Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kalah sama tukang sate


__ADS_3

'Sindi angkat teleponnya. Jangan macam-macam kamu.'


Sebuah pesan Danu kirimkan setelah ia menyerah karena panggilannya ditolak oleh Sindi. Sesering apa Danu menghubunginya, sesering itu pula Sindi menolaknya.


Danu belum bisa tidur. Ia masih duduk dengan ponsel yang tak lepas dari genggamannya. Berkali-kali ia melihat ponselnya tapi ponselnya masih sunyi. Jangankan menghubunginya kembali, sekedar membalas pesan Danu saja Sindi tidak sempat.


Sementara di rumah Dion, Sindi melanjutkan obrolan dan rencana mereka untuk jalan-jalan bersama. Sampai akhirnya Dion membubarkan kumpulan malam itu karena malam sudah semakin gelap. Waktunya istirahat.


Setelah pintu kamar tertutup, Sindi segera mengeluarkan ponselnya dan memeriksanya.


"Ini siapa lagi sih? Dari kemarin ada aja nomor baru. Padahal aku gak punya kreditan panci atau utang ke bank emok," gumam Sindi.


Namun saat Sindi memeriksa pesan baru dalam ponselnya, Sindi terkejut sampai refleks melemparkan ponselnya. Untung saja masih jatuh di kasurnya yang empuk.


'Kamu jangan coba-coba menerorku. Akan aku laporkan ke polisi. Pesan ini bisa jadi barang bukti.'


Karena merasa terancam, dengan jempol yang gemetar ia mengirim pesan sebagai sebuah balasan atas pesan yang diterimanya.


Danu yang menerima sebuah pesan langsung duduk tegak dan membuka pesan itu. Antara marah dan ingin tertawa membuat Danu mesem-mesem sendiri.


'Ini Danu.'


Akhirnya Danu menyebutkan identitasnya agar Sindi segera menghubunginya kembali. Dengan percaya diri, Danu duduk tumpang kaki menunggu panggilan dari Sindi.


'Oh.'


Setelah menunggu, akhirnya Danu harus mengernyitkan dahinya dan mengepalkan tangannya.


"Hanya oh?" ucap Danu kesal.


Danu menelepon Sindi untuk mengultimatumnya secara langsung. Lama, hampir saja Danu mengakhiri panggilannya. Namun jempol Sindi akhirnya menekan tombol hijau di layar ponselnya. Alhasil, obrolan pertama kali via telepon dimulai.


"Ha-halo," ucap Sindi gugup.


Amarah Danu yang siap untuk membludak tiba-tiba meleleh bagai kutub es yang mencair.


Suaranya lembut sekali.


Ah tidak! Danu segera mengembalikan dirinya agar segera sadar atas kekonyolannya.


"Heh, dari mana saja kamu?" tanya Danu dengan nada yang lumayan tinggi.


"Memangnya kamu siapanya aku? Kok harus laporan dari mana sih," jawab Sindi yang ikut emosi.


Danu menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Ia menatap layar yang menyala bertuliskan nama Sindi dengan tatapan bingung.


"Halo," ucap Sindi saat ia tidak mendapat respon dengan ucapannya.


"Besok kamu datang ke rumahku. Mami ulang tahun dan berharap kamu datang. Alamatnya sudah aku kirim," ucap Danu.

__ADS_1


Tidak ingin berdebat panjang lebar akhirnya Danu mengungkapkan tujuannya. Namun ia harus menelan kecewa karena Sindi menolaknya.


"Besok aku ada acara sama keluargaku," jawab Sindi.


"Apa?" tanya Danu tidak percaya.


Danu merasa terkejut saat Sindi menolak permintaannya dengan tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Kenapa?" tanya Sindi.


"Apa kamu tidak tahu bagaimana Mami berharap padamu?" tanya Danu.


"Tapi kan aku juga punya keluarga. Kamu juga gak tahu kan kalau keluargaku juga berharap aku bisa ikut dalam acara keluargaku," jawab Sindi.


Danu menghela napas panjang dan berat. Ia sedang tidak baik. Ternyata Sindi tidak begitu gampang untuk bertekuk lutut padanya. Danu berpikir mencari cara lain agar Sindi bisa menghadiri acara ulang tahun Nyonya Nathalie.


"Kalau kamu seperti ini, kenapa kamu mendekati Mami? Kenapa di hadapan Mami kamu begitu baik dan dekat dengannya?" tanya Danu.


Danu berusaha menyudutkan dan menggiring Sindi pada posisi sulit, berharap jika Sindi menyerah dan mengikuti apa yang ia inginkan.


"Salahnya dimana kalau aku memang merasa dekat dengan Ibu Nathalie? Dia orang baik dan welcome padaku. Tapi untuk acara besok, aku juga sudah bilang pada Ibu Nathalie kalau aku gak bisa." Sindi dengan begitu berani menjawab ucapan Danu yang menyudutkannya.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Lagi pula Mami bukan siapa-siapa kamu. Setelah kamu tahu kalau keceriaan Mami kembali hanya setelah bertemu denganmu pun itu sia-sia. Karena kamu gak akan peduli semua itu." Danu menutup panggilannya tanpa menunggu Sindi menanggapi ucapannya.


Sindi menatap ponselnya yang sudah tidak ada panggilan dari Danu. Ia memeluk ponselnya. Ada rasa bersalah dalam dirinya. Sempat senang saat mendengar ucapan Danu sebelum panggilan itu berakhir. Tapi apa gunanya jika itu hanya akan membuat harapannya semakin besar itu bertepuk sebelah tangan.


