Janda Bersegel

Janda Bersegel
Mau ditarik?


__ADS_3

"Gak jadi LDR A?" tanya Mia dengan wajah bahagia.


"Gak jadi Mi. Gak jadi," ucap Dion sembari memeluk Mia.


Rasa bahagia tengah dirasakan keduanya saat mendapat kabar bahwa Reza siap berangkat ke Surabaya. Sebagai ungkapan rasa bahagianya, Dion memeluk Mia seerat mungkin.


"A, A, lepasin." Mia menepuk-nepuk punggung Dion.


Suara batuk dan tepukan di punggunya membuat Dion melonggarkan pelukannya. Setelah Mia mendorong tubuh Dion, Mia mendorong tubuh itu agar benar-benar melepaskan dirinya.


"Mi, kamu kenapa?" tanya Dion.


"Engap A," jawab Mia sembari memegang dadanya.


"Ya ampun, maaf sayang. Perasaan aku meluk kamunya pelan-pelan kok," ucap Dion.


"Apanya yang pelan, Mia sampai bengek begini." ucap Mia.


"Abis kamu empuk sih. Enak banget buat dipeluk," ucap Dion sembari tersenyum lebar.


Mia cemberut. Lagi dan lagi salah paham. Bagi Mia kata empuk yang diucapkan Dion dan cara Dion tersenyum sudah membuatnya curiga tingkat nasional. Namun saat mendengar kembali kalimat 'gak jadi LDR' tiba-tiba Mia melupakan begitu saja perihal ketersinggungannya.


Mia kembali berbaur dengan Dion. Sama-sama menikmati indahnya rasa bahagia karena rasa takut dan cemasnya sudah terlewati. Bahagia itu sempat terjeda saat mendengar tangis Narendra yang begitu keras. Keduanya saling menatap dan memburu anak kembarnya.


Takut kalau kejadian tadi pagi terulang lagi, Dion dan Mia tidak akan membiarkan anak kembarnya nangis terlalu lama. Namun sepertinya dewa keberuntungan tidak sedang bersama mereka. Nampak Nyonya Helen dan Tuan Wira sudah ada di ruangan bayi. Narendra digendong oleh Tuan Wira dan Naura digendong oleh Nyonya Helen. Keduanya diberi dot hingga berhenti menangis bahkan nyari tertidur kembali.


Mia dan Dion yang merasa terlambat langsung salah tingkah dan segera mendekat pada Nyonya Helen dan Tuan Wira.


"Sayang, Mama dan Papa datang." Mia mencoba memecah keheningan.


"Kalian ini ngapain aja sih? Kok bisa tenang-tenang aja kalau Narendra sama Naura menangis?" tanya Nyonya Helen.


Ya ampun Ma, kalau ngomong kok gak ada saringannya sih? Mama gak tahu aku sama Mia udah kayak lomba maraton saat mendengar tangis Narendra dan Naura masuk ke dalam telinga kami.


Mia dan Dion menunduk. Trauma tadi pagi belum hilang dari ingatannya. Jangan sampai kejadian itu terulang lagi hanya berselang beberapa jam saja.


Karena Narendra dan Naura sudah tidur lagi, mereka kembali ditidurkan di dalam box bayinya. Sementara Dion dan Mia diajak ke ruang keluarga. Ada hal yang akan disampaikan pada mereka.


"Duduk!" ucap Nyonya Helen.


Dion dan Mia duduk, tak terkecuali Tuan Wira.


"Bagaimana keputusan Reza?" tanya Nyonya Helen.


"Reza menerima tawaran kita Ma. Dia siap berangkat bersama istrinya," ucap Dion.


"Benarkah?" tanya Nyonya Helen tidak percaya.


"Iya Ma. Barusan Reza nelepon aku dan mengiyakan. Katanya besok siap berangkat," jawab Dion.


