Janda Bersegel

Janda Bersegel
Lebih ganteng


__ADS_3

"Hari ini kamu mau kemana?" tanya Danu.


"Kemana?" Sindi balik bertanya.


"Kamu gak mau kemana-mana?" tanya Danu.


"Sepertinya belum," jawab Sindi ragu.


"Seandainya kamu udah gak sakit, hari ini akan menjadi hari yang melelahkan." Danu menghembuskan napas berat.


Ada rasa bersalah pada diri Sindi. Tidak seharusnya ia berlebihan. Padahal ini yang Danu harapkan dari pernikahan itu. Lagi pula, Sindi juga tidak bisa menampik bahwa apa yang dilakukan oleh Danu memang menjadi candu baginya.


"Kalau mau, aku siap kok." Sindi menunduk.


Danu menyimpan sarapannya dan memeluk Sindi.


"Aku tahu kamu istri yang baik. Tapi aku juga sedang belajar menjadi suami yang baik. Aku gak mau maksa kamu. Mana mungkin aku tega berbahagia sementara jelas-jelas aku melihat kamu sakit," ucap Danu.


"Terus hari ini kamu mau kemana?" tanya Sindi.


"Gak kemana-mana," jawab Danu.


"Kenapa gak ke kantor?" tanya Sindi.


"Hey, aku ini masih pengantin baru. Masa udah harus masuk kantor?" tanya Danu.


"Dari pada di sini gak ngapa-ngapain?" tanya Sindi.


"Kata siapa gak ngapa-ngapain? Orang aku mau ngapa-ngapain kamu kok," jawab Danu.


"Tadi katanya gak tega?" tanya Sindi.


"Yang sakit cuma terminalnya kan? Kalau yang lain masih bisa kan? Bisa lah ya," bujuk Danu dengan mata nakalnya.


"Ih, kamu." Sindi memalingkan wajahnya.


Sarapan kembali dilanjutkan. Setelah selesai, sesuai obrolan tadi, Danu menikmati kembali masa-masa yang sudah lama ia nantikan ini. Sindi kembali merasa hampir kehilangan kewarasannya ketika Danu mengambil alih semua titik lemah Sindi.


Bahkan hal yang tidak direncanakan pun terjadi. Sakit memang, tapi apa yang Danu lakukan menuntuk Sindi untuk meminta lebih. Danu tersenyum dan segera menuntaskan semuanya.


"Maaf dan terima kasih," ucap Danu.


Maaf karena Danu tidak bisa mengontrol dirinya, tapi semua itu juga tidak sepenuhnya salah Danu. Sindi yang memberinya sinyal hingga Danu tidak bisa melepaskan Sindi begitu saja. Terima kasih karena Sindi sudah sangat mengerti dan memberikan yang terbaik dalam setiap kegiatan itu.


"Sama-sama," ucap Sindi.


"Ayo aku gendong ke kamar mandi!" ucap Danu.


"Kamu mandi duluan aja," ucap Sindi.


Sementara Danu mandi, Sindi tersenyum sendiri. Ia berdiri di depan cermin dan mengamati dirinya sendiri.


Aku sudah menjadi milik Danu. Apapun yang terjadi, dia adalah pria yang bertanggung jawab penuh atas diri ini. Sindi, jaga diri ini baik-baik.


Tiba-tiba Sindi teringat Mia. Ia ingin sekali menceritakan semua kebahagiaannya pada Mia. Namun saat Sindi menghubungi Mia, tidak dijawab. Sudah panggilan ketiga, namun Sindi harus menelan kecewa saat Mia masih tidak menjawab panggilannya.


"Kamu nelepon siapa?" tanya Danu saat keluar dari kamar mandi.


"Mia," jawab Sindi.

__ADS_1


"Terus kenapa kesel gitu mukanya?" tanya Danu.


"Gak diangkat," jawab Sindi.


"Mungkin dia sibuk. Kan papanya ada di sini," ucap Danu berusaha menenangkan Sindi.


Sindi mengangguk. Benar! Saat ini Tuan Felix dan Mia ada di Indonesia. Di rumah itu. Tapi entah mengapa Sindi merindukan suasana rumah itu.


"Kamu mau ke sana?" tanya Danu.


"Boleh?" tanya Sindi.


"Besok ya!" jawab Danu.


"Memangnya hari ini mau kemana?" tanya Sindi.


"Gak kemana-mana. Tapi mereka pasti lagi saling melepas rindu. Gak enak kalau kita ke sana sekarang. Buktinya sekarang Mia gak jawab panggilan kamu. Besok aja ya!" ucap Danu.


Sindi mengangguk. Danu benar. Sekarang biarlah Mia melepas rindu dengan Tuan Felix dan Rian. Masih ada hari besok untuk Sindi.


Mi, kamu pasti bahagia banget ya!


Sindi tersenyum membayangkan kalau Mia tengah tertawa bahagia dengan kelaurga Tuan Wira dan Tuan Felix. Dan semua itu nyata adanya.


Saat ini Mia tengah bercerita banyak hal dengan Rian dan Tuan Felix. Mia bahkan sempat iri saat Rian menunjukkan beberapa fotonya di Jerman.


"Mia juga mau ke sana," ucap Mia.


"Atur jadwal. Nanti kita liburan di sana," ucap Tuan Felix.


