
Reza tengah duduk dengan gaya cool sambil membuka lembar demi lembar kertas yang diserahkan oleh Dion. Seyum Reza mengembang saat melihat satu lembar yang menarik perhatiannya.
Nama: Mia
Asal : Bandung
Usia : 23 tahun
Menikah 2 kali. Pernikahan pertama 5 tahun dan bercerai baik-baik karena sudah tidak cocok. Pernikahan kedua hanya 10 bulan dan bercerai karena tidak direstui mertua.
Ayah ibu sudah tidak ada. Tidak memiliki adik dan kakak. Belum mempunyai anak.
"Aku mau yang ini," ucap Reza memberikan selembar kertas.
Dion merebutnya dan dengan malas membaca keterangan mengenai calon istrinya itu. Calon istri? Ah Dion bergidik saat membayangkan kalau ia akan menikah hanya karena kalah taruhan.
"Hah? Jahat banget sih Za," ucap Dion.
"Apanya yang jahat?" tanya reza sambil menahan tawa.
"Ish, tahu ah. Malas aku," ucap Dion melempar kertas yang ada di tangannya.
"Heh, laki-laki itu yang dipegang omongannya," ucap Reza.
"Iya tapi kan masa dia sih Za, gak kira-kira banget deh. Kebangetan tahu gak," ucap Dion.
"Loh, ini paling muda loh. Umurnya masih 23 tahun," ucap Reza.
"Iya tapi jandanya udah dua kali. Lo pikir aja sendiri, senakal apa dia bisa sampe dua kali cerai gitu." Dion cemberut melihat wajah Reza yang nampak seperti mengejeknya.
"Ya sudah kalau gak mau yang itu, nih pilih sendiri." Reza menyerahkan enam lembar kertas yang ada di tangannya.
Dion menerima kertas itu dan masih cemberut karena kesal. Penyesalannya sampai ke ubun-ubun, kenapa ia bisa kalah dan menyetujui taruhan gila itu.
Mata Dion membulat sempurna saat melihat lembaran yang lain. Ada yang seusia dengannya, tapi anaknya sudah tiga. Sisanya berusia di atas Dion. Dan Dion tidak mau kalau menikah dengan yang usianya lebih tua. Sementara Dion sendiri berusia 33 tahun.
"Jadi gimana?" tanya Reza saat melihat Dion sudah menyerah.
"Ya sudah yang tadi saja," ucap Dion malas.
"Yes," ucap Reza sambil tertawa keras.
"Pergi sana! Pusing ah," ucap Dion.
"Calon manten jangan pusing-pusing. Terima jodoh yang sudah di depan mata," ucap Reza.
"Pergi gak?" ucap Dion sambil mengangkat gelas minumnya.
"Iya, iya. Ini mau pulang. Ditunggu undangannya ya Sob," ucap Reza sambil berlari meninggalkan Dion.
Dion hanya menunduk kesal. Tapi harga dirinya akan jauh lebih terinjak-injak saat ia tidak berani menepati janjinya pada Reza. Lagi pula kalau di pikir-pikir, tak ada salahnya. Mia adalah janda sebatang kara. Kalaupun nanti Dion mau menceraikan Mia, tidak akan berurusan dengan anak dan orang tuanya. Dion menyeringai licik.
Seminggu sejak Mia mengisi kertas dengan sederetan pertanyaan tidak ada logika itu, Mia kembali dipanggil oleh kepala bagian.
"Permisi pak," ucap Mia.
"Kamu Mia?" tanya kepala bagian.
"Ikut aku!" ucap kepala bagian.
"Kemana pak?" tanya Mia sambil mengikuti langkah kepala bagiannya.
"Tuan Dion ingin bertemu dengan kamu," jawab kepala bagian.
"Tuan Dion?" tanya Mia.
"Anak pemilik perusahaan pusat. Perusahaan cabang ini dikelola oleh anak Tuan Desta, yaitu Tuan Dion." Kepala bagian itu menjawab sambil terus melangkah menuju ruangan Dion.
"Pak, pak, pak," ucap Mia memegang tangan kepala bagian. "Pak, Mia salah apa sih? Mia gak pernah melakukan kesalahan apapun, Mia juga tidak--" ucapan Mia terhenti seketika.