Sindi masih belum bisa melupakan dua kali pertemuan dengan Danu yang mengecewakan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berhubungan lagi dengan keluarga Danu.


Keesokan paginya, Rian menggedor pintu kamar Sindi saat belum bertemu dengan wanita yang ia anggap sebagai kakaknya itu.


"Kak," panggil Rian.


Sindi perlahan membuka matanya, dan langsung turun dari ranjangnya saat melihat jarum jam pendek sudah menunjuk angka enam. Sementara jarum panjangnya sudah menunjuk angka lima.


"Lima menit lagi jam setengah tujuh?" ucap Sindi terkejut.


Tidak mengindahkan panggilan Rian, Sindi memilih untuk segera ke kamar mandi. Mandi tercepat selama hidupnya sudah ia lewati. Membuka lemari dan mengambil baju sekenanya asal ia selesai tepat waktu.


Sedikit memoles wajahnya agar tidak terlalu pucat membutuhkan waktu lebih lama dari waktu mandi. Merapikan rambut hitamnya. Membiarkannya tergerai tanpa ikat rambut membuat Sindi semakin cantik.


"Rian," panggil Sindi saat sudah selesai bersiap.


Rian sudah tidak ada di depan kamarnya. Sindi yakin kalau saat ini Rian sedang di kamar Tuan Felix. Namun saat ia sampai ke kamar Tuan Felix, Rian tidak ada di sana. Bahkan si pemilik kamar juga sudah keluar dari kamarnya.


"Apa mungkin mereka sudah kumpul di ruang makan?" duga Sindi.


Langkahnya menuju dapur. Ternyata memang benar. Suara riuh sudah terdengar dari ruang makan. Sindi ikut bergabung di sana. Namun baru saja ia duduk, Nyonya Helen sudah membuatnya salah tingkah.


"Habis teleponan sampai jam berapa kamu sama monster ganteng?" goda Nyonya Helen.

__ADS_1


"Namanya juga anak muda Ma. Ya malam mingguan lah," tambah Tuan Wira.


"Malam mingguan kok lewat telepon. Kalah sama tukang sate. Dia keliling sampe malam. Ini kok cuma nyungseb di pojokan kamar," tambah Tuan Felix.


"Eh, jangan dikatain begitu Ma. Nanti tahu-tahu sebar undangan kita semua shock loh," ucap Dion tak mau kalah.


Melihat Sindi tidak bisa menjawab ucapan dari orang-orang yang menggodanya, Mia segera mengalihkan pembicaraan.


"Eh ayo sarapan dulu," ajak Mia yang lebih dulu memasukkan roti tawar selai strawberry ke dalam mulutnya.


Semuanya ikut sarapan termasuk Sindi. Sorot matanya mengisyaratkan ucapan terima kasih pada Mia, karena pagi ini Mia menyelamatkan hidupnya dari rasa malu luar biasa. Sementara tatapan kesal Sindi layangkan untuk Rian. Karena yang Sindi lihat, sejak tadi Rian hanya menahan senyum atas ucapan-ucapan yang membuatnya salah tingkah.


"Berangkat sekarang yuk!" ajak Tuan Felix.


Tuan Felix yang dengan semangat pergi, membuat dirinya tidak sabar untuk menghabiskan quality time dengan keluarga itu. Sebelum akhirnya ia benar-benar kembali ke negaranya.


Mereka semua berangkat. Menapaki jalanan ibu kota yang mulai padat. Tidak keluar dari Jakarta. Karena besok mereka harus kembali beraktivitas normal lagi.


Dari mulai taman, hingga pusat perbelanjaan mereka kunjungi. Meskipun bukan tempat wisata terkenal, namun selagi mereka bersama rasa bahagia itu tercipta.


Saat sedang berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan, Sindi mendapat sebuah pesan dari Danu. Ya meskipun ia tidak menyimpan nomor Danu di ponselnya, tapi ia hapal betul kalau nomor itu milik Danu.


'Setidaknya kirimkan ucapan selamat ulang tahun untuk Mami. Tolong jangan buat Mami kecewa di hari ulang tahunnya.'


Pesan masuk dari Danu berhasil membuat hati Sindi tersayat. Sebegitu diharapkannya Sindi oleh Nyonya Nathalie. Sindi bingung dengan langkah yang akan ia tempuh.


Rasa bersalah menguasai dirinya. Gelisah. Sindi merasa kalau ia benar-benar jahat.


Harusnya aku gak lihat dari sisi Danu. Kenapa aku begitu egois hanya karena takut jatuh cinta pada monster galak itu?


"Maaf ya, aku gak bisa ikut makan siang di sini. Reza menghubungiku jika rekan bisnisnya dari Surabaya ingin bertemu hari ini," ucap Dion.


Dion tidak enak saat harus meninggalkan acara itu sebelum benar-benar selesai. Namun ia bisa mempercayakan Narendra dan Naura bersama pengasuhnya yang juga ikut dibawa pergi oleh Dion.


"Za, kamu gak tahu kalau ini hari libur?" tanya Dion kesal.


Namun Reza tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menceritakan tujuan rekan bisnisnya ke Jakarta yang cenderung dadakan. Tapi bagaimanapun juga, orang itu memegang pengaruh besar pada perusahaannya di surabaya.


Mau tidak mau Dion tidak punya pilihan selain pergi. Meskipun ada rasa tidak enak pada anggota keluarga yang lain, tapi ia tidak bisa bernegosiasi.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2