
Hari ini libur, Danu berpikir kalau Mia akan pergi belanja. Dengan kartu kredit itu, Mia bisa membeli semua kebutuhannya. Danu sudah tidak sabar melihat selera Mia kalau belanja sendiri seperti apa. Sesekali Danu tertawa kecil saat membayangkan semua tingkah konyolnya. Tak sering semua sikap noraknya membuat Danu pusing Tapi jujur saja, ada saat dimana Danu justru merindukan hal itu.
Sore hari, Danu izin untuk menemui Mia pada ibunya. Nyonya Nathalie senang sekali.
"Mami ikut. Mami mau menyampaikan tanggal nikah pada Mia," ucap Nyonya Nathalie.
"Hah? Mami mau memberi tahu Mia tentang tanggal nikah, sementara aku sendiri gak tahu kapan tanggal nikahku. Sebenarnya anak Mami itu aku atau Mia sih?" tanya Danu kesal.
"Kamu tinggal lihat di kalender kenapa sih? Jangan baperan dong Danu. Lebay sekali. Tunggu ya Mami mau ganti pakaian dulu," ucap Nyonya Nathalie.
Danu cemberut karena menyesal sudah memberi tahu ibunya. Kalau tahu ibunya mau ikut, lebih baik Danu pergi tanpa izin saja.
"Sayanh ayo!" ajak Nyonya Nathalie dengan sangat bersemangat.
Danu mengikuti ibunya yang berjalan lebih dulu. Pakai mobil yang mana?" tanya Nyonya Nathalie.
"Itu," Danu menunjuk mobil miliknya.
"Ok," ucap Nyonya Nathalie masuk ke dalam mobil.
Baru saja Danu menginjak gasnya, Danu menginjam rem dengan refleks karena teriakan ibunya.
"Stooop" teriak Nyonya Nathalie tiba-tiba.
"Aw, Danu sakit." Nyonya Nathalie memegang kepalanya yang tersungkur karena Danu menginjam rem secara mendadak.
"Mami ada apa? Bikin aku kaget saja!" ucap Danu kesal.
"Mami lupa membawa masker, Danu. Cepat bawakan masker mami," ucap Nyonya Nathalie.
"Biiii," teriak Danu.
"Nooo. Jangan Bibi. Kamu yang harus nawa maskernya. Mami tidak mau ada orang lain yang masuk ke kamar, kalau Mami gak ada. Ayo cepat!" pinta Nyonya Nathalie.
"Kan Bibi bisa minta tolong ke Papi," ucap Danu.
"Papi lagi main golf, gak ada di kamar. Ayo cepat Danu! Nanti kemalaman pulang dari rumah Mianya." Nyonya Nathalie masih terus membujuk Danu.
Danu yang tidak ingin berdebat lebih lama segera masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan masker di kamar ibunya.
"Ini, ucap Danu menyerahkan sebuah masker pada ibunya.
"Bukan yang iniii," teriak Nyonya Nathalie.
"Mii, sama aja. Yang penting kan masker," ucap Danu kesal.
"Hey warnanya tidak cocok dengan warna baju Mami," ucap Nyonya Nathalie.
"Ya udah kalau gitu Mami saja yang ngambil," ucap Danu yang memilih untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Danu, kamu gak lihat Mami pakai heels tinggi begini?" Nyonya Nathalie memperkihatkan kakinya yang memakai heels 8 cm.
"Mami mau bertemu Mia, bukan bertemu dengan pemilik saham. Pakai sendal biasa kan bisa," gerutu Danu.
"Gak cocok sama bajunya, Danu. Ayo cepat bawa maskernya! Kamu juga pakai masker, kostan Mia itu kumuh. Ayo cepat turun! Ingat, masker yang warna pink!" pinta Nyonya Nathalie.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau gitu Mami jangan ikut ke kostan Mia." Danu merasa kesal saat ibunya berkali-kali menyebut kostan Mia itu kumuh.
"Danu, Mami harus menyampaikan tanggal pernikahan kalian. Cepat ambil maskernya!" ucap Nyonya Nathalie.
"Aku yang akan memberi tahu Mia tentang tanggal pernikahannya," ucap Danu.
"No, tidak afdol. Mami yang harus memberi tahu Mia," ucap Nyonya Nathalie.
Danu dengan malas melangkah pergi untuk mengambil masker warna pink, tanpa menjawab apapun pada ibunya karena sudah tak ingin berdebat lagi.
