
Sindi tetap berada di samping Mia. Menghabiskan sisa hari ini dengan pembahasan yang menurutnya cukup menegangkan. Semuanya berakhir saat Mia mendengar suara Dion.
"Kamu istirahat ya! Aku ke kamar dulu, A Dion pulang. Sampai ketemu nanti di ruang makan ya!" ucap Mia.
Sindi dan Mia masuk ke kamarnya masing-masing. Sindi yang berusaha menenangkan dirinya, sedangkan Mia yang berusaha menenangkan Dion.
Sesampainya di kamar Dion langsung melempar jas dan menarik kasar dasi yang melingkar di lehernya. Mia segera meraih dasi itu. Menyingkirkan lengan Danu yang masih sibuk dengan kancing-kancing kemejanya.
"Biar Mia aja A," ucap Mia.
Danu melepaskan tangannya. Mia yang berada tepat di hadapan Danu dan hanya berjarak beberapa senti saja, benar-benar merasakan napas Danu yang memburu.
"Mas, kerjaannya lancar?" tanya Mia basa basi.
Mia tahu suaminya emosi. Tapi tugasnya adalah berusaha meredam kemarahannya. Meskipun ia sendiri tidak tahu kalau ini akan berhasil atau tidak.
"Dimana dia?" tanya Dion.
Gagal. Bukannya menjawab pertanyaan Sindi, Dion lebih memilih untuk membuka pembahasan baru. Pembahasan yang memang sudah mengganggu aktivitasnya hari ini.
"A, jangan marah. Itu kan haknya Sindi. Kita bisa apa kalau itu pilihannya?" ucap Mia berusaha memberi pengertian.
"Kamu lihat kan fotonya?" tanya Danu.
"Iya. Terus kenapa?" tanya Mia.
"Banyak kesalahan yang udah dia lakuin. Pertama, dia bohong sama kamu. Bilang ke supermarket, nyatanya janjian di luar. Kedua, dia janjian dengan pria itu. Ketiga, aku memintanya ke sini untuk menemanimu. Bukan berkencan dengan mantan suamimu," jawab Danu.
"Ya ampun A. Kok jadi begitu?" tanya Mia.
"Kenapa?" tanya Dion.
Mia belum pernah melihat Dion semarah ini sebelumnya. Ia tidak menyangka jika Dion akan semarah ini setelah tahu apa yang terjadi pada Sindi.
Ini semua bermula dari Dion yang mengunjungi cafe X siang ini. Ia tidak sengaja melihat Sindi dan Danu yang sempat berpelukan di parkiran. Tanpa tahu apa yang terjadi, Dion memotretnya. Menjadikan itu barang bukti atas apa yang ia lihat.
Awalnya Dion tidak jujur. Ia justru bertanya pada Mia tentang keberadaan Sindi. Namun dengan polosnya Mia jujur, kalau Sindi sedang ke supermarket. Kesal karena istrinya dibohongi, Dion mengirimkan foto itu pada Mia.
Lalu apa yang Mia rasakan? Marah? Kesal? Kecewa? Ya, tentu saja. Tapi Mia hanya percaya kalau apa yang Sindi lakukan pasti sudah ada pertimbangannya. Mia yakin Sindi punya alasan tersendiri. Cepat atau lambat, ia pasti akan tahu alasan itu. Itulah mengapa Mia masih bisa bersikap santai pada Sindi.
Lain Mia lain Dion. Jika Mia bisa lebih santai, tapi Dion sangat marah. Merasa dikhianati dan dibohongi oleh Sindi, bukan hanya kecewa tapi Dion kesal dan marah.
Jika bukan karena Mia, sudah dapt dipastikan kalau Dion akan memarahi Sindi habis-habisan. Dion tidak mengerti terbuat dari apa hati istrinya.
"Terserah kamu. Aku merasa apa yang aku lakukan gak ada artinya buat kamu," ucap Dion kesal.
Dion masuk dan membanting pintu kamar mandi. Mencoba mendinginkan perasaannya dalam guyuran air yang membasahi kepala hingga seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Mia masih menunggu di kamar. Ia menyiapkan pakaian ganti untuk Dion. Hatinya memang sedang tidak baik. Namun Mia hanya berusaha untuk membuat situasi menjadi tetap baik. Ia tidak ingin masalah ini menjadi beban untuk yang lainnya.
Aku akan menyelesaikan semua ini. Toh ini bukan sebuah masalah. Ini hanya sebuah salah paham saja. Sindi berhak melakukan apapun untuk kebahagiaannya. Sindi bebas menentukan pilihan hatinya. Terlepas itu Danu.
"A," sapa Mia saat Dion sudah keluar dari kamar mandi.
"Apa?" tanya Dion.
Wajahnya datar. Tidak ada tatapan hangat dan senyum lembutnya. Dion tetap fokus pada cermin setelah mengganti pakaiannya.
"Aa marah?" tanya Mia.
"Gak penting," jawab Dion.
"Aa kenapa?" tanya Mia.
Dion menggebrak meja rias. Ia membalikkan badannya dan menatap Mia dengan tajam.
