
Setibanya di Lombok, Dion tidak kuasa membendung tangisnya. Melihat sahabatnya yang kini tengah berduka. Wajahnya jauh lebih kusut dari sebelumnya. Badannya juga lebih kurus. Rambutnya sudah tidak serapih dulu, nampak sangat tidak terurus.
"Di," ucap Reza sembari menghambur memeluk Dion.
"Ada aku. Kamu gak sendiri. Jangan khawatir," ucap Dion.
Tanpa rasa malu, Dion berkali-kali mengusap air matanya. Rasa sakitnya saat melihat keadaan Reza saat ini membuat Dion semakin membuncah. Reza yang selalu ada waktu untuknya, tapi Dion bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Terima kasih Di," ucap Reza.
Dion mengangguk dan menepuk-nepuk punggung Reza. Berusaha menguatkan sahabatnya sendiri padahal sebenarnya ia juga merasa tidak kuat.
"Oh ya, bagaimana keadaan istrimu?" tanya Dion.
"Membaik," jawab Reza singkat.
Jawaban singkat dari Reza, membuat Dion tidak percaya. Apalagi Reza tidak berani menatap Dion saat menjawab. Dion yakin Reza sedang berusaha menutupi sesuatu.
"Aku mau ketemu sama dokternya," pinta Dion.
"Buat apa? Bayarin biayanya? Udah lah Di, aku masih bisa kok. Kedatangan kamu ke sini saja sudah membuat aku benar-benar senang. Tidak perlu sampai merepotkan seperti ini," ucap Reza.
Dion semakin yakin kalau Reza benar-benar membutuhkannya. Tanpa menjawab ucapan Reza, Dion pergi dan mencari ruangan dokter itu sendiri.
"Di, mau kemana?" tanya Reza mengejar Dion.
Dion masih bungkam. Ia hanya terus berjalan. Matanya menatap satu per satu pintu ruangan yang ia lewati. Hatinya sakit, rumah sakit itu nampak tidak layak. Ya, bagi seorang Dion yang selalu menomor satukan kesehatan, rasanya sangat miris saat melihat keadaan rumah sakit di sana.
Reza masih setia mengikuti Dion. Ia mempercepat langkahnya agar bisa mengimbangi Dion.
"Di, ayo lihat keadaan istriku dulu. Masa kamu gak mau tahu keadaan istriku," bujuk Reza.
Reza sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Dion. Bagi Reza, rasanya terlalu berlebihan. Reza ingin tetap berada di sana. Berusaha mengobati istrinya yang masih terbaring lemah.
"Diam! Kamu tidak perlu banyak bicara. Kalau kamu tidak mau memberi tahu dimana ruangan dokternya, lebih baik tutup mulutmu!" ucap Dion.
Reza bungkam. Inilah Dion. Sahabatnya yang memang sangat peduli padanya. Meskipun kadang mereka selalu bersikap gila, namun rasa sayang tersimpan dalam persahabatan mereka.
Langkah Dion terhenti saat melihat ruangan dokter di hadapannya. Mengetuk pintu dan masuk setelah seorang pria mempersilahkannya.
"Silahkan duduk!" ucap Dokter itu dengan ramah.
Dion dan Reza mengangguk dan duduk.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter.
"Siapa nama istrimu?" tanya Dion.
"Maya," jawab Reza.
"Maaf Dok saya ingin tahu perkembangan pasien atas nama Maya," ucap Dion.
"Sebentar!" ucap Dokter.
Pria dengan jas putih itu mengenakan kacamata yng tergeletak di atas meja. Ia memeriksa tumpukan kertas di hadapannya. Memeriksa satu per satu laporan pasien yang ia tangani. Mencari nama Maya. Ada. Dokter membuka dan membacanya. Lalu menyampaikannya pada dua pria di hadapannya dengan bahasa yang ringan.