"Tuan," ucap kepala bagian.
Dion menatap tangan Mia yang sedang memegang tangan kepala bagian.
"Ada hubungan apa kalian?" tanya Dion dengan nada mengintimidasi.
"Tidak ada Tuan, Mia adalah karyawan di perusahaan ini," jawab kepala bagian sambil melepaskan tangan Mia.
"Ma-maaf pak," ucap Mia gugup.
"Kamu, masuk!" ucap Dion sambil menunjuk Mia. "Kamu, kembali bekerja," lanjutnya menunjuk kepala lagian.
"Baik Tuan," ucap kepala bagian yang langsung meninggalkan mereka berdua.
"Tap-tapi pak," ucap Mia.
"Masuk!" perintah Dion.
"Ba-baik pak," ucap Mia gugup.
"Duduk!" perintah Dion.
Dengan gemetar, Mia mengangguk dan segera duduk. Mia mengatur napasnya agar bisa lebih tenang. Mia mengangkat kepalanya dan beradu pandang dengan Dion hingga segera menunduk kembali.
Tanpa suara, Dion mengamati Mia. Bagi Dion, kesan pertama pada Mia sudah sangat buruk.
__ADS_1
Janda genit. Pegang sana sini. Pasti dia tukang rayu. Murahan sekali. Bagaimana mungkin aku harus menikahi wanita seperti ini? Reza, semua ini gara-gara kamu.
"Berdiri," perintah Dion.
Mia segera berdiri. Dion ikut berdiri dan mendekati Mia. Mia yang merasa ada niat tidak baik dari pria yang ada di hadapannya, mundur perlahan. Namun Dion terus maju hingga Mia mentok dan tidak bisa mundur lagi. Tubuhnya sudah menempel pada tembok. Mia hanya menunduk dan meremas ujung bajunya. Hatinya berdebar tak karuan. Mia membaca setiap doa yang ia bisa dala. hatinya.
Telunjuk Dion menyentuh dagu Mia dan mengangkat kepalanya.
"Lihat aku," ucap Dion.
Mia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Dion. Hanya dua detik Mia menunduk kembali.
Ya Tuhaaaan, ganteng banget. Tapi sayang, dia galak melebihi singa lapar.
"Minggu depan kita akan menikah," ucap Dion dengan santai dan kembali ke tempat duduknya.
"Hah? Bapak tidak bisa seenaknya dong," ucap Mia.
"Apa?" tanya Dion tak percaya.
Mia menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya.
"Katakan apa katamu?" ucap Dion menggebrak meja.
Mia memegang ujung bajunya dengan erat dan kembali menggelengkan kepalanya.
Buuu..Tolong Mia. Huhuhu
Dion kembali menghampiri Mia dan mengangkat wajah Mia.
"Apa kau bilang? Bapak? Aku tidak punya anak sepertimu," ucap Dion.
"Ma-maafkan saya Tuan," ucap Mia dengan gugup.
"Siapkan dirimu. Minggu depan kamu akan ikut denganku untuk menikah," ucap Dion.
"Tidak mau, Tuan. Mia tidak mau menikah lagi. Mia sudah trauma," ucap Mia sambil meneteskan air matanya.
"Aku tidak bertanya kau mau atau tidak, aku hanya mengatakan padamu kalau minggu depan kita akan menikah," ucap Dion.
"Tapi Mia tidak mau Tuan," ucap Mia yang mulai terdengar isak tangisnya.
"Kau, menolakku?" ucap Dion dengan geram.
"Tapi Tuan, kita tidak saling mengenal. Bagaimana mungkin kita akan menikah," ucap Mia.
"Jangan terlalu percaya diri, Kamu. Aku hanya butuh dirimu untuk menikah. Setelah itu, kau boleh memilih waktu yang tepat untuk bercerai kembali," ucap Dion dengan santai.
Cerai? Mia janda lagi? Tidak. Sudah cukup. Mia lebih baik mati dari pada harus janda ketiga kalinya.
"Berapa uang yang kau butuhkan?" tanya Dion.
"Maaf, Tuan. Mia tidak ingin menjual diri Mia untuk direndahkan oleh Tuan. Mia cukup menikmati gaji Mia dari pabrik," ucap Mia.