Penyelidikan Nyonya Helen tidak berhenti sampai Dion, ia memastikan kebenaran berita itu pada Mia. Seperti apa yang ada di kepala Nyonya Helen, kalau Mia adalah anak yang jujur dan tidak akan membohonginya. Saat Mia mengiyakan ucapan Dion, Nyonya Helen berteriak kegirangan.


"Akhirnyaaaaa. Mama gak perlu marah-marah lagi sekarang," ucap Nyonya Helen lega.


"Hah? Maksudnya gimana Ma?" tanya Dion.


Keceplosan Nyonya Helen ternyata menuntut penjelasan yang tak bisa ditunda lagi. Akhirnya ia mengakui kalau sejak pagi ia marah-marah karena dapat kabar dari Tuan Wira, kalau Reza tidak menerima tawaran ke Surabaya maka Dion yang akan berangkat ke sana.


"Hububgannya sama marah-marah gimana Ma?" tanya Dion.


"Ya kan Mama bakalan kangen. Gak bisa marah-marah lagi sama kamu. Nanti kalau kamu ke Surabaya Mama marah-marah sama siapa? Masa Mama marah sama Mia?" ucap Nyonya Helen.


Dion menepuk dahinya dan menyandarkan tubuhnya.


"Mama ini ada-ada aja. Dimana-mana, kenangan kalau mau ditinggal itu bikin yang asyik-asyik. Bukan marah-marah," ucap Dion.


"Kapan Mama bilang kenangan? Mama cuma takut nanti gak bisa marah sama kamu aja. Jadi mumpung kamu belum berangkat ya Mama mau marah dulu. Apa Mama salah? Kan biar nanti kamu di sana juga kangen sama Mama," ucap Nyonya Helen.


"Terserah Mama, terserah. Mama gak pernah salah kok. Aku yang salah," ucap Dion sembari berdiri dan meninggalkan Nyonya Helen.


Nyonya Helen menatap Dion yang semakin menjauh.


"Pa, Memangnya Mama salah ya?" tanya Nyonya Helen.


"Salahnya Mama kenapa gak marah lagi? Gak seru ah," jawab Tuan Wira.


Seperti halnya Dion, Tuan Wira juga pergi begitu saja meninggalkan Nyonya Helen. Kini hanya ada Mia yang menemaninya.


"Mia, apa Mama salah?" tanya Nyonya Helen.


Mia tersenyum manis. Selalu membuat Nyonya Helen suka dan rindu akan wajah lembut dan cantik itu.


"Mama gak salah kan?" tanya Nyonya Helen.


"Mia sayang sama Mama," jawab Mia.

__ADS_1


Nyonya Helen cemberut. Mengerti maksud Mia, namun Mia tidak bisa membuatnya marah. Akhirnya pelukan hangat mendarat ke tubuh gempal Mia.


"Ma, Mia gendut ya?" tanya Mia.


Pelukan erat Nyonya Helen kini mulai kendor. Ia menatap wajah Mia. Haruskah ia menjawab jujur? Siapkah Mia dengan kejujurannya? Mungkinkah Mia sakit hati?


Beberapa pertanyaan mengantri di kepalanya. Hingga Nyonya Helen diam sebentar. Ia memilih dan memilah kata yang tepat agar Mia tidak tersinggung dengan jawabannya. Nyonya Helen tahu wanita akan jauh lebih sensitif jika sudah berhubungan dengan berat badan.


"Mia, saat ASI eksklusive jangan pikirkan berat badan. Makan dan jangan banyak pikiran. Semua itu menentukan produksi ASI. Nanti setelah Narendra dan Naura diberi MPASI, Mama akan bantu kamu ketemu sama dokter yang tepat. Kamu akan kembali ke kantor dan pasti harus percaya diri. Mama akan buat kamu kembali percaya diri," ucap Nyonya Helen.


"Benarkah?" tanya Mia.


Ini pertama kalinya Mia mendapat dukungan untuk diet. Meskipun tidak terang-terangan mengatakan Mia gendut, tapi hatinya terobati dengan motivasi dari Nyonya Helen.