Dion cukup terkejut mendengar penyakit Maya, sedangkan Reza hanya menunduk. Ia merasa sakit mendengar kenyataan ini. Rasa takut kehilangan istri yang sangat ia cintai itu terlalu besar. Bayangan kehilangan anak tirinya selalu menghantuinya setiap kali melihat Mia merintih.
"Aku akan memindahkan pasien atas nama Maya ke Jakarta sekarang juga. Tolong siapkan semuanya Dokter," ucap Dion.
"Baik, akan saya bantu." Dokter itu mengiyakan.
Dokter memang sudah mengingatkan Reza agar Maya dibawa ke rumah sakit yang lebih besar karena di sana, alat medis yang kurang memadai membuat dokter kurang maksimal dalam menangani pasien. Tapi karena permintaan Maya dan satu dua hal lain, Reza dan Maya sepakat agar tidak pindah rumah sakit.
"Terima kasih. Saya tunggu informasi selanjutnya. Kami permisi dokter," ucap Dion.
Dion menarik tangan Reza. Tidak sekalipun memberikan kesempatan pada Reza untuk berkomentar.
"Di, kamu gak bisa bertindak seenaknya begitu dong," ucap Reza.
"Diam! Jangan egois. Aku cuma gak mau kamu menyesal suatu saat nanti," ucap Dion.
Reza menghela nafas panjang. Mengisi oksigen untuk paru-parunya. Berharap kepalanya tidak terlalu berat dengan beban hidupnya. Diakui oleh Reza, kalau kedatangan Dion bagaikan oksigen dalam sesaknya nafas Dion. Jujur saja, Reza memang ragu dalam keputusannya. Namun Dion bisa dengan begitu yakin atas keputusan yang diambilnya.
Reza menepuk bahu Dion.
"Kamu gak tahu apa-apa. Lebih baik kamu istirahat dan pulang kalau kamu udah gak lelah," ucap Reza.
"Ya, sebentar lagi pulang. KITA akan pulang," ucap Dion.
Dion menekankan kata kita, agar Reza mengerti apa yang ia maksud. Dion terus memotong ucapan Reza. Tidak ingin mendengar alasan apapun dari Reza.
"Di, tolong!" ucap Reza dengan memelas.
Reza masih berharap kalau Dion tidak memaksanya untuk kembali ke Jakarta dalam waktu dekat ini. Apalagi dalam keadaaan Maya yang sedang sakit.
"Ini bukan waktunya buat berdebat, Za. Aku gak peduli saat kamu menghilang sekalipun dalam kehidupan aku. Asal aku tahu kamu pergi dalam keadaan bahagia. Nanti kalau Maya sudah sembuh, aku sama sekali tidak akan melarangmu untuk kembali ke sini. Bahkan kemanapun kalian pergi, aku tidak perlu tahu. Dengan catatan Maya sudah sembuh. Mengerti?" tanya Dion.
Reza merasa hatinya sangat terharu saat mendengar ucapan Dion. Rasanya belum pernah melihat sahabat konyolnya sebijak ini.
"Di," ucap Reza lirih.
"Apa lagi? Gak perlu kamu bilang terima kasih. Ini semua hak kamu. Hak atas semua kebaikan kamu sama aku. Hak untuk setiap ketulusan kamu dalam persahabatan kita," ucap Dion.
Tidak menjawab. Reza memilih untuk memeluk Dion. Bibirnya sudah tak sanggup untuk mengucapkan kata terima kasih lagi. Dion menahan air matanya agar tidak sampai banjir lagi.
"Lepasin ah. Nanti orang kira kita ada hubungan apa-apa. Bahaya takut masuk infotainment," goda Dion.
Dion berharap untuk segera keluar dari zona sedih itu. Ia ingin kebersamaannya dengan Reza bisa seperti dulu lagi. Hanya ada canda dan tawa.
__ADS_1
"Pede banget sih," ucap Reza.