"Kamu pikir, setelah menolakku kau masih bisa bekerja di pabrik?" ancam Dion.
Mia menatap lekat wajah pria yang ada di hadapannya.
"Lebih baik Mia dipecat dari pada harus menikah dan bercerai seenaknya," jawab Mia.
Kebenciannya pada perceraian, membuat Mia menjadi sangat berani menghadapi Dion.
"Kurang ajar," ucap Dion kesal.
Dion membuka jasnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Melonggarkan dasinya dan menggulung kemejanya sampai sikut.
"Tuan mau apa? Jangan," teriak Mia.
Mia menyilangkan tangannya di dadanya dan menjatuhkan tubuhnya dengan tangisan yang semakin kencang. Dion menatap Mia tak mengerti. Namun akhirnya Dion sadar kalau Mia berpikir ia akan bertindak kurang ajar.
Terima kasih sudah memberi ide hey manusia.
"Kalau begitu, mau menikah denganku atau aku akan menidurimu dan membeberkan beritanya ke semua karyawan. Biar kamu malu sekalian," ancam Dion dengan merendahkan tubuhnya agar bisa bersitatap dengan Mia.
"Jangan Tuan, jangan. Mia mohon," ucap Mia memohon.
"Kalau begitu kamu bersedia menikah denganku?" tanya Dion.
Mia menggeleng. "Lebih baik, Anda bunuh Mia saja Tuan. Mia tidak mau menjadi janda untuk yang ketiga kalinya Tuan. Mia lebih baim mati," ucap Mia.
"Tidak ada pilihannya. Kamu menikah denganku, atau kau siap untuk--" Dion menggantungkan ucapannya untuk menakut-nakuti Mia.
"Tuan, Mia mohon lepaskan Mia. Apa salah Mia?" tanya Mia disela isak tangisnya.
"Salahnya kamu itu janda. Jadi aku harus menikahimu," ucap Dion frustasi.
Dion bangun dan mengacak rambutnya. Dion juga membanting semua yang ada di atas mejanya. Mia semakin ketakutan saat melihat Dion layaknya singa buas yang sedang membabi buta.
"Kalau kamu tidak mau menikah denganku, kamu bunuh saja aku. Ini, bunuh aku!" teriak Dion memberikan sebuah gunting kepada Mia.
Mia semakin bergetar. Tangannya menolak gunting itu tapi Dion terus memaksanya agar Mia menerimanya.
"Tuan cukup Tuan. Mia takut," teriak Mia sambil melemparkan gunting itu.
PRAAANG
__ADS_1
Gunting membentur kaca hingga pecah. Dion dan Mia melihat ke arah pecahan kaca itu kemudian keduanya saling beradu pandang.
"Mia," ucap Dion.
Mia menunduk. Dion akhirnya menceritakan semua alasannya ingin menikahi Mia.
"Tapi Mia tidak terlibat, Mia tidak salah apa-apa Tuan. Kenapa harus Mia?" tanya Mia.
"Reza yang memilihmu," ucap Dion.
"Ini tidak adil utnuk Mia Tuan," ucap Mia.
"Aku juga tidak menginginkan semua ini, Mia. Mengertilah," ucap Dion frustasi.
"Kenapa Mia? Kenapa nasib Mia seperti ini?" tanya Mia.
"Mana aku tahu. Yang aku tahu, minggu depan kita menikah. Titik, tidak ada penolakan lagi." ucap Dion.
"Mia tidak bisa, Tuan." Mia menggeleng dan terus menangis.
"Mia ayolah. Kau berapa? Atau kamu mau rumah? Mobil? Atau apa yang kau inginkan?" tanya Dion.
"Mia tidak mau itu semua Tuan. Mia hanya minta, tolong lepaskan Mia, Tuan." Mia kembali memohon.
Di tengah kekesalannya, Dion mengamati keunikan Mia. Wajahnya tidak terlalu buruk, walaupun memang jauh dari kesan modis. Namun Danu tak habis pikir kenapa seorang janda seperti Mia harus menolaknya begitu keras? Bahkan ketika banyak orang memohon untuk bisa bersama dengannya, Mia justru memohon untuk melepaskannya.
