
"Hoaaaam," Mia menguap dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Hah? Jam delapan?" ucap Mia terkejut.
Mia membelalakkan matanya saat melihat jam di dinding temboknya sudah jam delapan. Bukan memilih bangun dan segera mandi, Mia lebih memilih untuk tidur kembali. Rasanya percuma saja. Ini sudah terlambat.
Tapi kalau dipecat gimana ya? Ah bodo amat. Mia pusing, lemes banget ini.
Baru saja Mia akan memejamkan matanya kembali, suara ketukan pintu membuat mata Mia kembali terbuka.
"Aduh, Sindi. Kamu ngapain sih pagi-pagi gini?" gerutu Mia.
Dengan memegang kepalanya yang terasa berat, Mia turun dari ranjangnya dan menghampiri Sindi.
"Sin," ucap Mia saat pintu sudah terbuka.
"Tuh kan kamu sakit ya?" tanya Sindi sembari memegang dahi Mia dengan telapak tangannya.
"Gak kok Sin, Mia baik-baik saja." Mia menepis tangan Sindi agar tidak terlalu khawatir.
"Mi, ingat ya. Kita kan udah sahabat. Kalau ada apa-apa kamu wajib cerita sama aku dong. Kamu gak boleh tertutup begitu. Gak baik loh kalau memendam semuanya sendirian," ucap Sindi.
"Mia cuma kurang tidur saja Sin. Gak ada apa-apa," ucap Mia.
Sindi tentu sangat khawatir dengan keadaan Mia. Mia yang biasanya terlihat ceria, sejak kemarin justru terlihat murung. Bahkan hari ini, Mia tidak masuk kerja. Sindi yang menunggu Mia tak kunjung membawa kunci motornya, berpikir kalau Mia sedang sakit. Hingga ia memastikan keadaan Mia, karena tak biasanya Mia bolos bekerja.
Sebenarnya Mia sangat bahagia saat melihat Sindi begitu khawatir padanya. Paling tidak, masih ada yang peduli padanya.
"Sin, kalau bolos sekali dipecat gak ya? Mia gak sempat izin," ucap Mia.
"Biar nanti, aku ke pabrik ya ngasih tahu kepala bagian kalau kamu lagi sakit." Sindi menenangkan Mia agar tidak banyak pikiran.
"Makasih ya Sin. Maaf ngerepotin kamu terus," ucap Mia.
"Ya ampun Mia, kamu kayak sama siapa aja deh ah. Ya sudah kamu tidur lagi. Istirahat ya! Biar nanti aku ke pabrik," ucap Sindi.
"Sin," panggil Mia saat Sindi sudah mencapai ambang pintu.
"Iya," jawab Sindi.
"Terima kasih banyak buat semua kebaikanmu. Kamu adalah malaikat yang Tuhan kirim untuk selalu membantu Mia," ucap Mia sambil memeluk Sindi.
"Mi," ucap Sindi terharu.
"Sudah kamu istirahat ya!" ucap Sindi sambil menyeka sudut matanya.
Mia kembali ke dalam kamarnya karena memang tubuhnya terasa sangat lemas. Mia kembali memejamkan matanya, tapi nyatanya Mia malah menangis. Bayangan Danu, cinta pertamanya kembali mengisi hatinya. Luka yang hampir sembuh itu kini terasa sakit kembali. Bahkan mungkin kali ini lebih sakit. Danu benar-benar sudah melupakannya.
Kini, Mia benar-benar sudah kehilangan semuanya. Mia berusaha menenangkan dirinya sendiri, ia yakin kalau semuanya akan segera terlewati.
Kalin, tiba-tiba saja Mia mengingat Kalin. Mungkin Kalin memang satu-satunya orang yang bisa mengerti keadaannya sekarang. Tanpa berpikir panjang, Mia menghubungi Kalin. Namun panggilannya terabaikan, karena Kalin sedang meeting.
Mia kembali menyimpan ponselnya dan mengambil sebuah buku. Mia mencurahkan semuanya pada sebuah buku. Saat ia benar-benar merasa sendiri, buku selalu jadi penolong untuk Mia. Mia bebas menceritakan semua rasa yang tersimpan di dalam hatinya. Mia menulis rasa kecewa dan sakitnya saat mendengar berita pernikahan Danu. Rasa sedihnya karena hidup sendiri. Tak ketinggalan tentang Dion. Mia menulis semua tentang Dion. Dari mulai mereka bertemu, hingga kemarin malam yang membuat Mia bolos kerja karena kesiangan.
