Janda Bersegel

Janda Bersegel
Test Drive


__ADS_3

"Mia, masuk ke kamar. Istirahat dan jangan banyak fikiran. Jangan gunakan kepalamu hanya untuk memikirkan wanita tadi," ucap Nyonya Helen.


Tanpa menunggu jawaban Mia, Nyonya Helen meninggalkan Mia. Pergi menemui cucu kembarnya untuk mengobati segala kekesalannya.


"Mi, ayo ke kamar!" ajak Dion.


Mia mengangguk. Ia mengikuti Dion saat tangannya di tuntun untuk masuk ke dalam kamarnya. Bibirnya tetap tersenyum meskipun hatinya merasa tidak enak. Mia memang beberapa kali disakiti oleh Nyonya Nathalie. Tapi bagaimanapun Nyonya Nathalie pernah menjadi mertua yang sangat menyayanginya. Rasanya tidak enak menolak Nyonya Nathalie yang berusaha untuk berubah.


"Mi, maafin Mama ya!" ucap Dion saat Mia sudah berbaring di atas ranjangnya.


"Maaf?" tanya Mia.


"Iya, mungkin sikap Mama keterlaluan. Tapi asal kamu tahu, Mama hanya ingin menjaga nama baik kamu. Mama tidak ingin perhatian dan kasih sayang kamu juga terbagi untuknya. Aku tidak begitu dekat dengan Mama, makanya ketika kamu masuk di keluarga ini Mama merasa benar-benar punya anak. Hatinya jatuh dengan ketulusan kamu. Aku harap kamu mengerti ya!" ucap Dion.


DEG


Jantung Mia seakan berhenti. Rasanya sakit, ia benar-benar tertampar dengan ucapan Dion. Ya, mungkin tidak adil saat ia masih menyimpan perhatiannya pada Nyonya Nathalie. Mia tidak menyadari betapa rasa cemburu ibu mertuanya begitu besar saat melihat perubahan Nyonya Nathalie.


"Maafin Mia ya A. Mia kurang peka. Mia janji akan lebih menjaga perasaan Mama," ucap Mia.


Dion mengangguk dan mengacak rambut Mia dengan gemas.


"Aku mandi dulu ya Mi," ucap Dion.


"Iya A," jawab Mia.


Ponsel Dion yang disimpan di atas nakas berdering saat Dion tengah mandi. Mia melihat nama si pemanggil. Dari rekan bisnisnya. Mia menjawab panggilan itu dan mengatakan kalau suaminya sedang mandi.


"A, tadi ada yang nelepon. Aa hubungi balik ya!" ucap Mia.


"Biarkan saja. Aku masih belum siap kerja," jawab Dion.


"Gak bisa begitu dong A. Jangan karena Aa anak pemilik perusahaan, aa bisa seenaknya begitu. Justru karena Aa seorang pemimpin, Aa harus tanggung jawab. Aa akan menjadi contoh buat karyawan yang lain," ucap Mia.


Dion menunduk dan memegang ponselnya Benar kata Mia. Selama ini, kadang pernah terbersit di kepalanya kalau ia bisa melakukan apapun di perusahaan itu.


"Tapi kamu kan baru pulang dari rumah sakit Mi," ucap Dion.


"Di sini banyak orang. Aa gak perlu khawatir. Tenang aja," ucap Mia.


"Sebentar ya!" ucap Dion.


Dion menghubungi orang yang sudah meneleponnya. Rupanya ia ingin bertemu dan membahas tentang proyek barunya. Walaupun sempat ragu, tapi karena dukungan dari Mia, Dion akhirnya mengiyakan keinginan rekan kerjanya. Sore ini di cafe dekat kantor Dion. Masih ada waktu sebelum ke sana. Dion memanfaatkannya untuk melihat bayi kembarnya.


Tanpa mengajak Mia, Dion masuk ke ruangan bayi kembarnya. Nampak Nyonya Helen yang sedang menggendong bayi perempuan, sedangkan bayi tampannya sedang tidur di atas box bayi.


"Ma," sapa Dion.


"Di," jawab Nyonya Helen dengan suara pelan.


"Belum tidur bayinya?" tanya Dion basa basi.


"Masih betah di gendongan Mama nih," jawab Nyonya Helen sembari mengusap pipi halus bayi yang digendongnya.


"Mama harus istirahat! Jangan sampai kecapean," ucap Dion mengingatkan.