Terlintas di pikiran Dion kalau Mia memang tepat. Reza benar telah memilih Mia untuk bahan taruhannya. Dion mencari cara lain agar Mia mau menikah dengannya.
"Mia, ini bukan perintah. Tapi anggaplah ini permohonan dariku padamu. Ku mohon menikahlah denganku. Bantu aku," ucap Dion sambil menjatuhkan tubuhnya untuk memohon pada Mia.
"Tuan, Tuan, bangun. Jangan begitu," ucap Mia.
Sebentar lagi berhasil Dion. Ayo beracting lebih bagus lagi. Wanita ini pasti akan luluh. Lebih baik aku malu di hadapan Mia, dari pada lebih malu jika Reza tahu kalau wanita ini menolakku. Harga diriku bukan hanya jatuh, tapi bisa sampai terjun bebas di mata Reza.
"Anggap saja ini sebagai permintaan aku sebagai teman," bujuk Dion.
Teman? Benarkah masih ada yang mau berteman dengan Mia? Ah tidak! Bukan itu pointnya.
"Tuan, beri Mia waktu. Ini harus Mia pikirkan dengan baik," ucap Mia.
Ok, perlahan tapi pasti Dion. Menghadapi wanita seperti ini harus sabar. Dia tidak bisa digertak. Harus dengan cara halus.
"Besok, aku tunggu kabar baik darimu." Dion masih memasang wajah memohon.
"Tapi tidak bisa secepat itu," ucap Mia.
"Aku tidak punya banyak waktu," ucap Dion.
"Tapi Tuan," ucap Mia.
"Kembalilah bekerja, dan jangan coba-coba untuk kabur!" ucap Dion.
Mia mengangguk dan pamit untuk kembali ke pabrik
"Mia," panggil Dion.
Mia yang hampir mencapai ambang pintu segera berbalik. "Iya, Tuan." jawab Mia.
"Kau boleh meminta apapun dariku. Kita akan membuat perjanjian. Pikirkan apapun yang menguntungkan untukmu," ucap Dion.
Mia tak menjawab. Ia hanya pamit dan meninggalkan ruangan itu tanpa kata-kata apapun.
Unik sekali janda ini. Jual mahal. Harusnya dia bersukur bisa menikah denganku.
Setelah kepergian Mia, Dion memanggil kembali kepala bagian itu.
"Tuan?" ucap kepala bagian yang terkejut melihat ruangan Dion.
"Diam. Bereskan ruangan ini. Kirimkan informasi tentang karyawan tadi dan jangan pernah bertanya apapun padanya tentang semua ini," ucap Dion.
Tanpa mendengar jawaban kepala bagian itu, Dion sudah pergi meninggalkan ruangannya yang sangat berantakan. Dion menuju rumah mewah milik keluarganya, yang sengaja dibangun untuk Danu.
Kedatangannya disambut oleh pekerja yang ada di rumah itu. Namun begitulah Dion. Tak berubah sama sekali. Dion tidak pernah mengindahkan sapaan dan sambutan untuknya. Ia hanya melenggang masuk ke dalam kamarnya.
"Lama sekali dia mengirimkan informasinya," gerutu Dion.
Dion membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Beberapa kali ia melihat ponselnya. Masih sama. Tidak ada pesan dari kepala bagian itu.
Setelah menunggu selama dua puluh menit, akhirnya pesan itu masuk juga ke dalam ponselnya. Dion segera bangun dan membaca pesannya.
"Mia adalah karyawan yang baik dan tidak pernah melalukan kesalahan selama bekerja. Selalu tepat waktu dan sangat disiplin. Tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu jauh dari pabrik. Kerja dengan menggunakan sebuah motor pinjaman dari teman satu kontrakannya."
Miris sekali, hingga motor pun harus pinjam. Setelah nanti menjadi istriku, kamu boleh meminta apapun dariku.
Dion tiba-tiba mendekap ponselnya dan memejamkan matanya. Bayangan tentang Mia menari di benaknya. Wajahnya, sikapnya, ah semuanya masih sangat jelas dalam kepalanya.
Shiiiit. Kenapa ini? Apa mungkin aku mencintainya? Tidak Dion, hentikan. Ini gila. Menikahinya saja sudah sebuah kegilaan. Jangan tambah kegilaanmu. Ini semua gara-gara Reza.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..