Janda Bersegel

Janda Bersegel
Pawang Wewe Gombel


__ADS_3

Dion kembali merapikan moodnya yang mulai berantakan gara-gara Mia yang sikapnya naik turun seperti roller coaster. Dion adalah suami yang selalu belajar. Ketidak biasaan Dion dalam menghadapi Mia sering kali berujung seperti ini. Tapi sebagai seorang pria, Dion akan terus berusaha agar hubungannya dengan Mia tetap baik-baik saja.


Dion harus menekan egonya serendah-rendahnya agar rumah tangganya selalu harmonis. Dion memang sempat kesal kalau Mia sedang bersikap seperti ini. Ketika di Surabaya, sikap Mia selalu manis. Nyaris tidak pernah menyebalkan seperti ini. Sikap Mia yang seperti ini hanya akan ditunjukkan saat mereka sedang bersama.


Rupanya Dion tidak menyadari, kalau Mia berusaha menjaga moodnya ketika mereka berjauhan. Mia hanya enggan kalau Dion merasa terbebani saat mereka tidak bersama. Namun ada waktu untuk bersama, Mia merasa tidak bisa mengobtrol dirinya. Mungkin juga Mia memang sedang mencari perhatian suaminya.


Setelah moodnya cukup normal, Dion kembali menyusul Mia ke dalam kamar. Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Tidak ada. Namun gemericik air menjawab pertanyaannya. Sembari menunggu, Dion duduk di atas sofa kamarnya. Mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Memeriksa beberapa pesan masuk.


Tidak banyak pesan yang masuk. Bukan hanya karena Dion tidak punya teman. Tapi untuk urusan nomor, Dion memang sangat membatasi kontak dalam ponselnya. Terlebih saat sudah menikah, Dion tidak ingin sebuah masalah buruk terjadi hanya karena sebuah pesan dalam ponselnya.


"Sayang," panggil Mia.


Dion mengangkat wajahnya. Dahinya berkerut. Nampaknya Dion sedang memastikan pendengarannya. Benarkah apa yang ia dengar?


Sayang? Mia panggil aku sayang? Aku tidak salah dengar kan? Mia sepertinya aku harus mengecek dahimu. Mungkin sudah dingin kembali. Eh tapi jangan senang dulu. Siapa tahu ini hanya salah dengar saja.


"Iya," jawab Dion.


Berusaha sedatar mungkin. Menutupi rasa bahagianya saat mendengar kata sayang dari mulut Mia.


"Mau jenguk bayi kembar gak?" tanya Mia.


Pertanyaan macam apa itu? Aku tidak perlu menjawabnya Mia. Kamu pasti sudah tahu jawabannya.


Dion menatap Mia dengan wajah penuh tanya. Namun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Dion menganggukkan kepalanya. Tanda kalau pertanyaan itu disambut baik oleh dirinya.


"Mandi dulu ya!" ucap Mia.


"Siaaaap," jawab Dion.


Dion segera meluncur ke kamar mandi. Dengan semangat ia membersihkan tubuhnya. Senyuman bahagia dan seringai nakal muncul pada wajahnya, dalam guyuran air. Pikirannya sudah bertamasya ke setiap penjuru medan pertempuran.


Masalah perubahan sikap Mia yang tidak beraturan, Dion tak ingin ambil pusing. Ia hanya ingin menikmati apa yang ia harapkan dari jauh-jauh hari.


Di luar dugaan Dion, saat ia keluar dari kamar mandi Mia sudah menunggunya di atas ranjang. Badannya sudah tertutup selimut. Bagian bahu yang terbuka membuat kepala Dion berpikir jauh. Tanpa aba-aba, Dion segera bergabung dalam selimut. Menyatukan kerinduan yang sudah sangat membuncah.


Saling memberi dan menerima sesuai porsinya, membuat suasana sunyi di dalam kamar itu kini berubah menjadi mencekam. Suara horor membuat bulu kuduk merinding. Semakin lama suara itu semakin cepat hingga berakhir pada satu tarikan nafas panjang. Menyisakkan dua manusia yang harus mengatur nafasnya agar kembali normal.


