Janda Bersegel

Janda Bersegel
Antara polos dan norak


__ADS_3

"Selesai, Tuan." Mia berdiri dari kursinya dan menunduk hormat.


"Benarkah?" tanya Tuan Ferdinan.


Tuan besar itu merasa tak percaya, melihat ke arah jam tangannya. Lebih cepat dari dugaannya.


"Duduk di sana!" tunjuk Tuan Ferdinan ke arah kursi di dekat Danu.


"Baik, Tuan." Mia berjalan dan duduk di dekat Danu.


"Kau bisa Mia?" tanya Danu.


"Harusnya sesuai, itu yang saya pelajari saat kuliah dulu. Tapi saya tidak yakin akan sesuai dengan apa yang Tuan besar inginkan," ucap Mia.


"Mia, kenapa kau jadi kaku begini denganku?" tanya Danu.


"Maaf, Tuan Muda. Saat di rumah Anda saya harus lebih hormat Saya sangat berharap Tuan Besar bisa menerima saya," ucap Mia.


Danu menatap wajah polos Mia. Tak ada rasa tegang. Dia bersikap biasa saja meskipun sikap ayahnya begitu dingin dan terkesan arogan padanya.


Suara tepuk tangan yang sangat keras dari Tuan Ferdinan menggema, dan membuat semuanya melihat ke arah Tuan besar itu. Danu sudah senyum bahagia. Danu yakin kalau Mia pasti akan bisa menerima tantangan dari ayahnya.


"Kau," tunjuk Tuan Ferdinan pada Mia. "Apa kau mau bekerja denganku?" tanya Tuan Ferdinan.


"Tentu, Tuan besar. Saya sangat berharap bisa bekerja dengan Anda. Saya akan mengerjakan semuanya semaksimal mungkin. Saya akan memberikan yang terbaik," ucap Mia dengan wajah yang sangat sumringah.


"Bagus, besok kau mulai masuk ke kantor. Ingat! Gunakan pakaian yang pantas. Satu lagi, ubah penampilanmu." Tuan Ferdinan terlihat sangat dingin dan melenggang ke kamarnya.


"Terima kasih banyak Tuan," ucap Mia.


Tuan Ferdinan hanya melirik ke arah Mia tanpa menjawab apapun. Tuan besar itu melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan Mia yang berdiri menatapnya.


"Mia, selamat ya!" ucap Nyonya Natalie.


"Terima kasih Nyonya," ucap Mia dengan sangat sopan.


"Jangan panggil aku Nyonya. Aku lebih nyaman kau memanggilku Mami," ucap Nyonya Natalie sambil mengusap rambut Mia.


"Nyonya, maafkan saya. Tapi saya ingin profesional bekerja. Anda adalah istri dari Tuan besar, jadi sudah sepatutnya saya memanggil Anda dengan sebutan Nyonya." Mia tersenyum hormat.


"Tapi kau calon istri dari anakku," ucap Nyonya Natalie.


"Tapi Tuan belum menganggapku sebagai calon istri Tuan muda. Saat ini, Tuan besar menganggapku sebagai pegawainya." Mia menatap ke arah Danu.


Danu menatap ke arah ibunya dan mengangguk. Nyonya Natalie paham maksudnya dan segera meminta Danu untuk mengubah penampilan Mia agar besok bisa tampil berbeda di kantornya.


Danu mengajak Mia untuk pergi ke salon pribadi milik Nyonya Natalie. Penampilan Mia diubah. Danu hampir tidak mengenali Mia saat wanita itu selesai melakukan perawatan. Rambutnya sudah tidak kapungan lagi, wajahnya sudah terlihat lebih segar.


"Kau cantik sekali, Mia." Danu menggenggam tangan Mia.

__ADS_1


Tak ada tanggapan dari Mia, ia hanya tersenyum dan mengikuti kemana Danu membawanya. Mall? Mia yang pertama kali menginjakkan kakinya di mall besar terlihat sangat lucu di mata Danu.


"Ayo!" ajak Danu menarik tangan Mia.


Mia mengikuti Danu. Masuk ke sebuah ruangan yang dikelilingi oleh kaca. Danu mengambil beberapa baju untuk Mia.


"Ini suka?" tanya Danu.


Sebelum Mia mengangguk, hal pertama yang dilakukannya adalah mencari harga yang ada pada bajunya. Matanya terbelalak saat melihat angka yang ada di sana.


"Ini! Aku tidak suka bajunya," ucap Mia.


"Yang mana yang tidak suka? Biar aku carikan yang lain," ucap Danu.


"Semuanya," ucap Mia.


"Semuanya? Tak ada satupun?" tanya Danu mengerutkan dahinya.


"Iya," jawabnya singkat.


Danu menggeleng, tidak percaya kalau baju yang ia pilihkan tidak ada yang cocok dengannya.