"Mia," panggil Sindi.
"Iya Sin, ada apa lagi?" tanya Mia.
"Ini buat kamu," ucap Sindi memberikan sebuah kantong plastik berisi nasi bungkus. "Makan dulu ya! Kamu pasti belum makan. Maaf aku gak bisa nemenin kamu, aku ada urusan dulu sebentar." Lanjut Sindi.
"Sin, terima kasih banyak loh. Mia selalu saja merepotkan kamu," ucap Mia.
"Ah, apaan sih. Ya sudah, cepat makan. Aku pergi dulu ya!" ucap Sindi.
Mia mengangguk dan tersenyum. Jelas terlihat kalau Mia sangat bahagia. Akhirnya Mia tidak sendiri. Ada Sindi yang masih peduli padanya.
Mia membuka nasi bungkus yang diberikan oleh Sindi. Suapan demi suapan yang Mia makan, ditemani oleh air mata yang menetes di pipinya.
Sementara di luar, Sindi mengintip. Melihat Mia yang makan sambil menangis, Sindi ikut menangis.
"Sabar Mia, sebentar lagi kamu akan bahagia. Tuan Dion pasti akan membahagiakanmu. Setelah ini, kamu tidak akan sedih lagi. Kalaupun kamu menangis, itu hanya air mata kebahagiaan." gumam Sindi.
Ya, Mia memang tidak menceritakan tentang Dion pada Sindi. Namun saat Sindi ke pabrik untuk memberi tahu keadaan Mia, Sindi justru merasa terkejut dengan pria tampan yang tengah mencari Mia. Sindi tidak pernah melihat pria berkuasa itu masuk ke dalam pabrik. Ini pertama kalinya, dan Dion mencari Mia. Sindi yakin jika Mia sangat berarti bagi Dion.
Hari ini, Dion sangat merindukan Mia. Memanggil Mia ke ruangannya adalah sebuah kekonyolan, karena Mia pasti akan mengejeknya kalau sedang merindukannya. Padahal memang benar, namun tidak boleh ada yang tahu. Bahkan Dion sendiri mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak mempercayai kegilaan ini.
Cara Dion untuk melihat Mia adalah mengontrol pabrik. Dion tahu Mia kerja shift satu. Dan pagi ini, Mia pasti akan bekerja. Selain itu, Mia juga tidak mungkin berani macam-macam padanya kalau di pabrik. Karena, Dion adalah pemilik perusahaan itu.
Yes ide cemerlang Dion. Ayo lakukan sekarang. Giliran kamu yang membuat Mia kesal. Awas kamu Mia, aku balas semua kelancangan kamu ya!
Senyum lebar di bibir Dion mengertikan maksud tertentu. Entah senang karena akan mengerjai Mia, atau justru senang karena akan bertemu dengan Mia. Ah entah lah. Yang pasti hari ini akan menjadi hari yang paling menyenangkan bagi Dion.
"Aku ingin ke pabrik," ucap Dion.
__ADS_1
"Baik Tuan, mari." ucap asistennya.
Dion melngkahkan kakinya dengan hati yang berbunga. Disambut baik oleh kepala bagian dan semua karyawan yang sedang bekerja shift satu.
Dion mulai memeriksa ruangan demi ruangan di bagian produksi, tidak ada.
Apa? Mia tidak ada? Bagaimana mungkin Mia tidak ada? Apa dia shift dua?
Dion berpikir bagaimana caranya agar ia tahu tentang Mia. Ah, idenya muncul.
"Mana absen hari ini?" tanya Dion.
"Ini Tuan," kepala bagian menyerahkan sebuah absen manual yang sudah ia rekap per hari ini.
Dion menerimanya dan membaca setiap nama karyawan. Sangat teliti karena tidak ingin ada yang terlewat. Dion ingin memastikan apa alasan Mia tidak masuk. Sebenarnya bisa saja Dion bertanya langsung pada kepala bagian, hanya saja gengsinya di atas segala-galanya. Tidak mungkin Dion menjatuhkan harga dirinya hanya karena Mia.
Ah ini Mia. Kemana dia? Apa mungkin dia kabur?