"Makasih ya Mi," ucap Dion sembari mengecup kepala Mia.


"Mia juga terima kasih ya A," ucap Mia.


Dion hanya tersenyum dan memeluk tubuh istrinya. Ia membantu mengambilkan pakaian Mia yang berada di ujung ranjang. Membantu menggunakannya hingga matanya kini terfokus dengan perut Mia. Saat Dion mengusapnya, ia terkejut saat sebuah gerakan muncul dari dalam perut Mia.


"Mereka menyapaku Mia. Mereka menyapaku," teriak Dion senang.


Dion memang tahu kalau bayi mereka sangat aktif. Beberapa kali Dion pernah melihat gerakan itu saat sedang melakukan panggilan video. Namun ia belum sempat berinteraksi langsung.


"Iya A. Sepertinya mereka tahu kalau Aa benar-benar kangen sama mereka," ucap Mia.


"Kembar, gimana tadi? Banyak kan oleh-oleh dari Papa? Kualitas super loh tadi. Kamu suka kan?" ucap Dion.


Mia melihat Dion yang sedang tersenyum bahagia sembari mengobrol dengan bayi kembar yang masih di dalam perut Mia. Tapi Mia gagal fokus sama kata 'oleh-oleh' yang Dion ucapkan.


"Aa ke anak kembar kita ngasih oleh-oleh, kok sama Mia gak sih? Pilih kasih deh," ucap Mia.


"Loh, kamu kok cemburu sama anak sendiri sih? Kamu justru kebagian dagingnya, si kembar sih cuma kebagian ampasnya aja. Iya gak?" goda Dion dengan mata nakalnya.


"Ish, Aa makin mesum ya?" ucap Mia.


"Maklum lah, udah lama gak begitu. Wajar dong," ucap Dion.


"Iya sih emang udah lama begitu. Jadi sekalinya begitu gak lama," ucap Mia sembari tertawa.


"Aduh, kamu juga belajar mesum ya sekarang? Awas nanti aku balas. Tunggu aja tanggal mainnya," ancam Dion.


Ya, Dion akui untuk kali ini ia memang tidak semaksimal biasanya. Terlalu cepat mungkin untuk ukuran biasanya. Namun Mia tidak munafik, kali ini memang sebentar namun benar-benar membuatnya bergetar. Mia bergidik saat mengingat semua kejadian tadi. Dion, memang selalu tahu cara memuaskan Mia.


"Tapi besok janji ya ajak Mia jalan-jalan," ucap Mia.


Aduh, kembali lagi ke sana. Jangan sampai salah jawab.


"Oke. Kamu tenang aja. Aku gak bakal lupa kok sayang," ucap Dion.


Cari aman. Dion hanya akan mengiyakan. Tidak akan ada bantahan apapun untuk keinginan Mia kali ini. Sudah diberi pelayanan ekstra saja membuat Dion senang luar biasa. Kalaupun Mia mau marah-marah lagi, bahkan semalaman sekalipun Dion pasti akan terima. Dion hanya akan mendengarkan dan meminta maaf saja. Karena kali ini Dion sudah sangat lelah. Ia kehabisan energi.


Tidak sempat bertanya apa yang membuat Mia berubah menjadi baik dengan begitu cepat, Dion sudah tidur pulas. Mia hanya menatap wajah suaminya dan mengusap kepalanya. Merapikan rambut suaminya yang sudah agak panjang.


A, maafin Mia ya. Mia sadar kok, Aa pasti kesal dengan sikap Mia. Mia minta maaf kalau Mia gak ngerti sama perasaan Aa. Maafin Mia kalau Mia egois. Terima kasih karena Aa sudah sangat sabar menghadapi Mia. Mia dengan segala sikap buruk Mia, selalu saja menjadi yang terbaik di mata Aa. Mia bersyukur karena sudah dititipkan pria terbaik seperti Aa.


CUP


Mia mengecup singkat bibir suaminya.


"Selamat tidur A," ucap Mia.