"Lalu baju model apa yang kau suka? Ini pakaian kerja yang pas untuk besok kau bertemu dengan ayahku. Kau harus tampil menarik," ucap Danu.


"Aku menjual keahlianku, bukan penampilanku." Mia mendengus kesal.


"Tapi aku bu--" ucapan Mia terhenti saat Danu meninggalkannya.


"Aku mau ini semua," ucap Danu pada kasir.


"Baik Tuan," jawab kasir itu.


Mia menarik tangan Danu menjauh dari kasir. "Tapi itu mahal, Danuuuuu." Mia kesal karena Danu tiba-tiba membayar baju yang mahal itu.


Danu membulatkan kedua bola matanya. Jadi Mia bukan tidak suka, tapi karena harganya yang mahal? Danu sampai menepuk kepalanya. Ia lupa kalau perempuan yang bersamanya itu dari kampung dan tidak biasa membeli pakaian dengan harga seperti itu. Padahal bagi Danu, itu harga standar.


"Mia, kau harus menyesuaikan pakaianmu dengan tempat kerjamu. Kau bisa ditertawakan kalau salah kostum. Mengerti?" ucap Danu kesal.


"Tapi mahal. Sayang uangnya," ucap Mia sedih.


"Kau tidak punya uang?" tanya Danu.


"Ada. Hanya saja aku tidak suka menghamburkan uangku hanya untuk membeli baju yang harganya sangat mahal," ucap Mia.


"Ya sudah, itu hadiah dariku." Danu menatap Mia.


"Tidak, aku tidak biasa merepotkan orang lain." Mia menatap Danu.


"aku tidak merasa direpotkan olehmu Mia. Kita kan akan bekerja sama," ucap Danu.

__ADS_1


"Tapi itu sangat mahal. Aku tidak mau kau memberiku secara gratis," ucap Mia.


"Ya sudah. Kalau begitu kau bayar saja nanti setelah gajimu dari papa turun ya!" ucap Danu.


Mia melihat struk belanjanya.


"Hah? Beli baju saja harganya segini? Ini bisa dapat motor," ucap Mia.


"Ya sudah kan barangnya bagus. Ada harga ada kualitas," ucap Danu.


"Gajiku nanti berapa? Bisa berapa kali cicilan ini?" ucap Mia.


"Ya sudah, kau tidak usah menggantinya. Anggap saja itu hadiah dariku. Bagaimana?" tanya Danu.


"Ah baiklah. Aku menerima hadiahmu. Terima kasih banyak ya!" ucap Mia dengan riang.


Tadi saja tidak mau di traktir. Eh, giliran tahu jumlahnya mendadak bilang terima kasih. Kamu itu benar-benar lucu Mia.


Danu tersenyum dan segera mengikuti Mia untuk keluar dari mall itu.


"Kau tidak mau makan dulu?" tanya Danu.


"Nanti saja di kostan," jawab Mia.


"Di sini saja. Kamu belum makan dari tadi," ucap Danu.


"Di sini pasti mahal. Aku makan di kostan saja. Ada mie goreng di sana. Lebih hemat. Ayo cepat!" ajak Mia.


Lagi-lagi Danu dibuat menggelengkan kepala dengan ucapan Mia. Mie goreng? Sehemat itukah dia? Padahal setahu Danu, Mia memiliki uang yang cukup dalam rekeningnya. Buktinya Mia mampu membayar biaya berobatnya. Danu sempat berpikir kalau Mia adalah orang kaya. Mia bisa menjamin pengobatan orang yang tidak dikenalnya sama sekali, tapi pelit sekali untuk urusan dirinya sendiri.


"Mia, kau jangan terlalu sering makan mie. Tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Danu.


"Tenang saja. Aku makan mie goreng tetap pake nasi. Jangan khawatir," ucap Mia dengan santai.


Hah? Danu sangat terkejut. Danu yang hidup di lingkungan yang sangat mewah, baru pertama kali mendengar ada orang makan mie pake nasi. Tapi sudahlah, ini bukan waktu untuk berdebat.


Saat sudah sampai ke kostan, Danu melihat ke sekelilingnya. Nampak sangat sederhana dibandingkan dengan rumahnya yang sangat mewah.


"Mia, kau tidak berniat untuk pindah kostan?" tanya Danu.


"Tidak. Ini sudah yang paling murah. Sudah ah, aku ngantuk. Terima kasih untuk hari ini," ucap Mia tersenyum dan segera turun dari mobil Danu.


Danu mengamati Mia hingga wanita itu benar-benar menghilang dari pandangannya.


"Wanita yang apa adanya. Antara tulus dan norak, begitulah kamu. Unik sekali Mia," gumam Danu. Danu melajukan mobilnya dan kembali ke rumahnya.


##################


Tap jempol dan vote seikhlasnya ya kak biar aku makin semangat. Makasiiihhh....

__ADS_1


__ADS_2