"Ini!" Danu menyerahkan sebuah masker pink pada ibunya dengan cemberut.
"Terima kasih anak Mami yang paling ganteng," ucap Nyonya Nathalie.
Danu tak menjawab ucapan ibunya. Danu segera melajukan mobilnya, takut kalau ada sesuatu yang ketinggalan lagi. Nyonya Nathalie nampak sangat menikmati perjalanan sore ini. Matanya melihat suasana jalan raya di sore hari. Sudah sangat lama ia tak pernah berjalan-jalan seperti ini. Semenjak suaminya semakin sibuk, Nyonya Nathalie hanya diam di rumah menunggu suami dan anaknya pulang dari kantor.
Nyonya Nathalie bukan tipe wanita yang senang menghabiskan uang suaminya sendirian. Ia hanya akan belanja saat Tuan Ferdinan atau Danu mengantarnya belanja. Nyonya Natahalie sangat jarang kumpul-kumpul dengan ibu sosialita.
Mobil sudah terlarkir di depan kostan Mia. Nampak Mia sedang sangat kotor, calon menantunya itu sedang membereskan halaman kostannya.
"Nyonya?" sapa Mia dengan terkejut saat melihat kedatangan Danu dan ibunya.
"Mia, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Nyonya Nathalie yang jijik melihat Mia yang nampak kotor.
"Sedang membuat taman, Nyonya. Biar kostannya bagus dan betah," jawab Mia.
Ya, Nyonya Nathalie menyadari, sekarang kostan itu nampak lebih cantik dan bersih. Jangan tanya kenapa tidak cari tukang kebun, untuk jajan bakso saja Mia mikir-mikir dulu.
"Sudah cepat bersihkan badanmu. Mami mau bicara," ucap Nyonya Nathalie.
"Baik, Nyonya." Mia segera mandi dan menemui Nyonya Nathalie.
Danu mencubit ibunya yang bicara tanpa memikirkan perasaan Mia.
"Iya Nyonya. Mia beres-beres biar makin betah tinggal di sini," ucap Mia.
"No. Kamu jangan betah tinggal di sini. Karena nanti kalau sudah menikah, kamu akan tinggal bersama Danu. Tidak di sini!" ucap Nyonya Nathalie.
Nyonya Nathalie memberi tahu Mia untuk acara pernikahan mereka. Mia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak mendebat apapun, dan itu yang membuat Nyonya Nathalie suka. Tidak seperti Tuan Ferdinan dan Danu yang selalu saja menilai Nyonya Nathalie selalu terlihat salah.
"Bagus, Mami suka. Nah Danu, lihat Mia! Penurut sekali. Mami suka, kamu harus banyak belajar dari Mia." Nyonya Nathalie menatap Danu dengan kesal.
Danu tidak memberikan respon apapun karena sudah lelah jika harus berdebat lagi dengan ibunya.
"Oh ya Mia, kau sudah belanja?" tanya Danu.
"Sudah, Tuan." jawab Mia.
"Beli apa saja?" tanya Danu.
"Beli kol, wortel, tahu, tempe, ayam, mie instan, dan" ucapan Mia terhenti saat Danu memotong ucapannya.
"Bukan sayuran Mia. Aku kan menyuruhmu beli baju," ucap Danu.
"Tuan, aku tidak mau punya utang. Tuan jangan biasakan apa-apa di kredit dong. Tuan itu jangan banyak utang, banyakin nabung. Bagaimana masa depan Tuan kalau Tuan ngutang terus?" ucap Mia dengan polosnya.
__ADS_1
"Tuh Mi. Denger sendiri kan? Ayo ah pulang. Capek aku!" ucap Danu.
Nyonya Nathalie menahan tawanya melihat wajah Mia mengingatkan anaknya untuk menabung.
"Ayo Mi!" Danu sudah berdiri.
"Kamu duluan ke mobil ya! Mami mau bicara dulu dengan Mia," ucap Nyonya Nathalie.
Karena sudah terlanjur kesal, Danu segera pergi meninggalkan Mia yang hanya diam tak mengerti melihat Kemarahan Danu padanya. Mia menunduk. Mungkin Danu tidak menerima dengan nasihatnya untuk rajin menabung.