"Mama gak cape kok," jawab Nyonya Helen.


"Ma, udah dua hari loh Mama di rumah sakit. Mama harus jaga kesehatan," ucap Dion.


Benar! Semenjak Mia melahirkan, jadwal tidurnya tidak teratur. Bukan karena terbebani, tapi karena ia memang ingin terlibat langsung saat mengurus kedua cucunya itu.


"Ya sudah Mama istirahat dulu ya!" ucap Nyonya Helen.


Ia meletakkan bayi yang ada dalam gendongannya. Mengusap kepalanya dan tersenyum. Tak lupa pamit, seperti pada anak yang sudah mengerti dengan ucapannya.


Dion mengikuti Nyonya Helen keluar dari kamar bayi.


"Ma, papa dimana?" tanya Dion.


"Papa ke kantor," jawab Nyonya Helen.


"Ke kantor?" tanya Dion terkejut.


"Iya, memangnya kenapa sih?" tanya Nyonya Helen.


"Gak Ma, gak apa-apa kok. Aku cuma nanya aja," ucap Dion.


Sebegitu semangatnya Tuan Wira. Padahal dibanding dengannya, usianya jauh lebih tua. Tapi semangatnya jauh lebih besar. Bahkan saat Dion berniat untuk menemani Mia dan bayi kembarnya hari ini, Tuan Wira sudah pergi ke kantor. Padahal ia pasti lelah. Pulang dari Surabaya langsung ke rumah sakit dan sekarang sudah mulai masuk kantor meskipun sudah siang.


"Di, kamu kenapa?" tanya Nyonya Helen saat melihat Dion melamun.


"Eh, gak apa-apa Ma. Aku juga nanti sore mau keluar. Ada kerjaan," ucap Dion.


"Baguslah. Udah punya anak, kerja harus makin semangat," ucap Nyonya Helen sembari menepuk tangan Dion.


Dion tersenyum. Mia benar, bahkan ibunya sendiri memberinya semangat agar segera masuk kerja lagi.


Sore ini setelah Dion pamit untuk berangkat, Mia pergi ke ruangan bayinya. Bermain sebentar dengan kedua bayi kembarnya bergantian. Mia tersenyum saat mengingat kalau sekarang dirinya sudah menjadi seorang ibu.


Bu, ternyata begini rasanya menjadi seorang ibu. Mia sudah jadi seorang ibu. Bahkan Mia punya dua anak sekaligus. Ibu pasti bahagia kan di surga? Ah seandainya ibu masih ada.


"Mi," panggil Nyonya Helen membuyarkan lamunan Mia.


"Ma," ucap Mia.


"Dion sudah berangkat?" tanya Nyonya Helen.


"Sudah Ma. Papa dimana?" tanya Mia.


"Papa belum pulang kerja. Tadi pulang dari rumah sakit langsung berangkat ke kantor," jawab Nyonya Helen.


"Wah, Papa semangat sekali ya!" puji Mia.

__ADS_1


"Kamu juga harus memotivasi Dion ya biar tetap semangat kerja. Ingatkan dia kalau kehadiran bayi kembarnya harus membuat Dion makin semangat, bukan malah kendor." Nyonya Helen mengingatkan.


"Siap Ma," jawab Mia.


"Eh Mi, bayi kembar kalian siapa namanya? Masa masih belum di kasih nama?" tanya Nyonya Helen.


"Mia dan A Dion udah nyiapin, tapi belum pasti juga. Nanti malam Mia bahas lagi sama Aa ya Ma," jawab Mia.


"Secepatnya ya Mia. Kan sebentar lagi kita mau syukuran bayi kembar, masa belum ada namanya. Kan gak lucu," ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma," jawab Mia.


"Mi, mereka mirip Dion waktu bayi loh. Lucu-lucu gemesin begini," ucap Nyonya Helen.


"Masa gak ada yang mirip Mia Ma? Mia juga waktu kecil gemesin begini kok Ma," ucap Mia.


"Haha, bukannya begitu. Mama kan gak tahu waktu bayi kamu kayak gimana," ucap Nyonya Helen.


"Ya begini Ma. Lucu deh pokoknya," ucap Mia.


"Iya. Sampai saat ini juga kamu masih lucu kok," ucap Nyonya Helen.


"Ah Mama sih ngejek itu namanya," ucap Mia.


Setelah puas tertawa, Nyonya Helen memeluk Mia.