Dion melemparkan absen itu.
"Kenapa kau masih membiarkan karyawan yang bolos di pabrik ini? Ganti dengan yang lebih rajin. Kita tidak butuh karyawan seperti itu," ucap Dion.
Kepala bagian mengambil kertas yang dilemparkan oleh Dion dan mencari tahu apa maksudnya. Ah, Mia. Ya, kini kepala bagian mengerti siapa karyawan yang dimaksud oleh Dion.
"Tuan, ini pertama kalinya Mia bolos. Saya akan menindak Mia secepatnya," ucap kepala bagian.
"Kemana dia? Apa benar-benar tidak ada keterangan?" selidik Dion.
"Tidak ada keterangan apapun, Tuan." Kepala bagian menunduk hormat.
"Permi--," Sindi menghentikan ucapannya saat melihat Dion ada di pabrik.
Mereka memang belum saling mengenal, namun Sindi tahu siapa Dion. Wajah Sindi berubah seketika.
"Ma-maaf Tuan," ucap Sindi pada Dion yang tengah menatapnya tajam. "Pak, saya minta maaf." ucap Sindi pada kepala bagian.
"Kamu terlambat?" tanya Dion.
"Ti-tidak Tuan. Saya bagian shift dua," ucap Sindi gugup.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Dion.
Mata Sindi melihat ke arah kepala bagian. Ia bertanya melalui matanya. Kepala bagian menjawabnya dengan menganggukkan kepala. Seolah mengiyakan.
"Saya mau menyampaikan kalau teman saya sakit, hingga tidak bisa masuk." Usai menjawab, Sindi menunduk hormat.
"Kenapa baru memberi tahu sekarang? Kamu tidak bisa melaporkannya sebelum jam masuk?" selidik Dion.
"Maaf Tuan, saya baru mengetahui kalau teman saya sakit setelah lewat jam masuk." jawab Sindi dengan hati-hati.
"Lalu bagaimana kamu tahu dia sedang sakit?" tanya Dion.
"Sampai jam delapan teman saya tak kunjung datang untuk membawa kunci motor, karena biasanya dia memakai motor saya untuk ke pabrik. Hingga saya mencarinya ke ru--," Sindi terdiam saat Dion memberinya pertanyaan selanjutnya.
Itu Mia. Pasti Mia.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Dion.
"Nampak pucat dan sedang beristirahat Tuan," jawab Mia.
"Sudah berobat?" tanya Dion.
"Su-sudah Tuan," jawab Sindi sambil menatap heran wajah Dion.
Dion yang menyadari kecurigaan Sindi segera menyembunyikan semuanya.
"Ya sudah, pulang saja. Dia tidak akan dipecat," ucap Dion.
Sindi mengangguk dan pamit untuk keluar dari pabrik.
Aku bisa membaca kekahawatiranmu Tuan. Jadi ini alasan Anda membawa Mia ke ruangan Anda saat itu?
Sindi memang tidak melihat Mia keluar dari ruangan Danu saat itu. Namun temannya yang bekerja sebagai OB di kantor, melihat Mia dan segera menginformasikannya pada Sindi.
Setelah Sindi keluar dari pabrik, tak lama Dion juga keluar dan kembali ke ruangannya.
Mia, kamu sakit apa? Kasihan sekali kamu. Pasti kamu sendirian ya? Miaaaa, kamu membuatku khawatir saja.
Dion berjalan bolak balik di dalam ruangannya. Tak tentu arah. Pikirannya kacau. Bayangan Mia tidak pernah hilang dari kepalanya. Dion menghela nafas panjang dan berusaha membuang bayangan Mia. Berharap kalau ia tidak perlu peduli dengan kondisi Mia.
Tidak bisa begini. Aku harus tahu bagaimana keadaan Mia.
Dion bangkit dan menemui sopirnya.
__ADS_1
"Mana kunci mobil?" tanya Dion sembari menengadahkan tangannya.
Sopir itu nampak terkejut dan tidak mengerti maksud Dion.
"Kau tidak mendengarku?" ucapnya dengan penuh penekanan.
"I-ini Tuan," ucap sopir itu gugup sembari memberikan kunci mobilnya pada Dion.
Dion menerima kunci itu
"Jangan kemana-mana! Tetaplah di sini. Aku titip ruanganku. Jangan pergi sebelum aku kembali. Mengerti?" tanya Dion.