Mia ikut memejamkan matanya di samping Dion. Tangannya melingkar di perut Dion. Kaki kanannya menindih kaki Dion. Seolah menjadi sebuah isyarat kalau Dion memanglah milik Mia.

__ADS_1


Pagi ini Dion bangun lebih pagi dari Mia. Dion sengaja membuka gorden kamarnya. Membiarkan cahaya pagi masuk dan membangunkan Mia.


"Aa," ucap Mia.


Perlahan Mia membuka dan mengucek matanya. Terlihat Mia menguap beberapa kali. Ia nampak masih sangat ngantuk. Namun Mia memaksa membuka mata dan cukup terkejut saat Dion sudah sangat rapi.


"Masih ngantuk?" tanya Dion.


"Aa mau kemana? Ini kan minggu," ucap Mia.


"Kan kamu yang mau aku antar jalan-jalan. Apa kamu lupa?" tanya Dion.


Mia menepuk pelan dahinya tersenyum pada Dion.


"Tapi ini masih terlalu pagi A," ucap Mia.


"Aku mau ngajak kamu jalan-jalan ke taman. Biar segar," ucap Dion.


"Gak ke mall A?" tanya Mia.


Aneh rasanya saat mendengar Dion mengajaknya jalan-jalan ke taman. Biasanya Dion kalau keluar pasti memilih mall dan tempat makan.


"Kepagian kalau ke mall," jawab Dion.


"Biar Mia gak belanja ya?" tanya Mia.


"Buruk sangka terus sama suami. Heran deh," jawab Dion.


Mia tersenyum malu mendengar jawaban Dion. Ya malu, karena apa yang membuat Mia bisa berpikir seperti itu? Sementara Mia sendiri memegang kartu ATM yang bisa ia gunakan kapan saja selama ia mau.


"Marah-marah terus. Masih pagi nih," ucap Mia.


Mia turun dari ranjang dan mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Mia terkejut karena Dion sudah menyiapkan baju untuk jalan pagi.


"Buat Mia?" tanya Mia.


"Masa iya buat aku," jawab Dion.


"Dih, sensi banget sih? Udah kayak anak gadis lagi PMS tahu gak?" ucap Mia.


"Ah, yang sensi tuh bukan cuma anak gadis yang PMS. Kamu aja bukan anak gadis yang PMS kemarin sensinya gak ketulungan," jawab Dion.


"Haha.. Ceritanya balas dendam nih?" ucap Mia.


"Udah ah jangan diperpanjang. Ayo buruan ganti baju!" ucap Dion.


Dengan cepat Mia mengganti pakaiannya dan sedikir memoles wajahnya. Sebentar Mia terdiam.


"A," panggil Mia.


"Iya," jawab Dion.


"Pipi Mia makin lebar," keluh Mia.


"Kamu tetap cantik kok," puji Dion.


"Aa gak ngejek Mia kan?" tanya Mia.


"Kamu kenapa sih selalu sedih sama kondisi tubuh kamu? Kamu menyesal?" tanya Dion.


"Bukannya menyesal A. Tapi Mia merasa gak percaya diri aja," ucap Mia.


Jika dibandingkan dengan sebelum hamil, Mia memang sangat tidak percaya diri. Mia sudah naik empat belas kilo. Bajunya sebelum hamil sudah tidak ada yang cukup lagi. Semua baju hamil Mia adalah baju baru yang dibelikan oleh Dion. Kadang Mia cemberut saat menatap lemari pakaiannya. Berderet bajunya sebelum hamil. Mia hanya bisa memandanginya tanpa menggunakannya.


"Sayang, jangan pernah merasa tidak percaya diri. Berat badan kamu naik karena kamu sedang mengandung bayi kembar. Harusnya kamu senang, bahagia, dan bersyukur. Banyak sekali orang di luar sana yang menginginkan kehamilan seperti ini," ucap Dion sembari mengusap perut Mia.


Mia diam. Ia menatap Dion yang sedang mengusap perutnya. Benar apa kata Dion. Jangan ada lagi rasa tidak percaya diri. Yang penting di mata Dion, ia tetap menjadi wanita cantik dan menyenangkan. Tidak peduli dengan tanggapan orang. Prioritas Mia sekarang adalah bayi kembarnya dan Dion. Sisanya, bodo amat.