"Kamu adalah anak lucu. Terima kasih sudah hadir di keluarga kami Mia. Terima kasih sudah membawa kebahagiaan di keluarga ini," ucap Nyonya Helen.


Kalimat yang sering ia dengar namun lagi dan lagi selalu membuatnya terharu. Pelukan hangat dari Nyonya Helen selalu saja mengingatkannya pada Bu Ningsih.


"Mia, Mama boleh nanya gak?" tanya Nyonya Helen.


"Boleh Ma. Apa?" tanya Mia.


"Apa kamu menyayangi mantan mertuamu itu?" tanya Nyonya Helen dengan malas.


"Ma, itu kan masa lalu. Mia hanya ingin hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang dengan Mama dan keluarga ini," jawab Mia.


"Tapi jujur saja, Mama selalu kesal saat melihat dia mendekatimu. Mama takut dia mengambil kembali hati kamu agar kamu meninggalkan keluarga ini," ucap Nyonya Helen.


Mia menatap mata Nyonya Helen. Matanya berkaca. Jelas terlihat rasa takut dalam wajahnya.


"Ma, dulu memang Mia bahagia dengan Nyonya Nathalie. Tapi kebahagiaan Mia yang dulu, tidak akan mengganggu kebahagiaan Mia sekarang. Maafkan Mia yang hadir dengan masa lalu ini," ucap Mia.


"No. Jangan begitu Mia. Mama tidak bermaksud seperti itu. Mama hanya, ah sudahlah. Semoga wanita itu tidak kesini lagi biar Mama gak stres," ucap Nyonya Helen.


"Mama jangan stres. Kalaupun Nyonya Nathalie ke sini lagi, tapi Mia kan cuma menantu mama. Mia sayang sama Mama," ucap Mia.


"Ah, Mia. Kamu sweet sekali," ucap Nyonya Helen.


Mia tersenyum walaupun kepalanya melayang pada Nyonya Helen. Mia mengkhawatirkan wanita itu. Ia yakin kalau Nyonya Nathalie sedang rapuh saat ini. Mungkin Nyonya Nathalie memang sempat jahat, namun tidak ada alasan untuk menolak niat baiknya.


Di rumah yang berbeda, di saat Mia memikirkan Nyonya Nathalie, ternyata Nyonya Nathalie tengah menangisi Mia.


"Mia, maafkan aku." Nyonya Nathalie menangis dan memukul-mukul bantalnya.


"Pi, Mami bukan ikut campur. Mami cuma ingin memberikan ucapan selamat. Mami ingin melihat bayi kembar Mia. Apa Mami salah?" tanya Nyonya Nathalie dengan setengah berteriak.


Tentu teriakan Nyonya Nathalie mengundang kedatangan Danu yang hari ini pulang lebih awal.


"Mi, kenapa?" tanya Danu.


"Biasa soal Mia," jawab Tuan Ferdinan.


DEG


Danu merasa tiba-tiba saja dadanya sesak. Nama itu disebut kembali. Setelah ia berusaha menghindari nama itu, kini memory yang belum terhapus itu terbuka kembali. Rasa penyesalan dan kekecewaannya menyeruak kembali.


"Danu mau kemana?" tanya Nyonya Nathalie.


Setelah mendengar nama Mia, Danu segera pergi karena tidak ingin luka yang sudah sedikit mengering itu kembali sakit. Namun langkahnya dihadang oleh Nyonya Nathalie yang mengejarnya.


"Danu, Mami salah. Mami tahu Mami salah selama itu. Tapi Mama sadar, Mama ingin memperbaiki semua itu. Apa tidak ada kesempatan untuk Mami?" tanya Nyonya Nathalie dengan mata berlinang.


Danu tahu ibunya benar-benar menyesali perbuatannya saat itu.


"Mi, kalau Mami mau memperbaiki semua itu, tolong berhenti menemui Mia. Semakin Mami menemui Mia, masalah akan semakin rumit dan panjang. Mami ngerti kan?" tanya Danu.


"Kenapa harus selalu Mami yang ngerti? Kenapa gak ada yang ngerti sama Mami?" ucap Nyonya Nathalie.


BRUGH


Tubuh itu kian melemah hingga tak ada lagi tenaga. Kakinya sudah tak mampu menopang beban tubuhnya. Beban di hatinya sangat berat, hingga ia tidak bisa menguasai dirinya lagi. Kesadarannya hilang.