Tidak perlu diungkapkan, raut wajah Reza memang terlihat sangat bahagia dengan kehadiran Dion saat ini. Walaupun ia masih bingung dengan keputusan Dion yang akan membawa Maya ke Jakarta.
"Dimana ruangan istrimu?" tanya Dion.
"Tapi jangan naksir sama istriku ya!" ucap Reza sembari menahan tawanya.
"Gila. Mia adalah queen in my heart. Gak bisa ada yang ganti. Jangan pede deh," ucap Dion.
"Ya kali aja. Soalnya Maya itu bening," ucap Reza.
"Kamu fikir kaca, pakai bening-bening segala. Ayo dimana?" tanya Dion.
Reza hanya bisa tertawa dan berjalan menuju ruangan Maya. Dion hanya mengikuti Reza sembari sesekali terlihat menggelengkan kepala. Mungkin itu adalah protes yang Dion tunjukkan pada kualitas rumah sakit di sana.
"May," panggil Reza.
"Iya," jawab Maya dengan suara yang serak.
"Kenalin, teman aku. Dion," ucap Reza.
Maya melihat ke arah Dion. Ia melayangkan sebuah senyuman tulus dibalik tubuh lemahnya.
"Dion," ucap Dion sembari mengulurkan tangannya.
"Maya," ucap Maya membalas uluran tangan Dion.
"Kamu siap-siap ya! Sekarang kita ke Jakarta!" ucap Dion.
Maya terkejut. Bola matanya nampak membulat sempurna. Tatapan tajam kemudian mengarah pada Reza. Tidak bicara, namun Reza yakin itu adalah sebuah penolakan atas ucapan Dion. Ya begitulah. Seperti dugaan Reza, Maya memang tidak akan setuju dengan keputusan Dion.
"Di," ucap Reza.
"May, aku tidak meminta persetujuan siapapun termasuk kamu. Jadi jangan protes," ucap Dion.
Dion yang tahu kalau Reza berniat ingin protes untuk yang ke sekian kalinya, mendahului menjawabnya. Tidak pada Reza, tapi pada Maya langsung.
"Tapi Kak," ucap Maya.
"Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Dion.
"Banyak hal," jawab Maya.
"Yang paling kamu takutkan?" tanya Dion.
"Keluarga Mas Reza," jawab Maya.
Maya meraih tangan Reza. Memohon agar Dion membatalkan keputusannya untuk membawanya ke Jakarta.
"Maya, yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu. Apa kamu mau melihat Reza sedih terus seperti ini? Aku belum memberi kado untuk pernikahan kalian. Aku rasa ini kado yang tepat. Kamu harus sembuh agar kalian menata kembali hubungan kalian," ucap Dion.
"Aku takut mas Reza dibawa oleh keluarganya. Lalu apa yang akan terjadi padaku? Percuma aku sembuh kalau Mas Reza gak ada?" tanya Maya.
"Hah? Anak kucing?" tanya Maya.
"Ya Reza kan bukan anak kucing. Dia gak mungkin pasrah aja kalay dibawa sama keluarganya. Sekarang dia kepala keluarga dan punya tanggung jawab sama kamu. Jadi mana mungkin dia ninggalin kamu?" ucap Dion yang berusaha meyakinkan Maya.
"Tapi kak," ucap Maya.
"Gak ada tapi-tapian. Sekarang aku tanya sama kamu. Kamu sayang gak sama Reza?" tanya Dion.
"Ya sayang dong Kak," jawab Maya.
"Buktikan! Kamu harus sehat. Kalau kamu sayang, kamu harus merawat Reza layaknya seorang istri merawat dan melayani suami. Aku yakin kamu pasti sembuh. Perawatan di Jakarta akan jauh lebih baik. Nanti kalau kamu sudah sembuh, kamu boleh kembali ke sini. Aku tidak akan mengatur kehidupan kalian. Aku janji," ucap Dion.