Ibu mertuanya memang selalu mendukung Mia menjadi wanita karir. Mungkin karena Nonya Helen ingin Mia melanjutkan cita-citanya yang belum sempat terwujud.


"Ma, tapi A Dion bilang Mia gendut juga cantik. Jadi gak usah mikirin diet katanya," ucap Mia.


"Mia, kamu memang cantik. Apalagi kalau berat badanmu kembali ke angka sebelum kamu hamil dulu. Kata siapa jangan mikirin diet? Kita cantik juga buat suami juga. Laki-laki kalau bilang jangan diet itu bukan karena gak mau lihat kita langsing, tapi karena dia gak mau pusing sama keluhan kita. Makanya cari aman," ucap Nyonya Helen.


"Jadi Mia tetap harus diet Ma?" tanya Mia yang semakin semangat.


"Nanti ya. Setelah Narendra dan Naura MPASI. Sekarang enjoy aja nikmati kehidupanmu. Jangan membebani dirimu sendiri kalau kamu sayang sama anak kembarmu," ucap Nyonya Helen.


"Siap Ma," ucap Mia dengan senyum manisnya.


Sore ini Dion mengajak Mia untuk menemui Reza, namun sebelum mereka berangkat Reza justru sudah ada di depan rumah Mia.


"Za," ucap Dion tidak percaya.


"Sehat, Di?" tanya Reza.


"Kok gak bilang mau ke sini?" tanya Dion.


"Apaan aku telepon aja kamu gak angkat. Kirain lagi bulan madu," goda Reza.


Bulan madu? Dion yang trauma langsung membulatkan bola matanya dan mencubit Reza. Reza hanya menahan tawanya saat melihat tingkah sahabatnya itu.


"Eh May, ayo masuk!" ajak Dion.


"Maya aja nih? Aku gak?" tanya Reza.


"Gak usah. Tunggu aja di sini, akut sendal ada yang nuker." Dion membuat Maya tertawa puas.


Tawa Maya membuat Mia yang sedang di ruang tengah mencari sumber suara. Suara yang memang tidak begitu asing di telinga Mia.


"Hai Mi, gimana udah sehat?" tanya Maya.


"Sehat. Maya gimana? Maaf ya Mia gak sempat jenguk Maya lagi," ucap Mia.


"Gak apa-apa. Aku udah sehat kok. Aku juga minta maaf ya belum sempat bayi kembar kalian," ucap Maya.


"Eh tuh kan sampai lupa. Ayo masuk!" ajak Mia sembari menuntun tangan Maya.


Melihat Maya dan Mia masuk, Dion mengikuti mereka. Namun baru saja membalikkan badan, langkah Dion terhenti saat tangannya ditarik oleh Reza.


"Apaan sih Za?" tanya Dion.


Reza tidak menjawab, ia hanya mengulurkan tangannya. Dion yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahinya sembari menatap tangan Reza lalu tatapannya berpindah ke wajah Reza yang terlihat begitu datar.


"Apaan? Mau salaman? Apa minta ongkos?" tanya Dion.


"Ih parah. Contoh tuh istrimu. Maya aja ditarik biar masuk," ucap Reza.


"Kamu mau ditarik?" tanya Dion.


Reza mengangguk dan tersenyum lebar.


"Iket pakai tiang bendera, biar ditarik. Sekalian di hormat juga," ucap Dion.


Puas melihat Reza yang cemberut kesal, Dion malah meninggalkan sahabatnya yang masih mematung di depan pintu. Setelah menghela napas panjang dan menghembuskannya kasar, Reza mengikuti Dion.


Sudah ada Tuan Wira di ruang tengah. Reza mencium tangannya dengan sangat sopan. Matanya mencari keberadaan Maya yang tidak terlihat oleh pandangannya.