"Mami, Mami," panggil Danu.


Danu yang berdiri di samping ibunya berhasil menangkap tubuh Nyonya Nathalie yang terkulai lemas. Tuan Ferdinan segera berlari membantu Danu untuk membawa Nyonya Nathalie kembali ke dalam kamarnya.


"Danu, panggil Dokter!" ucap Tuan Ferdinan panik.


"Iya. Papi tenang ya, jangan panik begitu. Aku jadi ikutan panik nih," ucap Danu.


Dengan segera Danu meraih ponsel dalam saku celananya dan menghubungi dokter. Menunggu cukup lama, akhirnya Dokter itu datang.


"Permisi," ucap Dokter.


"Dari mana saja? Lama sekali. Istriku dari pingsan sampai sadar lagi," ucap Tuan Ferdinan kesal.


Masih saja seperti ini. Dia fikir jalanan ibu kota milik pribadi? Kenapa dia seolah lupa kalau jalanan macet di jam segini? Kuatkan hatiku ya Tuhaaaan.


"Bisakah saya memeriksa Nyonya Nathalie segera?" tanya Dokter.


Tidak ingin pembahasan menjadi semakin panjang kali lebar kali tinggi, Dokter itu memilih untuk mengalihkan perhatian Tuan Ferdinan.

__ADS_1


"Ayo cepat!" ucap Tuan Ferdinan.


Danu dan Tuan Ferdinan memperhatikan Dokter yang tengah memeriksa keadaan Nyonya Nathalie.


"Bagaimana keadaan Mami saya Dokter?" tanya Danu.


"Tekanan darahnya rendah. Jaga pola tidur dan relax. Usahakan agar tetap berolah raga jika sudah tidak pusing," ucap Dokter.


"Berikan obat yang terbaik! Urusan pola tidur dan olah raga itu urusanku. Kamu tidak perlu ikut campur," ucap Tuan Ferdinan.


Siapa yang ikut campur? Aku hanya memberikan penjelasan saja. Sepertinya aku harus segera pulang agar tekanan darahku juga tidak ikut terganggu.


Setelah memberikan obat, Dokter itu pulang.


"Mami dengarkan? Harus jaga pola tidur dan relax. Semuanya akan baik-baik aja Mi," ucap Danu.


"Mami mau sendiri," ucap Nyonya Nathalie.


Danu dan Tuan Ferdinan saling menatap, sampai akhirnya mereka keluar dan meninggalkan Nyonya Nathalie sendirian.


Setelah hanya sendiri, kembali Nyonya Nathalie menangis meratapi penyesalannya yang tidak berujung. Jika saja waktu bisa diulang, ia tidak mungkin sekalipun menyakiti Mia.


"Mia, Mami minta maaf. Mami tidak berharap kamu kembali ke keluarga ini, mendapatkan kata maaf dari kamu saja Mami sudah bahagia. Maafkan Mami," gumam Nyonya Nathalie menyapu sudut matanya.


Sementara di ruangan ukuran tiga kali tiga, dengan banyak piala dan foto, serta komputer dan laptop yang mengisi ruangan itu. Ya, itu ruang kerja. Ruangan dimana Mia pertama kali dibawa ke sana dan mendapat tantangan dari Tuan Ferdinan. Saat itu Nyonya Nathalie adalah orang yang sangat mendukung Mia, sampai akhirnya Mia benar-benar berhasil melewati tantangan dari Tuan Ferdinan.


"Gimana hasil pengobatan terakhir kamu?" tanya Tuan Ferdinan.


Sekarang, baik Nyonya Nathalie benar-benar tahu bagaimana kondisi Danu. Mereka selalu mendukung dan memberi semangat saat Danu akan melakukan pengobatan. Bahkan Nyonya Nathalie sampai mengantar Danu berobat ke luar negeri. Saat ia lelah mengurusi Danu, ia merasa kehadiran Mia saat itu memang sangat penting. Semenjak menikah dengan Mia, bukan hanya Danu bahkan ia dan Tuan Ferdinan juga tak luput dari perhatian Mia.


"Membaik. Hanya tiga kali jadwal kontrol Pi," ucap Danu.


Sebenarnya Danu malas jika harus membahas tentang penyakitnya. Namun Tuan Ferdinan selalu mendukungnya, menguatkannya kalau semua itu bukan aib. Itu hanya sebuah penyakit yang pasti bisa sembuh. Tuan Ferdinan tidak pernah menghitung nominal uang yang keluar untuk pengobatan Danu. Baginya, kesembuhan Danu adalah yang paling penting.