"Kamu tanya kenapa? Harusnya kamu tanya sama dia. Kenapa dia harus milih Danu? Kayk gak ada cowok lain aja. Katanya sahabat, tapi kok gitu. Aku akan suruh dia balik ke Surabaya," ucap Dion.
"A, jangan begitu. Sindi berhak bahagia. Dia juga punya hak buat memperjuangkan kebahagiaannya," ucap Mia.
Entah ke berapa kali Mia menjelaskan hal yang sama. Namun sampai saat ini Dion belum bisa menerima apa yang Sindi lakukan di belakangnya.
"Aku hanya takut dia akan membawa masa lalumu ke kehidupan kita," ucap Dion.
"Kamu berani jamin?" tanya Dion.
Mia diam. Ia memang tidak bisa menjamin seratus persen. Karena kemungkinannya, Sindi akan mengenalkan Danu kepada keluarga Dion sebagai suaminya nanti. Belum lagi hubungan Mia dan Sindi yang tidak bisa putus begitu saja, mau tidak mau sedikit banyak akan melibatkan Danu juga.
"A, Mia gak bisa jamin untuk hal itu. Tapi Mia jamin hati Mia hanya untuk Aa. Apapun nanti yang terjadi, Mia tidak peduli lagi dengan kehidupan Mas Danu. Dia hanya masa lalu Mia. Dan Mia gak di sana lagi. Masa depan Mia ada di sini. Sama Aa," ucap Mia.
Mia segera memeluk tubuh Dion. Meskipun Dion tidak membalas pelukannya, namun Mia tidak sekalipun melepaskannya.
"Lepasin aku Mia," ucap Dion setelah beberapa saat.
"Buat apa? Karena Aa marah sama Mia?" tanya Mia.
"Kalau kamu saja tidak peduli dengan dirimu dan rumah tangga kita, apa aku masih harus peduli?" tanya Dion.
Mia tersentak. Bukan hanya hatinya, tapi kepalanya juga sakit. Ia tak habis pikir kalau Dion akan menghadapinya dari sudut pandang seperti itu.
"A, Mia ngerti perasaan Aa. Tapi kita juga harus mikirin perasaan Sindi," ucap Mia.
Perlahan pelukan Mia melonggar. Ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Dion. Raut wajahnya datar dan dingin. Membuat Mia takut.
Setelah pelukan Mia benar-benar terlepas, Dion segera menghindar dan duduk di sofa. Mia yang berusaha menenangkan Dion mengikutinya.
__ADS_1
"A, maafin Mia kalau Mia lebih mementingkan perasaan Sindi dibanding Aa. Aa jangan marah ya!" ucap Mia.
"Ini bukan masalah Sindi atau aku. Tapi kita. Rumah tangga kita," ucap Dion.
Kali ini Mia tidak berani berkomentar apapun. Ia hanya kembali memeluk Mia dengan hangat. Mia merasa kalau Dion benar-benar mengkhawatirkan rumah tangganya. Bagaimana caranya agar Mia bisa menjelaskan dan meyakinkan Dion kalau Danu tidak akan berpengaruh apapun.
Mia kembali berpikir kalau ini bukan waktu yang tepat. Percuma Mia menjelaskan, karena hati Dion akan tetap menolak dengan keras penjelasan Mia. Yang harus Mia lakukan saat ini adalah menenangkan Dion. Itu saja.
"Nyonya, Tuan," panggil Mba dari luar kamar.
"Iya," jawab Mia.
Mia membuka pintu dan tersenyum ramah pada Mba.
"Maaf mengganggu, Nyonya. Nyonya Helen dan Tuan Wira sudah menunggu di ruang makan," ucap Mba.
"Nanti Mia ke sana," ucap Mia.
Mia kembali menutup pintu kamarnya. Ia kembali duduk di dekat Dion.
"Ayo A," ajak Mia.
"Aku gak lapar," jawab Dion.
"A, yang salah itu kan Sindi. Mama sama Papa gak tahu apa-apa masa jadi kena imbasnya. Waktu sarapan dan makan malam adalah waktu yang ditunggu biar kita semua kumpul," ucap Mia.
Dion diam. Memang benar apa yang dikatakan Mia. Ini adalah waktu yang memang selalu dinanti. Mereka akan berkumpul bersama dan membicarakan banyak hal di sana.
Tapi kali ini situasinya berbeda. Dion tidak akan berselera makan jika harus duduk bersama dengan Sindi. Mia tidak putus asa. Ia terus memberi penjelasan pada Dion agar ikut makan malam.
Demi Nyonya Helen dan Tuan Wira, Dion berusaha menekan egonya sedalam mungkin. Meskipun masih belum ada senyum pada raut wajah Dion, tapi akhirnya Dion pergi.
Mia segera menggandeng tangan Dion. Menguatkan dan meyakinkan Dion kalau ada Mia di sana. Paling tidak, Dion harus menahan emosi demi dirinya.
Sesampainya di ruang makan, Mia tersenyum dan menyapa semuanya. Sementara Dion hanya diam dan langsung mengambil piring. Mia segera mengambilkan nasi untuk Dion dan berusaha menutupi semuanya. Berharap tidak ada yang sadar dengan sikap Dion agar tidak muncul masalah baru.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR*.
__ADS_1