"Istrimu dibawa sama Mia ke ruangan Narendra dan Naura," ucap Tuan Wira yang seolah mengerti arti tatapan Reza.


"Oh iya," ucap Reza.


Sementara Maya yang sedang asyik dengan bayi kembar Mia, Tuan Wira mengajak Reza dan Dion ke ruang kerjanya. Di sana mereka membahas rencana untuk perkembangan perusahaannya di Surabaya.


Tuan Wira memberikan gambaran rencana ke depannya. Ia yakin, di tangan Reza dan Dion, perusahaannya di Surabaya akan semakin maju. Reza pelaksana dan pengatur umum perusahaan di Surabaya, sedangkan Dion bekerja sama dengan mitranya yang ada di Jakarta. Jadi mereka tidak akan membuang waktu ataupun keteteran saat ada kegiatan di dua tempat sekaligus.


Reza nampak menyimak dengan baik apa yang disampaikan Tuan Wira padanya. Banyak ilmu yang bahkan belum ia dapatkan sebelumnya. Memang benar, bukan hanya tentang pendidikan yang tinggi tapi pengalaman kerja sangat berpengaruh. Tuan Wira yang jam terbangnya jauh lebih banyak, mempunyai beberapa trik yang tidak ia dapatkan pada saat kuliah dulu.


"Aku akan berusaha memberikan yang terbaik," ucap Reza.

__ADS_1


"Tidak perlu kamu ucapkan Za, aku sama Papa percaya sama kualitas kamu kok. Terima kasih ya Za," ucap Dion.


"Aku yang harusnya terima kasih Di. Aku udah dikasih kepercayaan pekerjaan plus tempat tinggalnya yang enak lagi. Aku berharap suatu saat nanti keluargaku bisa menerimaku lagi ya. Jujur aja aku iri sama keharmonisan keluarga ini," ucap Reza.


Harmonis kamu bilang Za? Kamu gak tahu aja apa yang terjadi di rumah ini. Kalau aja kamu tahu, kamu pasti ogah-ogahan.


Tapi tak lama, Dion juga menyadari kalau apa yang ia lakukan memang akan diinginkan oleh Reza yang kini sudah tidak mendapatkan respect dari keluarganya lagi. Dion bersyukur meskipun keluarganya sering sekali berdebat kecil satu sama lain, ia masih bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarganya.


"Jangan berhenti berusaha dan berdoa Za. Sekerasnya keluarga kamu menolak kehadiran Maya, jika adanya Maya membawa pengaruh positif buat kamu, mereka pasti akan berubah." Tuan Wira mengingatkan Reza.


Reza tersenyum. Kepalanya mengangguk sebagai tanda mengiyakan, walaupun hatinya sempat ragu. Tapi paling tidak ia tetap berusaha dan berdoa. Walaupun keluarganya sudah tidak bisa menerimanya, masih ada Maya yang akan selalu menerimanya.


"Za, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya agar bisa bahagia. Tugas kamu tunjukkan pada keluargamu, kalau dengan kehadiran Maya membuat kamu bahagia. Aku yakin kalau keluargamu akan menyesal karena sempat menolak kehadiran Maya," ucap Dion.


Senyum miris tersungging di bibir Reza. Ia iri pada Dion yang dengan mudahnya mengenalkan Mia dan diterima dengan baik tanpa ada drama apapun.


Melihat Reza hanya menatap kosong meja yang ada di hadapannya, Tuan Wira menepuk bahunya.


"Makan yu! Pura-pura bahagia itu butuh energi," goda Tuan Wira.


Reza langsung tertawa. Benar! Saat ini ia memang sedang pura-pura bahagia. Bibirnya selalu tersenyum pada setiap orang yang ada di hadapannya, tapi batinnya masih selalu sakit saat mengingat masalah dengan keluarganya.


Saat ke ruang makan, Maya dan Mia sudah menunggunya di ruang makan.