"Dion benar. Kita ke Jakarta dulu ya! Aku mau kamu cepat sembuh. Di sana kamu akan mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Urusan keluargaku, itu urusan aku. Kamu cukup tahu kalau aku gak akan pernah ninggalin kamu apapun alasannya. Kecuali satu," ucap Reza.
"Kecuali apa?" tanya Maya.
"Kecuali jika nafasku berhenti," jawab Reza.
Emmm, si kampret. Bisa-bisanya dia gombal di depan muka aku. Mana gak ada Mia lagi. Bikin iri aja. Awas ya Za, tunggu pembalasan aku. Dion.
"Jangan bilang kayak gitu Mas. Aku takut," ucap Maya.
"Aku masih di sini. Jangan takut," ucap Reza.
Reza memeluk Maya dan mengecup kepala istrinya.
"Ingat! Ada aku juga di sini," ucap Dion.
Maya dengan cepat mendorong tubuh Reza agra menjauh darinya. Ia benar-benar malu saat menyadari keberadaan Dion di sana.
"Maaf ya Kak," ucap Maya.
"Gak usah minta maaf. Anggap aja ini karma. Dia juga suka begitu sama aku," ucap Reza.
Dion mengangkat kepalan tangannya. Sedangkan Reza hanya tertawa saat melihat tingkah Dion. Maya yang menyaksikan keakraban keduanya tersenyum bahagia. Kehadiran Dion di sana memang membuat Reza terlihat sangat berbeda. Tidak lagi sedih, sekarang Reza sudah sering tertawa dan lebih bersemangat.
"Terima kasih Kak," ucap Maya.
"Buat?" tanya Dion.
"Buat semuanya. Terlebih terima kasih sudah menjadi sahabat mas Reza. Berkat Kakak, mas Reza bisa menjadi seperti ini." Maya mengeratkan genggaman tangannya pada Reza.
Maya juga dengan polosnya menceritakan alasan Reza menantang Dion untuk taruhan tergilanya. Hingga akhirnya Dion menikahi Mia.
"Apa?" tanya Dion tak percaya.
__ADS_1
"Loh, memangnya Mas Reza belum cerita?" tanya Maya sembari menutup mulutnya.
"Kamu gimana sih gak ngerti-ngerti aku sudah ngasih kode juga," jawab Reza.
"Aduh, kampret emang ya!" ucap Dion memukul tangan Reza.
"Ampun Di. Maafin aku. Tapi kamu bersyukur dong bisa menikah sama Mia? Harusnya kamu itu berterima kasih sama aku," ucap Reza.
"Kau sih bersyukur bisa nikah sama Mia. Tapi kalau buat berterima kasih sih ogah. Nanti-nanti aja. Masih kesel aku sama kelakuan kamu. Bisa-bisanya bikin taruhan segila itu," ucap Dion.
Dion sebenarnya memang sangat bersyukur dengan ide gila dari Reza. Memang karena taruhan itu akhirnya ia bisa bertemu dengan cinta sejatinya. Wanita terbaik yang pernah ia temui.
"Permisi," ucap dokter.
"Silahkan dokter," ucap Reza.
"Saya cek dulu ya!" ucap Dokter.
"Bagaimana?" tanya Reza saat melihat dokter selesai memeriksa Maya.
"Memang sudah membaik dari kemarin. Tapi keputusan untuk membawa pasien ke Jakarta adalah pilihan tepat. Semuanya sudah siap. Mau berangkat jam berapa?" tanya Dokter.
"Sekarang juga. Ayo!" ajak Dion.
Maya dibawa ke Jakarta. Dengan tubuh yang lemah dan perasaan kacau, Maya terus menggenggam tangan Reza. Berdoa agar tidak terjadi apa-apa di Jakarta. Maya sudah cukup sakit saat kehilangan anak semata wayangnya, dan kini ia tidak ingin kehilangan Reza.
"Sebentar!" ucap Dion.
Setibanya di Bandara, Dion mencari tempat untuk menghubungi Mia. Selama di Lombok, baik ia ataupun Mia memang tidak saling telepon. Hubungan mereka hanya sebatas pesan singkat.
