencium tangan Dion. Tak lupa, Dion mengecup dahi istrinya sebelum benar-benar meninggalkan kantor.


Sesuai kesepakatan, setelah acara selesai mereka bertemu di sebuah cafe untuk makan siang.


"Gimana Mi? Lancar?" tanya Dion.


"Lancar. Aa lancar?" tanya Mia.


"Iya. Oh ya mau pesan apa?" tanya Dion.


"Menu biasa aja A," ucap Mia.


Dion memesan makan siang untuk istri dan ibunya. Sebelum menu itu datang, Dion dan Mia bilang kalau mereka akan ke rumah sakit setelah makan.


"Mama mau ikut?" tanya Mia.


"Gak," jawab Nyonya Helen.


"Tumben. Biasanya mau ikut terus," ucap Dion.


"Kali ini gak deh. Mama mau istirahat. Kan sekarang Mia sama kamu. Jadi Mama gak perlu khawatir dan bisa tidur nyenyak," ucap Nyonya Helen.


"Ya sudah Mama pulang saja ya! Nanti Mia pulang dari rumah sakit juga langsung ke rumah," ucap Mia.


Menu makan siang datang. Ketiganya menikmati makan siang itu dengan lahap. Tak lupa Dion mengabadikan momen itu untuk membuat Tuan Wira yang sedang di surabaya menjadi iri.


"Dion, jangan begitu ah. Kasian Papa," ucap Nyonya Helen.


"Ya ampun Ma, baru aja sekali. Mama gak tahu kan Papa sering banget begini sama aku?" tanya Dion.


"Oh jadi kamu balas dendam sama Papa?" tanya Nyonya Helen.


"Bukan balas dendam Ma," jawab Dion.


"Terus apa namanya?" tanya Nyonya Helen.


"Aku cuma mau Papa itu tahu apa yang aku rasain saat itu," ucap Dion.


"Itu sama aja Dioooon," ucap Nyonya Helen geram.


Lagi dan lagi perdebatan itu kembali Mia jumpai. Ia hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan ibu dan anak itu. Dion hendak membayar makan siang mereka. Namun ia bingung saat kasir itu berkata kalau makan siang mereka sudah dibayar. Orang tersebut tidak mau disebutkan namanya ataupun identitas lainnya.


Dion kembali ke mejanya dengan wajah penuh kebingungan.


"Kenapa A?" tanya Mia.


"Udah ada yang bayar. Tapi siapa ya?" tanya Mia.


Sama seperti Dion, Mia dan Nyonya Helen juga tidak menduga siapa yang sudah membayar makanan mereka. Bahkan setelah ketiganya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, mereka tidak menemukan jawaban. Tidak ada satupun pengunjung di sana yang mereka kenal.


"Mungkin sudah pulang A. Ya sudah ini namanya rejeki. Di syukuri saja. Ayo berangkat ke rumah sakit," ajak Mia.


Meskipun kepalanya masih dipenuhi rasa bingung, tapi benar apa yang diucapkan oleh Mia. Mereka harus ke rumah sakit. Karena mungkin Reza dan Maya sudah menunggu.


Namun saat mereka keluar dari cafe itu, baru saja mereka sampai parkiran, tiba-tiba seseorang muncul di dekat mobil mereka.


"Gimana makan siangnya Dion? Sangat menyenangkan bukan? Aku memang tidak ikut makan di sana, tapi aku cukup merasa menikmatinya hingga aku merasa harus membayar makan siang kalian," ucap orang itu.


Ketiganya melihat sumber suara.


"Kamu?" ucap Dion


####################


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2