"Baguslah. Nanti kalau sudah selesai pengobatan kamu harus test drive," ucap Tuan Ferdinan.


"Test drive?" tanya Danu.


"Iya dong. Biar kamu yakin kalau kamu benar-benar sembuh. Kan harus uji coba," ucap Tuan Ferdinan.


Danu memalingkan wajahnya. Ia merasa malu sendiri dengan ucapan Tuan Ferdinan.


"Apaan sih Pi," ucap Danu malas.


"Yey, kamu jangan malu. Ini kebutuhan. Papi ngerti kok," ucap Tuan Ferdinan.


"Apaan ah," ucap Danu beranjak dari kursi dan ingin melarikan diri dari bahasan tentang test drive itu.


"Danu, tunggu dulu!" ucap Tuan Ferdinan.


Tuan Ferdinan menarik tangan Danu agar ia bisa duduk kembali dan melanjutkan pembahasan tentang semua itu.


"Pi, aku mau ada urusan dulu." Danu mencoba menghindar.


Tapi apa boleh buat, Tuan Ferdinan terus mendesaknya. Belum pernah rasanya Tuan Ferdinan membahas masa depan Danu seserius ini. Hingga pertanyaan calon istri pun muncul dengan begitu enteng dari mulut Tua. Ferdinan. Ia tidak tahu betapa beratnya masalah itu di terima oleh Danu.


"Kalau kamu gak bisa cari calon, biarkan Papi bantu kamu ya! Papi mau ikut menyeleksi calon menantu Papi. Boleh kan?" tanya Tuan Ferdinan.


"Papi, masih banyak bahasan yang bisa kita bicarakan." Danu mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Danu, mungkin bagi kamu hal ini sepele. Tapi bagi Papi dan Mami? Kamu tidak tahu kan bagaimana kami berharap seorang cucu? Kamu tidak pernah berfikir siapa yang akan meneruskan perusahaan ini saat kita sudah semakin tua?" tanya Tuan Ferdinan.


Danu diam. Memang benar apa yang Tuan Ferdinan bicarakan. Namun hatinya yang sensitif justru merasa sakit saat mendengar semua itu.


Sebegitu besar harapan mereka?


Danu yang tidak ambil pusing tentang semua itu justru salah. Ada dua orang yang sangat menggantungkan harapan besar padanya.


"Nanti aku cari. Papi gak perlu menyeleksi untukku. Apanya yang diseleksi, ada yang mau juga udah syukur." Danu menunduk.


Entah tidak menyadari atau justru sengaja abai. Banyak sekali wanita yang mendekati Danu. Namun Danu memang dingin. Ia amat menjaga hatinya. Tidak ingin terluka dan melukai untuk kedua kalinya.


Cukup kisahnya dengan Mia yang gagal. Jika saja ia ditakdirkan untuk kembali menikah, ia ingin pernikahannya itu untuk yang terakhir.


"Kamu itu harus buka mata. Banyak banget wanita yang melirik kamu. Makanya kamu buka hati. Dari sekarang, siapkan orangnya. Nanti setelah pengobatanmu selesai, bisa langsung test drive," ucap Tuan Ferdinan.


"Ah Papi, itu terus yang dibahas. Males," ucap Danu.


"Terus kamu mau bahas apa lagi? Masalah kerjaan? Udah pusing kepala Papi," ucap Tuan Ferdinan.


"Ya bahas apa aja. Bahas batu akik kan bisa," ucap Danu.


"Batu akik, batu akik. Sejak kapan Papi suka batu akik? Sekalian aka kamu bahas harga cabai yang lagi mahal," ucap Tuan Ferdinan kesal.


Tuan Ferdinan keluar dari ruangan kerjanya. Ia kembali ke kamarnya menemui Nyonya Nathalie. Mengabaikan ucapan Danu yang ditujukan padanya.


"Pi, kok tahu harga cabai mahal? Kapan ke pasar? Kalau hara gula merah mahal gak?" tanya Danu.


"Terseraaaah," ucap Tuan Ferdinan.


Danu menahan tawanya saat melihat Tuan Ferdinan. Kepergian Tuan Ferdinan adalah tanda kemenangannya.


Papi kalah. Makanya jangan macam-macam sama aku ya! Hehe


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2