"Sayaaaang," ucap Dion setelah panggilannya di jawab.
"Haii sayang," jawab Tuan Wira dengan suara yang ia buat seperti suara wanita.
"Papa," ucap Dion terkejut.
"Kenapa? Baru aja sebentar kamu sudah heboh begini," ucap Tuan Wira.
"Mana Mia, Pa?" tanya Dion.
"Pulang. Ponselnya ketinggalan. Ini Papa lagi di jalan mau pulang. Sabar ya! Paling juga lima jam lagi," ucap Tuan Wira sembari terkekeh.
"Enak aja. Pokoknya bilang sama Mia, telepon aku kalau ponselnya sudah dipegang sama Mia. Lagian Mia, kenapa sih ponsel bisa sampai ketinggalan. Ceroboh banget sih?" gerutu Dion.
"Mia makin berumur. Mungkin ingatannya sudah mulai kendor. Papa sih cuma khawatir kalau dia lupa udah punya suami," goda Tuan Wira.
"Papaaaaa," ucap Dion kesal.
Dion segera menutup panggilannya. Kesal.
Mana mungkin ingatah Mia mulai kendor. Dia kan masih muda. Lagipula mana bisa Mia melupakan suami sempurna seperti aku. Itu mustahil. Tenanglah Dion. Semuanya akan baik-baik saja.
"Kenapa?" tanya Reza saat melihat Dion kembali dengan wajah cemberut.
"Ayo berangkat!" ucap Dion.
Mengalihkan pertanyaan Reza karena ia sedang tidak mood untuk menceritakan apapun saat ini. Rasa lelah mungkin bisa jadi salah satu pemicu kerusakan moodnya.
Dion mengunjungi rumah sakit yang sudah disiapkan olehnya untuk perawatan Maya.
Kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Sangat jauh dengan keadaan Maya saat dirawat di Lombok.
Sembari menunggu dokter yang memeriksa keadaan Maya saat pertama tiba di rumah sakit Jakarta, Dion duduk di sofa. Matanya yang sudah sangat berat tidak dapat diajak kerja sama. Seketika Dion terlelap meskipun tidur dalam keadaan duduk. Kepalanya yang bersandar, membuatnya tak bisa terjaga lagi.
Reza melihat ke arah Dion saat dering ponsel terdengar dari saku celananya. Panggilan pertama dan kedua terabaikan. Hingga saat panggilan ketiga, Reza mengguncang bahu Dion.
"Di," ucap Reza.
Agak lama, namun Dion merespon walaupun matanya masih terpejam.
"Hemm," ucap Dion.
"Ponsel kamu bunyi terus," ucap Reza.
"Bodo amat. Gak kuat ngantuk," ucap Dion.
"Siapa tahu Mia," ucap Reza.
Mata yang tengah terpejam itu tiba-tiba terbuka. Merah. Dion memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing karena bangun yang tersentak.
Mendengar nama Mia tentu membuat Dion sangat antusias. Benar apa kata Reza, siapa tahu Mia. Dion segera meraih ponselnya dan melihat panggilan itu. Telat. Panggilannya sudah berakhir kembali. Saat melihat nama si pemanggil, Dion segera menghubunginya kembali.
"Halo," ucap Dion.
Tidak memanggil Mia dengan sebutan sayang seperti biasanya. Jaga-jaga, takut Tuan Wira yang menjawab panggilannya.
"Kok Aa berubah sih?" tanya Mia.
"Berubah? Kamu fikir aku power ranger? Aku cuma takut kalau Papa yang jawab panggilan aku kayak tadi," ucap Dion.
Mia hanya tertawa mendengar cerita Dion saat panggilannya dijawab oleh Tuan Wira. Mia berkali-kali tertawa saat membayangkan bagaimana reaksi suami dan ayah mertuanya itu.
####################
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..