Setelah Danu pergi, Nyonya Nathalie bicara serius dengan Mia. Ia memegang bahu calon menantunya. Mengingatkan untuk banyak belajar dengan semua hal yang dianggap aneh oleh Mia.
"Jangan permalukan dirimu! Kau ini cantik dan cerdas. Jangan biarkan orang lain merendahkanmu hanya karena kekonyolanmu!" ucap Nyonya Nathalie.
"Tapi Mia memang tidak tahu, Nyonya." Mia terlihat menyimak setiap ucapan dari Nyonya Nathalie.
Nyonya Nathalie mengingatkan kalau ponselnya bisa membantu Mia untuk menjawab semua ketidaktahuannya.
"Semuanya ada jawabannya?" tanya Mia.
"Ada. Kalau ada yang tidak mengerti, kamu tanya ke Mami. Jangan biarkan orang lain mengejekmu, termasuk Danu dan suamiku. Aku sangat tidak suka mereka meremehkan wanita cerdas sepertimu. Mana ponselmu?" ucap Nyonya Nathalie.
Mia menyerahkan ponselnya. Nyonya Nathalie memasukkan nomornya pada ponsel Mia.
"Itu nomorku! Kalau ada apa-apa, hubungi aku ya! Ingat, kamu calon istri Danu. Akan banyak sekali yang memperhatikanmu. Bantu aku agar tak ada yang mengejekmu. Ubah penampilanmu! Aku akan sangat sakit hati saat melihat menantu cantik dan cerdasku dihina oleh orang lain. Kau mau bekerja sama?" ucap Nyonya Nathalie.
Mia mengangguk. Meskipun belum paham sepenuhnya, tapi Mia mengerti maksud Nyonya Nathalie.
Setelah kepulangan Nyonya Nathalie dan Danu, Mia masuk ke dalam kamar. Melihat dirinya pada pantulan cermin.
"Apa yang salah dengan penampilan Mia, ya?" tanya Mia pada dirinya sendiri.
Mia duduk di tepi ranjangnya dan meraih ponselnya. Mulai membuka informasi tentang penampilan hingga beberapa hal yang belum ia ketahui sebelumnya. Mia tersenyum.
"Ok, Mia akan berubah biar seperti ranger pink."
Mia merebahkan tubuhnya dan melihat beberaa tutorial makeup dan fashion dalam ponselnya. Untuk masuk ke dalam keluarga Danu, Mia harus banyak merubah kebiasaanya.
Tiba-tiba Mia merindukan Haji Hamid. Saat menikah dan menjadi istri Haji Hamid, Mia tidak pernah dituntut ini dan itu. Mia bisa hidup menjadi dirinya sendiri. Tapi sekarang Mia harus belajar menjadi orang yang Mia sendiri tidak tahu seperti apa.
Ah tidak! Mia menyingkirkan pikiran buruknya pada keluarga Danu. Apalagi mengingat Nyonya Nathalie yang sangat baik dan menyayangi dirinya.
"Nyonya pasti menginginkan yang terbaik untuk Mia. Semuanya untuk Mia juga," gumam Mia.
Mia menyadari kehidupan di Bandung dan di Jakarta itu berbeda. Tempat yang berbeda menyebabkan adanya perbedaan gaya hidup. Mia harus bisa menyesuaikan diri agar bisa masuk dalam lingkungannya.
Mia kemudian mencari tahu tentang kartu kredit. Ah Mia sangat malu ketika tahu apa itu kartu kredit. Mia sampai menutup wajahnya dengan bantal saking malunya. Mia merasa bodoh. Pantas saja Danu sering marah padanya. Mia mengerti sekarang tentang maksud Nyonya Nathalie.
Danu adalah anak tunggal darui seorang Tuan Ferdinan. Pengusaha kelas atas yang tidak bisa diragukan lagi kesuksesannya. Nyonya Nathalie pasti malu kalau setelah menikah, Mia masih saja seperti ini. Karena setelah menikah nanti, mau tidak mau Mia akan menjadi pusat perhatian. Akan banyak sekali mata yang mengamatinya, akan banyak sekali mulut yang membicarakannya.
"Mia adalah ranger pink. Mia akan berubah. Kalian lihat saja nanti," gumam Mia.
Mia bertekad akan membuat Danu bangga mengakui dirinya sebagai seorang istri.
###############
__ADS_1
Yuk tap like, vote, love, dan rate5nya. Biar aku makin semangat ya...
Makasih banyak... Happy reading...