Sebelum jalan-jalan pagi, Mia dan Dion sarapan dulu. Menikmati roti tawar dengan selai strawberry dan segelas susu hamil untuk Mia.


"Mau kemana? Kok sudah rapi?" tanya Nyonya Helen.


"Mau jalan-jalan pagi," jawab Dion.


"Mama ikut ya!" pinta Nyonya Helen.


"Mama jangan ganggu mereka dong," jawab Tuan Wira.


"Loh, memangnya mereka mau ngapain? Kan cuma mau jalan-jalan," ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma, tapi kan mereka butuh quality time. Mama kayak gak pernah muda aja," jawab Tuan Wira.


"Salahnya dimana kalau Mama ikut? Jadi lebih bagus dong Pa. Quality time kan? Mungkin yang Papa maksud, privacy time. Itu tempatnya di kamar. Baru Mama gak boleh ikut," ucap Nyonya Helen.


"Terserah Mama deh. Wanita memang tidak pernah salah," jawab Tuan Wira.


"Dih, ngambek. Cepat tua tahu Pa," ejek Nyonya Helen.

__ADS_1


"Mama boleh ikut kok. Papa juga kalau ada waktu luang bisa ikut. Biar kita family time," ucap Mia menengahi.


Akhirnya kamu ngajak Papa juga Mia. Begitu dong. Kamu jadi menantu harus peka. Kalau sampai gak peka, Papa pecat kamu jadi menantu kesayangan. Hehe


"Papa sih sebenarnya malas, tapi kalau Mia yang maksa gak apa-apa deh. Demi cucu kembar Papa, Papa siap menemani kalian jalan-jalan. Hehe," ucap Tuan Wira.


"Gak ada yang maksa Papa. Kalau gak jangan maksain. Udah tua, takut sakit pinggangnya kambuh. Nanti Mia sama Dion malah repot lagi," ucap Nyonya Helen.


"Enak saja. Papa masih kuat ya Ma," ucap Tuan Wira.


"Aduh, ini debatnya mau sampai kapan sih? Nanti keburu panas. Ayo buruan mau ikut gak?" tanya Dion.


"Ikut," jawab Nyonya Helen dan Tuan Wira bersamaan.


"Cieee, makin kompak niyeee," gida Dion.


"Banyak ngomong kamu. Ayo ah berangkat. Kelamaan," ucap Tuan Wira.


Tuan Wira beranjak dari ruang makan paling depan. Ketiganya saling tatap dan menahan tawa, sampai akhirnya mereka juga meninggakkan ruang makan itu.


Taman bunga di pagi hari membuat empat orang ini terlihat sangat bahagia. Suasana yang entah kapan terakhir kali mereka nikmati. Berkat Mia, mereka bisa kembali bersama menghirup udara segar. Tanpa gadget. Mereka benar-benar menggunakan waktunya untuk berbincang. Dari obrolan keluarga sampai sedikit menyinggung masalah pekerjaan.


"Nyonya Mia," panggil seorang wanita dengan jarak yang lumayan dekat.


"Nyonya Nathalie," jawab Mia.


Semuanya menatap sumber suara. Melihat kedatangan Nyonya Nathalie, Dion dan Nyonya Helen nampak tidak suka. Ibu dan anak itu menduga akan ada hal yang tidak menyenangkan terjadi saat ini. Hanya Mia dan Tuan Wira yang terlihat lebih santai.


"Apa kabar Nyonya?" tanya Nyonya Nathalie.


Hati Mia dipenuhi rasa tanya. Apa yang membuat mantan mertuanya berubah seketika? Adakah maksud lain? Ah tidak! Mia bukanlah orang yang mudah berburuk sangka pada orang lain.


"Baik, Nyonya. Panggil Mia saja," jawab Mia.


"Mana mungkin saya memanggil Anda dengan sebutan seperti itu? Disaat banyak sekali orang yang mengagumi dan menghormati Anda, masih pantas kah saya bersikap kuranga ajar pada Anda?" tanya Nyonya Nathalie.