"Lama sekali, Mia sudah lapar Pa. Kasihan cacing di perut Mia yang udah minta jatah," ucap Mia.


"Bisa aja kamu Mi. Segala cacing disalahin," ucap Tuan Wira.


"Aduh Mama mau ditinggalin nih?" teriak Nyonya Helen yang baru masuk ke ruang makan. "Eh ada tamu," lanjutnya.


"Bukan tamu kok Tante," ucap Maya.


"Iya Ma, Maya kan teman Mia. Jadi bukan tamu," ucap Mia yang berusaha membuat Maya agar tidak canggung.


"Kalau begitu jangan panggil Tante. Panggil Mama dong," ucap Nyonya Helen.


"Boleh?" tanya Maya spontan.


"Yang bilang gak boleh siapa? Biar Papa lempar pakai piring," ucap Tuan Wira.


Sebenarnya itu hanya sebuah kode karena ia sudah merasa sangat lapar tapi mereka masih saja mengobrol.


Lagi, keakraban Mia dengan keluarga Dion membuat Maya dan Reza iri. Mereka bermimpi jika suatu saat apa yang Mia rasakan akan mereka rasakan juga. Mia yang peka dengan sikap Maya dan Reza, segera mempersilahkan Tuan Wira untuk memulai makan.


Selesai makan, Reza dan Maya pamit untuk bersiap. Memang tidak banyak yang harus mereka bawa, namun Maya yang selalu mempersiapkan semuanya dengan apik tidak ingin ada yang ketinggalan.


"May, gimana Mia? Dia orangnya asyik kan?" tanya Reza.


"Iya Mas. Mia baik banget. Apalagi katanya nanti kalau kita udah ke Surabaya, Mia mau kenalin Sindi sama aku." jawab Maya.


"Sindi siapa?" tanya Reza.


"Teman Mia yang kerja di pabrik sana katanya Mas," jawab Maya.


"Oh gitu ya! Baguslah. Biar kamu ada temannya nanti," ucap Reza.


Saat sudah sampai ke rumah yang diberikan Dion untuknya, Reza duduk santai di atas kursi. Ia menengadah menghadap langit-langit ruangan.


"Putih, bersih." Reza bergumam pelan.


Maya yang sedang ada di sana, mendengar apa yang Reza ucapkan. Bibirnya memang bicara, tapi tatapannya kosong. Maya yakin ada makna tersirat dibalik ucapan Reza.


"Ada sih Mas?" tanya Maya.


Ternyata Reza tidak benar-benar masuk dalam lamunannya. Ia masih mendengar pertanyaan Maya tanpa terkejut. Ia juga masih bisa menjawab pertanyaan Maya dengan jelas. Meskipun pandangannya tidak beralih dari langit-langit ruangan itu.


"Keluarga Dion. Hati mereka begitu putih dan bersih," jawab Reza.


Reza benar-benar tahu apa perbedaan antara teman dan sahabat. Tidak seperti Dion yang memiliki sedikit teman karena ia tipe pemilih, Reza justru lebih mudah bergaul. Namun yang banyak itu hanya teman. Saat Reza terpuruk, tidak satupun diantara mereka yang membantunya.


Reza benar-benar mengingat tangan siapa saja yang justru bertepuk tangan saat ia sedang terpuruk. Dan sampai saat ini, hanya keluarga Dion yang mengukurkan tangan dan sangat peduli dengan keadaannya.


"Iya, mereka itu adalah para malaikat bumi yang Tuhan kirim untuk membantu kehidupan kita," ucap Maya.


"Iya May. Aku janji akan memberikan apa yang aku bisa semampuku," ucap Reza.


"Berikan yang terbaik saja, jangan bilang semampunya. Aku yakin Mas pasti akan selalu memberikan yang terbaik dalam pekerjaan, apalagi untuk keluarga Tuan Wira. Kalau kita sudah niat dan berusaha aku yakin Tuhan akan mampukan kita," ucap Maya.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2