"Mengerti Tuan," ucap sopir itu.
Meskipun sebenarnya sopir itu tidak mengerti maksud Dion, namun ia membiarkan Dion berlalu meninggalkannya. Pandangannya tidak lepas dari Dion, hingga Tuannya itu hilang dari pandangannya. Rasa bingung menyelimuti sopir itu. Tidak biasanya Dion pergi sendiri. Sopir yang sudah lama bekerja pada Dion, berpikir jika ada masalah pribadi yang terjadi pada Dion. Hingga tidak ada yang boleh tahu siapapun kecuali dirinya sendiri.
Bermodal alamat yang pernah dikirim oleh kepala bagian, Dion mencari rumah kontrakan Mia. Saat melihat mobil mewah milik Dion terparkir di sekitar rumah kontrakannya Sindi bersembunyi.
Ia tidak ingin Dion mengurungkan niatnya untuk menjenguk Mia hanya karena melihat ada dirinya di sana.
"Mia," panggil Dion menggedor pintu rumah kontrakannya.
Suara siapa itu?
"Sebentar," jawab Mia.
Mia melihat wajahnya pada pantulan cermin. Mengusap pelan wajahnya yang nampak pucat tanpa sentuhan make up apapun, yang menampilkan wajah naturalnya dengan mata yang sedikit sembab.
"Tuan Dion?" ucap Mia terkejut.
Mia segera mencium tangan Dion saat melihat tangan pria itu sudah melengkung di hadapannya.
Mia, kau pucat sekali. Kenapa kau tidak bilang padaku? Padahal semalam kamu terlihat baik-baik saja. Jangan bodoh Dion. Ingat harga dirimu. Jangan sampai Mia menginjak-nginjak harga dirimu seperti malam kemarin. Ayo Dion semangat.
"Minggir, aku mau masuk. Kau mengahalangi jalanku saja," ucap Dion.
Mia bergeser dan menatapnya penuh kebingungan.
Mohon maaf nih sultan sableng. Tapi kan ini rumah kontarakan saya. Kok seperti saya yang numpang. Bagaimana ceritanya ini?
"Kau tidak mau memberiku jamuan?" tanya Dion.
"Sebentar," jawab Mia sembari setengah berlari ke dapur.
Mia kembali membawa segelas air di atas nampan dan menyimpannya di atas meja.
"Silahkan Tuan," ucap Mia.
"Apa itu?" tunjuk Dion pada gelas yang ada di hadapannya.
"Ya ampun, Mia pikir kalau pimilik perusahaan itu sangat cerdas. Tapi ternyata tidak begitu," ucap Mia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa maksudmu?" tanya Dion.
"Mia yakin hanya Tuan satu-satunya manusia di muka bumi ini yang tidak tahu kalau itu adalah air putih," jawab Mia.
Kurang ajar kamu Mia. Kamu yang bodoh tidak mengerti ejekanku.
"Aku tahu itu air putih. Tapi maksudku kenapa kau memberiku air putih? Aku bukan ikan cup4ng," ucap Dion.
Ikan cup4ng itu cantik, lucu. Anda sama sekali tidak seperti ikan cup4ng. Anda itu ikan hiu. Yang besar dan jahat.
"Ganti! Berikan aku yang lebih bagus dari ini!" ucap Dion.
"Tuan, ini adalah minuman yang paling bagus dan sehat. Tuan seharusnya sering minum air putih agar kesehatannya terjaga. Jadi Tuan bisa terhindar dari darah tinggi dan kolesterol," ucap Mia.
"Aku tidak punya penyakit seperti itu," ucap Dion.
"Masa sih? Tapi kok Mia lihat sudah ada gejalanya. Sebaiknya Tuan periksa lagi ke dokter. Mia khawatir Tuan," ucap Mia.
Khawatir? Mia mengkhawatirkanku? Sudah ku bilang, Mia akan sangat tergila-gila padaku.
"Gejala apa? Kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja Mia," ucap Dion.
"Tapi dari pertama bertemu Tuan selalu marah-marah. Biasanya marah-marah itu gejala orang yang terkena darah tinggi," jawab Mia dengan polosnya.
Apa? Jawabanmu di luar ekspektasiku Mia. Kamu benar-benar menyebalkan.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..