Dion mendengus. Ia membaca kalimat yang disampaikan oleh Nyonya Nathalie adalah sebuah jilatan. Dion tidak akan percaya dengan ucapan penjilat seperti Nyonya Nathalie. Sebenarnya Mia juga merasakan hal yang sama, namun Mia lebih menghargai Nyonya Helen dibandingkan dengan Dion.


"Oh, jadi ini maksudnya? Anda takut karena Mia adalah saingan bisnis keluarga Anda? Aduh main Anda kurang rapi Nyonya. Mia adalah wanita tegas. Dia tidak mungkin mencampuri urusan pribadinya dengan urusan pekerjaan. Sekalipun itu dengan mantan mertuanya. Ingat ya! Perlu digaris bawahi, mantan mertua. Karena mertua Mia sekarang adalah saya. Helen. Bukan Anda," ucap Nyonya Helen.


"Oh tentu. Saya sama sekali tidak berniat mencampuri urusan bisnis suami saya. Ini personal antara saya dengan Nyonya Mia saja. Jangan berpikir terlalu jauh, Nyonya Helen." Dengan suara lembut Nyonya Nathalie menjawab ucapan Nyonya Helen.


"Ya sudah kalau begitu tidak ada lagi urusan yang lain kan? Jadi kenapa Anda masih ada di sini?" tanya Nyonya Helen.


Sindiran secara halus itu tidak direspon dengan amarah. Ini aneh sekali. Nyonya Helen nampak sangat tenang.


"Saya akan pergi. Senang bertemu dengan kalian. Jujur saya iri dengan kebersamaan kalian. Saya permisi. Maaf sudah mengganggu waktu kalian," ucap Nyonya Nathalie.


Tidak ada yang menahan kepergian Nyonya Nathalie sama sekali. Nyonya Helen dan Dion justru terlihat sangat puas dengan kepergian Nyonya Nathalie. Sedangkan Mia masih menatap punggung Nyonya Nathalie yang semakin menjauh. Ingin rasanya Mia mengejar dan bicara lebih jauh dengan Nyonya Nathalie. Tapi keadaan Mia sekarang berbeda. Ada beberapa hati yang harus Mia jaga.


"Heran deh sama Nyonya Nathalie. Kenapa sih setiap ada kita, ada dia? Udah kayak bayangan aja. Kerjaannya ngikutin kita kali ya?" tanya Dion.


"Husst. Aa jangan begitu ah! Mungkin cum kebetulan aja kali A," jawab Mia.


"Kebetulan itu sesekali A. Kalau berkali-kali namanya sengaja," ucap Dion.


Mia diam. Ia harus mengalah. Jangan sampai terkesan membela Nyonya Nathalie, apalagi dihadapan Nyonya Helen.


"Untung Mama ikut. Tuh kan Pa! Papa tahu kan insting seorang ibu itu kuat? Jadi ini alasan Mama mau ikut sama mereka. Kalau Mama gak ikut, bahaya. Bisa diserang wewe gombel mereka," ucap Nyonya Helen.


"Iya juga ya! Wewe gombelnya takut sama Mama," ucap Tuan Wira.


"Iya dong. Buktinya wewe gombel ngacir," ucap Nyonya Helen dengan sangat bangga.


"Wah hebaat,"ucap Tuan Wira. "Papa gak nyangka punya istri pawang wewe gombel," lanjutnya.


"Iya dong. Siapa dulu, Mama gitu loh." Dengan sombongnya Nyonya Helen menepuk dada.


"Nanti harus ada peningkatan ya Ma!" ucap Tuan Wira.


"Hah? Gimana maksudnya?" tanya Nyonya Helen.


"Iya sekarang kan Mama jadi pawang wewe gombel. Besok-besok ditingkatkan lagi jadi pawang suster ngesot, tuyul, mak lampir, genderuwo," ucap Tuan Wira.


"Papaaaa," teriak Nyonya Helen geram.


Berbeda dengan Nyonya Helen yang kesal, Mia dan Dion justru tertawa saat mendengar ucapan Tuan Wira.


####################


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2