"Nanti kalau Papa pulang Mia ikut ya! Sehari aja," pinta Mia.


"Terus perusahaan gimana?" tanya Dion.


Rupanya Mia belum tahu kalau Dion dan Tuan Felix sudah menyiapkan semuanya. Saat Tuan Felix menceritakan semua itu, Mia hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Matanya membulat sempurna. Tuan Felix senang saat melihat anak kandungnya itu terlihat sanagt bahagia.


"Cieee, ibu bos." Rian menggoda Mia.


"Ini serius?" tanya Mia.


"Serius. Aku juga udah tahu kak," ucap Rian.


"Terus kenapa gak ngasih tahu aku sih?" tanya Mia.


"Papa gak bolehin. Katanya ini rahasia," jawab Rian.


"Tapi kamu seneng kan?" tanya Dion.


"Seneng banget A," jawab Mia.


"Besan, kalian tidak keberatan kan kalau Mia kembali ke kantor?" tanya Tuan Felix.


"Kalau kantornya sudah disiapkan khusus untuk Mia seperti itu, mana bisa kami keberatan? Mia bisa tetap bekerja tanpa kehilangan waktu dengan kedua anak kembarnya," jawab Tuan Wira.


Ya, impian Mia adalah menjadi wanita karir. Namun setelah memiliki anak kembar, Mia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan kedua buah hatinya. Menyingkirkan semua impian itu. Namun Tuan Felix mewujudkan semua impian Mia tanpa harus mengambil waktu Mia bersama dengan Narendra dan Naura.


"Papa, terima kasih banyak ya!" ucap Mia sembari memeluk Tuan Felix.


"Nanti setelah peresmian perusahaan baru, Dion juga akan bekerja di kantor yang sama." Tuan Wira ikut menambahkan kebahagiaan Mia.

__ADS_1


"Terus kantor pusat?" tanya Mia.


"Reza Papa tarik ke pusat. Kinerjanya memuaskan dan pantas bekerja di pusat," ucap Tuan Wira.


"Terus di Surabaya?" tanya Dion.


"Papa udah ada orang kepercayaan buat ganti Reza di sana," jawab Tuan Wira.


"Papa serius?" tanya Dion.


"Masa becanda sih," jawab Tuan Wira.


Dion memang sudah tahu jika ia akan mendampingi Mia di kantor barunya. Namun ia tidak menyangka jika akan dilepas dari kantor pusat.


"Papa kapan tinggal di Indonesia?" tanya Mia.


Pertanyaan Mia membuat suasana bahagia itu berubah menjadi hening.


"Papa mau tinggal bersama kamu. Tapi untuk sementara ini masih banyak sekali yang harus Papa selesaikan. Papa tidak bisa menjawab kapan waktu yang tepat untuk Papa pindah ke Indonesia," jawab Tuan Felix.


Ada raut kecewa di wajah cantik Mia. Tuan Wira jelas menangkap kekecewaan itu.


"Semua yang Papa Felix lakukan untuk kamu juga. Kerja kerasnya semata-mata untuk masa depan kamu dan si kembar. Apa yang dia perjuangkan bukan untuk dirinya sendiri. Lagi pula di sini kan ada Papa. Ini juga Papa kamu. Lebih ganteng lagi," ucap Tuan Wira.


"Papa ini kalau percaya diri ya kira-kira dong Pah," ucap Nyonya Helen.


"Dih, buktinya Mama milih Papa kan? Berarti Papa lebih ganteng dong. Dia meskipun bule masih jomblo aja. Buktinya apa?" tanya Tuan Wira.


"Itu karena Mama dipelet aja sama Papa," ucap Dion.


Tidak hanya Mia, tapi Dion dan yang lainnya juga ikut tertawa mendengar ucapan Tuan Wira. Pria yang sudah tidak muda lagi itu tersenyum bangga saat berhasil membuat Mia kembali tersenyum.


Mia memang bukan darah dagingnya. Namun semua ketulusan Mia membuat Tuan Wira menganggap Mia seperti anak kandungnya sendiri. Rasa sedih itu ikut ia rasakan saat Mia tengah bersedih.


Hari ini Mia lalui tanpa ponsel. Ia menghabiskan waktunya dengan keluarganya. Menata rencana tentang perusahaan barunya, yang akan diresmikan beberapa hari lagi.


Mia mendapat beberapa arahan dari Tuan Wira dan Tuan Felix. Sebagai wanita cerdas, Mia bisa dengan cepat menangkap ilmu baru yang ia dapatkan.


"Dion, besok kamu ke kantor pusat dulu ya! Papa udah manggil Reza buat pengalihan tugas," ucap Tuan Wira.


"Siap Pah. Terima kasih ya!" ucap Dion.


Selain bahagia karena bisa satu kantor dengan Mia, Dion juga senang saat Reza bisa kembali bekerja di Jakarta. Mereka bisa lebih sering bertemu. Walaupun tidak pernah mengungkapkan perasaannya, namun Dion memang merasa rindu pada sahabatnya itu.


"Awas kalau main PS lagi," ancam Tuan Wira.


"Ya ampun Pah, boleh kali. Masa main PS aja dilarang," ucap Dion.


"Gak boleh. Papa khawatir si Reza kumat lagi gilanya," ucap Tuan Wira.


Tuan Wira ternyata sudah tahu kalau ternyata Reza dan Dion selalu taruhan saat main PS.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2